Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 74


__ADS_3

Prima tersenyum lebar dan mengusap kepala Carol yang sudah lelap tertidur usai menangis terus menerus meratapi kedua orangtuanya yang beberapa hari ini tidak bersamanya.


Carol termasuk anak yang manja. Terutama pada sang ayah, ia sangat suka bersama pria itu dan bermain seharian hanya untuk bersama ayahnya. Ia bahkan tiap malam merengek ingin dibacakan dongeng oleh Viktor.


Viktor terpaksa memenuhi keinginan sang anak meski ia harus merelakan sesuatu yang berharga yaitu jatah tengah malam, sebab Carol bahkan sampai jam tersebut kadang masih mengerjakan tugas.


Ingin protes tapi itu adalah anak sendiri darah dagingnya hasil dari jatahnya yang ia dapatkan dari Quenna juga. Selain itu ia bakal diintimidasi oleh Quenna jika menolak permintaan sang tuan putri.


Carol benar-benar diperlakukan bagaikan putri raja. Ia sangat istimewa dan tidak ada yang tahu bahwa Carol adalah anak dari pengusaha nomor 1 itu.


Ia pernah mengatakan itu pada temannya akan tetapi malah mendapatkan bully-an dari teman-temannya. Sungguh kejam, 'bukan?


Ia tidak ingin menceritakan bully-an tersebut pada sang ayah sebab terlebih dahulu ia selalu menceritakan kepada sang ibu. Dan oleh Quenna dilarang memberitahu Viktor karena tahu apa yang akan dilakukan Viktor selanjutnya.


Ia mengajarkan kepada Carol agar saling memaafkan sesama meski rasanya Carol tidak ikhlas.


Itulah yang dirindukan oleh Carol akhir-akhir ini. Anak mana yang bisa jauh dari orangtunya yang sudah membesarkan ia dari kecil?


Prima menghela napas lalu keluar dari ruangan Carol dan meminta pelayan agar menjaga Carol dengan baik.


Penjagaan diperketat tidak ada yang bisa menggangu anak dari Viktor itu. Jika tidak maka baik penjaga dan perusuh bakal dihukum berat oleh Prima.


Apalagi akhir-akhir ini emosinya tidak stabil karena pening memikirkan sang atasan yang semakin hari semakin memburuk saja.


Prima berjalan dengan langkah pelan sembari menahan air matanya. Ia adalah seorang pria kuat dan tak pantas untuk menangis, lagipula jika ia menangis apakah dapat membuat keadaan membaik?


Menyesal. Satu hal yang sedang dirasakan oleh Prima sebab penjagaan yang dipertanggung jawabkan olehnya malah ia lalaikan.


"Rigel. Aku yakin kau, sungguh jika tahu bakal kejadian seperti ini aku akan memaksa tuan membom kilang minyak mu dan perusahaan pusat mu secepatnya. Kau memang ba.jingan yang tak pantas hidup," umpat kesal Prima yang membayangkan wajah tengil Rigel yang sedang menari-nari karena bahagia rencanannya berjalan mulus bahkan orang-orangnya sampai lengah.

__ADS_1


Prima mengepalkan kedua tangannya. Ia harus bisa mengendalikan rasa emosi yang bakal membawanya kepada hal yang buruk ini.


Pria itu menatap suster dan dokter yang sibuk berlalu lalang di sekitar ruangan tempat Viktor dirawat. Bahkan nakes tersebut keluar masuk kamar Viktor.


Deg


Perasannya tak nyaman. Pria itu mengusap wajahnya dan berlari cepat ke depan ruangan Viktor.


Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan ini bakal berakibat fatal. Pria itu menahan salah satu suster yang keluar dan terburu-buru tersebut.


"Katakan kepadaku apa yang telah terjadi?" tanya panik Prima dan melirik ke dalam.


Ia tercekat tanpa mendengar jawaban dari suster itu kala melihat ke dalam tubuh Viktor yang sibuk ditangani. Tubuh pria itu kejang-kejang dan dokter panik bukan main mengatasinya.


