Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 98


__ADS_3

"Viktor!" lirih Quenna melihat pria itu yang memberikan tembakan peringatan kepada Rigel.


Quenna tersenyum bahagia ternyata dugaannya selama ini salah. Bahkan Viktor menyelamatkan dirinya dari pernikahan yang tak pernah diinginkannya.


Pria itu berdiri dengan gentleman dan mengacungkan senjata ke kepala Rigel. Wajahnya yang dingin membuat Rigel yang sedang dalam keadaan lemah itu menciut.


Bagaimana tidak aliran darah ya belum benar-benar bersih dari racun. Obat penawar itu hanya akan bereaksi beberapa jam kemudian.


Ia tak mungkin melawan Viktor dengan kondisinya seperti itu. Yang ada Rigel akan mati hari ini juga, di hari pernikahannya.


Mata Quenna dan Viktor saling bertatapan. Di bola mata mereka sama-sama memiliki kerinduan yang sangat dalam. Viktor tersenyum melihat wanitanya ada di depan matanya, hanya saja senyumnya langsung hilang saat melihat wanita itu tampak pucat dan sedang ditahan Rigel.


Viktor apalagi sangat geram melihat Rigel yang seolah tengah mengancamnya dengan menembak putrinya. Pria itu songong sekali sudah tahu dia bakal kalah tetap tak mau mengalah.


"Viktor, berhenti di sana atau anak mu akan mati," ancam Rigel dengan wajah puas melihat Viktor yang menurunkan senjatanya.


Dor


Tembakan dari arah belakang mengejutkan Rigel. Punggungnya tertembak lantas ia pun menoleh ke belakang dan sangat terkejut menemukan banyak sekali rombongan Viktor.


Ia tak mungkin terjebak di sini. Rigel melirik Quenna untuk terkahir kalinya dengan senyuman masam. Mungkin Quenna bukan jodohnya.


"Maafkan aku jika memiliki salah dengan mu. Jika suatu hari nanti kita tidak bertemu lagi aku ingin kau tahu aku sangat berterimakasih kau pernah menolong ku." Itu adalah ucapan terakhir Rigel sebelum benar-benar kabur dan meninggalkan Quenna dan Carol di sana.


Quenna terdiam mendengar isi dari perkataan pria itu. Ia adalah wanita yang memiliki hati yang sangat lembut, namun dipaksa keras untuk keadaan.


Ia bukan tidak ingin menolong Rigel, ia sangat ingin akan tetapi jika ia menolong ia bakal berada di dalam penderitaan yang sangat dalam.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Prima menghampiri Quenna dan memperhatikan wanita itu jika ada terdapat luka di tubuhnya.


Ia sangat bersyukur Quenna baik-baik saja, tetapi Carol anak itu mengalami demam tinggi. Terpaksa Viktor harus menyuruh anak buahnya untuk membawa Carol ke rumah sakit.


Sementara Viktor sendiri memeluk erat tubuh Quenna dengan rasa rindu yang sangat mendalam.

__ADS_1


"Kau sungguh tidak apa-apa. Rigel tidak melukai mu, 'bukan?" Bukannya jawaban atas pertanyaannya yang diterima malah Viktor mendengar Quenna menangis kencang sembari memeluk tubuhnya.


Wanita itu seakan tidak ingin melepaskan Viktor. Ia ingin tetap seperti itu sampai rasa rindunya terobati.


"Kau tahu, aku hampir membenci mu seumur hidup ku," ujar Quenna lalu menatap wajah Viktor. "Kenapa kau jahat sekali membiarkan ku ditangkap?" Viktor menarik napa dan menghembusnya kasar. Ia akui ini memang salahnya yang tak ingin menolong orang.


Pria itu membawa Quenna ke tempat yang lebih aman lalu memperbaiki penampilan Quenna yang masih mengenakan pakaian pengantin dan riasannya pun masih lengkap.


