Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 73


__ADS_3

Rigel berjalan ke dalam kamarnya dengan pandangan tak fokus. Ia seakan linglung dan pikirannya entah melambung ke mana. Pria itu menghembuskan napas kasar lalu mengambil sebotol arak dan meminumnya dari botolnya langsung hingga arak itu tandas.


Ia meletakkan alkohol tersebut dan menatap ke depan dengan pandangan lirih. Pria itu menarik napas panjang dan menyapu rambutnya frustasi.


Laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Entahlah hatinya berdetak tak karuan, apakah ia telah merasa bersalah? Yang jelas itu tidak akan terjadi, pikir Rigel meremehkan perasannya sendiri.


Hal yang menghantui Rigel sekarang dan membuat pria itu tidak bisa berpikir jernih adalah kondisi Quenna. Melukai Quenna bukanlah dari bagian rencananya. Itu hanya kesalahan yang tak sengaja diperbuat.


Sungguh Rigel menyesal menyewa pembunuh bayaran akan tetapi Quenna malah ikut menjadi korban. Seharusnya ia lebih dulu membawa wanita itu keluar bukan memberikannya isyarat yang mungkin tidak dimengerti oleh Quenna.


Rigel kembali meneguk alkohol itu dengan rakus. Kepalanya mulai terasa pening dan kesadarannya perlahan menghilang.


Pria itu mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya. Ia menyesap rokok itu dengan dalam dan memainkan asapnya hingga menggebul keluar dari mulutnya.


"Quenna, kau pasti sangat membenci ku, 'bukan? Aku tahu itu. Jika kau mengetahui kebenarannya aku yakin kau pasti tidak akan bisa memaafkan aku," lirih Rigel lalu tertawa terbahak-bahak.


Mabuk sudah menguasai dirinya. Ia meracau tidak jelas kadang tertawa kadang sedih kadang menyesal. Entah apa yang telah terjadi kepada pria ini, kewarasannya dengan mudah direnggut oleh lima botol alkohol saja. Padahal ia tahan minum banyak alkohol dan tidak akan mabuk semudah ini.


Pria itu menari dan cekikikan. Lalu berbaring di atas kasurnya kala lelah dan menatap ke atas yang semuanya terlihat berputar.


Rigel memejamkan mata dan salah satu sudutnya banjir karena sebuah cairan yang bersumber di sana.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh mencintaimu? Kenapa kau lebih memilih dia yang selalu menyakiti ku? Apakah aku kurang baik untuk mu?" Memang Rigel belum mengungkapkan isi hatinya kepada wanita tersebut akan tetapi ia sangat tahu sikap Quenna yang ditunjukkan kepada-nya seolah sedang memberikan jarak di antara mereka.


Hembusan kecewa terdengar dari pria itu. Tangannya mengepal, ia sedang menyusun rencana dengan matang untuk menjadikan Quenna pasangan hidupnya dengan paksa tidak peduli jika wanita itu nantinya menolak. Tapi keputusannya adalah mutlak.


Dan membakar rumah sakit itu adalah salah satu bagian rencananya di samping membalas dendam. Jika pria itu mati maka ia akan mudah merebut Quenna.


"Ingatlah Quenna kau pasti akan menjadi milik ku. Aku akan melakukan apa pun agar kita bisa hidup bersama," ujar Rigel lalu tertawa keras.


Tawanya sangat nyaring dan juga mengerikan. Pria itu sudah masuk dalam jebakan setan. Akan tetapi bagaimana jika setan itu sendiri adalah dirinya?


__________


Tetapi Prima tidak sanggup menjawab kondisi sesungguhnya. Pria itu terpaksa harus menyimpannya dari Carol dan mendustai anak tersebut.


"Paman, kau benar-benar tidak tahu di mana daddy? Bukankah kau sering bersama dengannya, hiks, hiks, aku sungguh merindukan dia, Paman!" lirih Carol sembari meraih tangannya.


Prima melirik tangannya yang digenggam oleh Carol. Ia merasa sangat bersalah karena telah gagal melindungi ayah dari anak gadis ini.


"Ayah mu pasti baik-baik saja. Dia adalah pria yang kuat. Tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kau tenang saja," kata Prima untuk menenangkan Carol.


Carol berkaca-kaca dan menjauhkan tangan Prima. Ia sudah seringkali mendengar ucapan semacam itu, sungguh kata-kata tersebut tidak akan bisa membuatnya tenang. Ia terus memikirkan keluarganya.

__ADS_1


"PAMAN JAHAT!! SEMUA ORANG MENGATAKAN ITU TAPI MEREKA TIDAK MAU MEMBERITAHUKAN DI MANA DADDY DAN IBU SEKARANG!!! Hiks, hiks, hiks." Carol berteriak mengangetkan seluruh isi di ruangan itu.


Prima memejamkan matanya. Kata-kata itu memang pantas disematkan untuknya. Di saat sang tuan dalam keadaan kritis dan dirinya bisa-bisanya hidup dengan tenang di sini.


"Maafkan aku." Prima mengigit bibirnya lalu mengusap kepala Carol dengan sayang. "Aku akan membawa daddy mu secepatnya!"


Prima berjanji bahwa ia akan memenuhi membawa Viktor. Pria itu keluar dan menuju ruang tempat di mana Viktor dirawat.


Viktor dan Quenna benar-benar terluka parah dan masih dalam keadaan kritis. Viktor baru saja menyelesaikan operasinya tetapi tak juga membuat pria itu kunjung keluar dari masa kritis.


Malahan kondisi dan denyut nadinya menurun. Untuk Quenna wanita itu mengalami pendarahan dan keguguran juga rahimnya terganggu dan oleh sebab itu kondisi wanita tersebut benar-benar di luar batas.


Nyawa keudanya hanya bisa dihitung dengan tangan. Bahkan sewaktu-waktu bisa saja terdengar kabar tak mengenakan dari keudanya.


Prima berjanji bahwa ia akan melakukan yang terbaik, tetapi di samping itu dia sungguh memuji ketulusan cinta keduanya dan melewati fase ini bersama-sama.


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2