
Keributan yang terjadi di luar membuat meeting-nya bersama pimpinan perusahaan Samsung itu harus ditunda beberapa jam kemudian.
Viktor sangat menyesali hal itu. Ia heran siapakah yang telah membuat kekacauan di luar hingga seluruh hotel panik.
Pria itu melirik jam di tangannya dan mendesis marah karena waktunya di Korea sangat terbatas dan tak mungkin ia harus menunda meeting dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Viktor marah bukan main dan pria itu pun memanggil asistennya untuk menyelidiki siapakah orang di bawah sana dan siapa mereka yang berpakaian serba hitam yang berkumpul di depan hotel dan wajah dari setengah bodyguard itu lebih mirip dengan orang Barat ketimbang orang Korea.
Prima setelah mendapatkan panggilan dari Viktor segera menemui pria itu terburu-buru. Ia menunduk hormat ketika melihat Viktor yang tengah menarik napas panjang. Prima tercekat takut jika ia telah membuat marah Viktor.
"Kau tahu apa yang telah terjadi di bawah sana? Kenapa sangat ramai. Mereka tidak mau melakukan meeting dalam keadaan darurat. Nanti bisa saja mengganggu meeting."
"Saya kurang tahu Tuan. Izinkan saya untuk menyelidikinya," ujar Prima yang langsung disetujui Viktor. ia berharap ini juga dapat segera diatasi oleh bawahannya tersebut.
Prima keluar dari dalam ruangan pribadi Viktor dan Viktor pun memejamkan mata. Ibunya berada di ruangan yang berbeda. Viktor berniat ingin mengunjungi Celine terlebih dahulu.
Tapi keadaan yang mendesak seperti ini membuatnya harus berpikir dua kali untuk ke sana. Ia harus menyelesaikan kegaduhan di bawah sana lalu memalukan meeting kemudahan barulah mengunjungi ibunya, sebab sebelumnya ia belum sempat bertemu ibunya itu.
"Siapa orang-orang bodoh itu yang telah menganggu ketenangan hotel."
Viktor lantas keluar untuk memastikan sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ia ke lantai bawah dan hal yang pertama dilihatnya adalah banyak dipasang foto seorang wanita melalui alat digital maupun selebaran.
Viktor mengernyit melihat foto tersebut yang entah kenapa sangat familiar di wajahnya. Tapi kapan ia melihat wanita itu, kenapa sangat tidak asing. Mau mengingat beberapakali pun Viktor tetap tak bisa mengingat kapan ia pernah melihat foto yang ada di dalam alat digital tersebut.
"Kenapa rasanya sangat tidak asing," gumam Viktor dan mendekati foto yang terpajang di dinding. Ia perhatikan dengan betul-betul tapi tetap saja tak tahu siapa wanita itu.
Ada yang aneh lagi ia merasa wanita ini sangat mirip dengan wanita yang ada di mimpinya. Oh Tuhan sepertinya Viktor sudah sangat gila bisa-bisanya menganggap wanita itu adalah wanita yang di mimpinya. Apakah ini adalah efek dari jatuh cintanya yang sangat mendalam hingga setiap foto yang dilihatnya selalu mirip dengan perempuan itu.
"Sepertinya aku memang sudah sangat tidak waras," gumam Viktor merutuki dirinya yang benar-benar sudah dapat dibilang setres.
Viktor pun bertemu dengan Prima yang sedang melakukan penyelidikan. Ia menghampiri pria itu dan menannyakan kasus tersebut.
"Bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Wajah Prima sangat panik tatkala melihat foto Quenna yang terpanjang di mana-mana. Ia baru mengetahui jika orang berbaju hitam itu adalah anak buah Rigel dan sedang mencari Quenna.
Baru diketahui Prima bahwa Quenna ternyata ada di Busan. Entah keberuntungan dari mana akhirnya setelah penantian sangat lama ia pun menemukan keberadaan Quenna. Ia harus lebih cepat dari Rigel menemukan Quenna.
Prima melirik wajah Viktor yang penuh tanya itu. Ia seakan sangat merasa bersalah pada pria ini.
"Seorang wanita dan anaknya kabur dari hotel ini. Maka dari itu keluarganya sedang mencarinya. Tapi yang paling menghebohkan adalah wanita itu yang menghilang begitu saja," cerita Prima dengan hati-hati. Ia tak ingin keceplosan sedikitpun.
Ia akan membawa Quenna ketika wanita itu sudah bersamanya nanti. Barulah ia akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Viktor.
"Begitukah. Perkara begitu saja hebohnya minta ampun. Dasar wanita yang tak tahu diri malah kabur dari keluarganya," umpat Viktor dan Prima yang mendengarnya meringis.
__ADS_1
"Tuan meeting akan dilakukan di cafe terbesar di Busan."
___________
Quenna menarik napas panjang setelah keluar dari halte bus dan ia sebentar lagi akan sampai ke bandara.
Perempuan itu melirik anaknya yang sudah sangat kelelahan. Quenna tampaknya harus mencari tempat untuk beristirahat sebentar lalu kemudian akan melakukan penerbangan.
Tiket penerbangan telah dipesan nya melalui online dengan identitas yang berbeda. Yang perlu dilakukannya bersama Carol saat ini adalah mengganti identitas. Ini ketigakalinya mereka harus berganti identitas.
"Kau sudah sangat lelah?" tanya Quenna pada anaknya tersebut yang mengangguk lemah.
Quenna memejamkan mata dan ia harus membawa Carol ke suatu tempat yang lepas dari jangkauan Rigel.
Entah di mana tempat itu yang penting saat ini mereka harus menjauh dari halte bus. Mungkin penyelidikan sudah sampai di sini.
"Kita harus kabur dari tempat ini secepatnya, paman Rigel pasti sedang mencari kita," ucap Quenna dan menggendong tubuh Carol yang sudah terasa berat dari hari Itu.
"Ibu kita akan ke mana lagi?"
"Kita akan mencari tempat makan. Kau sangat lapar, 'bukan?" tanya Quenna pada anaknya dan mengusap wajah Carol yang sangat tampak letihnya.
"Iya, aku lapar, Ibu!" keluh Carol dan merengek.
Pun Quenna memutuskan untuk mencari sebuah warung makan sederhana yang ada di sekitar sini.
Saat hendak keluar dari warung makan itu Quenna terkejut melihat bahwasanya orang berseragam serba hitam sedang berkumpul di luar. Quenna tidak ingin identitasnya diketahui meskipun kini ia telah menggunakan identitas palsu.
"Kita harus tetap berhati-hati," waspada Quenna dan menuntun anaknya agar berhati-hati melewati mereka.
Namun kesialan apa yang telah menghampiri Quenna hingga mereka ditahan dan akan dilakukan pengecekan.
Quenna memejamkan mata berharap jika ia lolos dari pengecekan itu. Setelah mengecek beberapa hal di tubuh Quenna mereka pun memastikan jika itu bukanlah Quenna.
Quenna melirik Carol dan dapat menarik napas panjang. Akhirnya mereka selamat dan segera pergi dari sana.
"Eh tunggu!!" seru orang itu kembali membuat dada Quenna yang semula sangat lega kembali berdetak hebat.
Ia menoleh pada orang itu dan mengangkat satu alisnya penuh tanya. Orang itu berjalan menghampirinya dan memperhatikannya lebih teliti lagi.
"Apa yang ada di dalam koper mu itu?" tanya orang tersebut seraya melirik ke arah kopernya.
Quenna meneguk ludah dan berusaha tetap tenang.
"Hanya pakaian saya."
"Bawa kemari kami harus menceknya."
__ADS_1
Mata Quenna memerah tidak terima jika kopernya dicek. Bagaimana pun juga di dalam koper ini adalah identitas rahasianya.
"APA-APAAN MAKSUD ANDA? INI PRIVASI SAYA DAN ANDA TIDAK BERHAK UNTUK MELANGGAR PRIVASI SAYA. SAYA TIDAK TERIMA!!!" marah Quenna menggema di seluruh halaman.
"Maaf kami harus tetap melakukan pengecekan."
"LAGIAN ANDA SIAPA YANG SEENAKNYA MENGECEK KOPER SAYA!! SAYA BUKAN BURONAN!!"
Anak buah Rigel itu saling pandang dengan sesama rekannya. Ia pun semakin berambisi ingin mengecek koper Quenna.
Quenna menatap anaknya yang sangat gugup. Terpaksa ia menyerahkan kopernya dan ketika para bodyguard itu membuka kopernya Quenna langsung mengeluarkan senjata api dan menembak mereka semua.
Sontak saja rekannya terkejut dan Quenna mengambil kopernya lalu berlari melarikan diri dari orang tersebut yang mengejarnya.
"Ibu kau yakin kita akan selamat!"
"Carol aku tidak tahu yang penting kita harus sampai ke bandara secepatnya," ucap Quenna seraya menarik tangan Carol.
Carol ngos-ngosan dan menarik napas panjang. Anak itu sudah tak sanggup lagi untuk berlari dan hal itu membuat Quenna sangat cemas.
"Ibu aku sudah tak sanggup lagi berlari."
Quenna panik bukan kepalang dan ia harus secepatnya mencari persembunyian. Melihat ada orang yang baru saja masuk ke dalam mobil lantas ia pun berlari memasuki mobil itu dan mengangkat tubuh Quenna.
Pemilik mobil tersebut sangat terkejut saat melihat ada yang masuk ke dalam mobilnya tanpa izin. Ia terbelalak melihat seorang wanita dan anaknya.
"Apa yang kau lakukan di dalam mobil ku?" geramnya.
Quenna melirik orang tersebut dengan wajah panik.
"Tuan selamatkan kami, kami dikejar."
Ia mengerutkan alisnya dan melirik ke belakang dan benar saja. Quenna memperhatikan Viktor dan tubuhnya tercekat, napasnya tertahan, dan ia tersentak saat melihat wajah orang itu yang dapat dipastikan memang Viktor.
Viktor mengerutkan keningnya melihat Quenna. Bukankah wanita ini yang sedang membuat keributan di hotel. Meskipun ia menggunakan identitas lain tapi Viktor mengetahui betul jika mereka adalah orang yang sama.
"Viktor," lirih Quenna dengan mata berkaca-kaca.
"Kau mengenal ku?"
Gerp
Quenna langsung memeluk tubuh Viktor dengan perasaan membucah senang.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA