
Viktor menyipitkan matanya mendengar suara tembakan dari halaman belakang. Ia menatap Prima di sampingnya seakan-akan sedang bertanya..
Mendengar suara itu semakin menjadi Viktor langsung berlari menghampiri arah datangnya suara.
Ia melihat penjaganya yang berlalu lalang dengan panik. Viktor berhenti memastikan keadaan. Merasa tak punya waktu lama ia langsung lari ke halaman belakang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lelaki itu menatap pengawalnya yang sudah pingsan. Viktor menggeram marah dan menghampiri halaman belakang.
Matanya terbelalak melihat mayat anak buahnya. Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan menarik kasar baju salah satu pengawal.
"Katakan ada apa?" tanya Viktor mengintimidasi membuat orang tersebut gugup.
"Tu-Tuan!! Nona kabur dari tempat ini."
"APA?!!" teriak Viktor dengan mata yang membulat. Ia melemparkan orang tersebut ke samping, "cari dan temukan dia!!"
Viktor menarik napas dan menatap Prima. Lelaki itu merebut kunci mobil yang ada di tangan Prima.
"Kau temukan dia hidup-hidup, bagaimana pun ini hutan, Quenna tidak pernah keluar. Jika terjadi sesuatu dengannya nyawa mu yang akan menjadi taruhannya!" ancam Viktor dan bergegas ke halaman utama.
Ia mengendarai mobil dan membawa perlengkapan untuk masuk ke hutan. Ia yakin jika Quenna kabur melalui pintu belakang maka ia akan kabur ke dalam hutan.
Napas Viktor memburu tak bisa membayangkan bagaimana nasib Quenna di dalam sana. Emosinya tak stabil otaknya juga tidak bisa lancar berpikir.
Wanita bodoh itu bisa-bisanya membangkang dan kabur dari rumah. Sepertinya Quenna sedang cari masalah.
Sedangkan Prima masih di rumah. Ia menatap Ana yang diseret penjaga dengan tajam. Pria itu menggenggam erat pistol yang ada di tangannya.
"Kenapa Nona bisa kabur? Kemana saja kau?!!"
"Maafkan saya, saya tidak tau Tuan. Saya tertidur, maafkan kesalahan saya. Saya pantas dihukum," ujar Ana yang berlutut di depan Prima.
Prima menghela napas kasar dan memberi kode pengawal itu untuk membawa Ana ke penjara bawah tanah. Ana terisak ketika tubuhnya diseret dengan paksa.
Prima mengambil peralatan berburu tak lupa juga membawa kuda untuk masuk ke dalam hutan.
"Kita akan berpencar cari Nona Quenna sampai ketemu," titah Prima pada bwahannya.
Memasuki hutan menggunakan kuda itu jauh lebih baik dari pada berjalan kaki.
"Kenapa kau hanya bisa mencari masalah saja Nona?" kesal Prima yang lagi-lagi harus terganggu.
______
Quenna menatap sekitar dengan takut. Ini salahnya yang tidak memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Yang ia tahu ia harus bisa melarikan diri.
__ADS_1
Perempuan itu berhenti sejenak di bawah pohon. Ia menatap kakinya yang lecet, berbekal senter ternyata masih kurang.
Ia kekurangan perhitungan hingga hal ini terjadi. Ia tidak tahu akan kabur kemana bahkan Quenna juga tidak menahu di mana dirinya berada.
"Aku rasa akan berakhir di hutan ini."
Quenna menarik napas dan berusaha tegak dan menyusuri jalan, entah sampai kemana nantinya ia tidak peduli yang penting kabur dari tempat itu.
Quenna tersenyum penuh semangat. Mendapatkan kenyataan jika ia bisa kabur dari tempat terkutuk tersebut membuat dirinya begitu senang.
"Ini jauh lebih baik ketimbang mengabdi di tempat itu selamanya," gumam Quenna sambil berjalan teratih-atih.
Ia tidak memikirkan bahaya yang sedang menunggunya. Berjalan di tengah malam seorang diri wanita pula tentu banyak bahaya yang akan datang belum lagi binatang buas.
Kenapa Quenna baru sadar dan tidak memikirkannya? Kecerdasan dirinya sepertinya harus dipertanyakan lagi.
Quenna memejamkan mata dan merutuki kebodohannya. Ia menarik cadar yang menutupi wajahnya lalu menghirup udara dengan bebas.
