
Autsin berjalan dengan lesu di halaman rumah. Pria itu baru saja menyelesaikan tugasnya yang diberikan sang tuan kepadanya. Pria itu tampak tengah berpikir menyelesaikan permasalah yang akhir-akhir ini menyerang perusahaan sang atasan.
Pria itu sudah mengatasinya dengan benar hanya saja kasus itu benar-benar belum terpecahkan. Korupsi besar-besaran yang telah dilakukan salah satu staf perusahaan membuat kerugian besar pada perusahaan utama.
Memang staf itu sudah ditangkap tapi masih terdapat kekhawatiran sebab bukti menunjukan bahwa pelakunya tidak hanya orang dalam tetapi juga dari luar.
Banyak pancingan bukti yang mengarahkannya kepada tersangka yang salah. Mengira itulah pelakunya akan tetapi pelaku aslinya belum juga kunjung tertangkap.
Pelaku itu benar-benar licik beberapa kali Autsin hampir masuk ke dalam jebakannya. Salah sedikit maka bukan hanya nyawanya yang melayang akan tetapi perusahaan pun akan hancur dan lenyap.
Autsin menghela napasnya kasar. Pria itu pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Tak lama ada seorang pria yang berjalan gontai menghampirinya.
Wajah pria itu sangat lesu seakan juga banyak permasalahan. Ia pun berjalan dengan lemah menghampiri Autsin. Autsin mengerutkan keningnya dan terus menatap laki-laki itu yang duduk di sampingnya.
"Apa yang membuatmu tampak lesu begitu? Aku melihat kau seperti memiliki masalah," ujarnya sembari memperhatikan dengan Lamat wajah pria tersebut.
Sang pria lantas ikut mengamati Autsin dan tersenyum lebar namun penuh seringaian. Laki-laki itu lantas bergaya dengan sombong dalam hitungan detik.
"Cih, seperti kau juga tidak memiliki masalah saja, aku tahu pikiran mu sedang kalut. Huh! Kasus ini benar-benar menaruhkan nyawa kita. Belum lagi keinginan Tuan yang membuat ku tak bisa banyak berpikir. Masalah satu belum selesai dan Tuan ingin menambah masalah lagi, aku berpikir apakah ia tidak penat?" heran sang empu seraya meminta jawaban keheranannya itu.
Autsin lantas mengubah sikapnya menjadi sangat serius. Pria itu memandang orang di depannya tersebut dan menukikkan alisnya.
"Memangnya Tuan menginginkan apa lagi?" Yesaya sontak menatap Autsin sembari berekspresi geram.
"Kau tahu? Tuan ingin menculik Nona Quenna dan menjadikannya istri dengan paksa. Dan kita yang menyelesaikan rencana itu, kau tahu ini hanya akan menambah masalah saja, bukan?" Yesaya menarik napas dalam kedua pria itu sontak berpikir keras untuk menghentikan kegilaan Rigel.
Viktor bukan orang sembarangan yang bisa mereka hancurkan begitu saja. Menculik Quenna hanya akan mendatangkan masalah yang berkepanjangan dan tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
"Nona Yohana sudah mengetahuinya?"
"Belum. Sepertinya Tuan juga tidak ingin memberitahukan niatnya kepada nona Yohana. Nona Yohana jelas sangat membenci Quenna, di samping itu dendamnya belum benar-benar terbalaskan."
Autsin mengangguk. Rekannya ini memang benar. Sementara Yesaya mengernyitkan keningnya sebab pria ini terus melihatnya.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Yesaya sembari mencari letak kesalahan tersebut pada tubuhnya.
__ADS_1
"Entah kenapa aku merasa nama mu sangat mirip dengan anak buahnya si Viktor yang gay itu." Autsin tertawa kecil meledek Yesaya, "hahahah bukan hanya mirip, tetapi memang sama."
Yesaya mendengkus kasar. Kemudian ia membuang wajahnya dari Autsin. Memang sama, tapi nama Yesaya tidak hanya satu 'kan di dunia ini?
"Kau ingin meledek ku? Maka ledek lah ibu ku kenapa bisa memberikan nama seperti ini mirip dengan si najis tersebut."
Autsin menggeleng sembari tertawa lebar. Tapi tiba-tiba tawanya terhenti kala ada seorang wanita masuk dengan bebas ke dalam rumah Rigel.
