
Jangan lupa berikan dukungan dengan Like dan komen. Dan beritahu jika ada Typo.
______________________
Quenna membuka pintu dengan sangat hati-hati takut akan membangunkan gadis kecil yang tengah terbaring nyaman menikmati tidur lelapnya di kamar. Ia tersenyum melihat Carol anak perempuannya itu tertidur dengan amat nyenyak.
Wanita itu masuk ke dalam kamar tersebut dan duduk di tepi ranjang sambil mengamati Carol dengan intens.
Ia menyentuh kepala sang anak lalu mengusapnya perlahan agar tak membuat Carol si gadis kecil itu terbangun. Ada perasaan lirih di hati Quenna kala menatap wajah polos sang anak.
Muka anak itu sangat kental dengan campuran dari dirinya dan Viktor. Carol gadis tersebut merupakan dosa nyata yang telah ia lakukan bersama sang kakak.
Quenna berusaha tegar dengan keadaan. Meskipun pada akhirnya ia menyerah dan melakukan dosa besar kembali. Ia tahu pekerjaannya yang sekarang sangat tercela. Namun tak ada jalan lain untuk menghidupi Caroline, ia rela menanggung segalanya demi gadis kecil ini.
"Maafkan aku," bisik Quenna di telinga Caroline Wozniacki Aganta.
Perempuan tersebut menghapus jejak air matanya dengan kasar. Ia susah payah menahannya tapi tanpa bisa dicegah tetap keluar juga.
Quenna berdiri dan berniat meninggalkan kamar anaknya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tangan Carol yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya menahan Quenna.
"Ibu!"
Quenna terkejut dan menoleh ke arah sang anak. Ia tersenyum kepada Carol dan berbalik kemudian mensejajarkan tingginya dengan sang anak.
"Ada apa sayang?" tanya Quenna kepada anaknya tersebut.
"Aku pengen tidur sama ibu!"
Quenna tak melunturkan senyum di wajahnya kepada Carol dan mengangguk mengiyakan keinginan sang anak. Wanita tersebut ikut merebahkan tubuh di samping sang anak.
Ia memiringkan tubuhnya dan kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menopang bobot badannya.
"Kenapa kau terbangun, apakah aku mengganggu mu?" tanya Quenna sambil memamerkan senyuman khas keibuan yang sudah sangat kental di dalam diri perempuan tersebut.
Caroline menggelengkan kepala. Ia menatap lurus ke depan dan tersenyum amat tipis. Anak ini sangat cantik di usianya yang masih belia.
"Aku hanya rindu tidur bersama mu ibu. Insting ku langsung menangkap saat aku merasakan ada keberadaan ibu di sekitar ku," lirih Caroline dan menoleh ke arah sang ibu.
Mata mereka saling bertemu. Pandangan penuh bangga kepada sang anak membuat Carol merasa sangat istimewa di dalam hidup sang ibu.
Quenna menghela napas sejenak dan tampak tengah berpikir. Ia heran kenapa Carol anaknya ini sangat istimewa. Gadis tersebut sama sekali tak memiliki kekurangan seperti yang dikhawatirkan dirinya, hanya saja Carol mudah terserang penyakit.
Ia memiliki penyakit bawaan yaitu sesak napas. Meskipun jarang kambuh tapi tetap saja Quenna sangat heran karenanya.
Namun tak dapat dipungkiri juga ia sangat sedih harus melihat sang anak menderita hal itu. Ini semua salahnya hingga Carol yang harus menanggung dosa yang ia perbuat.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Quenna di dalam hati sambil memandangi sang anak dengan hikmat.
"Carol kau besok harus bersekolah, kau harus tidur!" Quenna menarik selimut di kaki Carol yang disibak oleh anak itu. "Tidurlah yang nyenyak aku akan pergi dari sini!"
"Tapi ibu, aku ingin bersama mu malam ini."
Quenna tertawa mendengar ucapan sang anak. Ia menenangkan Caroline yang hendak menangis. Melihat mata Caroline yang berkaca-kaca mengingatkan dirinya yang dulu, sangat cengeng.
"Aku hanya ke kamar ku sebentar dan ingin mengganti baju ku, aku tidak akan mengkhianati mu, sayang."
Carol pun dapat menarik napas lega setelah mendengar ucapan yang dilontarkan sang ibu untuknya. Anak gadis itu mengangguk lalu menyuruh wanita tersebut lekas mengganti pakaiannya.
Tapi, mata Carol yang sangat tajam menangkap bercak darah di baju Quenna. Ia heran kenapa cairan amis tersebut bisa menempel di pakaian sang ibu.
"Ibu! Kenapa ada darah di baju mu?"
Mata Quenna membulat seraya ia membalikkan tubuhnya dan berusaha menutupi bercak darah itu. Ini adalah bekas darah korbannya tadi pagi, karena sulit ia terpaksa membunuhnya dengan cara menikam.
"Tidak apa, aku hanya terluka sedikit tadi!"
"Ibu kau terluka?" khawatir Carol dan turun dari ranjangnya.
Ia mencari luka di seluruh tubuh sang ibu. Quenna terkejut dan menghalangi Carol. Wanita itu mengambil tangan Carol dan menggenggamnya.
Carol pun mengalah setelah mendengar ucapan sang ibu. Ia membuang muka dari Quenna seakan tengah memamerkan kepada wanita itu bahwa ia sedang merajuk.
Namun, malah yang ada Quenna menjadi gemas dengan perbuatan sang anak. Ia mengacak rambut Carol lalu mencium keningnya.
"Anak gadis tidak boleh cemberut!"
___________
Mata Viktor selalu tertuju pada selembar kertas yang memperlihatkan seorang wanita tengah berpose imut.
Wajahnya yang tengah tertawa sambil membaca buku di tangannya. Jika wanita itu telah pergi jauh dan bisa hidup mandiri Viktor berpikir mungkin Quenna telah menjadi penjahit hebat seperti yang diimpikan oleh wanita tersebut.
Hari-hari Viktor sama sekali tak memiliki warna dan terasa hambar. Setiap hal yang ia lakukan rasanya sangat membosankan dan Viktor ingin itu cepat berlalu.
Meskipun dalam 6 tahun terakhir ia semakin sukses dan usahanya semakin dikenal dunia, tapi rasanya itu tak membuatnya puas dan merasa tenang. Ia sekarang telah menjadi pria nomor satu di dunia mengalahkan mereka yang dulu selalu meremehkannya.
Walaupun hasil tersebut diperoleh dari cara yang salah dan sangat kejam tetapi Viktor sama sekali tak menganggap itu keji yang ada malah menganggapnya hal yang wajar.
"Quenna," lirih Viktor yang tak berhenti sedikitpun menatap foto perempuan tersebut.
Ia tersihir oleh kecantikan sang adik sendiri. Semenjak berjauhan dengan Quenna Viktor tak bisa mendapatkan gairah yang sangat nikmat.
__ADS_1
Pria tersebut menarik napas kasar dan memukul mejanya secara tiba-tiba. Pria itu meletakkan foto Quenna ke atas meja kerjanya.
"Apakah aku terlalu buruk untuk mu?"
Viktor tertawa getir. Ia menatap kaca di depannya. Di pantulan tersebut ia melihat wajah yang selalu mengenakan topeng dan terus menjadi olok-olokan bagi hetters.
Hal itu membuat kepercayaan Viktor turun. Dan tak jarang mereka menggunakan kelemahannya tersebut untuk melawan dirinya.
"Wajah sialan," gumam Viktor dan membuka topeng tersebut.
Perlahan-lahan tampak wajahnya secara sempurna di kaca itu. Tidak ada lagi topeng yang selalu menutupi bekas lukanya. Ia menyentuh bagian tersebut lalu memejamkan matanya.
Pria itu mengepalkan tangannya dan meninju kaca di depannya hingga hancur berkeping-keping.
Darah menetes dari ujung jarinya. Viktor menatap nanar punggung tangan tersebut.
"Se.tan!" umpat Viktor dengan napas yang saling memburu.
Dertt
Suara decitan pintu membuat Viktor menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk. Di sana Prima terkejut melihat Viktor yang melepas topengnya. Ia sendiripun sudah sangat lama tak pernah melihat wajah sang majikan tanpa topeng.
Ini kali pertamanya setelah bertahun-tahun Viktor selalu menyembunyikan wajahnya. Ia menunduk tak berani menatap wajah Viktor karena pria tersebut pasti akan menghukumnya.
"Kenapa kau menunduk? Apakah aku sangat jelek sehingga kau tak sudi memandang ku?"
Prima seakan tengah disambar petir akibat sangat terkejut. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat. Spontan dia menyangkal ucapan Viktor.
"Tidak Tuan! Maafkan saya!"
"Hm, apakah kau tidak ingin mengolok-olok wajah ku ini?"
"Anda sangat rupawan Tuan!"
Viktor mengambil topengnya dan mengenakannya kembali. Ia tersenyum tipis seraya menepuk pundak Prima.
"Kau adalah pengikut setia ku, aku harap kau selamanya seperti ini!"
_________
Tbc
Hay teman-teman aku bawain lagi nih novel dari teman aku buat nambahin rekomendasi untuk kalian, siapa tahu suka.
__ADS_1