Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 61


__ADS_3

Pada saat itu cuaca sangat mendung dan mulai memasuki musim salju. Hawa dingin dirasakan di mana-mana dan salju menumpuk di pinggiran jalan. Hari begitu gelap seolah tengah menunjukkan kesedihan.


Baru saja selesai badai salju beberapa jam yang lalu. Hal tersebut membawa dampak buruk bagi masyarakat. Banyak anak-anak di luar sana yang kedinginan, akan tetapi tak menutupi betapa besar pula berkah di musim tersebut.


Viktor merasakan tetesan salju di tangannya. Ia melirik ke arah langit dan di sana tampak gelap gulita. Dapat ia lihat dari atas, rumah-rumah masyarakat yang tertutupi dengan salju. Orang-orang mengenakan baju tebal sembari berjalan di pinggiran.


Pria itu menarik napas panjang dan melirik sebutir salju yang ada di genggamannya. Ia melepaskan salju tersebut hingga salju itu luruh jatuh ke tanah. Sedikit pria itu mengukir senyum walau tak terlalu jelas.


Perasannya begitu hampa belakangan ini. Sudah satu Minggu sejak pertengkaran kemarin ia tak kunjung pulang ke rumahnya. Tidak enak ingin bertatap dan bertemu dengan Quenna. Lagian ia juga tak punya muka lagi, wanita itu pun tidak ingin bertemu dengannya.


Hubungannya dengan Quenna akhir-akhir ini mulai renggang. Tetapi Viktor sangat lega tatkala telah mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Bertahun-tahun ia lari dari kenyataan dan menyimpan perasaan sesak serta rahasia besar itu sendirian.


Diburu rasa takut yang tak kunjung kehabisan. Semua orang menganggapnya kejam padahal tak tahu saja bahwa ketika ia dalam kesendirian ia akan menjadi sosok orang yang paling malang.


Pria itu memejamkan mata dan mengetatkan jaket di tubuhnya. Ia berbalik dan matanya langsung tertuju pada sosok wanita tua yang tak lain adalah ibunya, orang yang harus menerima penderitaan demi menyelamatkannya. Ia adalah pahlawan yang disia-siakan banyak orang. Tak peduli mereka mengatakan kebencian padanya. Tapi bagi Viktor wanita itu adalah sosok yang telah menguatkan hatinya. Menjadi tempatnya mengadu meski teriakan ketakutan wanita tersebut setiap ia meyapa.


Viktor berjalan mendekat pada wanita itu. Ia menarik kursi dan duduk di atas kursi tersebut sembari menatap ibunya sangat lamat. Ia memperhatikan detail wajah wanita itu yang sangat cantik.


"Ibu," ucap Viktor serak. Air matanya mengumpul di pelupuk manik tersebut. Sekuat apa pun dan semenakutkan apa pun ia tetapi ada dua orang wanita yang sanggup membuatnya bertekuk lutut dan mengeluarkan air mata dengan sia-sia .


Ia meraba tangan perempuan itu dan mencari telapak tangannya. Lelaki tersebut meraih jemari Celine dan menggenggamnya dengan sayang.


"Ibu, kau mendengar ku bukan? Aku tahu kau sangat peduli pada ku. Kau bahkan merelakan keselamatan mu demi aku. Bertapa berdosanya aku telah menyusahkan mu," lirih Viktor dan tersenyum masam. Ini sungguh menyesakkan. Ia tak sanggup dan akhirnya cairan itu pun tumpah.


Pria tersebut menangis tanpa suara. Ia menutup matanya seolah sok kuat padahal nyatanya tak lebih dari seekor semut yang sedang merindukan ibunya.


Rambut putih Celine membuat seluruh persendian tubuh Viktor bergetar. Ia menyentuh aurai putih tersebut sangat sedih. Berpikir-pikir apakah ada harapan baginya untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ia tak tahu menahu kala itu, saat keluarganya dibantai habis oleh pembunuh. Pada saat itu ia masih berumur satu tahun sementara adiknya masih di dalam kandungan. Celine keguguran dan berhasil menyelamatkan diri dari tragedi itu. Dan hal tersebut pula lah yang membuat Celine gila.


Ia dihantui oleh rasa bersalah karena berhasil kabur tapi tak berhasil menyelamatkan anaknya. Ia sering meraung meminta maaf kepada Viktor di tengah malam.

__ADS_1


"Apakah aku pria buruk? Kau membenci ku hingga kau tak ingin bangun dan melihat ku? Lirik aku sekali saja," tangis Viktor dan membawa tangan dingin Celine ke wajahnya. Air mata bercucuran membuat basah jemari Celine.


Pria itu bersenandung kecil membayangkan hal-hal yang disenangi untuk mengontrol perasannya. Ia tersenyum dan mencurahkan seluruh perasannya.