Menyesali perbuatan tidak berguna lagipula ia tidak menyesal, hanya saja ia sedikit merasa bodoh ketika tidak memilih jalan aspal.
Tiba-tiba terdengar suara gumaman yang membuat Quenna merasakan bulu kuduknya merinding. Quenna memeluk tubuhnya.
Ia berusaha lari secepat mungkin, ia tidak ingat di hutan banyak bintang buas. Quenna berlari tak tentu arah dan terus menoleh ke belakang tak sadar jika harimau ada di depannya.
Ketika menatap depan mata Quenna membulat. Ia mundur beberapa langkah dan membentengi diri sendiri.
Tentu harimau tidak akan mengerti bahasa manusia. Quenna kira hanya ada satu ekor, ternyata dugaannya salah.
Ada tiga ekor harimau yang baru datang. Mereka semua menjilat bibirnya dan menitikkan ludah di sisi mulutnya. Hal itu membuat Quenna tak dapat berkutik.
"Sepertinya Tuhan sudah mentakdirkan aku mati di sini menjadi santapan harimau."
Quenna terus mundur dan harimau tersebut terus berjalan maju. Mata Quenna membulat merasakan belakangnya menyentuh sesuatu.
Ia membalikkan tubuhnya dengan takut-takut, mungkin ia sudah bersender di dada hantu, tapi tebakannya salah. Ia ternyata tengah bersender di dada seseorang yang lebih mengerikan dari hantu.
Dor
Dor
Dor
Quenna menatap ke depan dan membulatkan matanya melihat harimau itu sudah terkapar di tanah.
Quenna ingin melarikan diri tapi tangannya ditahan oleh Viktor yang menemukannya. Viktor menatap Quenna tajam membuat nyali seorang Quenna yang tadinya besar tiba-tiba menciut.
__ADS_1
Plakkk
Tamparan keras dari Viktor membuat Quenna tersungkur di tanah. Ia menatap Viktor dengan tangan terkepal.
"Kaka kau bisa tidak menampar ku?"
"Tanyakan ke dirimu sendiri. Aku menampar mu karena ulah mu!!" marah Viktor dan mencengkram rahang Quenna.
Ia mengangkat wajah wanita itu agar menatap matanya. Viktor memplototi Quenna dengan dingin.
"Kak, aku lelah."
"Apa kata mu? Kau sudah berani membangkang hari ini. Kau akan menerima hukuman mu!!"
Viktor mengangkat tubuh Quenna tidak peduli dengan pemberontakan yang dilakukan oleh wanita tersebut.
Pria itu membawa Quenna keluar dari hutan yang mencengkam itu. Quenna menangis sembari memukuli dada bidang Viktor.
"Kaka lepaskan aku!! Hiks, hiks, kau jahat Kak," tangis Quenna memenuhi hutan rimbun tersebut.
Sampai ke dalam mobil Quenna diletakkan di bagian depan lalu Viktor yang duduk di bagian kemudi.
"Wanita bodoh," ucap Viktor mengumpati Quenna.
Quenna melirik sekilas Viktor dan memejamkan matanya. Ia menggenggam tangannya hingga uratnya menyembul. Viktor menggelengkan kepala dan menjalankan mobil tersebut.
Sesampainya di dalam rumah Viktor membawa Quenna ke kamarnya dan melemparkan tubuh Quenna ke atas ranjang bak sampah.
Pria itu yang telah gelap mata mengambil semua peralatan yang disimpannya. Ia memborgol tangan Quenna ke sisi ranjang hingga Quenna tak dapat bergerak.
"Kakak lepaskan aku!!!"
"Diam!"
Viktor merobek semua baju Quenna hingga tak menyisakan satu pun barang untuk menutupi tubuh polosnya.
Kemudian Viktor mengeluarkan cambuknya dan mempecut perut Quenna. Dengan kilatan amarah ia melakukannya hingga terasa sangat menyakitkan di tubuh Quenna.
Quenna akhirnya menangis tanpa air mata meratapi nasib yang begitu menggemaskan. Ia melirik dengan matanya yang sudah sangat lemah.
"Kaka berhentilah."
Viktor membuka seluruh pakaiannya dan mulai melakukan hal yang menjijikkan pada Quenna. Quenna merasa ia benar-benar ditakdirkan untuk dijadikan mainan Viktor.
_________
__ADS_1
Tbc