
Quenna menghembuskan napasnya kasar. Perempuan itu menoleh ke atas hanya untuk sesaat lalu beranjak dari tempat duduknya. Perempuan tersebut menghampiri jendela kaca yang berada di sudut ruangan.
Quenna melirik taman malam tadi dari kaca tersebut. Seberkas cuplikan tentang malam menyenangkan itu teringat di benaknya. Perempuan itu tersenyum simpul.
Malam kemarin adalah malam yang paling memiliki penuh makna di antara banyaknya malam yang telah ia lalui. Ia masih tidak percaya dengan Viktor yang menunjukkan sisi lainnya.
Perempuan itu juga sangat senang ketika Viktor mulai berubah. Entah itu hanya pas malam itu saja atau tidak, yang penting ia menemukan sosok kakaknya lagi.
"Aku menyayangimu Kak," lirih Quenna sangat tulus. Meskipun ia membenci Viktor tapi tak bisa dielak juga ia sangat mengkhawatirkan dan menyayangi sang kakak.
Quenna hendak meninggalkan tempatnya dan terkejut saat membalikkan badan ia melihat Viktor sudah berdiri di depannya.
Wanita itu mengangkat pandangan perlahan hingga matanya bertubrukan dengan sang kakak. Wanita itu menelan ludahnya kasar, kedua tangannya mencengkram sisi bajunya dengan erat.
Viktor menarik napas dan meraih tangan Quenna yang bergetar. Ia menatap wanita itu dan tersenyum tipis.
"Ada apa dengan mu? Kau takut dengan ku?" tanya Viktor kepada Quenna yang menatapnya seolah-olah Viktor hendak menyakitinya.
Quenna menggeleng lemah dan menarik tangannya dari genggaman Viktor. Ia berbalik menatap taman itu kembali. Malam tadi mereka menghabiskan waktu yang sangat panjang dengan senda dan gurauan.
"Kapan kita akan ke sana lagi?" tanya Quenna melirik taman tersebut.
Viktor menatap ke taman yang dimaksud itu lalu mengalihkan tatapannya lagi ke wajah cantik Quenna yang sangat lugu.
"Aku mengizinkan kau ke sana kapan pun yang kau mau," tuturnya yang berhasil membuat Quenna bertanya-tanya tak menyangka.
Perempuan itu menutup mulutnya dan memandang Viktor terharu. Ia memeluk tubuh pria tersebut dengan erat dan beberapa kali mengucapakan tanda terimakasihnya.
Viktor menjauhkan bahu Quenna dan meminta Quenna menyudahi pelukannya. Ia merapikan rambut Quenna yang menghalangi dirinya untuk menatap betapa cantiknya ciptaan sang kuasa ini.
"Kau benar-benar serius dengan ucapan mu kan Kak?" tanya Quenna memastikan jika tidak ada kebohongan di antara mereka.
__ADS_1
Melihat tatapan Viktor yang sangat tulus membuat Quenna percaya bahwa pria itu benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku tidak mungkin membohongi mu Quenna," ucap Viktor seraya menatap taman itu sekilas, "jaga diri mu di rumah. Ingat aku akan bersikap kasar kepada mu jika kau berulah lagi. Aku akan pergi."
Viktor yang telah lengkap dengan pakaian kantornya itu mencium bibir Quenna sekilas lalu pergi diiringi oleh asistennya.
Quenna menundukkan kepala dan ketika Viktor telah jauh ia pun mendongak dan tersenyum kecut. Tangannya mengepal dan menyentuh tempat kakanya mencium bibirnya.
Ia berusaha meredakan perasaannya yang berkecamuk dan menganggap hal itu bukan apa-apa. Setidaknya ia berbangga hati ketika Viktor menunjukkan sikap perubahannya.
Ia tidak semengerikan sebelum-sebelumnya. Seharusnya ia berdoa dan meminta agar sikap Viktor yang seperti itu akan tetap selamanya.
Ia memandang ke arah mesin jahit yang selalu menemani dirinya dan menghampiri sudut yang selalu ia habiskan hari-harinya dengan menjahit.
Perempuan itu menyentuh jahitan baju nya yang belum selesai. Quenna menarik napas dan melanjutkan pekerjaannya.
Di samping itu juga banyak tumpukan novel dan buku-buku rahasia yang ia simpan di balik novel-novel itu. Viktor tidak mengetahui jika Quenna membaca buku-buku miliknya. Tak heran jika wanita itu cerdas dalam berbisnis meski tidak pernah melakukan hal itu.
Jika Viktor mengetahui hal tersebut mungkin Quenna tidak akan diampuni. Ia sengaja menjauhkan Quenna dari buku-buku itu agar wanita tersebut tetap akan menjadi wanita yang lugu tak tahu menahu.
________
Dari hasil kerjasamanya tentu akan memperoleh hasil yang tidak sedikit. Viktor akan banyak meraup keuntungan.
Pria itu tersenyum licik ketika Abdollah keluar dari ruang rapat. Rencana licik sudah tertata rapi di otaknya.
Viktor mengetuk pena ke atas meja dan melirik Prima yang juga menyeringai menatap dirinya.
Viktor menarik napas dan menatap serius Prima. Ia mengambil berkas yang ada di depan Prima dan melirik pria itu sambil membacanya.
"Aku ingin rencana kita kali ini akan berjalan dengan lancar, kau bisa menjaminnya?" tanya Viktor kepada asistennya yang mengangguk sangat yakin.
__ADS_1
Viktor meletakkan berkas itu dan mengalihkan perhatian kepada senjata api yang ada di sakunya. Ia meraih benda itu dan menatapnya tajam.
"Aku sudah sangat tidak sabar ingin bermain-main, hahahah!!" tawa licik Viktor memenuhi ruangan rapat yang hanya tinggal orang-orang di pihaknya.
Prima tersenyum bangga dan menatap anak buah yang lain yang juga memamerkan senyum kejam di sisi bibir mereka.
Viktor keluar dari ruangan rapat itu dan diikuti Prima di sampingnya. Ia berjalan ke arah ruangan direktur dan menatap sekretaris perempuannya yang berpakaian minim.
Viktor menarik napas sejenak dan membuang tatapannya. Pria itu membuka ruang kerjanya dan melirik Prima di depannya.
"Beritahukan Quenna untuk memasakkan makanan kesukaan ku dan dikirim ke sini secepatnya, katakan padanya aku tidak akan pulang malam ini." Viktor memberikan perintah kepada Prima.
Prima mengangguk dan pamit mengundurkan diri. Ia akan menyampaikan keinginan sang tuan kepada Quenna.
Viktor menggenggam tangannya dan berusaha menetralkan perasaannya. Laki-laki tersebut menatap dirinya yang berada di dalam cermin dan menyentuh topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu melirik ke arah bingkai foto Quenna yang terpajang lebar di ruangan tersebut. Viktor tersenyum dan merasa lebih baik setelah melihat Quenna melalui foto itu.
"Aku merindukan mu," bisik Viktor kepada dirinya sendiri, "meskipun kau adalah saudara ku, tapi kau tidak akan pernah lepas dari ku, kau hanya milik ku," kata Viktor yang terkesan sangat posesif.
Pria itu menghampiri kaca transparan yang mengarah langsung dengan pemandangan jalanan ibu kota. Viktor mengamati setiap kendaraan yang melintas.
Begitu banyak kendaraan mewah di sana dan ada juga beberapa kendaraan yang ugal-ugalan. Viktor hendak meninggalkan tempat tersebut tetapi matanya menyipit manakala menangkap satu mobil yang terlihat aneh dan mencurigakan.
Mereka seperti tengah merencanakan sesuatu terhadap perusahannya, ia terlihat seperti mata-mata. Viktor tersenyum lebar dan menatap jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Sepertinya aku memiliki mainan baru," gumam Viktor dan bergegas keluar dari ruangannya.
Siapa yang telah berani memata-matai perusahannya? Hanya orang yang hendak mencari mati saja yang akan melakukan itu.
Mereka sudah ditandai Viktor dan tidak akan mungkin dilepaskan begitu saja. Tidak ada kata ampun kepada mereka, Viktor akan melakukannya dengan penuh penyiksaan.
__ADS_1
_________
Tbc