
Maaf ya seharusnya semalam update nya, semalam kehabisan kuota
___________
Tungkainya memberanikan diri untuk masuk ke dalam markas tanpa memiliki tampang rasa malu sama sekali setelah mendapatkan kegagalannya.
Mungkin saingannya di dalam organisasi itu sedang mengolok-olok dirinya karena keangkuhannya membawa petaka kepada ia sendiri. Ia tahu dahulu sangat percaya diri dengan apa yang akan dilakukannya.
Namun, semua berakhir dengan kegagalan. Mendapatkan amarah dari klien dan tentunya organisasi mereka mendapatkan kerugian besar.
Orang-orang menatap Quenna yang melangkah memasuki markas dengan tampang dinginnya. Mereka mengejek dengan hasil yang telah didapatkan Quenna.
Tatapan penuh hinaan dilotrak dari para pembunuh bayaran yang lain yang sering diremehkan oleh Quenna. Namun tampaknya wanita itu tidak merasa terganggu dengan tatapan mereka.
Terserah mereka hendak menatapnya seperti apa. Mungkin dengan begitu mereka akan puas dengan kebencian yang mereka miliki terhadapnya.
Wanita itu tak ragu sama sekali untuk menemui atasannya. Mengabaikan bisik-bisik yang bisa membuat panas telinga. Kini ia telah berdiri tepat di depan sang atasan yang tengah memperhatikannya dengan tajam.
Pria itu duduk di singgasana dengan penuh intimidasi kepadanya. Quenna sama sekali tak ada niatan untuk menundukkan kepala. Ia berani menatap mata Abraham yang penuh kilatan karena amarah yang ia perbuat.
Pria itu beranjak dari tempatnya. Ia berjalan mendekati Quenna. Tidak ada yang berani menatap langsung manik Abraham yang tengah marah besar kecuali Quenna.
Ia dengan berani menatap Abraham. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari pria ini. Abraham lah yang mengajarkan ia tak boleh takut dengan apapun. Jadi jangan salahkan ia bersifat membangkang karena ini semua olahan pria itu yang membentuk sifatnya.
Ia adalah wanita tangguh dan tak takut apa pun sekarang. Hanya satu orang yang mampu mematahkan kenyataan itu.
Quenna tidak begitu terkejut ketika ia takluk di bawah Viktor. Ia memang sudah sangat jelas mengetahui jika ia diciptakan untuk tunduk di bawah kuasa Viktor.
Entah hal apa yang telah Viktor lakukan kepadanya hingga ia hanya bisa takluk di bawah satu orang.
Plakk
Tamparan keras yang diterima Quenna tak membuat nyalinya menciut. Ia menyentuh pelan bekas memerah di wajahnya. Meskipun panas karena seluruh aliran darah berkumpul di sana, Quenna seakan tidak jera.
Apalagi tawa mengejek terdengar dari rekannya yang lain. Hanya satu orang yang menatap ia penuh khawatir, Andreas.
Pria itu ingin sekali maju menjadi kandidat penolongnya. Tapi Quenna memberikan isyarat dari gerik matanya agar pria itu tidak ikut campur dan mempersulit masalah.
Biarlah ini menjadi urusan Quenna sendiri. Ia mampu untuk menyelesaikannya.
"Bodoh!" umpat Abraham yang sangat marah kepada Quenna.
Ia mengepalkan tangannya. Napasnya membara menatap wanita yang tak ada merasa bersalah sama sekali di depannya ini.
__ADS_1
"Hukum saja dia!! Dia membuat banyak kerugian pada organisasi k!" provokasi dari salah satu musuh Quenna.
Ia menatap wanita yang menjadi saingannya. Perempuan tersebut mengehela napas, wajar saja wajah Barbara sangat senang melihat ia terpuruk di sini.
Tentu Barbara tak akan membuat ia dilepaskan begitu saja. Ia akan mempengaruhi Abraham berlaku lebih buruk lagi kepadanya.
Abraham menatap Barbara dan ia mengacungkan senjata tepat di depan Barbara. Wanita centil tersebut membelalak. Ia menatap bingung Abraham kenapa malah berbalik ingin menyerangnya.
Quenna diam-diam tersenyum senang melihat wajah ketakutan Barbara. Barbara melihat tawa yang disembunyikan Quenna. Ia mendesis sangat marah melihat Quenna sempat-sempatnya mengejek ia, padahal wanita itu juga berada dalam posisi genting.
"Aku tidak membutuhkan pendapat mu!" Abraham menurunkan senjatanya. Akhirnya Barbara dapat menghembuskan napas dengan tenang.
Kebenciannya semakin meningkat terhadap Quenna. Di setiap organisasi pasti ada yang saling bersaing ingin mendapatkan posisi terbaik.
Mustahil jika tidak ada. Manusia pada dasarnya tak memiliki kepuasan. Apa yang telah mereka capai mereka ingin lebih. Mereka ingin menjadi yang terbaik dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh itu.
Barbara diam membisu. Ia hanya bisa menonton adegan selanjutnya tanpa bisa memberikan komentar. Andreas juga sangat kesal kepada wanita itu.
Jika bukan karena Quenna, ia sudah lama akan membunuh wanita si.alan tersebut. Anehnya kenapa Quenna mempertahankan orang seperti Barbara, padahal sudah sangat jelas jika wanita itu sangat membenci perempuan tersebut.
Abraham menarik napas dan menatap serius Quenna di depannya. Ia seolah tengah mengejek Quenna. Pria itu mengambil senjata yang ada di tangan Quenna dan mengamati senjata tersebut.
"Tuan yang sangat terhormat kembalikan senjata ku!" pinta Quenna dengan suara pelan.
Abraham melirik Quenna. Ia mengangkat satu alisnya lalu memandang senjata yang ada di tangannya.
Quenna tak terganggu sama sekali dengan ucapan Abraham. Yang ia inginkan sekarang ini adalah senjata kesayangannya itu kembali lagi ke tangannya.
"Tuan jangan biarkan saya merebut senjata itu secara paksa!"
"Lancang!! Charlotte, kau tidak sadar sedang menantang siapa?!!" Salah satu anggota di situ memperingati Quenna.
Quenna menatap orang tersebut. Ia tahu orang itu bukan benar-benar ingin menegurnya, tapi sedang mencari perhatian Abraham saja.
"Diamlah!! Aku tidak menyuruh mu berbicara!!" marah Abraham menatap sengit orang yang baru saja buka suara. "Nona, saya siap berduel dengan Anda!"
Demi mendapatkan senjatanya kembali Quenna pun berperang melawan Abraham. Ia menerjang pria itu dan dapat dielak oleh Abraham.
Sorak sorai di dalam ruangan tersebut mengawal meriahnya pertempuran tersebut. Andreas sama sekali tak menikmati, rasa cemas selalu menerornya.
Keduanya sama-sama hebat. Bela diri Quenna sangat baik hingga berhasil meninju keras wajah Abraham hingga darah keluar dari sudut bibirnya.
Abraham tersenyum miring. Ia pun mengusap darah tersebut dan melangkah memberikan ancang-ancang hendak menyerang balik Quenna.
__ADS_1
Ia menatap dengan teliti titik serangan Quenna. Wanita itu lengah dan saat itu pula Quenna ditendang hingga jatuh beberapa meter dan mengenai tembok.
Tawa dari para penonton menghancurkan segala suasana. Abraham menatap penuh arti Quenna.
"Charlotte!! Kau kurang teliti, bagaimana bisa kau akan mengalahkan lawan mu, hah? Apa yang selama ini kau pelajari? Apa kau tak malu menyandang pembunuh bayaran terbaik tapi nyatanya kau tak lebih dari seekor lalat lemah?"
Abraham yang sangat marah mendapatkan kemampuan Quenna sangat awam. Ia tak menyangka bela diri Quenna yang dilatih bertahun-tahun menurun.
Pria itu hendak menembak Quenna sebagai bentuk peringatan. Tapi peluru yang ia keluarkan dari senjatanya tak tepat sasaran, karena ada orang yang lebih dulu menarik tangan Quenna menjauh.
Bahkan Quenna sendiri sangat terkejut merasakan ada orang yang tengah menyelamatkannya. Abraham tampak santai tak terkejut sama sekali, malahan ia tertarik dengan pemandangan sekarang.
"Kau tak bisa melukainya sedikitpun! Apa kau tak malu melawan seorang wanita, Tuan Abraham?" Suara dingin itu begitu menusuk sampai ke ubun-ubun saking kakunya suara tersebut.
Abraham tertawa tips. Ia berjalan mendekat pria tersebut. Abraham mengamati penampilan pria itu.
"Setelah berhasil kabur dari maut, kau datang sendiri ke kandang maut? Apa ada sesuatu yang membawa mu ke sini?" selidik Abraham kepada Viktor yang datang seorang diri dengan berani ke markas mereka yang sedang mengincar nyawanya.
Viktor melirik Quenna yang ada di depannya. Wanita itu tak menyangka dengan kehadiran Viktor di tempat ini.
Tubuhnya yang remuk tak mampu membuat ia banyak bergerak. Yang ada di relung Quenna adalah memikirkan cara membawa Viktor menjauh dari tempat ini.
"Kau hanya memperoleh sedikit keuntungan! Bagaimana aku menggantikan kerugian mu dan menyewa jasa kalian dengan jumlah uang berkali-kali lipat dari uang yang mereka janjikan untuk membunuh ku!" tawar Viktor untuk melakukan negoisasi.
Quenna terkejut mendengar ucapan Viktor. Ia tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh pria tersebut. Tindakan Viktor jelas menjadi menarik perhatian para khalayak.
"Aku tak yakin kau datang ke sini hanya karena itu!"
Viktor tersenyum lebar. Pria tersebut memuji kepintaran Abraham yang pandai menebak.
"Kau benar Abraham, aku tak mungkin datang hanya karena itu! Ya aku akui datang karena ingin menjemput wanita ku!" Quenna menoleh ke arah Viktor dengan tatapan penuh tanya. "Bolehkah aku membawanya? Dia terluka, aku harus mengobatinya!"
Viktor menatap wajah Quenna dengan seksama. Ia menyentuh luka di muka perempuan itu dengan khawatir. Laki-laki tersebut mengusap wajah Quenna sembari tersenyum hangat.
Abraham hanya menjadi saksi dari semua perlakuan Viktor kepada Quenna.
"Kau hanya orang asing! Aku tak bisa membiarkan mu membawa bawahan ku begitu saja!"
"Maka aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, aku tak masalah untuk melawan mu! Asal wanita ku bersama ku, itung-itung aku juga ingin memberi beberapa pukulan kepada mu sebanyak kau telah memukul Quenna. Tidak boleh ada yang menyakitinya, tak seorang pun jika tidak ingin aku membalaskan dendamnya!" Ucapan Viktor sangat tegas dan lantang di depan mereka yang berkumpul menyaksikannya.
____
Tbc
__ADS_1
Hay teman-teman aku memiliki rekomendasi novel baru nih buat kalian. Jangan lupa buat masukin ke Favorit ya.