
Sembako tersusun rapi di dalam mobil pickup yang akan membawa barang-barang itu menuju ke salah satu panti asuhan terbesar di Amerika.
Viktor baru saja mendirikan panti asuhan tersebut untuk membantu anak-anak yang terlantar di Amerika. Selain itu ia melakukannya untuk memulihkan citra dirinya agar bisa masuk ke dalam wilayah pemerintahan.
Viktor berencana ingin bergabung dengan dunia politik. Itung-itung menambah ekstensi pria tersebut.
Celine juga menyetujui keinginan Viktor. Didukung oleh ibu kandung membuat Viktor bersemangat untuk menaklukkan keinginannya tersebut.
Celine tidak tahu jika Viktor melakukan beberapa trik licik untuk memperoleh kekuasaan.
Pria itu sangat puas melihat sembako yang telah dibawa oleh mobil pickup tersebut menuju lokasi panti asuhan. Ia pun mengikuti mobil pickup tersebut dari belakangan memantau mobil tersebut.
Ia hanya berdua di dalam mobil bersama Prima. Pria itu sangat fokus menyetir hingga Viktor tertegun melihat Prima.
"Kau sangat hebat mengemudi sepertinya, apakah kau bisa membalap?" Prima terhenyak. Ia merenung sebentar, jelas ia bisa membalap karena dulu Viktor mewajibkan anak buahnya hebat membalap. Tampaknya pria tersebut melupakan fakta itu.
Prima mengehela napas maklum, wajar jika Viktor tak tahu karena sarafnya masih terganggu.
"Ya Tuan saya bisa membalap. Ini berkat Anda yang menyuruh bawahan agar bisa membalap dan jika ada musuh kami dapat melarikan diri atau untuk mengejar musuh," ujar Prima dengan nada penuh hormat.
Viktor mengingat dirinya yang dulu. Akan tetapi itu seolah-olah sangat sulit otaknya menerima hingga hanya kegagalan yang dapat dirasakan Viktor tatkala mengingat masa lalunya.
Pria itu berdecak malas karena harus menerima nasib laki-laki penyakitan ini. Bahkan ia masih sering merasa sakit bagian dadanya akibat bekas luka tembakan.
"Aku tak bisa mengingatnya lagi," ucap Viktor penuh penyesalan.
Prima menatap sekilas sang tuan lalu menggeleng tak ingin pria itu merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Viktor memang seringkali mengumpat pada dirinya karena harus kehilangan ingatan di saat dirinya masih muda.
"Tuan Anda tidak perlu mengingatnya, apa yang Anda himbaukan memang sangat berguna untuk kami," ucap Prima ramah.
Viktor melirik Prima sekilas lalu menarik napas panjang. Bagaimanapun caranya Viktor harus menemukan ingatannya. Pria itu ingin menjadi laki-laki normal dengan ingatan yang bagus.
Selain itu Viktor masih heran dengan bekas luka yang ada di wajahnya. Kenapa bekas itu bisa ada dan sangat mengerikan. Kenapa ia bisa mendapatkan bekas luka seperti demikian?
Itulah yang dipertanyakan hati terdalam Viktor. Mungkin sesuatu telah terjadi di masa lalu.
__ADS_1
"Apa aku dulu pernah mencintai seseorang?" Pertanyaan dari Viktor membuat jantung Prima seakan hendak copot.
Laki-laki itu sangat syok dengan pertanyaan yang tidak ingin didengarnya. Sebab Prima sangat kebingungan ingin menjawab dan sangat bersalah jika harus membohongi Viktor.
Tapi tidak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya.
"Anda tidak pernah mencintai seseorang," dalih Prima dan membuat Viktor mengangguk puas. Artinya ia tak bisa dibutakan oleh rasa cinta.
Pria itu sama sekali tak berharap terbelenggu dalam dunia percintaan yang menurutnya sangat menganggu keberlangsungan karirnya. Cukup ia hanya mencintai wanita yang ada di dalam mimpinya yang selalu dikenang oleh Viktor.
"Jawaban yang sangat aku inginkan." Prima saja sangat terkejut mendengar pernyataan barusan.
Ia mengeratkan cengkeramannya d i stir mobil dan menarik napas beberapakali. Apa jadinya jika Viktor mengetahui bahwa ia berbohong?
Apakah ia akan menjadi ikan pepes? Oh Tuhan sekarang Prima sangat merasa bersalah, dan bingung harus bersikap bagaimana nanti jika Viktor sudah mengetahui segalanya.
____________
Mereka pun sudah sampai ke tempat panti asuhan. Viktor keluar dari dalam mobil dengan menebarkan senyuman lebar.
Viktor yang notabennya tidak terlalu menyukai anak-anak sangat syok ketika mereka memeluk kakinya. Tapi Viktor harus bersikap senatural mungkin.
Ia membalas pelukan anak-anak itu dan mengajak mereka berbicara dan menghibur anak-anak tersebut.
Sementara sembako yang dibawanya dikeluarkan oleh anak buahnya dan dibawa masuk ke dalam panti asuhan.
Sang pengurus panti asuhan mempersilakan Viktor masuk ke dalam. Mereka sudah menyediakan hidangan yang dibuat oleh anak-anak panti asuhan itu.
"Tuan cicipilah, mereka sangat bahagia mendengar kabar mu akan kemari makanya mereka memasak semua ini untuk menyambut Anda." Viktor tersenyum lalu mencicipi makanan khas Amerika tersebut.
Rasanya memang sangat lumayan. Viktor menyukai buatan mereka. Sembari berbincang Viktor sambil menikmati cemilan ringan.
Banyak hal yang ia bicarakan kepada pengurus panti asuhan ini. Saat Viktor tengah berpikir keras mengenai beberapa masalah yang sedang diurusnya bersama pengurus panti tersebut tiba-tiba seorang anak perempuan datang dengan membawa nampan.
Ia meletakkan air buatannya dekat dengan Viktor. Viktor melirik anak itu dan tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh dengan respon tubuhnya.
__ADS_1
Seakan ia memiliki bayangan pernah bermain dengan anak perempuan yang sangat cantik dan sedikit mirip dengan anak ini.
Viktor memegang kepalanya dan tersenyum simpul untuk mengalihkan perhatian mereka dan menduga dirinya baik-baik saja.
"Tuan, apa yang sedang terjadi?" khawatir sang pengurus panti tersebut yang menyadari dengan respon Viktor.
Viktor menggeleng lirih lalu tersenyum pada anak kecil itu. Ia mengusap kepala anak tersebut.
"Siapa nama mu cantik?" tanya Viktor dengan senyuman hangat membuat anak perempuan itu tersipu malu.
"Gracia, Paman," kata anak itu dan menunduk malu-malu.
Viktor mengelus kepala anak tersebut lalu mengangguk puas pada anak perempuan itu.
"Nama mu sangat cantik, secantik orangnya. Bolehkah kau membawaku pada teman-teman mu? Aku ingin bermain dengan mereka," ucap Viktor sambil melirik pengurus panti meminta izin agar bisa ikut bergabung dengan keseruan anak panti.
Pengurus itu mengangguk dan Gracia yang mendapatkan persetujuan dari ayah mereka membuatnya bersemangat dan menarik tangan Viktor menuju ke sebuah lokasi yang ada di belakang rumah.
Ternyata di sana sangat banyak anak kecil yang tengah bermain riang. Mereka menyambut hangat Viktor dan mengajak pria itu bermain.
"Paman, ikutlah bermain bersama kami." Viktor mengangguk dan memenuhi permintaan anak itu.
Viktor cukup terhibur bermain bersama anak-anak. Beban pikirannya yang biasanya penuh dengan tentang perusahaan seketika terangkat dan lebih fresh.
"Aku sangat menyukai hari ini," gumam Viktor. Akan tetapi otaknya seolah terganggu.
Ia bingung beberapa cuplikan yang ada di dalam otaknya tersebut apakah bagian dari masa lalu. Akan tetapi kenapa Viktor merasa jika di sana ia tengah bermain bersama anak kecil yang sebaya dengan anak-anak di panti asuhan ini.
Jika benar itu bagian dari masa lalu lantas siapakah anak tersebut bagi dirinya?
_____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1