"Kau tahu? Dia telah mengetahui semuanya ibu, apa aku terlalu jahat telah membunuh orangtuanya? Ibu katakan, dia pasti membenci ku, bukan? Tapi salahkah aku jika ingin membalaskan dendam mu dan ayah? Aku juga memiliki hak untuk kecewa, kan ibu?" Viktor menjeda ucapannya, "ibu aku telah memiliki anak dengannya, dia sangat lucu. Namanya Carol, dia sangat mirip dengan ku dan dia, ibu. Kau juga menginginkan mendapatkan cucu, bukan?"


Viktor menghapus air matanya. Selama ini ia berbicara dengan angin. Tak apa jika ia dianggap gila.


"Aku mencintaimu, tidurlah dengan tenang pahlawan ku." Viktor mengecup puncak kepala Celine dengan hikmat dan sebutir air mata jatuh ke pelipis Celine.


Pria tersebut beranjak dan pergi dari tempat tersebut bersama kesedihannya. Ia menghapus kasar bekas air mata di wajahnya. Usai kepergian Viktor, tampak di sudut mata Celine mengeluarkan cairan bening yang tak diketahui oleh laki-laki itu.


_____________


Hati Quenna sangat gundah. Kenyataan yang baru saja didapatkannya membuat wanita itu luntang lantung tak jelas. Tidak ada semangat hidup lagi. Wanita tersebut bak mayat hidup.


Hatinya merasa kosong kala tak bertemu dengan Viktor. Ia selalu menangis di tengah malam dengan nyaring karena rindunya kepada laki-laki tersebut, tak jarang pula ia berteriak histeris membenci dan memakai pria tersebut. Laki-laki itu adalah monster hidup.


"Tidak, tidak, ayah bukan orang seperti itu. Viktor ba.jingan berani-beraninya ingin menipuku, katakan saja kau ingin menutupi kesalahan mu!" dumal Quenna sambil berjalan di area mall.


Ia menjadikan tempat tersebut destinasi untuk menenangkan pikirannya. Ia ingin healing melupakan masalah antara ia dan Viktor. Tapi tampaknya itu tak bisa karena Quenna lagi-lagi kepikiran Viktor. Ia teringat saat-saat kemanisannya bersama laki-laki tersebut.


Quenna menarik napas sejenak berusaha menahan air matanya. Ia tidak ingin malu sendirian karena menangis di tengah keramaian. Wanita itu pun berjalan cepat hingga tak menyadari telah menabrak punggung seseorang.


"Akh!!" Orang yang ditabrak  tengah menelpon seseorang itu pun kontan berbalik. Ia mengikat satu alisnya saat melihat seorang wanita tengah mengaduh kesakitan.


"Lain kali jalan hati-hati." Orang itu memasukan ponsel ke sakunya. Kedua tangannya pun masuk ke dalam saku tersebut sembari menatap dingin Quenna.


Quenna mengangkat kepalanya dan merengut. Akan tetapi mereka pun saling terkejut. Terutama si pria yang sangat syok melihat Quenna.

__ADS_1


"Quenna." Ia langsung menarik Quenna san membawa wanita tersebut ke dalam pelukannya. Ini sangat erat bahkan sulit bagi wanita itu untuk bernapas.


Namun, ia pun sama syoknya jadi tidak merasakan betul hal tersebut. Tak disadari olehnya ia pun membalas pelukan itu.


"Ri-Rigel," lirih Quenna dengan mata menatap kosong ke depan.


Rigel melonggarkan pelukannya. Ia mencium puncak kepala wanita itu dengan dalam. Sungguh hati Rigel tak bisa diungkapkan. Ini adalah hal yang paling bahagia di dalam hidupnya, bahkan jantungnya berdegup kencang, bibirnya bergetar. Ia telah bertemu kembali dengan pujaan hati yang selalu ia nantikan.


Menunggu sambil menatap bintang di malam hari. Doa-doa dirapalkan berharap ada balasan dari Tuhan. Kini nyatanya keinginan itu ada di depan matanya. Berdiri dengan wajah polos, wajah yang selalu dirindukannya.


Ia memandang seluruh tubuh Quenna yang benar-benar berubah tak sama seperti dulu. Namun, ini jauh lebih cantik dan berisi. Wajahnya pun sudah dewasa tak lagi sama kekanakan seperti dahulu.


"Aku sungguh merindukanmu. Oh Tuhan, ini benar kau Quenna? Kau.. kau cantik," puji Rigel dan tersungging malu.


Quenna pun terkejut. Ia membola dan wajahnya bersemu bak tomat merah.


"Ku juga tampan."


"Kenapa kau pergi dari ku, hm? Aku telah menyakitimu?"


Quenna melunturkan ekspresinya. Ia terdiam beberapa saat sebelum suara cempreng anak-anak menyerunya.


"Ibu, Calol kenapa ditinggalin?"


Quenna melihat Carol yang berjalan dengan wajah judes. Rigel melihat ke belakangnya. Ia terkejut ada seorang anak kecil sangat lucu berlari teratih-atih ke arah mereka. Rigel melirik bocah tersebut bergantian dengan melirik Quenna.


"Siapa dia?"


_______

__ADS_1


huhuhu maaf yah updatenya jarang. ini juga diusahakan buat update


__ADS_2