Sejenak Viktor terpana dengan kecantikan yang dimiliki oleh wanita ini. Laki-laki tersebut mengusap kepala Quenna dan bingung ingin bereksperesi seperti apa melihat wanitanya yang tak jadi milik orang lain.


"Maafkan aku, aku hilang ingatan dan tak mengingat semuanya. Prima baru saja menceritakan siapa dirimu, dan tak lama aku pun mendapatkan ingatan ku meskipun belum sepenuhnya. Tapi aku sangat ingat pernah melamar mu saat kita berada di dalam kobaran api," ujar Viktor sambil mengeluarkan kotak cincin yang berwarna merah.


Di dalam kotak cincin itu terdapat dua cincin berpasangan. Viktor mengambil salah satunya dan memakaikannya ke jari manis Quenna.


"Aku belum sempat memberikan mu cincin ini." Quenna terkejut melihat Viktor yang menyematkan cincin ke tangannya.


Ia mengangkat kepalanya sangat terharu. Wanita itu melihat ada satu cincin lagi di dalam kotak itu. Ia mengambilnya lalu bergantian mengenakan cincin tersebut ke jari manis Viktor.


"Tentu saja. Memang buat siapa lagi?" Quenna menitikkan air matanya dan menghambur dalam dekapan pria itu.


"Terimakasih. Aku sangat senang."


__________


Quenna pun dibawa pulang ke hotelnya. Celine sangat bahagia melihat Quenna yang pulang dalam keadaan selamat.


Di lain sisi Quenna sangat terkejut melihat Celine yang sudah sadar. Lantas Quenna pun berlari memeluk Celine, bibinya.


"Kau sudah sembuh?"


"Tentu saja. Aku harus sembuh sebelum benar-benar meninggalkan kalian," ujar Celine sambil mengusap kepala Quenna. Akhirnya ia pun bisa berjumpa dengan keponakannya.


Wanita itu memperhatikan detail wajah Quenna yang mirip dengan Gibran. Ia melihat Viktor yang hanya tersenyum tipis, ia tahu apa yang ada dipikiran ibunya. Apakah ia membenci Quenna karena mirip Gibran?

__ADS_1


"Aku harus memanggil mu apa?" bengong Quenna sambil tertawa tipis.


"Ah, panggil saja aku Ibu seperti Rigel memanggilku dan Carol memanggil mu. Ngomong-ngomong di mana Carol?" tanya Celine sambil mencari Carol yang tidak ada di ruangan ini.


"Carol ku bawa ke rumah sakit. Dia demam tinggi."


"Di sana siapa yang menjaga?"


"Ada baby sitter nya. Kau tenang saja kami juga nanti akan ke sana."


Celine mengangguk dan menyuruh agar Quenna istirahat dahulu ke kamar Viktor.


Wanita itu yang masih lengkap mengenakan pakaian pengantin pun masuk ke dalam kamar Viktor. Ia menoleh ke belakang tepatnya ke arah pria itu yang tersenyum miring.


Quenna merasakan ada yang aneh. Dadanya berdegup kencang seolah ada yang hendak memangsanya.


"Ada apa?" tanya Quenna hati-hati sambil berjalan mundur.


Viktor pun mengintimidasi Quenna. Sudah lama ia ingin berhubungan langsung dengan wanita yang ada di dalam mimpinya. Mungkin saatnya bagi pria itu untuk mewujudkan keinginannya.


Sementara Quenna salah tingkah. Ia menunduk malu dan meremas kedua tangannya.


"Pengantin baru, mari kita nikmati malam pertama kita," ujar Viktor sambil membisikkan itu di telinga Quenna. Rasanya meremang dan juga geli.


Quenna mengangkat kepalanya dan menggigit bibirnya tatkala Viktor ingin melepaskan pakaiannya.


_________


Tbc


Gak boleh jelas-jelas saya baru masuk umur legal.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2