Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 40


__ADS_3

Jangan lupa berikan dukungan dengan cara Like dan komen yah. Harap kerjasamanya jika ada Typo komen yah.


____________________


"Dadah!!" Quenna melambaikan tangannya kepada sang anak yang hendak memasuki gerbang sekolah.


Carol berlari sambil menatap sang ibu dan membalas lambaian tangan ibunya. Anak itu tertawa dan menebarkan ciuman jarak jauh untuk Quenna.


"I Love U Mother!!"


Quenna, wanita itu tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya yang berseri. Ia menggelengkan kepala melihat kelucuan tingkah anaknya.


Pada saat Carol telah menghilang dari pandangan Quenna, persempuan tersebut melunturkan senyumnya perlahan. Ia menatap gedung tinggi di depannya tersebut dengan perasaan sedih.


Tempat ini adalah impiannya dulu, tapi sayang semuanya telah terkubur. Quenna berusaha untuk tegar dan melupakan masa lalunya. Ia telah merubah kehidupannya dan menjadi manusia yang bak baru saja dilahirkan.


Ia akan melupakan pria tersebut dan jika perlu ia akan membalas dendam kepada Viktor. Quenna mendesah sedih dan berbalik ingin memasuki mobilnya.


"Puk."


Perempuan itu memejamkan matanya seraya mengusap dada. Ia menatap nyalang sang pelaku yang mengkagetkan dirinya itu.


Andreas tertawa melihat respon refleks dari Quenna. Ia bersandar di mobil Quenna dengan tangan dilipat sementara mulutnya mengunyah gula karet.


Pria itu menarik napas panjang melihat Quenna menatap dirinya tak bersahabat. Ia membuang gula karet yang telah hambar.


"Ayolah cantik!! Kenapa kau sangat garang sekali?" kesal Andreas dan berdiri tegap di depan Quenna.


Pria itu yang notabenenya lebih tinggi dari Quenna membuat wanita itu mengharuskan dirinyanya mendongak.


"Kenapa kau ada di sini?"


Andreas memutar bola mata malas setelah mendengar kalimat pertama yang dikeluarkan oleh perempuan tersebut untuknya.


"Mengikuti mu apalagi!"


"Minggir kau!" senggol Quenna meminta pria tersebut yang menghalangi jalannya itu menyingkirkan dari hadapannya.


Bukannya menyingkir Andreas malah bersikap semena-mena dan menentang Quenna. Ia berdiri sangat dekat di depan Quenna hingga jarak keduanya hanya beberapa senti saja. Tatapan Andreas begitu mengintimidasi lawan bicaranya.


Perempuan tersebut meneguk ludahnya dan berdahem untuk mengalihkan situasi serta membuang wajah dari Andreas.


"Charlotte! Nama yang cantik seperti wanita di depan ku ini!"


Decihan dari Quenna membuat Andreas merengut. Ia berubah menjadi pria cute demi mendapatkan perhatian Quenna.


"Aku sudah muak mendengar ucapan mu!! Menyingkir lah sebelum aku melakukan kekerasan!"


Dengan gaya angkuhnya Andreas tertawa mengejek mendengar ucapan Quenna. Ia memandang sekitar yang sangat ramai. Ia semakin tertarik dengan wanita di depannya ini.


"Kau yakin ingin melakukannya?"

__ADS_1


Quenna menatap sekitar melihat banyaknya warga yang mengantarkan anak mereka bersekolah dan anak-anak yang bermain di area sekolah ini, tentunya keadaan sekarang ini tak memungkinkan ia untuk berduel dengan Andreas meskipun hatinya sudah sangat dongkol melihat pemandangan Andreas bergentayangan di sekitarnya.


"Apa mau mu?" tanya Quenna yang sudah sangat terlampau marah kepada pria tersebut.


"Mau ku ya? Aku ingin menumpang. Kebetulan mobil ku rusak parah di area sini!"


Dalam hati Quenna ia mengumpat keras. Wanita tersebut sangat hapal jika itu hanyalah modus belaka milik Andreas, tambah sangat murahan.


Quenna melempar kunci mobilnya kepada Andreas meminta pria itu yang akan membawa mobilnya.


"Cepatlah! Bos ada yang ingin dia dibicarakan dengan ku!"


"Dia ingin kau melakukan eksekusi paling berbahaya, ku dengar target kali ini bukan sembarang orang. Aku akan meminta bos mengganti target mu, aku tak ingin kau kenapa-kenapa nantinya! Itu sangat berbahaya!" khawatir Andreas yang menurut Quenna sangat berlebihan.


"Aku yang menyetujuinya, aku tidak takut dan ini sangat menantang." Ucapan Quenna sangat jelas dapat dirasakan tengah mengejek Andreas.


Andreas menghela napas panjang. Memang percuma ia berbicara kepada Quenna. Wanita itu tidak akan menurutinya dan malah mementingkan egonya yang tak puas ingin melakukan aksi menantang, tak memikirkan sekitarnya yang sangat khawatir dengan keadaan wanita itu.


____________


Quenna datang dengan gaya seperti biasanya, sombong dan angkuh. Ia sangat percaya diri akan keberhasilannya.


Wanita tersebut melempar senjata api di tangannya ke depan sang atasan. Senyuman smirk terpampang di wajahnya seolah tengah mengajak pria di depannya untuk berduel.


"Quenna!" Sontak Quenna langsung menatap tajam sang tuan dan melirik sekitar takut-takut orang mendengar ucapan sang tuan.


Abraham terkekeh melihat wajah Quenna yang biasanya datar dan sangat menakutkan berubah panik.


"Kau ternyata sudah banyak berubah setelah aku membawa ke sini. Sangat bagus, aku menghargai kemajuan mu ini! Karena kau telah berhasil menyelesaikan banyak misi, aku mempercayaimu sebuah pekerjaan," bisik Abraham kepada wanita tersebut.


Quenna menyeringai. Ia menjulurkan tangannya untuk sepakat dengan pekerjaannya. Tanpa ditanya terlebih dahulu ia langsung menyetujui.


Abraham sangat salut dengan wanita ini. Ia menatap Quenna tidak percaya dan jangan lupakan ia sangat bangga dengan keberanian perempuan tersebut.


"Jika aku berhasil apa imbalan ku?"


"Apa pun yang kau inginkan!"


Binaran mata di wajah Quenna membuat wanita itu semakin yakin dengan pilihannya.


"Aku tetap mengingatkan mu agar tidak sombong! Target kita kali ini bukan target mu seperti biasanya! Dia cerdas dan terkenal dengan kehebatan strateginya, maka dari itu tidak ada yang berhasil membunuhnya! Kau masih yakin untuk percaya diri setelah mengetahui kehebatannya?" Abraham sengaja menceritakan itu untuk membuat pilihan Quenna menjadi goyah.


Quenna sama sekali tak mengubah ekspresi wajahnya. Ia tetap terus mengatakan setuju meskipun Abraham telah menceritakan kehebatan pria itu.


"Aku penasaran sehebat apa dia, atau dia akan mati di tangan orang lemah seperti ku ini?" kekeh Quenna lalu merebut berkas di depan Abraham. Ia menanda tangani surat persetujuan tersebut. "Tenanglah, aku akan membawa kabar gembira untuk mu!"


_______________


Viktor berjalan sangat laju mengabaikan para karyawan yang menyapa dirinya. Ia menyerahkan berkasnya kepada Prima sang asisten yang selalu membuntuti laki-laki tersebut kemana pun.


"Apa jadwal ku senaljutnya?"

__ADS_1


Prima menyerahkan sebuah kertas yang berisi jadwal lengkap Viktor untuk hari ini. Pria tersebut mengambilnya dan membaca list tersebut.


Ia menghela napas panjang dan mengembalikan kertas itu kepada Prima. Ia menatap jam tangannya, sebentar lagi akan melakukan meeting dengan salah satu perusahaan dari Inggris.


"Sampaikan kepada mereka aku akan datang sebentar lagi!"


Prima mengangguk dan menyuruh sekretaris yang juga mengikuti Viktor menghubungi rekan kerja mereka.


Laki-laki itu membuka pintu mobilnya menunggu Prima masuk dan membawa mobil tersebut.


Tak lama mobil itu telah melesat jauh dan telah sampai ke sebuah cafe besar yang ada di Washington. Viktor keluar dari mobil itu sambil membenahi kemejanya.


Ia berjalan laju masuk ke dalam cafe itu. Tapi tak sengaja ia menemukan ada Rigel di sana. Ia menyipitkan mata memastikan apakah itu benar Rigel.


Lelaki tersebut berdecih mengejek Rigel. Rupanya pria tersebut masih hidup, sedikit menyesal karena dulu ia tak memusnahkannya.


"Di mana mereka?"


"Ada di sebelah sana Tuan!"


Viktor mengangguk dan berjalan ke arah tersebut. Ia duduk di kursi yang telah disiapkan rekan kerja untuknya.


"Bagaimana kabar Anda?" tanya kolega dari Inggris tersebut sambil mengajak bersalaman.


"Biak, bagaimana dengan Anda?"


"Tidak jauh berbeda dengan kau." Viktor mengangguk mengakhiri basa basi tersebut.


Mereka pun mulai memasuki pembahasan inti. Viktor berencana ingin membangun industri di Inggris mengembangkan perusahan miliknya yang cabangnya di Amerika.


"Terimakasih, sangat senang bekerja dengan Anda!"


Viktor membalas jabatan tangan pria yang sudah berumur tersebut.


"Saya harap kerjasama kali ini dapat menguntungkan dua belah pihak!"


Mereka pun berpisah setelah membincangkan banyak hal. Viktor tampak tenang dengan raut wajah yang tak memiliki ekspresi.


"Kapan kita akan ke Inggris untuk meninjau lokasi?" tanya Viktor kepada Prima yang selalu membuat jadwal untuknya.


"Anda akan ke Inggris 3 hari lagi."


"Lakukan lebih cepat, aku tidak bisa berlama-lama di sana, Aku ingin menyelesaikannya dengan cepat!"


"Baik Tuan!"


__________


Tbc


Jangan lupa juga yah mampir ke karya teman aku, dijamin kalian pasti suka dengan Ceritanya. Buruan masukin ke favorit gesss...

__ADS_1



__ADS_2