"Tuan Viktor mengalami kerusakan saraf otak dan mengakibatkan tubuhnya kejang-kejang diperkirakan akibat benturan benda keras. Selain itu paru-parunya sedikit terluka karena peluru yang menjalar sempat bergesekan dengan paru-paru pasien. Dokter sedang berusaha semaksimal mungkin."


Bahkan Prima tidak lagi mendengarkan ucapan suster itu. Ia menyuruh sang suster segara pergi dan bekerja dengan cepat agar Viktor bisa ditangani dan diselamatkan.


Prima tak sanggup melihatnya. Ia menangis di tempat karena tak memiliki kuasa untuk menyelamatkan Viktor. Hanya berdoa kepada sang maha besar yang memiliki segalanya.


Terdengar pula kerusuhan di ruangan sebelah yang merupakan ruangan Quenna. Memang sempat sebelumnya ruangan mereka terpisah tapi kebijakan dari Prima meminta agar ruangan mereka berdekatan.


Ia berjalan ke ruangan itu dan melihat para dokter juga sibuk bekerja sekeras mungkin di dalam. Mereka baru saja selesai melakukan operasi pembersihan rahim dan mengeluarkan anak dari Viktor yang masih berbentuk segumpal darah.


Tapi setelah menyelesaikan operasi detak nadi Quenna malah turun dan membuat seluruh dokter panik.


Prima yang berada di luar benar-benar tak menyangka. Seakan kedua jiwa orang tersebut saling terhubung dan dapat merasakan perasaan satu sama lain.


Hal itu membuat Prima sangat terharu. Betapa besarnya cinta keduanya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Oh Tuhan apakah kau tega memisahkan kedua orang saling mencintai ini?" tanya Prima dan tertawa hambar.


Ia mendengus lalu menunduk dan menyatukan kedua tangannya seraya berdoa kepada Tuhan.


Dokter keluar dan menatap Prima dengan sedih. Dokter itu juga melihat ke ruangan Viktor yang sama sedang mengalami kondisi kritis.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Prima dengan raut wajah sangat cemas.


Dokter itu menggeleng pertanda sesuatu yang buruk terlah terjadi. Prima mengembuskan napas kecewa. Kenapa ia bodoh membiarkan kedua orang itu di dalam kemarin.


"Kondisi Nona Quenna benar-benar sangat memprihatikan. Tubuhnya lemah saat usai operasi sebab dikarenakan operasi darurat yang dilakukan dalam kondisi tubuhnya yang pingsan dan tak memiliki cukup energi. Selain itu tangan kanannya mengalami infeksi luka bakar. Serta paru-parunya penuh dengan noda hitam akibat asap pembakaran tersebut. Selain itu bahan material banyak terbuat dari zat berbahaya sehingga nona mengalami infeksi paru-paru."


"Apakah bisa sembuh seperti semula." Dokter itu tersenyum tak yakin.


"Seharusnya bisa. Peralatan semakin canggih dan juga mereka merupakan orang terkaya seharusnya mampu membayar apa pun itu dan memiliki peluang selamat. Akan tetapi kita tidak tahu dengan takdir Tuhan," ujar dokter itu memberikan penenang untuk Prima yang sudah melayang entah kemana pikirannya.


Prima tersenyum masam dan duduk di ruang tunggu sambil menangis. Cobaan apa ini? Mampukah keudanya selamat dan kembali menjadi manusia yang normal dan sehat bugar seperti sebelumnya.


Ia menebak pasti musuh-musuh dari Viktor sedang berbangga hati karena saingan mereka berada dalam fase kritis.


Entahlah semoga Tuhan bisa menjawab doa-doanya. Paru-paru Quenna ingin dibersihkan dengan melakukan operasi dilain waktu setelah operasi pembersihan rahim telah tak terasa lagi sakitnya.


Prima mengernyit mendengar keributan di luar. Ia berjalan ke luar dan melihat banyak wartawan yang berbondong-bondong ingin menerobos masuk dan meliput keadaan Viktor sekarang.


"Dasar parasit."


__________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2