
Rigel diam tak berkutik akan tetapi berlawanan dengan tangannya yang mengepal sangat erat. Laki-laki tersebut tampak sedang marah namun raut wajahnya tenang tenang akan tetapi tetap saja gerak-geriknya sangat jelas bisa dibaca bahwa ia sedang menahan amarah.
Ia tersenyum tipis sembari memandang ke depan dengan perasaan lirih yang tak tentu arah. Semuanya kacau hal yang paling ia harapkan seolah tengah menjadi bumerang bagi dirinya.
Pria tersebut berusaha tenang dan berjalan gontai ke arah parkiran. Sudah seharian lamanya ia menunggu di dalam mall ini setelah Quenna menyuruhnya agar menunggu wanita itu dari toilet.
Rigel tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang paling konyol. Nyatanya ia sudah tahu dari awal jika Quenna tidak akan balik lagi menepati janjinya. Sudah barang tentu wanita itu kabur dari dirinya, bodohnya ia tetap saja menunggu hal ketidak pastian dan berharap sesuatu yang hanya kebohongan.
Ia tak bisa memaksa Quenna bersamanya. Rigel masih punya hati untuk itu. Meski sangat sulit untuk logikanya terima.
"Aku sangat mencintai mu, tidak kah bisa kau melihat butiran cinta itu sedikit pun? Apakah aku hanya sesuatu yang usang tak berharga bagi mu? Sungguh kau tidak ingin melihat aku melampiaskan rindu?" monolog Rigel sembari masuk ke dalam mobilnya.
Mall ingin tutup dan tak mungkin ia terkurung di tempat itu sampai pagi. Rigel masih memiliki sedikit kewarasan.
Perasannya berkecamuk. Ditambah lagi bahwa ramalan dari pihak BMKG Amerika akan meramalkan bahwa malam ini akan terjadi badai salju tepatnya pukul 22:00 nanti. Dan ini sudah memasuki jam tersebut.
Banyak orang-orang sudah masuk ke dalam rumahnya masing-masing dan menutup pintu dengan rapat, hanya ada mobilnya saja yang terparkir di sini.
"Apa aku yang terlalu bodoh?"
Rigel ingin menjalankan mobilnya akan tetapi mobil tersebut tak bergerak sama sekali. Ia menarik napas panjang dan salju pun sudah mulai berjatuhan. Ia keluar dari dalam mobil tersebut dan ingin memeriksa kesalahan apa hingga mobil ini tak bisa dikendarai.
"Mungkin mesinnya," seru seseorang sambil membawakan payung untuknya. Orang tersebut tersenyum samar dan menyerahkan syal untuk Rigel.
"Mungkin saja."
"Ku rasa satu syal saja tidak akan cukup." Wanita tersebut memberikan syal kepada Rigel. Rigel pun mengambil syal itu dan mengenakan di lehernya. "Ku dengar akan ada badai salju sebentar lagi, nyali mu sungguh kuat bermain dengan maut dan masih berkeliaran di luar."
Rigel berdiri dan menatap wanita itu dari atas hingga bawah. Ia berdecak malas sambil berkacak pinggang. Sesekali ia memainkan lidahnya pertanda mengejek.
"Lalu bagaimana dengan kau? Sama saja seperti ku, bukan?"
"Kau bodoh atau bagaimana, aku kebetulan lewat di sini. Untung ada aku, jika tidak ada, kau akan tahu sendiri nasib mu."
"Yohana apakah aku harus berterimakasih kepada-Mu?" Yohana menyeringai. Wanita tersebut seolah tengah menimbang ucapan laki-laki tersebut.
"Boleh saja."
__ADS_1
"Terimakasih," ujar Rigel lalu masuk ke dalam mobil Yohana.
Wanita itu tersenyum tipis melihat kelakuan Rigel yang main nyelonong masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu berbalik dan mengatup payungnya lalu masuk ke dalam mobil di bagian kemudi.
"Ku kira kau yang akan menjadi supir."
"Aku sudah sangat lelah. Kau yang menawarkan ikut dengan mobil mu, bukan?"
"Kau memang pandai bicara." Yohana melirik Rigel ke samping yang bersedekap dada sambil memejamkan mata. "Oh ya, ini semua pasti karena wanita itu, bukan?"
Rigel membuka matanya dan menatap Yohana. Jelas dari lirikannya seolah tengah memperingati wanita tersebut.
"Kau tidak perlu tahu."
