
Viktor mengangkat kedua alisnya. Ia bergidik bahu seraya menghampiri bocah perempuan tersebut. Tampak wajah sang bocah masih bingung dengan situasi yang tengah dihadapi olehnya.
Apalagi Quenna, ia merasa semua ini hanyalah salah satu khalayan dari rasa ketakutannya selama ini. Ia selalu terbayang-bayang bahwa Viktor akan bertemu dengan Carol. Ia harap kejadian ini bagian dari bayangan rasa ketakutannya.
"Ibu! Kau ada di sini juga rupanya," semangat Carol seraya berlari ke arah Quenna.
Deg
Itu nyata. Ini benar-benar terjadi. Ketakutannya selama ini kini menjadi kenyataan. Mata Quenna berkaca-kaca. Pandangannya lurus ke depan tak mampu banyak bicara. Saat Carol memeluk tubuhnya ia tak bisa memberikan respon banyak selain terpaku di tempat.
Matanya menumpahkan cairan bening. Ini adalah kelemahannya, entah kenapa Carol bisa berada di sini yang jelas pria itu memiliki koneksi cukup banyak di Inggris, jadi bukan hal mustahil lagi bahwa Viktor bisa menemukan Carol.
Quenna membalas pelukan sang anak. Seiring itu air matanya luruh begitu banyak. Viktor yang menjadi saksi tersebut menundukkan kepala.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Katakan, mereka menculik mu?"
Carol bengong mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Quenna. Ia melepaskan pelukannya dari sang ibu lalu menatap kedua orang dewasa itu bergantian.
Anak itu yang masih polos meskipun pintar tapi ia tetap saja memerlukan waktu untuk mencerna. Ia menyampirkan bonekanya lalu menceritakan keseluruhan kepada sang ibu.
"Penculik? Tidak ada yang menculik ku ibu."
Quenna melirik Viktor meminta lelaki itu memberikan ia kejelasan. Namun tampaknya laki-laki itu seakan menunggu Carol lah yang menceritakan semuanya.
"Katakan saja, ibu akan membunuhnya, kau jangan takut!"
"Ibu! Kau sendiri yang mengajarkan ku tidak boleh membunuh orang. Ibu begitu kejam ingin membunuh paman ini. Paman, bukankah kau baru saja menolong ku ketika orang-orang itu membully ku tidak memiliki ayah? Terus kau membawa ku tempat mu saat aku menunggu ibu tapi kau tak datang-datang menjemput ku!" cerita Carol panjang lebar sembari mengungkapkan isi hatinya.
Quenna memandang Viktor dengan syok. Seluruh tubuhnya bergetar menatap pria di depannya ini. Ia tak bisa mengelak lagi, sepertinya Viktor telah mengetahui kebenarannya.
Sedangkan dengan laki-laki tersebut tersenyum tipis pada Quenna. Ia berjalan selangkah demi langkah menyudutkan Quenna.
Perempuan itu meneguk ludahnya dan terus mundur. Saat ia hendak mundur lagi, tapi tak sengaja ia keseleo dan terpeleset.
Mata Viktor membulat. Ia segera menarik tangan Quenna dan tanpa sengaja keduanya terjatuh bersama dengan bibir Viktor yang tak sengaja menabrak bibir Quenna.
Viktor tersenyum senang menyadari posisi mereka saat ini. Lain dengan Quenna yang amat kaget seraya mendorong Viktor dari atasnya.
__ADS_1
"Menyingkir lah, kau berat sekali."
Viktor menatap penuh ledekan pada Quenna. Ia melirik Carol yang menutup mata melihat mereka. Lelaki itu sedikit tertawa kecil sembari bangkit lalu menggendong Carol.
"Sangat kebetulan sekali, jujur saja aku tak berniat ingin mencaritahu dan bahkan hampir melupakannya. Jika dia tidak mengatakan kau ibunya sampai sekarang aku akan melupakan anak ku sendiri. Bagaimana? Kau lihat? Apa yang kau khawatirkan tak terjadi padanya. Ia memiliki fisik yang normal bahkan sangat cantik, bagaimana mungkin anak ku akan cacat." Viktor menghela napas panjang dan mengusap kepala gadis tersebut.
Benar juga, selama ini Quenna juga bertanya-tanya hal itu. Apa pernyataan medis mengenai hubungan sedarah anaknya cacat adalah kebohongan? Tapi, jika ia menyimpulkan seperti itu bukankah ia yang lebih konyol?
"Mungkin Tuhan sedang berbaik hati!"
Viktor menatap serius Quenna. Ia tersenyum sangat tipis seraya menurunkan Carol dari gendongannya.
