
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat dan sebentar lagi Quenna akan melahirkan anak kedua dan ketiganya sekaligus karena kembar.
Viktor dilanda kepanikan dan mengangkat tubuh sang istri dan dimasukkan ke dalam mobil. Ia melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan penuh tanpa memikirkan nyawa dirinya dan orang yang menghuni mobil itu yang bisa saja melayang.
Untungnya Viktor sudah ahli dalam mengemudi mobil jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Viktor berdecak keras sambil memukul stir dengan kuat tatkala mobilnya berhenti di lampu merah.
Ia menoleh pada sang istri yang sedang ditangani oleh pembantunya. Tampak Quenna tengah menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.
Viktor tak tega menatap wajah wanita itu yang benar-benar berusaha menahan rasa sakit demi melahirkan anak-anaknya.
"Sayang, sebentar lagi yah. Semangat, kamu pasti bisa melewati ini semua," ujar Viktor sambil mengulas senyum di wajahnya.
Perempuan itu tersenyum di sela-sela rasa sakit. Melihat wajah Viktor yang begitu mencemaskan dirinya sudah membuat Quenna sedikit merasa lebih terobati. Hal yang paling sangat membahagiakan ketika ingin melahirkan didampingi oleh orang tercinta.
"Terimakasih," lirih Quenna sambil menarik napas dalam lalu tersenyum tipis.
Viktor tersenyum mantap dan mengemudikan mobilnya tatkala warna merah sudah berganti dengan hijau. Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Viktor pun sampai di rumah sakit terdekat.
Ia langsung memanggil suster dan dokter. Kehebohan terjadi di depan rumah sakit dikarenakan istri dari pengusaha sukses di Amerika akan melahirkan calon anak mereka. Tentu itu akan menjadi berita yang sangat viral.
Viktor tidak peduli lagi dengan mereka yang mengambil gambar dirinya dan meliput di sana. Yang terpenting keselamatan sang istri.
Orang-orang tersebut bisa diatasi oleh Prima. Prima juga sudah di teleponnya untuk kemari dan mengurus awak media yang tidak tahu dengan privasi itu.
"Suster kenapa Anda lama sekali, apakah Anda ingin melihat istri saya kesakitan begini, 'hah?" Amarah Viktor benar-benar sedang berada di puncaknya.
Ia tidak habis pikir dengan dokter dan suster yang dinilai Viktor sangat lambat menangani sang istri. Yang ada dirinya bisa jantungan jika terus mendengar suara rintihan Quenna.
"Maafkan saya," ucap suster itu dan lekas memindahkan Quenna ke brankar lalu mendorong brankar tersebut ke ruangan bersalin.
Viktor mengikuti mereka dan juga ikut masuk ke dalam ruangan bersalin menemani sang istri di dalam sana. Tangan Quenna terus menggenggam telapak tangan Viktor tidak ingin lepas dari laki-laki tersebut barang sebentar saja. Ia terus mencengkam tangan sang suami hingga tangan Viktor pun terluka.
Bagi pria itu luka yang ia terima tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang dialami Quenna demi melahirkan anaknya.
"Maaf, salah satu anak Anda dalam posisi sungsang dan kami terpaksa harus melakukan operasi sesar." Viktor melirik Quenna yang membulatkan matanya.
Napasnya memburu dan ia tidak bisa berpikir dalam kondisi yang seperti itu. Quenna menyerahkan semuanya pada Viktor.
Viktor sudah barang tentu mengambil opsi yang lebih aman. Jika memang diharuskan sesar apa boleh buat. Ini demi keselamatan calon sang buah hati dan ibunya meskipun niat awal adalah lahiran secara normal.
"Tidak apa, lakukan saja operasi sesar."
__ADS_1
Dokter itu mengangguk mantap dan meminta agar suster menyiapkan alat-alat untuk melakukan operasi. Jantung Viktor mencelos ia takut jika terjadi sesuatu saat melakukan operasi nanti.
Pria itu mengusap kepala sang istri yang berusaha menarik napas sebanyak mungkin dan tetapi bertahan demi keluarga kecilnya.
Viktor meneguk ludah saat operasi siap dilakukan. Sebelum itu dia mencium lama puncak kepala Quenna.
"Sayang aku mohon bertahanlah demi kami."
"Terimakasih, aku bersyukur kau selalu ada di samping ku."