Autsin merubah rautnya jadi datar dan melirik wanita itu yang berjalan ke arahnya. Pakaian yang sangat seksi yang menampakkan tubuh indahnya, serta dandanannya yang sangat sensual seakan itu adalah hal biasa.
"Di mana Tuan mu?"
"Tuan sedang tidak ada di rumah."
Yohana menarik napas panjang lalu mendecih kasar. Perempuan tersebut langsung naik ke lantai atas tanpa pamit seakan dialah pemilik rumah ini.
"Nona Yohana sangat cantik."
"Sayangnya dia hanyalah alat bagi Tuan untuk bersaing dengan Viktor. Mungkin jika dapat mengalahkan Viktor target selanjutnya adalah Yohana."
____________
Quenna merasa tidak tenang setelah apa yang ia lihat kemarin. Hal itu terus menghantuinya. Ia berpikir bagaimana caranya agar Rigel mengetahui hal ini.
Sudah jelas Viktor sangat bernafsu untuk membunuh Rigel. Asalkan kalian tahu Quenna memiliki hutang kepada Rigel. Pria itu yang menyempatkan dirinya hingga ia bisa mengetahui dunia luar.
Quenna menggigit bibir bawahnya lalu menarik napas kasar. Otaknya seakan sedang buntu tak dapat berpikir banyak.
Wanita itu mengutuk keadaan dirinya yang tidak berguna ini. Ia tak ingin menyesal terlambat dan membuat Rigel nanti sangat membencinya.
"Aku harus mengatakannya, tapi bagaimana? Aku bahkan tidak tahu nomor ponselnya. Tuhan pertemukan kami kembali," mohon Quenna atau tidak dia akan mendapatkan sebuah keberuntungan yang bisa mengehentikan Viktor.
Wanita itu menutup matanya dan menyelam pada dunia mimpi. Akan tetapi baru saja beberapa detik mata indah itu terkunci seseorang masuk ke dalam kamar sambil tersenyum lelah.
Ia membuka bajunya hingga menampakkan wajahnya yang gagah. Quenna mengalihkan pandangannya sebab wajahnya sangat salting.
__ADS_1
"Kau masih malu melihat ku bertelanjang dada?" tanya Viktor dan duduk di atas kasur tersebut.
Quenna mengercutkan bibirnya dan terpaksa melihat laki-laki itu. Ia pun berganti posisi duduk. Quenna memandang Viktor penuh arti, bingung bagaimana cara mengungkapnya.
"Huh!"
"Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan kepada ku." Viktor menyadari raut muka Quenna yang berbeda dari biasanya. Tampaknya ada hal yang ingin disampaikan wanita ini.
Ia pun membagikan peluang untuk Quenna mengutarakan keinginannya. Ia ingin menjadi sang kakak yang baik untuk adiknya.
"Kau dari mana?"
"Hanya ke rumah sakit sebentar. Memangnya kenapa?"
"Kenapa tidak mengajakku? Aku juga ingin menjenguk bibi," ujar wanita itu dengan wajah kesal.
"Katakanlah."
Seketika Quenna yang sempat mencairkan suasana terdiam sambil berpikir keras ingin menyampaikannya. Ia tidak berani dengan reaksi Viktor.
"Kau sedang merencanakan sesuatu?"
Viktor pun sadar dengan ucapan Quenna. Ia teringat lupa menyimpan berkas-berkas tersebut. Sepertinya Quenna juga sudah mengetahuinya.
"Ya. Hanya ini cara ku untuk membalaskan dendam ibu ku. Aku ingin dia merasakan dengan perlahan apa itu rasa sakit," ucap datar Viktor lalu memandang sang adik. "kenapa memangnya?"
"Oh." Quenna tidak jadi ingin mengatakannya. Lebih baik ia bertindak sendiri di luar sepengetahuan sang kakak.
Ia bukan wanita lemah, perannya juga sangat besar. Ia adalah Charlotte seorang pembunuh bayaran yang disegani, lantas hal apa yang akan membuatnya tak percaya diri ingin ikut campur masalah tersebut.
Bagaimanapun ini juga berkaitan dengan dirinya. Ia tak mungkin diam seperti patung sementara di luar sana banyak yang gugur. Ia harus segera menghentikannya.
___________
Tbc
__ADS_1
jangan lupa like dan komen.