
"Akhh!" desah Quenna ketika jemari tersebut menyentuh dirinya. Ia mendesis saat sesuatu yang basah menyentuh bagian sensitif miliknya.
"Diamlah, ini tidak akan sakit," lirih Viktor sembari mengoleskan kapas yang telah dilumuri obat.
Ia menyapu kapas tersebut di wajah Quenna yang tampak memerah bekas perkelahiannya dengan Abraham. Memang gila Quenna menantang big bos mereka. Sebenarnya Viktor sudah sangat lama mendengar nama Abraham di dunia hitam. Tidak pernah terpikirkan ia akan bertemu orang yang desas-desusnya sangat masyhur di kalangan pebisnis licik.
Parahnya lagi ia mengenal betul nama Charlotte beberapa tahun belakangan ini. Sempat ingin mencari tahu perempuan itu, saking penasarannya dengan reputasi wanita itu.
Orang-orang mengatakan jika Charlotte adalah pembunuh bayaran terhebat di Inggris. Meskipun namanya terkenal oleh banyak orang tapi tak pernah sama sekali ia tertangkap oleh polisi.
Kejahatan yang ia lakukan bak disapu dengan bersih tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Oleh sebab itu polisi tidak pernah bisa menemukan dalang setiap penembakan rahasia dilancarkan oleh Quenna.
Ditambah ia menyembunyikan identitasnya dengan sangat apik. Quenna memiliki puluhan nama samaran, jadi sukar bagi mereka menemukan Quenna.
Hanya saja yang menjadi ancaman adalah musuh-musuh wanita itu yang ada di dalam organisasi. Mereka tentu akan melakukan hal yang lebih buruk lagi dan membongkar identitas Quenna.
Itu yang ditakutkan Viktor jika wanita tersebut tetap berada di organisasi itu. Ia ingin membawa Quenna kembali ke Amerika, entah wanita itu akan setuju atau tidak.
"Kenapa kau tahu tempat ini? Ini adalah tempat rahasia, aku tak mempercayai mu!" tukas Quenna dan menjaga jarak beberapa meter dari Viktor.
Ia membuang muka seolah tak menganggap Viktor ada di sampingnya. Tidak ada tanda ucapan terimakasih atas apa yang telah dilakukan Viktor kepadanya.
Ia menganggap tadi adalah hal keberuntungan, lagian bukan dirinya yang meminta diselamatkan oleh pria itu.
Namun, Viktor sendiri yang datang dan sok menjadi pahlawan. Ia tak mengharapkan bantuan itu, Quenna ingin enyah dari hadapan Viktor.
"Baby girl, kau semakin berani? Siapa yang mengajari mu seperti ini? Seingat ku, aku tak pernah mengajarimu bersikap seperti ini? Ah, ku tahu pasti Abraham yang telah mengubah mu! Aku akan membalasnya nanti," tutur Viktor sambil berusaha mendekati sang wanita.
Quenna seolah tengah mengejek ucapan Viktor. Penuh bualan, lagian jika ia berubah apa urusannya dengan pria tersebut.
"Kau berucap seolah kau mengerti segalanya! Pergilah, kau tak lupa apa yang telah kau perbuat kepada ku?"
Viktor menatap malas Quenna. Ia menarik napas panjang sembari memperhatikan sekitar. Rumput hijau serta bunga yang malu-malu menampakkan dirinya. Suara hening pun dimulai, Viktor diam tak berniat untuk membalas ucapan Quenna.
Memang ia sangat jahat telah melakukan hal yang tak sepantasnya kepada Quenna. Tapi apakah ia menyesal? Tentu jawabannya tidak. Itu akan menjadi kebahagiaan sendiri untuknya, sebut saja Viktor gila.
"Aku tahu perbuatan ku di masa lalu. Jika kau berharap aku meminta maaf, aku akan mengabulkannya. Tapi sebenarnya yang perlu kau tahu aku tak pernah menyesal sama sekali! Maaf ku hanya membuat mu puas saja," pungkas Viktor sembari meraih tangan Quenna.
__ADS_1
Ia mengamati wajah cantik itu yang begitu indah menyatu dengan sinar matahari. Sayangnya beberapa lebam menghiasi kecantikan tersebut.
Melihat Viktor menggenggam tangannya lantas Quenna menarik kembali tangan tersebut. Ia memandang Viktor dengan penuh peringatan.
"Ku peringatkan sekali lagi, jika kau menyentuh tangan ku, maka aku tak akan segan-segan membunuh mu di sini!!" Ancaman dari Quenna tersebut malah menjadi bahan tertawaan Viktor.
Quenna tampak lucu dengan wajah menggemaskan sambil berusaha memberikan ancaman kepadanya. Wanita itu pikir ia akan sangat menakutkan nyatanya malah menggemaskan.