"Ingat tujuan mu untuk balas dendam dan bersaing dengannya. Kau sudah berjanji pada ku untuk membalaskan dendam ku juga."
"Yohana. Bukan waktunya untuk membicarakan itu. Aku sudah sangat lelah tidak ingin bertengkar dengan mu."
Yohana, wanita itu memutar bola matanya dengan malas. Di bawah sana tangannya mengepal. Perempuan tersebut melampiaskan amarahnya dengan mengemudi mobil tersebut dengan laju.
"Jika kau ingin mati, matilah sendiri," kesal Rigel kepada Yohana yang ugal-ugalan.
__________
Quenna menegak ludahnya susah payah. Lengannya bergetar manakala ia menyentuh salah satu anggota tubuh Celine. Tangan wanita tersebut sangat dingin membuat Quenna harus menahan napas dan menarik tangannya kembali.
Ia bisa melihat wajah Celine yang sangat damai terbaring di atas ranjang rumah sakit. Sementara ada kerutan di dahi wanita itu yang mudah dibaca bagi Quenna bahwa jika perempuan itu telah banyak memikul beban bertahun-tahun.
Sangat tidak tega melihat bibi yang dulu pernah menemaninya bermain harus mengalami takdir yang sangat buruk.
Baru disadari oleh Quenna jika pada saat itu Celine yang keluar dari persembunyian dan menyamar sebagai orang lain agar bias masuk ke dalam keluarganya dan melihat putra sulungnya.
Berperan sebagai pelayan dan diam-diam mencurahkan kasih sayang. Tidak hanya kepada Viktor tetapi juga kepada dirinya.
Bahkan ia berdua dengan Viktor tak mengetahui kebenaran itu. Hingga terdengar oleh Gibran bahwa Celine masih hidup lantas memecat dan menyiksanya hingga Celine yang sebelumnya telah terserang gangguan mental membuat keadaannya semakin memburuk. Ia pun menjadi gila sampai sekarang.
"Aku tidak pantas menyentuhnya," ujar Quenna sembari tersenyum pahit.
__ADS_1
Ia melirik Viktor yang juga menatap ke arah yang sama dengannya. Pria itu sedari tadi tak banyak mengucapakan kata.
"Seharusnya memang begitu. Tapi melihat aku yang juga lancang telah menyentuh anak dari orang yang telah aku habisi kenapa kau juga tidak boleh lancang untuk menyentuhnya?"
Quenna tersenyum sedih. Ia mengamati keadaan Celine yang sangat memprihatinkan. Wanita ini juga pernah mengisi bagian hatinya.
"Maafkan aku, maafkan keluarga ku. Jangan pernah kau menyimpan dendam padanya. Jika kau ingin menghukum mereka, hukum saja aku. Aku siap menebus semua kesalahan orangtuaku," tangis Quenna meratapi Celine.
"Ibu, dia siapa?" Carol ikut menyempil di antara mereka berdua.
Mata Viktor berkaca-kaca melihat putri kecilnya. Ia mengangkat tubuh anak tersebut lalu mendekatkannya pada Celine.
"Kau lihat, buka mata mu. Dia cucu mu, kau tidak ingin melihat cucu mu?"
Percuma saja Viktor membujuk Celine tidak akan membuka matanya. Wanita itu setia dengan keadaannya.
"Daddy, apa itu nenek?"
Viktor mengangguk dan membiarkan Carol menyentuh tangan neneknya. Anak itu memandang wajah Celine dengan lama. Ia juga mengajak sang nenek berbicara.
"Nek, ini Calol. Nenek kenapa diam?" Carol belum mengerti apa-apa. Ia kira Celine sedang tidur maka dari itu ia membangunkannya. "Daddy apakah mimpi nenek sangat indah makanya ndak mau liat Calol?"
"Ya. Kau tidak boleh mengganggunya. Carol belum makan, bukan?" Carol mengangguk. Ia menyentuh perutnya yang tak lama setelahnya berbunyi.
Viktor tertawa kecil dan melirik Prima agar membawakan makanan.
"Baik Tuan."
Viktor membawa Carol ke sofa. Quenna juga duduk di samping Viktor. Usai mengurus Carol Quenna tersentak saat tubuhnya ditarik dan diserang dengan ciuman brutal.
Carol yang melihat kejadian itu di depan matanya kontan menutup matanya.
"Kata Ibu tidak boleh melihatnya," ujarnya pelan.
___________
Tbc
__ADS_1
BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA 🤗