Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 77


__ADS_3

Seluruh tubuhnya bergetar saat memasuki ruang inap yang dihuni oleh wanita cantik yang tak lain merupakan orang yang telah membuatnya jatuh cinta. Hati Rigel sungguh teriris melihat kondisi wanita itu yang dipenuhi dengan kabel kehidupan.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun penyesalan yang sekarang bukanlah penyesalan telah membakar rumah sakit itu. Penyesalan yang ia rasakan ini merupakan penyesalan karena tidak membujuk Quenna keluar.


Ia pun menarik sebuah kursi dan mendudukkan bokongnya di atas kursi tersebut. Pria itu mengamati dengan seksama wajah sang pujaan hati. Seulas senyuman terbit dari sisi bibirnya melihat wajah damai yang sangat pucat.


Sebut saja senyuman itu untuk menghibur dirinya sendiri. Padahal di balik senyuman itu tersimpan begitu banyak kesedihan yang hanya bisa dirasakan olehnya sendiri.


Pria itu memang egois. Ia bersifat munafik terhadap jiwanya. Menolak secara sadar bahwa ia begitu menyesal. Laki-laki itu meraih tangan Quenna lalu menggenggamnya dengan penuh perasaan.


Ia mengusap punggung tangan milik Quenna kemudian meletakkan ke wajahnya sembari mengusapkan ke pipinya.


Ia datang ke ruang inap wanita ini dengan diam-diam. Jika sempat ia diketahui oleh salah satu anak buah Viktor maka mungkin dirinya akan habis sekarang juga. Ia melakukan itu dengan cara menyuap salah satu suster agar mengizinkannya bisa masuk ke dalam kamar Quenna dirawat.


Tidak mudah bagi pria sepertinya ini untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Akan tetapi mendapatkan Quenna merupakan tantangan terbesar laki-laki itu. Bagaimana tidak saingannya adalah orang nomor satu di Amerika dan yang berhasil menyingkirkan peringkatnya.


Sudah jelas bukan bahwa Vitor bukanlah lawan yang bisa diremehkan? Bahkan persaingan ini terus berlanjut sampai sekarang. Tidak hanya dalam segi cinta tetapi juga dalam segi ekonomi, dan segi kehidupan yang mandiri.


Mereka bersaing bukan hanya baru-baru ini. Persaingan itu sudah terjadi sejak lama saat mereka sekolah menengah atas. Mulai dari bersaing menjadi kesayangan guru serta prestasi. Jika banyak orang menganggap mereka adalah sahabat nyatanya mereka adalah sama-sama duri bagi keduanya.


"Hufft!!" Rigel menghela napas panjang kala mengingat masa lalunya serta persaingannya dengan Viktor yang tak ada ujungnya.


Melihat gadis kecil nan lugu serta polos di depannya ini dan terbaring lemah dengan alat bantu medis yang menunjang kehidupannya membuat hati Rigel sungguh amat sedih.


Tidakkah mereka berdua terlalu jahat menjadikan wanita tersebut sebagai objek kepuasan hati mereka. Namun jika Rigel bisa melepaskan Quenna mungkin sudah dilakukannya sejak lama.


Tapi sayangnya hatinya menolak untuk melepaskan. Ia sudah benar-benar mantap menjatuhkan perasaannya pada wanita ini dan bahkan keinginan untuk menjadikan Quenna Ibu dari anak-anaknya semakin menggebu di hati Rigel.


"Maafkan aku, tapi inilah satu-satunya agar kau bisa selalu bersamaku. Aku tidak bisa jika harus hidup tanpamu. Kau tahu? Bahkan aku tidak bisa melupakanmu selama 6 tahun ini. Ini memang salahku kau menjadi salah satu korban kebakaran ini. Aku memang jahat kepada wanita pujaanku. Tapi maukah kau memaafkanku darling? I love you so much." Pengakuan Cinta dari Rigel begitu mengejutkan Quenna jika wanita itu dalam kondisi sadar.


Inilah lemahnya Rigel. Ia hanya bisa mengakui cintanya kepada wanita ini di saat perempuan tersebut sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Rigel memang sering mengatakannya kepada Quenna tatkala Wanita itu telah terlelap.


Tetesan air bening luruh satu persatu membasahi pipi mulus milik pria tersebut. Sekuat apapun ia, Rigel tetaplah manusia yang bisa lemah kapan saja dan menangis ketik hatinya meras sakit. Ia menatap layar monitor yang menampilkan frekuensi detak jantung Quenna.

__ADS_1


Laki-laki itu makin mengeratkan genggamannya di telapak tangan Quenna. Melihat wajah pucat Quenna membuat Rigel semakin merasa bersalah.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya lalu membungkukkan badannya dan mencium kening Quenna dengan cukup lama.


"Tunggulah aku sebentar. Aku pasti akan datang lagi. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman lagi dan kita akan menikah." Dan dengan lancangnya Rigel mengecup bibir Quenna yang pucat.


Sebelum dipergoki oleh anak buah Viktor Ia pun pergi dari tempat ini. Apalagi dengar-dengar usai insiden kebakaran bawahan Viktor yang tak lain adalah Prima menyewa bodyguard begitu banyak dan menggajinya dengan tinggi untuk memperketat penjagaan.


