
"Ana ingat apa yang ku katakan, jangan berani-berani kau melanggarnya. Kau ingin keluarga mu baik-baik saja, kan?" tanya Viktor mengintimidasi membuat Ana tidak berani menatap langsung ke dalam manik pria itu.
Quenna menarik napas panjang. Ia tersenyum pahit, Viktor kakaknya ini sudah menjadi kebiasaannya mengancam orang lain. Ia tidak ingin teman barunya takut dan tidak jadi bekerja di sini.
Viktor pergi dari sana setelah mencium kening Quenna. Quenna menatap punggung tegap lelaki itu.
Bisa dikatakan jika Viktor sangat sempurna, sejauh ini perawakan Viktor adalah pria yang masuk kategori gagah. Ya bagaimana pun Quenna hanya tahu Viktor di rumah ini.
Ia sering melihat bawahan Viktor tapi bagi Quenna tak ada yang dapat mengalahkan aura Viktor meskipun ia menggunakan topeng. Quenna yakin dibalik itu jauh lebih tampan.
Quenna tersadar ketika Ana mengode dirinya. Ia dari tadi melamun dan malah memikirkan Viktor. Perempuan itu berusaha mengenyahkan pikirannya mengenai pria tersebut.
Lagipula kenapa bisa sempat-sempatnya dirinya malah memikirkan Viktor. Tidak mungkin kan Quenna menyukai kakaknya sendiri? Quenna hanya kagum dengan penampilan sang kakak yang begitu istimewa.
Nyatanya penampilan Viktor berbanding terbalik dengan sifatnya, pria kejam serta bengis yang melakukan apa saja dan membunuh mereka yang menghalangi jalannya.
Hal itu menjadi kekurangan dari seorang Viktor di mata Quenna di balik semua kesempurnaannya. Jika kakaknya itu memiliki sifat yang sangat baik dan tidak melenceng dari norma kehidupan, mungkin Viktor telah menjadi kakak terbaiknya.
"Nona," sapa Ana dengan ragu.
Quenna tersenyum kepada wanita muda tersebut dan menyorongkan tangannya mengajak berkenalan.
"Aku tidak tahu dunia luar, apakah benar seperti ini cara berkenalan? Aku hanya mengetahuinya dari novel yang ku baca."
Ana terperangah tak percaya. Ternyata masih ada manusia ketinggalan zaman seperti ini, apakah Quenna tak pernah keluar rumah? Sejujurnya Ana sendiri tidak tahu menahu dengan pekerjaannya dan majikannya ketika dibawa ke sini.
Ia adalah budak yang dibeli Viktor dari tempat menjijikkan tersebut. Ia sangat bersyukur dan setuju ketika Viktor menyuruhnya menjadi pelayan.
"Eumm, Nona memangnya kau tidak tahu?"
Quenna tertawa kecil dan tersenyum sangat ramah. Bahkan Ana yang seorang perempuan saja terhipnotis dan merasa Quenna adalah wanita tercantik yang pernah ditemuinya. Kecantikan yang tersembunyi.
Quenna heran kenapa Ana terus menatapnya. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya dan meneliti diri sendiri.
"Kau sangat cantik Nona." Ana tanpa sadar mengucapakan kalimat tersebut.
Quenna tidak paham, baginya wanita semua cantik. Hanya Melisa dan pelayan lain yang pernah ditemuinya yang ia tahu mereka semua cantik tanpa ada kekurangan.
"Nama mu siapa?"
Ana tersadar dan menampar pipinya kecil, ini efek ia tersihir dengan senyuman Quenna. Kenapa bisa ada wanita secantik itu?
"Nama ku Anastasia Nona, kau bisa memanggilku Ana. Umur ku sembilan belas tahun, bagaimana dengan mu Nona?"
Quenna mengangguk dan semangat memperkenalkan dirinya kepada teman barunya, "panggil saja aku Quenna, umur ku delapan belas tahun."
Ana menatap Quenna penuh arti, seperti ada yang hendak ditanyakan oleh Ana. Jujur saja ia masih bingung dengan lingkungan barunya.
"Kau tahu yang tadi, dia siapa mu?" tanya Ana kecil takut didengar Viktor.
__ADS_1
Quenna menatap tempat Viktor tadi berdiri. Ia tersenyum sekilas lalu meraih tangan Ana.
"Dia kakak ku."
Ana mengangguk paham. Ia menatap tubuh Quenna yang sangat sempurna. Agak sedikit kebingungan melihat Quenna menggunakan kursi roda, apakah nonannya ini lumpuh?
"Begitu kah Nona?"
"Panggil aku Quenna saja jangan nona. Aku tidak suka mendengarnya." Quenna menganggap semua yang ada di sini adalah temannya, jika menggunakan embel-embel sudah pasti menggambarkan perbedaan status.
"Tapi--?"
"Ana! Itu kan nama mu? Nama yang sangat bagus. Kau ingin mendengar ku bercerita?"
Ana jelas tidak bisa menolak. Ia mengangguk dan siap mendengarkan cerita Quenna. Quenna menceritakan banyak hal dari keseruannya dan kebosanannya serta isi novel-novel yang pernah ia baca.
"Quenna? Jadi kau sama sekali tidak pernah keluar rumah?"
Quenna mengangguk sedih. Wajar jika Ana terkejut dengan ceritanya. Tapi bagian Viktor memperlakukan dirinya buruk tak ia ceritakan.
"Iya. Aku ingin kabur dari tempat ini, apakah kau tidak tahu caranya pergi dari sini?"
Ana menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Ia saja baru datang dan sudah pasti tak tahu, apalagi ia pekerja baru dan hendak membangkang, barang tentu Ana tidak berani melakukannya.
"Quenna, aku tidak tahu dan tidak bisa membantu. Tuan ku adalah Viktor meskipun yang ku layani adalah kau."
Quenna merasakan sedih setelah mendengar ucapan Ana. Ia menarik napas dan menatap depan dengan kosong.
Usai melalui hari yang begitu panjang dan sekarang Quenna duduk di tepi jendela mengamati keindahan bintang yang tiada tara.
Ia tersenyum melihat bulan purnama yang bersinar di angkasa. Ia paling menantikan moment ini mengamati keindahan rembulan membuatnya merasa tenang dan mengerti apa itu arti kehidupan.
Kebiasaannya itu Kadang ditemani oleh Viktor untuk melihatnya. Viktor bak memiliki kepribadian ganda terkadang baik dan tak jarang pula ia bisa emosi sendiri, hal itu sangat membingungkan Quenna.
Quenna menarik napas dan menghela beberapa kali. Ia menatap jam yang terpajang di temboknya. Biasanya Viktor jam segini sudah pulang, kemana pria itu?
Mungkin saja banyak urusan yang harus diselesaikan Viktor. Quenna tak ambil pusing dan lebih menikmati malam indahnya.
Tiba-tiba suara pintu berdecit membuat atensi Quenna terpusat pada orang yang menghampirinya.
Ia memberikan senyuman sekilas pada Ana yang masuk ke dalam kamar sambil membawakannya makanan.
"Nona makanlah, Tuan berpesan kau harus memakan semua ini."
Quenna menatap Ana dan menarik napas panjang. Lagi-lagi wanita itu mengucapakan embel-embel nona. Ia tidak pantas disematkan sebagai nona di rumah ini, bahkan dirinya jauh lebih rendah dari pelayan, seorang budak yang tak dibayar.
"Ana, aku meminta mu apa tadi?"
"Nona maafkan saya, saya harus mematuhi keinginan Tuan." Viktor lagi Viktor lagi, Quenna muak dengan nama itu, semua orang menghormatinya.
__ADS_1
"Ya."
Quenna hendak mengambil makanan yang dibawakan untuknya, tapi cepat Ana mencegahnya.
"Nona saya bisa menyuapkan untuk Anda." Quenna terpaku dan mengangguk pasrah.
Dengan taleten Ana membantunya makan. Quenna juga sudah malas protes, pasti ia juga akan kalah.
Sementara di benak Ana begitu banyak pertanyaan setelah mendengar cerita Quenna mengenai hidupnya yang malang. Ia tak menyangka jika Viktor sejahat itu.
Ana heran kenapa Quenna dan Viktor satu kamar, bukankah mereka kakak adik? Ana rasa mereka sudah tidak pantas tidur satu kamar.
Ana berusaha untuk berpikir positif. Ia menyendokan bubur yang dibuatnya, namun Ana terkejut melihat tanda merah di leher Quenna.
Jelas pelayan muda itu mengetahui tanda apa itu. Ia adalah wanita yang dijual di rumah bordil sudah barang tentu hal semacam itu lumrah. di matanya, sekarang yang dipertanyakan siapa yang membuatnya?
"Ana, apakah kau pernah memiliki ponsel? Aku sering melihat kakak ku menggunakannya dan aku juga dulu memilikinya."
Ana mengerutkan alisnya. Benda ajaib itu sudah barang tentu setiap manusia harus memilikinya untuk mudah berkomunikasi, bagaimana mungkin ia tidak punya.
"Nona kenapa bertanya seperti itu? Aku memiliknya, apakah Nona tidak punya?" Anggukan dari Quenna membuat Ana syok bukan main. "Maksud Nona?"
"Aku tidak memilikinya, kakak ku melarangnya. Padahal aku ingin sekali memiliki benda itu," ungkap Quenna merasa sedih di setiap Kalimatnya.
Ana tidak paham kenapa Viktor melarang Quenna memiliki ponsel. Terbesit dalam pikirannya untuk mengenalkan Quenna dengan benda pipih itu.
"Aku memiliki ponsel, apakah kau ingin melihat isinya?"
Quenna berbinar dan cepat mengangguk. Ia tidak sabar ingin melihat seperti apa ponsel itu dan apa kehebatannya.
Ana meraih ponselnya dan menghidupkan layar tersebut. Ia memberitahukan beberapa aplikasi dan kegunaannya.
Tiba-tiba ponsel itu direbut dan dihempaskan membuat kedua perempuan itu terkejut. Quenna terbelalak melihat Viktor yang menatap mereka dingin.
Apalagi Ana, ia merasakan aliran tubuhnya berhenti. Ia menangis dan langsung bersimpuh di depan Viktor.
"Tuan maafkan hamba."
Viktor tak menghiraukan Ana dan malah menatap Quenna seperti ingin memangsanya hidup-hidup.
"Bawa dia dan penggal kepalanya," ucap Viktor kepada asistennya.
Asisten itu mengangguk patuh berbeda dengan Ana yang membulatkan mata mendengar ucapan Viktor. Tubuhnya bergetar dan ia menangis sesugukan memohon ampun.
Sekuat tenaga ia melepaskan tubuhnya dari asisten Viktor yang hendak menyeretnya paksa. Quenna tidak tinggal diam. Ia memecahkan piring tempat bubur yang di bawa Ana tadi dan mengambil serpihan kaca dari piring itu.
"VIKTOR LEPASKAN ANA ATAU KAU AKAN MELIHAT MAYAT KU?" ujarnya dengan berani sambil meletakkan kaca tersebut ke urat nadinya. Kaca tersebut cukup tajam hingga menggores tangannya di atas urat nadi tersebut.
________
__ADS_1
Tbc