Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 87


__ADS_3

Untuk mengisi waktu luangnya yang sangat membosankan Quenna lebih memilih untuk membuat kue ketimbang menghabiskan waktu dengan bersantai dan mengurung diri di kamar.


Quenna termasuk anak yang bebas dan wanita itu cukup aktif. Hanya saja belakangan ini ia lebih suka berada di dalam rumah dari pada keluar rumah tapi malah dikawal seperti putri raja.


Di dalam rumah ini Rigel membebaskannya untuk berekspresi. Itulah kelebihan dari Rigel, pria itu kadang lembut namun tak ayal juga menyiksanya jika ia menolak keinginan laki-laki itu.


Quenna hanya menikmati nasib yang entah sampai kapan akan terus begini. Yang penting ia akan menjalaninya suka atau tidak suka yang diharapkan Quenna kondisi ini cepat berakhir.


Ana melihat Quenna yang sibuk mengadon kue. Ia sangat takjub dengan keahlian Quenna yang sangat luar biasa. Kebiasannya yang sudah menjadi pelayan Quenna membuat wanita itu refleks membantu Quenna.


Quenna sampai terkejut tatkala Ana merebut pekerjaannya dan menyebut dirinya dengan embel-embel non. Padahal jelas keadaan mereka tidak lagi sebagai Nona dan Pembantu.


Keduanya sudah setara dan menjadi dua wanita yang sangat berharga di dalam hidup Rigel.


"Ana, tidak, kau tidak pantas mengerjakan ini, biarkan saja aku. Lagipula kau bukan lagi pembantuku," larang Quenna dan merebut kembali mangkok adonan tersebut.


Quenna sangat merasa tak nyaman kepada Ana yang harus mengerjakan itu. Apalagi dirinya hanya menumpang di rumah ini berbeda dengan status Ana yang bisa disebut nona di rumah ini.


"Kenapa kau melarang ku?" Ana mengercutkan bibirnya tak suka. Padahal ia sudah biasa membuat kue dan ia merindukan masa-masa di mana ia menjadi seorang pembantu.


Sekarang ia benar-benar dilarang oleh Rigel mengerjakan pekerjaan dapur. Kata pria itu dia adalah wanita berkelas seorang adik dari Rigel dan tak pantas sama sekali berkutat dengan dapur dan pekerjaan rumah, asumsi dari mana itu?


Rigel memang sudah sangat tidak waras menurut Ana. Tapi bagaimana juga itu adalah kakaknya. Ia ingin melaporkan hal tersebut kepada orangtuanya sikap Rigel yang semena-mena tersebut, namun Ana sadar hubungannya dengan orangtunya tak baik.


Ia hanyalah anak yang tidak diharapkan dari keluarga itu yang menerimanya di dalam keluarga hanyalah Rigel yang tidak peduli dengan statusnya.


"Ana kau bisa bantu menemani Carol belajar saja?" pinta Quenna penuh harap. Wanita itu sampai meringis melihat wajah Ana yang seolah-olah tengah berpikir.


Tak tau kenapa ia malah menjadi gugup takut Ana akan marah dengan permintaannya tersebut. Padahal Ana baik-baik saja dan semangat hendak menuju ke kamar Carol, Ana memang menyukai Carol. Anak itu sangat lucu menurutnya, apalagi itu adalah hasil dari Viktor.

__ADS_1


Quenna tidak tahu jika Ana mencintai Viktor. Ana berakting dengan sangat baik menyembunyikan perasaannya yang sangat dalam itu dari wanita yang seharusnya menjadi saingannya.


"Eum... Tidak masalah aku sangat ingin bermain dengan anak mu itu," ujar Ana dan tersenyum lalu berlari ke kamar Carol.


Quenna tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya mengaduk adonan kue. Ia begitu apik dan memasukkan adonan tersebut ke dalam oven ingin dibakar.


Ia membuat brownies bakar karena Carol juga sangat menyukai brownies. Perempuan itu terdiam di depan oven yang sedang dipanaskan, menunggu kue itu masak.


Ia memejamkan matanya dan menopang tangannya di kepala dengan wajah cantiknya ia begitu sempurna.


