
Viktor menatap tubuh Rigel yang tak berdaya di tanah. Pria itu penuh dengan luka tembak di sekujur tubuhnya. Viktor mendekati Rigel dan berjongkok di depan pria tersebut.
Ia tersenyum miring dan menepuk pundak Rigel sebanyak tiga kali. Rigel pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah Viktor yang tersenyum penuh kemenangan.
Ia tahu kali ini dirinya mengaku kalah. Sejatinya ia memang tak bisa menandingi Viktor. Apa yang dia inginkan selalu Viktor yang mendapatkan. Sungguh miris, 'bukan?
"Viktor," desis Rigel disela rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya.
Viktor mengangkat satu alisnya lalu tersenyum tipis. Prima pun menatap iba ke arah Rigel. Ia mengepalkan tangannya karena tak sanggup melihat kondisi pria itu yang benar-benar mengerikan. Terlebih lagi mereka adalah merupakan sahabat dahulu saat bersekolah.
Kini karena sebuah rasa iri di hati persahabatan itu pun hancur dan bahkan mereka seolah tak saling mengenal dan pernah dekat. Prima sangat menyayangkan itu.
"Kau sudah menyerah?" intimidasi Viktor yang seolah tak henti ingin mendengar Rigel yang benar-benar mengaku kalah.
Dan Rigel juga sama keras kepalanya yang tak mau mengaku jika ia sudah kalah dari pria itu. Meskipun hatinya mengakui tapi gengsi untuk sekedar mengatakannya.
Alhasil ia pun terus disiksa di tempat tahanan tanpa diberi ampun. Viktor menarik napas dalam lalu menatap Prima agar pria itu menyerahkan cambuk yang ada di tangan Prima itu kepadanya.
Viktor menatap cambuk itu dengan penuh arti yang sangat dalam. Ia bukan ingin mencambuk Rigel akan tetapi malah mendekati pria itu dan mengajaknya mengobrol hangat sambil mengingat masa lalu pada saat duduk di bangku SMA.
"Kau tahu dengan cambuk ini?" Rigel lantas mengangkat kepalanya dan menatap cambuk yang ada di tangan Viktor.
Ia menggeram dan menatap sengit wajah pria itu. Jelas ia sangat mengetahui cambuk tersebut dan apa maksud Viktor.
"Ada apa? Kenapa kau mengungkitnya?"
"Cambuk ini adalah cambuk pemberian dari mu. Kau tahu jika aku dulu sangat menyukai cambuk dan ingin membelinya akan tetapi sangat takut ketahuan Gibran. Maka dari itu kau membelikan cambuk ini diam-diam untukku," ujar Viktor lalu tersenyum pada pria itu yang hanya menatap Viktor datar.
Prima membuang muka karena ia sangat ingat dengan kejadian tersebut. Sebab Prima lah yang membantu Rigel membelikan cambuk untuk Viktor. Dan tak menyangka dengan cambuk itu sudah banyak yang menjadi korban bahkan itu Rigel sendiri.
"Jangan ingatkan aku dengan masa lalu lagi," desis marah Rigel lalu menggeram.
"Kau tidak merindukan kita yang dulu?" heran Viktor sebab ia sendiri sering merindukan kebersamannya.
__ADS_1
"Tidak sama sekali."
"Aku merindukannya. Sangat merindukannya," lirih Viktor dan menatap Prima melihat apakah pria itu juga merasakan hal yang sama. "Bagaimana dengan mu Prima?"
Prima menatap Viktor dan tersenyum tipis. "Saya juga Tuan."
"Kau dengar Rigel? Kau jahat sekali tidak merindukan kita yang dulu."
"Viktor kau tahu dari dulu aku sangat iri kepadamu. Semua guru menyayangi mu, kau selalu juara kelas berbeda dengan ku yang hanya mendapatkan peringkat dua. Kau selalu disukai wanita yang aku sukai. Bahkan saat ini kau juga menyukai calon istri ku," ucap Rigel tanpa merasa bersalah sama sekali.
Viktor tertawa nyaring mendengar kalimat akhir Rigel. Ia jelas lebih dulu mencintai Quenna jauh sebelum Rigel mengenal dirinya dan Quenna.
"Quenna hanya akan jadi milk ku. Dia bukan calon istri mu, tapi akulah yang lebih dulu melamar mu," ucap Viktor yang membuat kaget Rigel.
"Apa maksudmu?"
"Pada saat kau membakar rumah sakit aku sudah melamarnya di sana. Cara ku melamar dirinya pun lebih sakral dibanding kau," pamer Viktor lalu mencengkam rahang Rigel.
"Kau!!"
Viktor pun pergi dari ruangan tersebut sembari tersenyum tipis lalu berjalan melewati Rigel begitu saja. Sementara Rigel ia hanya bisa melihat kaki Viktor yang menapak di tanah berjalan perlahan dan semakin jauh.
______________
Quenna dan Carol baru saja datang dari mengelilingi kota Seoul. Kali ini mereka sudah berada di Seoul dan sebentar lagi akan pulang ke Amerika.
Quenna dan Carol sudah melakukan banyak hal di negara ini. Termasuk mencoba hal-hal kebudayaan Korea.
Tampak anak itu sangat senang sekali tatkala dapat berlari dengan bebas. Tapi sayangnya kali ini mereka tidak ditemani oleh sang ayah.
Quenna pun heran kemana Viktor pergi hingga sampai-sampai mereka selesai jalan-jalan pun pria itu tak ada di hotelnya.
"Kau tahu di mana Viktor?" tanya Quenna pada pelayan yang selalu standby di hotel.
__ADS_1
Pelayan itu menghentikan aktivitasnya dan menjawab pertanyaan Quenna, "Tuan Viktor sudah dari tadi pagi belum pulang Nona."
Quenna memejamkan matanya lalu mengangguk pertanda ia sudah mengerti. Quenna duduk di sofa dengan wajah khawatir.
Viktor tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja kalau buka karena sesuatu yang harus diselesaikannya. Akan tetapi kemana Viktor dan apa yang telah ia lakukan.
Quenna terus bertanya-tanya dalam benaknya. Wanita itu terlalu asyik melamun hingga tak menyadari orang yang sedang dipikirkannya itu pun datang.
"Sepertinya kau sedang memikirkan seseorang," goda Viktor sambil membuka jasnya.
Quenna pun mengernyitkan keningnya mendengar suara yang sangat familiar. Ia menatap Viktor yang ternyata sudah berada di kamarnya.
Cepat Quenna mengambil jas Viktor lalu meletakkannya ke tempat kain kotor.
"Bagaimana hari mu? Sangat melelahkan?" ujar Quenna yang malah balik bertanya.
Wanita itu membuka dasi Viktor lalu melayani Viktor benar-benar seperti istri sahnya.
"Hari ini aku baik-baik saja, kenapa memang?"
Quenna menatap serius, "kenapa kau baru pulang dan tidak menyusul kami? Apa yang sebenernya kau lakukan? Kau menyiksa Rigel di sini? Kau tidak takut jika polisi akan mengetahui dan kita tidak jadi pulang ke Amerika?" Viktor ternganga mendengar segerombolan pertanyaan ditodongkan padanya.
Namun tak lama seusai itu ia tersenyum dan memeluk tubuh Quenna dengan erat. Bukannya menjawab pertanyaan Quenna satu persatu pria itu malah mendorong tubuh Quenna ke sofa dan menciumnya dengan brutal.
Tentu Quenna panik dan berusaha mendorong tubuh Viktor. Akan tetapi tenaganya kalah jauh.
"Viktor.. eummm!!"
"Sttt... Mulut cantik hanya boleh memuji ku saja, tidak boleh memberontak keinginan calon suaminya," ucap Rigel dan mengedipkan satu matanya.
Alhasil bukannya jawaban yang didapatkan Quenna yang ada hanyalah gempuran di tubuhnya.
_________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA