
Rungan gelap yang minim dengan pencahayaan itu sering disebut dengan ruangan neraka. Sebab ini adalah tempat eksekusi mati yang sering digunakan oleh Viktor di kota Texas.
Pria itu di mana-mana memiliki markas dan tempat persinggahan oleh sebab itu ia sangat memahami negaranya sendiri dan seluk beluknya bahkan serta rahasia negara yang berhasil ia bisa korek.
Bukan hanya di Amerika, tetapi di berbagai negara juga pria itu memiliki kekuasaan yang sama dapat mengendalikan orang-orang sekitarnya. Hebat bukan seorang Viktor? Lantas bagaimana bisa orang seperti Viktor tidak memiliki musuh?
Prima berjalan ke tengah ruangan dan melihat segala penyiksaan yang dilakukan oleh anak buahnya terhadap orang-orang yang telah ia tangkap karena merusuh di rumah sakit dan menganggu ketenangan dokter yang sedang menangani.
Ya benar orang-orang itu yang tak lain merupakan seorang wartawan anarkis yang memaksa masuk dengan merusak fasilitas rumah sakit.
Biarkan mereka sendiri merasakan perbuatannya. Lihat orang yang semula berdiri menantang dan memaksa masuk dengan mengancam petugas keamanan dengan wajah sangarnya malah tak berkutik saat disiksa.
Prima tersenyum miring melihat pria itu. Ia mendekati pria tersebut dan beberapa juga ada wanita di antara mereka. Totalnya wartawan dan jurnalistik yang ditangkap olehnya berjumlah 10 orang.
Mereka semua sedang menghadapi maut yang berada di depan mata. Prima mengambil besi yang sudah dipanaskan dan memukulkannya kepada pria yang membuatnya geram.
"Akhh!!" teriak pria itu merasakan seluruh kulitnya mengelupas.
Mereka digantung terbalik kaki di atas kepala di bawah. Sementara tubuh dipukuli oleh besi panas.
Prima mencengkram dagu laki-laki tersebut dan menekannya sangat kuat.
"Siapa yang menyuruhmu berbuat anarkis? Inilah akibatnya jika kau berani berbuat seperti tadi." Prima menampar keras wajah pria itu hingga menyemburkan darah.
Prima berdecak marah saat melihat noda darah itu hinggap di jas mahalnya. Ia mengepalkan tangan dan berusaha tetap tersenyum tapi penuh dengan amarah.
"Najis," umpatnya kesal melihat baju itu yang terkena darah haram orang tersebut.
Ia melirik tahanan yang lain juga sama disiksa dengan keras tanpa mengenal gender. Ia menggantikan Viktor yang biasanya tukang eksekusi para korban.
Jeritan serta tangisan dari para korban terutama kalangan wanita berharap laki-laki itu memberhentikan penyiksaan ini, akan tetapi Prima tetap menyiksanya. Mereka sebenarnya belum tahu jelas apa kesalahan yang telah mereka perbuat hingga siksaan diterima bertubi-tubi.
Prima membuang wajah ketika tembakan hendak dilepaskan oleh salah satu bodyguard saat ingin mengeksekusi
Terlebih dahulu yang dibunuh adalah wartawan yang paling menyebalkan. Tetapi Prima menahan si tukang eksekusi agar orang itu ditembak mati untuk giliran terakhir agar dia bisa melihat teman-temannya yang mati terlebih dahulu, ia ingin menyiksa pria itu dengan perlahan.
"Hentikan! Aku ingin dia mati paling terkahir agar dia bisa melihat jasad teman-temannya." Orang itu terhenyak mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Prima.
Tak hanya laki-laki tersebut akan tetapi 9 orang lainnnya yang merasakan jika maut sejengkal di depan matanya.
__ADS_1
Mereka menangis dan memohon ampun agar bisa dimaafkan.
"Tuan tolong maafkan saya, anak saya masih kecil dan kami terpaksa melakukan pekerjaan ini untuk membiayai anak saya. Dia tidak punya siapa-siapa selain saya, tolong maafkan kami." Kalian pikir Prima akan terkecoh dengan bualan murahan itu. Perasannya sudah dilatih agar tidak merasa simpati dengan tahanan.
Ia tak mengenal rasa manusiawi karena ia juga dididik di tengah-tengah kejamnya keluarga.
"Kau eksekusi dia terlebih dahulu," ujar Prima menunjuk seorang wanita yang barusan berbicara dan ingin melawannya.
"Baik!"
Sang penembak pun melepaskan beberapa peluru ke tubuh wanita itu hingga cipratan darah menggenang di lantai. Prima menyeringai puas.
Eksekusi itu dilakukan secara bergiliran hingga tepat akhirnya yang akan dieksekusi adalah seorang pria yang menjadi target utama Prima.
"Bagaimana? Kau melihat dengan mata kepala mu sendiri bukan teman-temanmu mati secara mengenaskan. Dan saatnya adalah giliranmu untuk menerima siksaan nerakamu." Usai mengatakan itu Prima tertawa terbahak-bahak sambil memegangi dadanya.
Pria itu sungguh senang sekali melihat raut wajah dari laki-laki tersebut yang sangat takut mendengar ucapannya. Sedangkan ia malah menjadi bersemangat untuk menakut-nakuti dan menjatuhkan mental laki-laki itu.
Prima puas melihat laki-laki tersebut merasakan ketakutan yang berlebihan dan merasakan trauma yang sangat berat.
Prima pun memerintahkan agar bodyguard segera mengeksekusi pria itu dan membunuhnya secara perlahan.
"Bunuh dia dan pastikan kau benar-benar menyiksanya jangan biarkan dia mati dengan cepat," ucap Prima sembari melirik sedikit orang itu yang seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
Ucapan yang dilontarkan oleh pria itu tidak membuat goyah Prima.
Dor
Dor
Dor
Tembakan beberapa kali melesat ke tubuh laki-laki tersebut. Itu dilakukan dengan jarak yang cukup lambat agar laki-laki itu bisa merasakan sakitnya timah panas menembus seluruh jaringan kulit.
Dan pada akhirnya orang itu pun mati mengenaskan dan darah penuh berceceran di bawahnya. Prima merebut senjata yang digunakan untuk mengeksekusi laki-laki tersebut dan menembakkannya ke tali yang menggantung laki-laki itu hingga pria tersebut pun terjatuh dengan keras ke lantai.
Ia menatap mayat yang bergelempangan di lantai lalu pergi begitu saja.
___________
__ADS_1
Langkah demi langkah menapak di atas lantai menuju suatu ruangan yang penuh dengan penjagaan ketat. Penjaga yang melihat pria itu menunduk hormat kepada atasan nomor 2 mereka.
Sang pria itu membuka pintu dari ruangan tersebut dan tampaklah alat medis yang terpasang pada seorang tubuh wanita tua renta yang tak lain adalah seorang Celine.
Prima melangkah mendekati Celine. Tatapannya sendu mengarah kepada wanita itu yang selalu dibanggakan oleh Viktor.
Sungguh Prima sangat jelas bisa melihat Viktor yang sangat mencintai ibu kandungnya itu. Iya bahkan melakukan sesuatu hal yang tidak terduga dan merubah sikapnya menjadi orang kejam hanya untuk menguatkan mental agar bisa membalas dendam kepada keluarga Gibran yang telah menghabisi keluarganya.
Aksi Viktor bisa tergolong sangat mulia karena ia membela orang tuanya. Tetapi di mata orang lain Viktor adalah orang gila yang kewarasannya direnggut oleh perasaan balas dendam yang begitu menggebu-gebu di dadanya.
Prima meraih tangan Celine. Meskipun apa yang ia lakukan ini sangat lancang karena berani menyentuh tangan Nyonya besarnya.
"Maafkan saya Nyonya telah berani menyentuh tanganmu. Saya mohon sadarlah anak Anda sedang dalam masa kritis, jenguklah dia. Kau tahu dia sangat merindukanmu, sering membicarakanmu, dan bahkan sering membela dirimu. Tidakkah kau ingin melihat putra kesayanganmu itu?"
Prima mengusap punggung tangan Celine. Ia meneteskan air mata karen Celine tak juga membuka matanya dan tak menghiraukan ucapannya.
Pria itu sangat sedih akan kenyataan tersebut. Padahal satu-satunya orang yang bisa membuat Viktor kembali sadar dan bersemangat adalah kesadaran sang ibu.
Prima benar-benar pasrah akan hal itu. Ia menarik napas panjang lalu hendak pergi karena tahu tak akan membuahkan hasil apa pun jika ia di sini.
Mungkin dia akan pergi ke gereja dan berdoa kepada Tuhan semalaman. Tapi ia merasakan tangannya sedang disentuh oleh seseorang.
Sontak saja Prima berbalik dan sangat terkejut melihat Celine membuka matanya. Selain itu wanita tersebut ternyata sedang menangis. Ia tersenyum melihat Prima.
"Hah? Apa aku salah lihat? Nyonya kau sudah sadar?"
Tapi wajah Prima berubah kala sadar saat tahu bahwa Celine mengalami gangguan jiwa.
"Di mana anak ku?" Prima diam dan memejamkan matanya.
"Anak Anda tidak sedang di sini."
"Sesuatu terjadi padanya." Prima mengangguk membuat hati seorang ibu itu teriris.
"Oh anak ku. Tuhan selamatkan lah dia, aku benar-benar menyesali perbuatan ku berpura-pura gila di depannya hanya karena aku tak berani menatap wajahnya karena rasa bersalah ku telah meninggalkannya dulu."
Wajah Prima syok bukan main mendengar pernyataan Celine.
__________
__ADS_1
Tbc
jangan lupa untuk like dan komen.