
Lelehan air mata satu persatu luruh membuat permukaan wajah mulus itu licin karena linangan tersebut. Quenna duduk di sudut ruangan kamar dengan tubuh bergetar sambil memeluk kedua kakinya.
Ia menggigit tangannya dan menatap ke arah pintu dengan perasaan sakit tak tergambarkan. Setelah kejadian itu ia dikurung di dalam kamar Viktor dan sama sekali tak bisa meminta permohonan untuk dimaafkan.
Sudah hampir seminggu lamanya ia dikurung di kamar ini dan pria itu setiap kali datang pasti akan menyiksa dan melakukan hal bejat kepadanya.
Quenna menderita dan sakit hati karena ulah pria itu. Perbuatan Viktor memang tidak bisa dimaafkan dengan mudah.
Tidak ada hal yang menarik di dalam kamar itu selain bayang-bayang teriakan kesakitan yang menyisakan rasa trauma.
Quenna harus menunggu mukjizat entah kapan akan datang. Hanya Tuhan yang tahu akan jawabannya.
Quenna mendongak dan menangis kencang meluapkan perasaannya yang menggebu-gebu tiada tara marahnya.
Isakan tangisnya membuat siapa pun yang mendengar dapat merasakan sayatan hati yang begitu dahsyat, mustahil mereka tidak ikut menangis.
Ia rapuh bahkan fisiknya dilumpuhkan. Wanita itu tak mampu untuk sekedar berdiri selain mengesot.
Saking bencinya dengan diri sendiri Quenna sampai memukuli lantai dengan kuat dan melukai tangannya sendiri.
Ia melirik tangan tersebut yang membiru. Quenna meratapi tangannya dan membuangnya dengan pandangan benci.
"Aku benci diri aku sendiri!!! AKU BENCI!!" marah Quenna seraya memukuli tubuhnya dengan brutal.
Nyatanya tidak menimbulkan efek sakit sedikit pun karena rasanya sudah ditelan oleh kekecewaan.
Bahkan rasa sakit pun menjadi nyaman. Quenna menatap bayangannya yang sangat memalukan.
"Aku benci pada mu Kak! Orangtua kita tidak pernah mengajari perbuatan bejat mu itu. I hate u!!"
Quenna tersenyum masam dengan pandangan kosong. Ia meraih gucci di kamar itu tanpa disadarinya, ia menghempaskan Gucci tersebut lalu mengambil salah satu serpihannya.
Quenna tertawa tak jelas tapi mengandung kesedihan. Ia menatap dirinya lalu ke arah langit, sebentar lagi ia akan bersama orangtuanya.
Semoga kali ini Quenna akan berhasil bunuh diri tidak seperti sebelumnya selalu gagal dan diselamatkan oleh pria bajingan itu..
"Aku merindukan kalian!" lirih Quenna dan mantap menyatakannya ke lehernya.
Simbahan darah mengucur dari leher jenjang milik Quenna. Tubuhnya hendak ambruk dan perlahan matanya mengatup menandakan dirinya sudah layu dan saatnya ia untuk beristirahat selama-lamanya.
__ADS_1
Belum sempat tubuh Quenna menyentuh lantai seseorang yang dari tadi susah payah mendobrak pintu kamar tersebut menyambut tubuhnya.
Ia melotot melihat Quenna yang tak sadarkan diri. Ia melihat leher wanita itu dan seketika tubuhnya melemah.
Pria itu menyentuh sayatan yang sangat dalam di area leher Quenna. Urat nadinya masih berdetak hanya saja sangat lemah.
"Quenna!! Tidak!! Bangunlah, aku akan menyelamatkan mu!" Rigel menyalahkan dirinya sendiri yang telat menyelamatkan Quenna.
Lelaki itu bahkan sampai menitikkan air mata saking takutnya Quenna akan pergi darinya. Ia mendekap erat tubuh itu sambil menangis pilu.
Rigel tak punya waktu banyak dan ia juga harus lekas membawa tubuh Quenna keluar dari sini, entah dalam keadaan pingsan atau akan jadi mayat, yang utama dirinya harus membawa Quenna pergi dari tempat terkutuk ini.
Sangat sayang sekali wanita seperti Quenna harus disendra di kediaman terkutuk ini.
"Tuan lewat sini!!" tuntun Kenzo yang sudah hapal dengan seluk beluk rumah Viktor.
Ia keluar dari jendela yang mana di sekitar situ tidak memiliki penjagaan.
"Ah terimakasih Kenzo!"
"Tidak apa Tuan!! Yang lain sudah menunggu di depan, Taun tenang saja," ujar Kenzo membantu Viktor.
"Tuan mereka mengejar kita, saya akan mengalihkan perhatian mereka!"
Rigel mengangguk sudah mengerti. Dengan tubuh Quenna yang ada di pelukannya, ia berlari semampunya dan segera mengikuti petunjuk Kenzo tadi.
Ia tersenyum melihat anak buahnya yang ada di sana. Pria itu mencium puncak kepala Quenna sebentar lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya.
"Terimakasih," tulusnya kepada anak buahnya itu.
Orang tersebut mengangguk dan cepat meninggalkan tempat tersebut. Tampak dari belakang banyak mobil mengejarnya.
"Cepat!! Jangan sampai mereka dapat mengejar kita!"
Sebenarnya Rigel tidak takut tertangkap lagi melainkan ia takut karena ada Quenna di sini. Bagaimana pun mereka tidak akan membiarkan Quenna pergi begitu saja.
_______
Viktor menggeram marah. Ia menembak orang yang membawa berita tersebut. Lelaki itu berjalan dengan diiringi aura yang sangat kelam serta menakutkan.
__ADS_1
Tangannya mengepal dan wajahnya mengeras. Salah dia meremehkan Rigel. Ternyata pria itu masih memiliki nyali yang sangat kuat.
"Tangkap Rigel hidup-hidup, aku sendiri yang akan mengulitinya!!" marah Viktor dan berjalan menuju tempat penjara bawah tanah.
Matanya menggelap melihat rantai yang teronggok di sana. Viktor berjalan laju menuju kamarnya.
Ia harus mengamankan Quenna terlebih dahulu. Tidak boleh mereka menyakiti Quenna. Di antara semua barang berharganya wanita itu adalah hal yang paling berarti di hidupnya.
Viktor menatap pintunya yang rusak. Seketika dadanya berdetak kencang. Tangan Viktor dingin tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Quenna. Wanita itu pasti ketakutan.
Viktor melangkah masuk dengan perasaan penuh harap. Nyatanya cipratan darah membuatnya tak tahu bagaimana caranya untuk hidup.
Seluruh perasaan Viktor tak mampu lagi merasakan setiap detiknya. Bak ia telah mati rasa.
"Quenna!!" lirihnya seraya memejamkan mata menghalau air matanya.
Sekuat apa pun ia menahan tetap cairan itu dapat menembusnya. Ia meraih pistolnya yang paling mematikan di dalam laci lalu berlari menuju pintu depan dengan tergesa-gesa.
"TEMUKAN QUENNA ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI!!" amuk Viktor dan menyempatkan diri untuk menghancurkan seluruh tatanan rumah yang telah diatur rapi.
Ia menghempaskan benda apa pun yang ada di depannya. Merasa perbuatannya tidak berguna, Viktor menghentikannya dan berniat mencari keberadaan Quenna.
"Tuan saya melihat Rigel membawa nona Quenna," ujar Prima yang menahan sakit di perutnya karena berhasil ditembak oleh Kenzo.
Viktor memejamkan matanya dan langsung naik ke dalam mobilnya. Ia sendiri yang akan melakukan pengejaran mobil Rigel.
Viktor pastikan jika tertangkap pria itu maka dirinya tak segan-segan mengulitinya dan digantung di atas pohon menjadi santapan rayap dan burung gagak.
"Keterlaluan kau Rigel!!" Viktor berusaha mengejar mobil yang ditumpangi Rigel.
Seluruh tenaga ia kerahkan mengepung mobil yang membawa wanitanya itu.
"Quenna," beo Viktor menyebutkan nama wanita itu dengan lembut.
Hatinya tak dapat tergambarkan lagi. Perasannya sudah tergores, Rigel berhasil membuatnya uring-uringan dan kalah. Dia tidak tahu bagaimana nasib Quenna, melihat darah di kamarnya saja ia tahu wanita itu dalam keadaan sekarat.
"Tidak akan ku biarkan semesta mengambil mu dari ku!! Tidak ada yang bisa menentang seorang Viktor!! Tidak sedikitpun!!"
________
__ADS_1
Tbc