Tingkat kewaspadaan pria itu benar-benar pantas diacungi jempol oleh Rigel. Prima memiliki potensi sukses di dalam dunia gelap dalam artian dunia penuh dengan ke-ilegalan di mata masyarakat. Apalagi orang yang diikutinya adalah seorang Viktor.


Nama Prima pun sempat trending di kalangan pembisnis dan organisasi gelap.


"Ah, parasit itu kenapa bisa menjadi ancamanku." Jauh di lubuk hati Rigel sebenarnya dia tidak memprotes sebab Prima juga salah satu sahabatnya tetapi itu dahulu.


____________


Setelah diperbolehkan oleh dokter untuk keluarga menjenguk pasien lantas Prima membawa Celine ke kamar inap Viktor.


Laki-laki tersebut sangat tahu pasti Celine ingin bertemu dengan anak kandungnya yang selama ini ia berusaha abaikan.


Prima mendorong kursi roda Celine memasuki ruangan Viktor. Mata Celine langsung menatap ke arah anaknya yang terbaring dengan penuh kabel-kabel yang membantu kehidupannya.


"Oh anakku," tukas Celine tak percaya melihat kondisi Viktor.


Jika kemarin yang menggunakan adalah dirinya maka saat ini Viktor lah yang mengenakannya. Ia tahu segalanya bahwa laki-laki ini mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya.


Sungguh Ia merupakan ibu yang kejam karena telah membuat anak semata wayangnya itu berada dalam kesulitan.


Celine meminta Prima agar mendorongnya lebih dekat lagi ke ranjang rumah sakit yang ditiduri anaknya.


Wanita itu merasakan matanya berkaca-kaca dan air mata telah menggenang di pelupuk pupilnya siap ingin luruh.


"Oh anakku, selama ini kau ingin berbakti kepada Ibu, 'bukan? Nak, bangunlah sayang. Buka matamu ini lihat ibu yang selalu kau rindukan. Aku tahu kau sangat menyayangiku. Selama ini aku terlalu pengecut tidak berani menghadapimu. Memandang wajahmu saja aku tidak sanggup karena rasa bersalahku ini lebih mendominasi diriku. Tetapi sekarang aku sungguh menyesal." Celine menangis dan tangisan dari suara hati ibu itu mampu membuat sudut mata Viktor mengeluarkan tetesan air mata.

__ADS_1


Prima yang melihat itu sangat terkejut. Iya mengusap air mata Viktor. Lantas Prima pun bertanya-tanya apakah Viktor dapat mendengar pembicaraan ini meskipun ia di bawah alam sadar?


"Tuan! Bukanlah mata mu orang-orang sangat merindukan kehadiran mu," ujar Prima lalu tersenyum getir.


"Dia sungguh anakku," ucap Celine dengan perasaan rindu.


Ia mengamati wajah Viktor yang benar-benar duplikatan ayah kandungnya. Mengingat kembali wajah almarhum suaminya sungguh adalah hal paling menyesakkan bagi Celine sebab kerinduan ini tak bisa diobati.


"Benar Nyonya. Tuan muda adalah anak mu." Celine juga sudah mengetahui kegiatan menyimpang anaknya ini.


Wanita tersebut benar-benar sangat menyesal dengan fakta itu. Apalagi yang membuat anaknya seperti itu karena dirinya.


Bukan keinginan Celine agar Viktor membalaskan dendam serta membunuh keluarga Gibran.


"Prima apa selama ini aku benar-benar salah mendidik anak? Meski dirawat Gibran tapi aku dulu sempat merawatnya. Kenapa anak ku sangat kejam?" Prima tersentak mendengar ucapan Celine.


Ia diam dan menunduk tak tahu menjawab semacam apa karena dirinya dan Viktor tidaklah jauh berbeda dan penyebab kesukaan mereka dalam berbuat kejam hanyalah diketahui oleh mereka sendiri.


"Maafkan aku Nyonya tidak bisa menjaganya."


"Aku ingin kesal kepadamu, tapi aku sadar kau juga tak jauh berbeda dengan anakku, 'bukan?" Celine melirik Prima dan pria itu sangat persis mirip dengan bodyguard suaminya. Sungguh asisten itu benar-benar setia pada keluarganya bahkan membuat anaknya pun menjadi asisten putranya.


"Maafkan kami. Karena keluarga ku ayah mu juga ikut meninggal." Sontak Prima sangat terkejut.


Ia menggeleng pelan, "pada saat itu ayah ku tidak meninggal. Dia berhasil meloloskan diri alih-alih menyelamatkan Tuan. Dan karena itu ia melatihku menjadi asisten untu Viktor sebagai penebusan dosa-dosanya."


Celine sangat kaget karena merasa kecewa dengan fakta yang baru ia ketahui. Kenapa asisten Gibran sendiri malah membiarkan tuannya sekarat. Celine ingin marah kepada Prima yang benar-benar sangat siap mendapatkan amarah karena ulah ayahnya.


Tapi, apa dasar ia memarahi Prima. Meskipun ia kecewa tapi Celine masih waras menilai orang bersalah atau tidak.


____________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN


__ADS_2