Rigel yang baru masuk ke dalam dapur pun sampai dibuat terpana dengan wanita itu. Ia terdiam dengan posisi yang tidak jauh dari Quenna. Laki-laki tersebut bahkan sampai memotret Quenna yang tidak sadar dengan kamera itu.


Setelah mendapatkan foto yang dinilai Rigel sangat sempurna ia pun menyimpan kembali ponselnya dan mendekati wanita itu.


Rigel memeluk tubuh Quenna dari belakang membuat Quenna langsung sadar dan membuka matanya. Refleks ia ingin menampar Rigel akan tetapi Rigel yang sudah membaca gerakan tangan Quenna menangkap tangan wanita itu.


Ia tersenyum lebar dan mengedipkan matanya yang lantas membuat Quenna rasanya sangat mual melihat hal itu. Quenna diam dan menatap kesal Rigel.


"Lepaskan aku!!"


"Kau sedang membuat apa?" tanya Rigel seolah tak mendengar permintaan Quenna sebelumnya.


Quenna memutar bola mata malas dan tetapi berusaha membuka tangan Rigel yang memeluknya. Akan tetapi pria ini malah semakin mengeratkan nya.


"Kau sedang membuat kue untuk siapa? Untukku?" Dalam hati Quenna mengatai Rigel 'terlalu percaya diri.' Setidaknya itulah yang ada di benak Quenna yang terlintas begitu saja manakala Rigel berucap dengan pedenya.


"Aku tidak sudi membuatkan untukmu, aku membuatkan ini untuk anak ku," decih Quenna dengan lantang di depan muka Rigel.


Rigel tertawa gemas melihat Quenna. Ia pun melirik oven yang sudah menunjukkan jika pembakaran di dalam sana sudah selesai. Ia pun membuka oven itu dan mengeluarkan brownies masakan Quenna.

__ADS_1


Ia mencium aroma kue yang sangat menantang membuatnya sangat tergiur untuk mencicipi. Saat ia hendak memotong brownies itu Quenna sigap menepak tangan Rigel.


"Ini milik Carol," peringat Quenna dengan mata melotot.


Rigel seolah tengah ingin bermain-main dengan Quenna. Ia malah semakin jahil membuat Quenna sangat marah.


"Kau!! Kau jika ingin brownies ini buat sendiri," umpat Quenna lalu mengambil brownies itu dengan kesal.


Ia menambahkan buah ceri di atas brownies itu. Tapi Rigel merengut melihat Quenna. Tampangnya seperti anak-anak.


"Kenapa aku tidak boleh mencicipinya? Carol pasti akan memberikannya pada ku, lagipula aku adalah calon ayah sambungnya nanti."


Quenna tercengang dengan ucapan Rigel. Ia terdiam mengingat semakin hari akan semakin dekat pernikahannya dengan Rigel. Quenna sangat tidak siap, ia hanya akan menikah dengan Viktor.


"Kau bisa jika tidak menganggu ku?" kesal Quenna lalu mendengus.


Quenna ingin pergi membawa kue itu tetapi malah Rigel menahannya dan menarik wajahnya dan ingin mencium bibirnya. Untungnya Quenna langsung menutup mulutnya dan mendorong tubuh Rigel.


Matanya berkaca-kaca menatap pria itu. Ia mengencangkan kepalan tangannya dengan sangat geram. Quenna benci mengingat ia belum bisa lepas dari Rigel.


Ia harus secepatnya menyusun rencana kabur dari rumah ini. Quenna menarik napas dalam lalu mundur beberapa langkah saat Rigel ingin menghapus jarak dengannya.


Yohana yang ternyata sudah melihat dari awal hanya bisa meneteskan air matanya di balik lemari. Ia mencintai Rigel akan tetapi pria itu mencintai Quenna. Dulu ia mencintai Viktor tetapi Viktor mencintai Quenna.


Semua direbut Quenna, lihat saja ia pastikan akan membalas wanita itu dengan sangat menyakitkan sebagai balasan rasa sakit hatinya selama ini.


"Lihat saja nanti aku akan membuat mu menderita," ujar Yohaan kemudian pergi sambil menghapus air matanya. Hatinya sangat sakit bagaikan diremas kuat.


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2