"Quenna yang ku kenal sangat lemah lembut, ia memiliki hati nurani, aku bertanya-tanya siapakah wanita yang ada di depan ini?"
"Charlotte," timpal Quenna yang sudah muak mendengar suara Viktor.
Ia hendak beranjak dari tempat itu, tapi tangannya ditahan oleh pria tersebut. Ia menatap penuh tanya kepada Viktor.
"Aku belum sepenuhnya mengobati luka mu!"
Viktor pun memasang kapas di bagian luka-lukanya untuk mengehentikan pendarahan. Pria tersebut tersenyum lebar melihat hasil pengobatan yang telah dilakukan lelaki itu sendiri.
Quenna mendelik menatap Viktor tajam. Serasa laki-laki tersebut telah mengobatinya, ia pun pergi dari tempat itu. Seakan-akan tak ada orang di sana.
Namun, Viktor yang semula sempat berdiam diri saja mencegah Quenna. Ia menarik tangan wanita itu lalu mendorong Quenna ke batang pohon.
Viktor seakan tidak mendengar umpatan yang ditujukan kepadanya. Ia begitu sibuk mengamati wajah Quenna yang amat cantik.
Sudah sangat lama ia tak memandang perempuan tersebut. Viktor melirik Quenna dari bawah hingga ke atas. Tatapan matanya berhenti pada dada Quenna, memiliki perubahan yang sangat drastis. Lebih dari sebelumnya.
Quenna yang sadar arah tatapan Viktor segera menutupi dadanya. Ia menatap marah pria ini.
"Apa yang tengah kau lakukan, dasar mesum!!" marah Quenna dan berusaha mendorong dada Viktor.
Viktor tertawa sekilas. Ia merapatkan tubuh mereka, entahlah apa yang sedang ia lakukan. Ia begitu tergila-gila kepada wanita ini.
Quenna merasa gugup yang sangat menyakitkan. Dadanya tak karuan tidak bisa berkompromi dengannya.
Melihat Viktor mengikis jarak di antara mereka membuat Quenna meledak. Ada perasaan aneh ketika bibir itu saling bertaut.
Ia tak membalasnya namun masih terpaku dengan perbuatan laki-laki tersebut. Merasa tak ada perlawanan dari Quenna membuat Viktor yakin wanita ini tengah memberikan lampu hijau kepada-nya.
__ADS_1
Permainan itu begitu liar menjelajahi setiap batasan yang sangat rahasia dari tubuhnya. Menyentuh hal-hal pribadi miliknya, anehnya Quenna tersihir oleh permainan pria itu.
Ia tak mampu menolaknya hanyut dalam kenikmatan, namun mendengar suara perbincangan orang-orang yang tak jauh dari mereka menyadarkan Quenna.
Ia mendorong tubuh Viktor dan ngos-ngosan. Wanita tersebut membenarkan pakaiannya yang hampir terbuka semua.
"Apa yang kau lakukan baji.ngan?!! Kau ingin memperkosa ku di sini?"
"Hah? Memperkosa mu?" tanya Viktor tidak mengerti. Ia begitu polos sambil mencerna kejadian beberapa saat lalu. Bukankah Quenna baik-baik saja dan bahkan meresponnya. "Ta..."
"Diamlah kau ba.jingan!" bisik Quenna sambil membungkam mulut Viktor dengan telapak tangannya.
Bagaimana pun mereka berada di ruang terbuka, apalagi tak jauh dari markas. Quenna tak ingin keberadaannya diketahui.
Ketika suara itu telah menghilang ia pun dapat bernapas lega. Wanita itu menjauh dari Viktor dan menatap tajam lelaki itu sebentar.
"Kau tidak ingin melanjutkan yang tadi?"
"Kakak... Diamlah, aku sudah berbaik hati tidak mematahkan tangan lancang mu itu!" timpal Quenna amat kesal kepada pria ini. "Kau lupa kita bersaudara?"
"Saudara ya? Bagaimana jika ku katakan kau bukan adik ku? Aku tak pernah menganggap mu adik!"
"Kau gila!! Aku adik mu, kita berada di rahim yang sama!"
Viktor tertawa sumbang. Ia tengah berpikir hal yang sudah sangat ia ketahui jawabannya.
"Sayangnya aku tak pernah menginginkan itu, kau akan tahu segalanya nanti!"
"Maksud mu?"
Viktor tak menjawab ocehan Quenna. Ia mengangkat tubuh kecil wanita tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil tanpa peduli teriakan Quenna.
_________
Tbc
JANGAN LUPA KOMEN YA MAN TEMAN BIAR SAYA SEMANGAT LANJUTINYA
__ADS_1
Hay teman-teman aku punya novel lagi nih buat kalian, dijamin bagus banget. jangan lupa mampir, pokonya wajib mah difavoritkan. baca dulu sinopsisnya, siapa tau suka.