Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 70


__ADS_3

Keduanya melepaskan tautan ciuman hikmat penuh dengan perasaan yang bukan sekedar nafsu itu. Kedua insan tersebut seakan tidak rela melepaskannya yang melakukan hal itu sambil berhadapan dengan situasi yang sangat mainstream ini.


Sesuatu yang sangat menegangkan mempertaruhkan nyawa dan mereka sempat-sempatnya bermesraan dikala para penjahat mengincar nyawanya.


"Di mana kau menaruh Carol?"


Quenna tersenyum lebar. Ia mengusap kepala pria itu dan memeluknya dengan erat. Carol telah ia titipkan pada anak buah di luar. Sementara ia masuk untuk berjuang bersama dengan Viktor.


"Sudah aku titipkan dengan anak buah," ujar Quenna seraya mengelus kepala pria itu. Quenna menoleh ke atas di mana api jaraknya sejengkal dengannya.


Mata perempuan tersebut membulat lebar tatkala api itu hendak menyambar tubuh Viktor. Ia segera membawa pria tersebut turun ke bawah.


Puluhan tangga harus mereka lewati secara manual. Bayangkan berapa banyak tenaga yang terkuras. Viktor menarik napas panjang dan timah panas yang bersarang di badannya semakin merusak jaringan tubuhnya.


Pria itu tersengal-sengal tak sanggup lagi berlari sementara api terus mengejar mereka bagaikan keduanya adalah buronan.


Quenna menitikkan air mata dengan perasaan penuh kekhawatiran. Rasa cemas bercampur aduk dan membuat pikirannya kacau.


Wanita itu frustasi dan sibuk berteriak nyaring menyemangati Viktor yang sudah sangat kelelahan. Laki-laki itu tak memiliki daya untuk melangkah.


Ia sudah begitu pasrah mungkin takdirnya sudah sampai di sini. Mungkin ini akan menjadi hal yang paling bersejarah di dunia seorang pengusaha nomor 1 di Amerika mati karena insiden kebakaran.


Orang yang terkenal hebat serta pria yang memiliki jiwa piskopat. Bagaimana tidak namanya ramai di dalam kalangan bisnis, bukan berarti tidak ada yang tahu perbuatan kejinya, mungkin kebanyakan orang akan bersyukur atas kepergiannya.


Viktor tertawa hambar. Sungguh begini akhir hidupnya? Mati menggenaskan dan mungkin menjadi cemoohan.


"Viktor ayo! Api sebentar lagi mendekati kita."


Viktor menatap dalam mata sang adik. Tatapannya penuh dengan cinta dan kasih sayang yang tak terhingga.


"Aku sudah tidak sanggup," lirih Viktor dan menyentuh wajah Quenna yang penuh dengan noda hitam itu dengan gemetar.


Ia mengusap pelan pipi perempuan tersebut. Ia ingin melihat Quenna untuk terakhir kalinya sebelum maut yang akan memisahkannya.


Viktor menghapus air mata Quenna yang mengalir deras. Laki-laki itu melirih dan melirik bagian tubuhnya yang tertembak dan kondisinya sudah sangat darurat.


Quenna ikut melirik ke arah luka itu. Ia menyentuhnya kemudian menatap wajah Viktor dengan perasaan sangat-sangat tidak ikhlas. Ia memeluk leher pria tersebut dan menangis kencang di ceruk leher laki-laki tersebut.


"Aku mohon, demi anak kita kuatlah."


Viktor menggeleng dengan pelan lalu tersenyum putus asa. Ia meraih telapak tangan Quenna dan mengusapnya pelan.


"Pergilah terlebih dahulu. Aku berjanji akan menyusul mu. Selamatkan lah anak kitayang belum sempat melihat dunia."

__ADS_1


Quenna menarik tangannya kasar. Jujur ucapan Viktor melukai perasaannya. Wanita tersebut mundur beberapa langkah dan Viktor yang tersenyum meyakinkan agar menjauh darinya.


Air mata keduanya menetes. Jadi ini maksud dari ucapan Rigel yang semula tidak dimengerti nya. Jadi memiliki makna yang sangat dalam, laki-laki itu menyuruhnya keluar dari rumah sakit dan melihat salju gugur yang sangat menakjubkan di luar.


Quenna menatap Viktor yang ditelan oleh asap. Ia berteriak keras dan masuk ke dalam gumpalan asap tersebut dan melihat Viktor terduduk dengan tubuh yang sangat lemah.


"Aku tidak akan membiarkan mu di sini sendiri." Quenna menatap ke dinding dan melihat jika mereka sudah berada di lantai ketiga.


Tak bisa banyak bertindak lagi ia mengangkat tubuh Viktor dan memapahnya dengan pelan menuntun pria itu ke lantai bawah.


Ia berharap api belum benar-benar membakar habis di lantai bawah. Viktor yang berada diambang sadar tidak sadar melirik ke samping dan menghembus kecewa melihat Quenna yang lebih memilih membantunya.


"Kenapa kau belum pergi?"


"Kau pikir aku bisa hidup tanpa mu, Kak? Hampir seluruh hidup ku bersama mu," ujar Quenna yang tak bisa membayangkan jika tidak ada sosok Viktor lagi di sisinya.


Ia menyeret Viktor ke lantai bawah. Tangga demi tangga mereka lewati hingga tibalah mereka menuju  tangga terakhir.


"Kita sudah berada di tangga terakhir, ya?" Viktor tersenyum diantara nasibnya yang sudah sangat genting.


"Apa yang aku katakan? Aku sudah menduganya bahwa kita berhasil keluar dari ruangan ini."


Mereka sama-sama tersenyum. Wajah keduanya terdapat noda hitam akibat dari asap pembakaran tersebut.


Di depannya benar-benar semuanya api. Quenna menutup pintu dengan cepat karena api tersebut hendak menyambar mereka.


"Ada apa?"


"Di luar api semua."


Quenna melihat ke atas dan ruangan ini belum dilalap api. Memang susah api merayap di bangunan yang semuanya terbuat dari batu dan semen.


Quenna mengibaskan tangannya di depan wajah menghalau asap. Ia melihat ada toilet kecil di sini. Quenna memasukkan Viktor di sana dan di toilet tersebut juga terdapat banyak genangan air di dalam bak. Ia mencuci wajah Viktor dan merobek sebagian bajunya lalu membalut bagian tubuh pria itu yang tertembak.


"Bertahanlah di sini sebentar," pinta Quenna. Wanita itu mengambil tabung kecil dan mengisinya dengan air.


Ia mengangkat tabung tersebut dan membuka pintu yang menghubungkan dengan ruangan utama. Api sudah melalap bagian pintu ia menyiramnya meskipun sangat susah. Berkali-kali ia menimba dan memadamkan api tersebut namun hasilnya nihil.


Quenna mengambil satu tabung dan segayung air kemudian menggendong Viktor. Ia berusaha sekeras tenaga dengan daya tubuh yang tersisa.


Wanita tersebut menyiram api yang menghalangi jalan keduanya. Quenna tersenyum melihat pintu utama rumah sakit.


Ia melempar gayung dan tabung di tangannya lalu berlari sembari menggendong Viktor di punggungnya. Akan tetapi lampu hias gantung jatuh tepat di atas mereka.

__ADS_1


Quenna menatap ke atas dan matanya membulat.


"Oh Tuhan!" Ia menyingkir cepat.


Brakk


Kaki Viktor terjepit dan Quenna panik melihat lampu itu mengeluarkan percikan api. Ia berusaha menarik kaki Viktor sedangkan sang empu hanya bisa mendesis sambil memejamkan mata.


"Quenna pergilah, mungkin ini adalah saatnya bagi ku."


"Jika kau mati di sini, aku juga akan ikut."


"Ba-baga-i mana an-anak kita?"


Quenna memejamkan matanya dan air mata berhasil lolos dari netra indah tersebut.


Ia pun mengangkat lampu yang berukuran besar alhasil api menyambar dirinya dan membakar tangannya. Quenna cepat memadamkannya untungnya api itu belum terlalu besar.


"Aku tak apa." Quenna menenangkan Viktor. Ia telah berhasil menarik kaki pria itu dan segera memapah keluar dari rumah sakit itu dan berhasil melewati kobaran api.


"Kita selamat."


Duarr


Ledakan dari bahan mengandung gas membuat keduanya terlempar dengan sangat jauh. Quenna menatap ke bawah dirinya dan melihat darah mengalir di pangkal pahanya.


Wanita itu melirik Viktor yang sedang menatapnya lemah. Tangan laki-laki tersebut menggapai tangannya. Quenna tersenyum sembari menangis.


"Wi-Will Y-ou marry me?"


Quenna menatap Viktor dengan tidak percaya. Ia menggenggam kuat tangan pria itu.


"Kau melamar ku?"


Viktor mengangguk, "api ini adalah saksi cinta kita." Ia melakukan itu karena merasa tidak berkesempatan lagi untuk mengatakannya dilain hari. Mata pria itu tertutup dengan perlahan.


Quenna berteriak dengan suara serak melihat Viktor menutup matanya. Ia menggenggam tangan laki-laki tersebut dengan erat dan tak lama ia juga ikut menyusul Viktor. Sungguh cinta sejati.


____________


Tbc


JANGAN LUPA KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2