Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 42


__ADS_3

Hari ini adalah misi pertama Quenna untuk menjalankan tugasnya. Ia akan menyelidiki sang target terlebih dahulu dan mengetahui berbagai informasi korbannya.


Ia harus mengenal korban lebih teliti agar dapat memudahkan Quenna menyusun strategi. Quenna memutuskan menyamar sebagai salah satu pegawai yang ada di perusahaan cabang Aganta Crop.


Jika dipikir-pikir nama perusahaan itu mirip dengan nama belakangnya. Aganta, mengingatkannya akan sang keluarga yang dibantai habis dan hanya menyisakan ia seorang.


Kakak, sosok itu sudah lama mati di dalam hidup Quenna. Tak ada lagi kerabat dan ia hanya memiliki Carol di sisinya. Anak itulah yang menjadi sumber kekuatan Quenna selama ini.


Ia bangga memiliki putri hebat seperti Caroline. Meskipun hasil dari perbuatan dosa tapi Quenna menganggap anak itu suci dan merupakan anugerah dari Tuhan untuk menemaninya.


Wanita tersebut menarik napas panjang dan berusaha menunggu orang yang mirip di dalam foto yang memadu dirinya itu datang.


Ini sudah beberapa jam ia dimari nyatanya target yang ditunggu tidak hadir. Apakah orang tersebut telah menyadari akan kehadirannya, jika benar begitu ia sudah sangat salah dari awal.


"Baji.ngan, apa aku dipermainkan?" kesal Quenna dan terus menggerutu tak jelas di dalam hati.


Ia ingin membuang sapu di tangannya. Berpura-pura menjadi OG di perusahaan itu sangat melelehkan. Di mana ia harus diteriaki oleh atasan Og tersebut setiap kali ia hendak melakukan aksinya.


"Charlotte!! Aku melihat mu dari tadi terus melamun, kau digaji di sini untuk melamun atau bekerja, hah?" Ini salah satu contoh amarah dari atasannya.


Quenna melirik wanita yang sangat cerewet tersebut bahkan telinganya panas mendengar ocehan kosong atasan Og itu. Dalam hati penuh sumpah serapah telah ia lontarkan untuk perempuan cerewet tersebut. Andaikan kesabarannya ini tak dapat dikendalikan mungkin sudah lama ia musnah dari hadapan Quenna.


"Ya maafkan saya," lirih Quenna dengan wajah masam dan berusaha tersenyum.


Tapi, sepertinya ekspresi yang ia tunjukkan disadari oleh Marisa. Wanita tersebut memplototi dirinya.


"Kau tidak senang kepada ku?" Quenna terkejut dan segera menggeleng dengan kuat.


Ia berusaha untuk tetap ramah kepada wanita ini. Menuruti segala yang diucapkan oleh nenek lampir tersebut. Ingat Quenna TERPAKSA melakukannya, catat itu diingatan kalian.


Quenna menggeleng dan berusaha menunjukkan wajah sangat bersalah. Wanita tua nenek lampir itu dengan gaya angkuhnya pergi dari hadapan Quenna setelah menggesekkan sepatu yang ia kenakan tersebut ke lantai agar menambah kotoran di lantai tersebut yang telah ia sapu.


Quenna mengencangkan genggamannya di gagang sapu yang dipegangnya. Ia memejamkan matanya lalu menarik napas penuh sabar.


"Ingatkah aku untuk membunuh mu! Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, bahkan bos mu sebentar lagi akan mati di tangan ku," smirk Quenna mengejek wanita tua yang dijulukinya nenek lampir.


Bagaimana tidak, Quenna sudah sangat kesal, ia merasa apes dan berjam-jam mendengarkan amarah dari orang tersebut.


Setelah menanti sangat lama akhirnya ia pun terbebas dari deritanya. Orang yang sedari sedang ditunggu pun sudah datang dengan setelan jas lengkap sangat rapi. Quenna tak begitu jelas melihat mereka akibat banyaknya orang berkerumun di depannya untuk menyambut sang bos yang tengah mengunjungi karyawan dan perusahaannya di Inggris.


Berbagai penyambutan dilakukan. Acara demi acara akhirnya telah berlalu dan Quenna dapat menarik napas dengan hikmat ketika mereka satu persatu merenggangkan kerumunan.

__ADS_1


"Bos kita sangat tampan, bukan? Aku bahkan tidak berkedip melihatnya!"


"Apa yang kau katakan benar, ini katanya perdana bos menunjukkan diri ke media!"


"Tak disangka ia sangat rupawan, orang yang pernah menghinanya dulu pasti akan sangat menyesal!"


"Benar, aku tidak sabar ingin melihat wajah para pembenci itu terpesona dengan bos kita!"


"Hahaha kau benar Karin!"


Quenna mendelik mendengar omong kosong yang mereka ucapkan. Tampan? Bahkan orang tersebut tak memenuhi kriteria tampan. Lantas dari mana mereka bisa menyimpulkan bos mereka tampan.


"Mata mereka mungkin sudah sakit," ejek Quenna dan menoleh ke depan.


Ia terkejut ketika targetnya telah menghilang. Quenna mengumpati dirinya sendiri telah kehilangan jejak sang target.


Quenna keluar dari kerumunan itu dan akan melakukan keliling di perusahaan ini mencari di mana keadaan pria tersebut. Jika ia kehilangan begitu saja berarti penantian penuh perjuangan akan berakhir dengan sia-sia.


Quenna terus menyusuri setiap lorong di ruangan itu. Sambil membawa ember dan alat pel berpura-pura akan melakukan pembersihan.


Ketika melihat orang yang tadi telah ia temukan segera Quenna bermain peran. Ia mendengarkan semua percakapan dari orang tersebut bersama anak buahnya.


Hanya orang yang paling berkuasa di situ dengan jelas ia lihat. Selebihnya seperti tengah sengaja menyembunyikan identitas mereka.


"Bagaimana jebakan malam ini? Apakah mereka akan terkejut dengan hadiah ku?" Viktor bertanya sambil menyiratkan bahwa ia adalah pria hebat yang tak mudah untuk dijadikan lawan.


Kekeh Viktor sambil memainkan gelas wine di tangannya.


Quenna yang dari tadi menguping terdiam sebentar. Ia tak menyangka jika orang tersebut menyadari dengan cepat rencana kliennya.


Tampaknya Quenna harus mencari strategi baru untuk melawan orang tersebut. Benar apa yang dikatakan orang-orang jika target kali ini memiliki kesulitan.


Ia tak bisa meremehkan mereka begitu saja. Perlunya perhitungan dengan tepat.


"Sepertinya aku harus memiliki strategi baru," bisik Quenna pada dirinya.


Mimik wajah yang sangat serius menandakan jika ia benar-benar berpikir keras.


Quenna meninggalkan ruangan tersebut dan mengantongi berbagai informasi yang telah ia peroleh setelah menyamar sebagai Og di perusahaan ini.


Ketika turun ke lantai bawah ia lagi-lagi harus bertemu dengan nenek lampir yang selalu memarahinya. Ia menatap malas wanita tua bangka itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Quenna ketus dan mulai berani berhadapan dengan wanita tersebut.


Ia telah memperoleh apa yang ia inginkan dan tentunya ia sudah tak perlu lagi berputar-putar di depan nenek lampir tersebut.


"Kau sangat tidak sopan, kau tidak ingin dipecat? Kau tahu bos kita sudah datang, kau tak takut aku akan mengadukan mu?" Wanita itu sekali sedangkan mengancam Quenna.


"Adukan saja aku tak peduli." Quenna berjalan mundur memancing perempuan tersebut ke tempat sepi.


Ia tersenyum miring ketika benar-benar sudah jauh dari keramaian. Quenna pun mulai menunjukkan taringnya. Ia membuka seluruh properti ditubuhnya dan membuang baju Og tersebut hingga penampilannya serba hitam.


Sang atasan Og sangat terkejut apalagi kala Quenna mengeluarkan senjata api. Tubuhnya bergetar ketika aura pembunuh milik Quenna sangat kental.


"Apa yang kau mau?"


"Membunuh mu!"


Ia terkejut dengan tubuh basah gara-gara keringat dingin. Tangannya bergetar dan ia pun berlari dari hadapan Quenna.


Quenna tertawa tipis. Ia menembak senjata api di tangannya hingga tubuh perempuan tua tersebut terjatuh. Ia memuntahkan darah bercampur busa. Dimana peluru yang ia tembakan tersebut memiliki kandungan racun di dalamnya.


"Sangat sayang kau harus mati di bawah orang yang kau suruh-suruh."


Quenna pun meninggalkan tempat tersebut sebelum ada orang yang menyadarinya. Ia membiarkan orang tersebut di sana, ia ingin mendengar kepanikan mereka.


Tidak lama Prima berlari menghampiri tubuh tak bernyawa milik Marisa. Ia memperiksa mayat tersebut. Prima menggeleng lemah ke arah Viktor.


"Ia sudah tiada."


"Kita telah kecolongan, sepertinya mereka sudah mulai melakukan aksinya!"


"Aku rasa juga begitu Tuan. Kita harus lebih waspada."


"Tingkatkan penjagaan!"


Prima patuh akan perintah yang diucapkan Viktor. Ia menatap punggung sang bos yang telah meninggalkan tempat itu.


Prima menoleh ke arah Marisa yang harus ia urus pemakamannya.


_____


Tbc

__ADS_1


__ADS_2