"Tidak apa jika kau berpikir seperti itu, kita lihat kedepannya apakah kau akan berubah pikiran!"
Quenna memutar bola mata malas. Ia menarik tubuh Carol agar tidak dekat dengan Viktor. Bagaimanapun ia susah payah menyembunyikan anaknya.
"Carol kau tidak boleh dekat dengannya," larang Quenna seraya memeluk erat tubuh Carol. Ia ketakutan jika Viktor akan mengambil Carol darinya.
"Adikku sayang, aku ayahnya kenapa aku tidak boleh bertemu dengan anak ku?" Carol yang mendengar perkataan Viktor barusan sontak mendekati Viktor dan memeluknya secara tiba-tiba.
"Carol! Apa yang kau lakukan? Dia bukan ayah mu!!" Quenna menarik tangan Carol memohon tidak memeluk Viktor.
Viktor memasang wajah sombong karena menang satu langkah dari wanita yang menampilkan ekspresi marahnya.
"Carol ibu mu sedang marah pada ku! Karena itu dia masih enggan mengakui aku Daddy mu! Carol maafkan aku baru bisa menemui mu! Kau bisa tinggal di sini dan kita akan balik ke Amerika bersama," bujuk Viktor menjadikan anaknya satu-satunya kelemahan Quenna agar kembali jadi penurut!
"kakak apa yang kau katakan?!!"
"Mengatakan sesuatu yang memang harus dikatakan. Tapi, dilihat-lihat Carol sudah besar, kau tidak ada niatan ingin memberikannya adik?"
_____________
Di belahan negara lain. Tampak seorang pria tengah duduk bersantai di kolam renang. Badannya yang putih berkilau ditimpa sinar matahari. Rambut hitamnya berkibar diterpa angin hingga menambah tingkat ketampanan laki-laki tersebut.
Seakan-akan alam pun merestui bahwa orang itu sangat berkharisma. Tapi tatapan tajamnya sangat mengintimidasi siapa pun yang bersesi tatap langsung dengannya.
Helaan napas kasar terdengar dari sang pria. Ia meletakkan jus jeruknya ke meja. Tangannya bertumpu pada dagu sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Merasa bosan dengan aktivitas yang tidak begitu menggairahkan, ia pun masuk ke dalam kolam renang. Pria itu merilekskan tubuhnya dengan cara berenang.
Ketika ia memunculkan kepalanya dari air semua akan terpesona saat ia menggelengkan kepala dan rambutnya yang basah berterbangan. Ia mengusap ke atas rambut hitam pekat tersebut lalu berenang ke tepian.
Ia mengernyit melihat ada asistennya di sana. Ia mengulurkan tangan meminta handuk yang ada di tangan milik si pria.
Asisten itu tersenyum tipis dan melemparkan handuk tersebut dan tepat disambut oleh laki-laki tersebut.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin kau katakan hingga mendatangi ku ke sini," ujar orang tersebut seraya keluar dari kolam renang.
Ia mengusap rambutnya yang basah hingga rambut itu berantakan tapi terkesan seksi.
"Ada kabar baik dan kabar buruk Tuan, kau ingin mendengar yang mana terlebih dahulu?" tanya asisten tersebut seraya melipat tangan di dada.
"Aku ingin kabar buruk terlebih dahulu," ujarnya yang tertarik dengan berita yang akan dibawa asistennya.
"Kabar buruknya, nona Quenna belum ditemukan, terdengar kabar jika ia sudah meninggal." Pria yang akrab dengan nama Rigel tersebut tampak tengah berpikir.
Meski ia bertahun-tahun belum bisa menemukan Quenna, tapi Rigel sangat yakin jika wanita itu masih hidup. Entah datang dari mana keyakinan itu.
"Seperti biasa aku tidak akan mempercayainya, cari dia ke seluruh dunia!"
Sang asisten menarik napas panjang. Ia tersenyum mengalah, Rigel memang laki-laki sejati yang tak mudah berhenti berjuang.
"Kabar baiknya adalah..." Asisten tersebut menyerahkan sebuah foto ke Rigel.
Rigel mengambil selembar foto itu seraya menatap tajam asistennya. Ia melihat foto tersebut dan sedikit mengernyit. asisten tersebut pun membisikan sesuatu kepada Rigel.
Senyum Rigel mengembang dan melihat foto itu sekali lagi. Ia tampak puas dengan hasil yang didapatkan anak buahnya.
"Viktor!" ucapnya penuh penekanan.
__________
Tbc
BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETALAH MEMBACA 🤗
__ADS_1