
Quenna berjalan dengan teratih-atih memasuki gerbang rumahnya. Ia menatap pintu gerbang itu dan dengan sisa tenaga yang tersedia ia menariknya hingga gerbang itu menyatu dan kembali tertutup.
Quenna masih menyentuh gerbang tersebut seraya memejamkan mata. Mengumpulkan tenaga-tenaga yang sudah terkuras. Ia menarik napas lalu berbalik hendak masuk ke dalam rumahnya.
Ia telah meninggalkan rumah ini semalaman dan lupa dengan anaknya yang menunggu ia di rumah. Quenna akan meminta maaf kepada anak tersebut nanti sebab waktunya yang seharusnya bersama Carol telah ia habiskan bersama ayah si Carol.
Tidak pernah terselip di benak Quenna akan bertemu orang di masa lalu kembali. Masih terasa mimpi berpikir itu hanyalah ilusi, tapi perasaan nyata jelas lebih mendominasi.
Ia begitu lelah dengan situasi ini. Ia pikir segalanya telah berakhir, tapi buktinya membuka lembaran baru dan hidup dengan identitas lain tak juga membuat ia lepas dari segi masalah.
Ini semakin rumit, ia malu kala berhadapan dengan Viktor dengan kondisinya yang sangat hina, menjadi pembunuh bayaran dan hendak membunuh pria itu pula.
Entah apa yang telah dipikirkan Viktor tentang dirinya. Tak apa jika Viktor menganggapnya buruk, ia bersyukur dan pria itu tak lagi mengejar-ngejar dirinya.
Semalam adalah sesuatu yang sangat mengharukan. Pengakuan cinta yang akan berakhir dengan kegagalan. Ia baru tahu jika Viktor sangat tergila-gila padanya. Ingin mengatai pria itu setres, tapi tampaknya memang benar.
Dan ia makin lebih gila, sudah mulai jatuh dalam pesona seorang Viktor. Apakah ia ingin menentang alam?
"Sudah banyak dosa yang aku lakukan, lantas jika aku berdosa kembali apakah akan diterima taubat ku nanti?" tanya Quenna dalam hati seraya menarik pintu rumah tersebut.
Ia masuk ke dalam dan menghidupkan saklar lampu serta berjalan mengendap-endap takut membuat orang yang tinggal di sini terjaga.
Baru saja ia menghidupkan lampu di ruangan itu, dirinya disuguhkan dengan pemandangan Carol terbaring di lantai.
Mata Quenna terbelalak. Ia berjongkok menggoncang-goncang tubuh Carol. Wanita itu menatap cemas anaknya.
Rapalan doa ia panjatkan berharap anak di dekapannya tidak kenapa-kenapa. Ia tak tahu semalam telah terjadi apa saja di rumah ini.
"Kau kenapa, nak?" Tangis Quenna pecah, ia tak sanggup menahannya lagi. Wanita tersebut mengangkat tubuh sedikit berisi Carol dan membawa anak itu ke kamarnya yang kebetulan tak jauh dari ruang tamu.
Quenna merebahkan tubuh lemah itu ke atas kasur. Ia mengamati Caroline dengan rasa hangat menyingkirkan perasaan bersalah. Ia juga memperlakukannya dengan lembut serta memberikan curahan kasih sayang sembari menunggu Carol tersadar.
Apa yang telah ditunggu-tunggu pun sudah terwujud. Caroline membuka matanya perlahan, ia menatap sekitar dengan pandangan yang belum sepenuhnya jelas.
"Ibu!" Kata itulah yang pertama kali ia ucapkan ketika tersadar. Wajahnya sangat cemas sembari meraba-raba kasurnya seperti tengah mencari sesuatu.
Quenna yang berada tak jauh dari situ yang tengah mengadukan bubur terpekik senang melihat sang anak yang sudah kembali sadar.
Ia meletakkan bubur itu ke atas meja lalu beralih menghampiri Caroline dengan cepat. Ia memeluk kepala anak tersebut lalu membisikan beberapa kata yang penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
"Anak ku sayang ada apa? Ibu ada di sini," bisik Quenna lalu meniup kepala Caroline.
Caroline membuka matanya lebar. Kini ia sudah sepenuhnya mendapatkan kesadarannya. Anak gadis itu menggeliat dan melihat sang ibu tengah memeluknya.
"Ibu! Hiks, kau ke mana saja? Aku merindukan mu!" Rasa bersalah semakin melingkupi Quenna. Ia telah meninggalkan anak ini sendirian pasti Caroline sangat ketakutan.
Ucapan maaf dituturkan Quenna beberapakali memohon agar sang anak dapat memberikannya maaf.
"Aku telah meninggalkan mu! Maafkan aku, kenapa kau bisa ada di lantai ruang tamu?"
Caroline pun mulai mengingat kejadian malam tadi. Ia menarik napas panjang, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, ini sering terjadi ketika sesak napasnya kambuh.
Melihat gerak-gerik Carol Quenna memahami jika Carol malam tadi mengalami sesak napas. Untung tidak kenapa-kenapa anak ini, ia bergegas mencari obat Carol dan memberikan beberapa pil untuk Carol.
Carol menatap bingung sang ibu. Ia sudah pernah mengatakan kepada Quenna bahwa ia tak menyukai pil itu. Gadis tersebut menggeleng dan menyingkirkan tangan sang ibu yang memberikannya pil.
"Ibu aku tak menyukainya!" Carol membuang wajah tak ingin menatap obat tersebut.
Katakanlah jika ia bermusuhan berat dengan pil tersebut. Ia sudah muak mengonsumsinya dan menahan rasa pahit, tapi buktinya sampai sekarang ia tak pernah sembuh-sembuh.
Kini hanya helaan napas letih yang dikeluarkan Quenna. Ia menatap sendu sang anak yang menolak pil tersebut. Anaknya harus menerima dosa dari orangtuanya, ia berpikir penyakit bawaan Carol pasti disebabkan hubungan darah antara ia dan Viktor, dan bodohnya lagi mereka melakukan hubungan itu kembali malam tadi.
"Ibu! Aku akan memaafkan mu! Apa pun yang terjadi! Kau tidak pernah salah di mata ku!" Quenna tersenyum mendengarnya.
Tapi, itu belum membuatnya tenang. Wanita tersebut merangkuh tubuh mungil Carol. Ia meletakkan dagunya di atas kepala sang anak.
"Apakah kau sangat merindukan ayah mu?"
"Ibu aku sangat merindukannya!"
Quenna menarik napas pasrah. Ia akan menjauhi Viktor dan pergi dari depan pria itu. Ia akan melupakan begitu saja kejadian malam tadi, Viktor juga tak boleh mengetahui keberadaan anaknya. Sudah cukup dosa yang ia buat. Ia hendak menghindari perasannya.
"Maafkan aku tidak bisa membawa mu bertemu dengan ayah mu, ketahuilah ini demi kebaikan kita, aku tak peduli jika kau ingin marah kepada ku!"
__________
Prangg
Tangan Viktor mengepal ketika bangun tidur ia malah dibuat emosi. Pria itu masih dengan bertelanjang dada menatap seluruh ruangan yang sudah rapi dan hanya tertinggal dirinya seorang.
__ADS_1
Ia meremas rambutnya kasar. Wajah Viktor sangat panik ketika tak menemukan Quenna di kamar ini. Ia pikir malam tadi hanya ilusinya saja akibat ia terlalu mabuk.
Tapi kala mendapatkan ada luka tembakan di dadanya membuat Viktor yakin akan malam tadi. Itu bukan fantasi itu adalah kenyataan.
Itu artinya ia benar-benar telah menemukan Quenna kembali. Tapi, kini ia telah kehilangan jejaknya.
Pria itu menghela napas panjang dan mendesis keras. Ia membuka pintu kamar hotel tersebut dan keluar dengan penampilan sangat berantakan.
Prima terkejut melihat sang tuan yang tak mengenakan pakaian, tapi pakaiannya malah digunakan untuk membalut disekitaran dadanya.
Pria itu berjalan cepat seolah tengah menahan luapan amarah. Ia tak mempedulikan tatapan aneh yang dilontarkan orang yang melihatnya.
"Tuan apa yang telah terjadi? Kenapa penampilan Anda seperti ini? Apakah pembunuh itu berhasil melukai Anda Taun?" Sederet pertanyaan dilontarkan Prima tanpa sadar ia tengah berbicara dengan siapa.
Viktor berhenti melangkah. Ia menatap Prima dengan sengit. Lantas laki-laki itu terintimidasi. Prima pun sadar dengan kesalahannya dan merutuki mulutnya yang tak bisa berhenti berucap.
Viktor masuk ke dalam mobilnya menunggu Prima yang akan membawa mobil itu.
"Akui ingin kau menyelidiki sesuatu untuk ku!"
"Baik Tuan, hal apa yang harus saya selidiki?" tanya Prima sambil memegang stir.
Ia mengeluarkan mobil tersebut dari pekarangan hotel tersebut. Saat telah memasuki jalan raya Viktor menyerahkan sebuah foto kepada Prima.
"Aku ingin menyelidiki wanita bernama Charlotte! Pembunuh bayaran yang terhebat dalam sejarah Inggris!"
Prima menatap Viktor tak percaya. Really? Wanita tersebutlah yang menyerang Viktor semalam? Ia menatap foto itu sekali lagi memastikan matanya tak salah memandang. Mau berapa kali dan sedekat apa pun ia memperhatikannya, tetap saja objek itu takkan berubah, itu adalah Quenna.
"Tuan?"
"Maka dari itu aku ingin kau menyelidikinya! Dalam waktu dekat kau harus sudah memperoleh informasi Charlotte."
Tanpa banyak bertanya lagi, Prima pun paham dengan tugasnya, "baik Tuan."
________
Tbc
Hay teman-teman aku memiliki rekomendasi novel baru nih buat kalian. Jangan lupa buat masukin ke Favorit ya.
__ADS_1