______________
Suara tangisnya bayi yang menggema di dalam ruangan itu membuat jantung Viktor berdetak lebih kuat. Ia mengambil anaknya dari tangan suster dan menggendongnya dengan wajah yang benar-benar syok tak percaya hasil dari spermanya membentuk makhluk hidup yang benar-benar nyata di dalam gendongannya.
Ia memperlihatkan anak itu pada Quenna dan Quenna tersenyum menatap anak keduanya. Sementara Quenna sendiri sedang menggendong anak ketiganya.
Mereka mengamati penuh haru dua bocah kembar dengan jenis kelamin yang sama yaitu laki-laki.
Itu artinya Carol sudah memiliki adik. Dan anak itu juga sedang kemari saat mendengar jika ibunya akan melahirkan calon adiknya.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar yang ternyata tersangkanya adalah Carol, ia menerobos ruangan begitu saja tanpa memikirkan keamanan. Lalu Carol menutup mulutnya melihat sang adik yang sedang digendong kedua orangtuanya.
Carol tidak menyangka ia langsung mendapatkan dua adik sekaligus. Carol mengira jika dia hanya mendapatkan satu adik saja. Dan kini ada dua, tapi yang ada di benak Carol sesungguhnya adalah tentang bagaimana dirinya untuk bersaing dengan sang adik mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Tentunya ia dan adiknya akan menjadi saingan dan kasih sayang orangtunya tidak penuh seperti dulu lagi.
Ini terlalu menggemaskan di wajah Carol. Ia tersenyum melihat ketampanan yang dimiliki oleh sang adik. Benar-benar mirip ayahnya keduanya.
Bahkan Quenna pun tidak kebagian tekstur wajah mereka.
"Benar sayang. Sekarang kau sudah memiliki adik, ku harap kau dapat mengajaknya bermain."
Carol mengangguk paham dan menatap adik ketiganya yang berada di dalam gendongan ibunya. Ia juga memperhatikan anak itu yang wajahnya tidak jauh berbeda dengan adik pertamanya.
"Ibu, Daddy, siapa nama adik-adik ku ini?" tanya Carol penasaran nama apa yang akan diberikan oleh orangtunya kepada adiknya yang terlampau menggemaskan ini.
Viktor tampak berpikir lalu tersenyum lebar. Sebelumnya mereka juga sudah menyiapkan nama untuk kedua putranya ini. Pria itu melirik Quenna yang mengangguk menyetujui Viktor memberitahukan nama anaknya.
"Namanya adalah Venus Aldebaran Aganta dan Markerius Georgetown Aganta." Carol kagum dengan nama sang adik dan menatap adiknya itu dengan senyum terhias di sisi pipinya.
"Hay, Markerius dan Venus, nama mu seperti nama planet yah," sapa anak tersebut lalu meminta Venus yang digendong Viktor agar dia yang menggendongnya.
Bayi mungil dan masih merah tersebut diserahkan Viktor pada Carol. Anak itu sudah cukup besar untuk menggendong adiknya. Diperhatikan oleh Viktor wajah Carol yang semakin besar malah terlihat seperti ibunya.
__ADS_1
"Kau senang, 'sayang?" tanya Viktor pada sang istri yang tengah menyusui anaknya itu.
Quenna menatap Viktor dan mengangguk lemah. Sementara tatapan Viktor jatuh pada anaknya yang sedang menyusu pada Quenna.
Ia merengut karena kebiasaannya digantikan oleh kedua anak kembarnya. Viktor menggenggam kedua telapak tangannya karena ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa sih sayang," tanya Quenna pura-pura tidak tahu kenapa Viktor menekuk wajahnya.
Viktor mendengus kasar sedangkan Quenna hanya tertawa kecil seakan tengah memberikan ejekan kepada laki-laki tersebut.
"Kenapa sih ketawa. Bangga?" marah Viktor sambil menatap kesal putranya.
"Kenapa emang?"
"Bilang aja lagi ngejekin."
"Ya emang bener," jawab enteng Quenna lalu tersenyum menang.
"Tidak lucu."
"Lucu."
"Sayang," melas Viktor manja.
Dertt
Carol menyerahkan sang adik pada ayahnya ketika suara dering panggilan yang berasal dari ponselnya itu berbunyi.
Anak itu menggesek layar hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo."
"..."
"Apa Nenek sakit parah?"
Wajah Viktor menegang tak jauh berbeda dengan wajah Quenna. Tungkai wanita itu lemas saat baru saja mendapatkan kebahagiaan akan tetapi rasanya langsung dijatuhkan dari ketinggian.
_________
TAMAT
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA