
Semenjak ia berjumpa dengan orang misterius tersebut di perpustakaan kemarin hari-hari Quenna menjadi lebih murung. Ia sering mengurung diri di kamar sambil selalu berpikir keras siapakah orang tersebut dan apa tujuannya.
Ia tahu dari Ana jika dunia luar sangat keras dan membahayakan. Kini ia sudah merasakan ucapan Ana tersebut. Di tengah kehamilannya ia harus menerima banyak pikiran.
Quenna sadar itu tidak baik bagi kesehatannya, hanya saja sekeras apa pun ia mengenyahkan kemungkinan-kemungkinan yang selalu dipikirkannya tetap saja ia tak bisa dan selalu kepikiran sepanjang hari.
Meskipun hanya sementara ia bertemu tapi aura pria tersebut sampai sekarang masih mengiringi dirinya. Ia kalut dengan rasa takut, tapi Quenna tetap tidak ingin menceritakan masalahnya dengan Rigel.
Quenna menghela napas panjang dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menutup buku cara berbisnis yang sedang dibacanya.
Ia ingin menghindari hal tersebut dengan cara menghabiskan dengan buku-buku kesukaannya, nyatanya ia tetap saja tak dapat fokus.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa mereka seolah mengincar ku?" tanya Quenna dengan sedih.
Ia menatap nanar buku yang ada di tangannya. Ia hanya wanita lemah dapatkah ia menjadi seorang yang hebat seperti kakaknya? Jujur saja Quenna kagum dengan prestasi kakaknya.
Bohong jika Quenna mengatakan tidak merindukan pria itu. Jauh di lubuk hatinya sebagai seorang yang tumbuh bersama dengan sang kakak tidak merindukannya. Banyak hal telah mereka lalui bersama.
Kakaknya yang selalu bersifat sinis kepadanya namun pada saat ia menunjukkan sedikit perhatiannya membuat Quenna dapat merasakan hal itu sangat dalam.
"Kakak," lirihnya saat wajah sang kakak melintas di benaknya.
Bagaimana Viktor sekarang? Apakah ia merindukan dirinya? Quenna sangat penasaran apakah yang dilakukan Viktor setelah ia tahu Quenna kabur darinya.
Quenna tersenyum simpul dan menghela napas panjang. Ia beranjak dari kursi yang menjadi tempat duduknya dan menaiki ranjang.
Ia duduk di atas kasur itu sambil mata mengedar ke seluruh ruangan. Lagi-lagi perasaan itu muncul. Kini bukan ketakutan karena hal kemarin, tapi intimidasi secara rahasia kepadanya semakin nyata Quenna rasakan.
Seolah ada orang yang sedang mengintainya dan sama halnya seperti di perpustakaan kemarin. Kini Quenna sadar jika apa yang ia rasakan saat malam kemarin ada orang di kamarnya sepertinya itu nyata.
"Siapa yang sudah berani masuk ke sini?" monolog Quenna sambil otaknya mencerna semua yang telah dilaluinya.
Ingin bersikap seolah tak peduli tapi semakin ia seperti itu semakin kepeduliannya meningkat. Quenna meraih ponselnya dan menghidupkan benda pipih itu.
Mungkin berseluncur di media sosial sedikit dapat mengurangi masalahnya. Quenna membuka beberapa aplikasi menarik dan mencoba untuk tertarik dengan hal-hal yang mereka tunjukkan.
Namun sebuah denting ponsel dari notif masuk pun mengerutkan kening Quenna. Ia membuka notif tersebut dan membaca pesan yang dikirimkan untuknya.
Unknow: Kenapa belum tidur? Tidurlah aku tidak suka melihat mu terlalu banyak berpikir.
Deg
Pesan itu, kenapa bisa tahu jika dirinya belum tidur. Apakah ada orang di sekitar sini, siapa?
__ADS_1
Quenna dengan panik mengamati ruangannya. Tangannya saling meremas untuk mengurangi kegugupannya. Wanita tersebut meneguk ludahnya dengan keras.
"Siapa kau?"
Tiba-tiba pesan masuk kembali ke ponselnya. Quenna membuka pesan tersebut dan lagi-lagi nomor yang sama.
Unknow: tidak perlu tahu siapa aku, turuti saja apa yang ku perintahkan ini semua demi kebaikan mu!
Quenna menjatuhkan ponsel di tangannya. Matanya membelalak tak menyangka orang itu mendengar ucapannya. Pasti dia ada di sekitar sini.
Quenna berusaha tenang dan menarik napas beberapa kali. Ia mengigit bibirnya menahan gugup.
Brakk
Quenna terkejut dan cepat berbalik menatap ke arah pintu. Tapi sedetik kemudian ia menarik napas lega melihat Rigel yang ternyata dalangnya.
"Ada apa kemari?"
"Aku mendengar ada benda jatuh, ada apa dengan mu? Kenapa kau pucat sekali?" cerewet Rigel sambil menyentuh wajah Quenna yang benar-benar pucat karena takut.
Quenna menyentuh tangan Rigel yang mengapit wajahnya. Ia menjauhkan tangan pria itu dan tersenyum kikuk.
"Tidak apa, aku baik-baik saja."
"Quenna aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari ku!" ujar Rigel sembari menatap ke seluruh ruangan di kamar ini.
Rigel mengangguk dan menatap wajah Quenna. Ia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.
"Jika ada apa-apa katakan saja pada ku, kau pasti akan aman bersama ku. Aku menjaminnya," lirih Rigel sembari tersenyum tulus padanya.
Rigel menatap perut Quenna yang semakin membuncit. Ia menyentuh perut tersebut bak Quenna adalah istrinya.
"Aku tidak peduli dia anak siapa, tapi aku harap bisa menerimanya. Kau bisa menjadikan aku seolah-olah ayahnya nanti." Quenna terkejut dengan pernyataan Rigel.
Ia menjauh dari pria itu dan tersenyum canggung. Ia benar tidak salah dengar ucapan Rigel. Bagaimana pun perhatian Rigel memang berbeda dengannya.
"Ya."
"Sepertinya kau tidak nyaman dengan ku! Aku akan keluar!"
Quenna mengangguk dan menutup pintu kamarnya dengan cepat setelah Rigel keluar. Ia bersandar pada pintu itu sambil memikirkan dirinya.
"Entahlah aku merasa tidak ada yah tulus kepada ku!"
__ADS_1
__________
"Sepertinya Viktor sudah masuk dalam perangkap kita," ujar Yohana sambil menumpahkan wine ke gelasnya.
Ia menoleh kepada Rigel di sampingnya dan tersenyum kepada laki-laki itu. Ia meneguk cairan tersebut hingga tandas.
"Kau sudah terlalu banyak minum."
"Apa peduli mu?" sindir Yohana sambil bersedekap dada.
Rigel menggaruk kepalanya dan menarik napas panjang. Ia menerawang beberapa hal mengenai yang dipikirkannya.
"Apakah kau yakin semua ini akan lancar?"
Yohana memainkan gelas wine yang sudah kosong di tangannya. Wanita itu tampak sedang berpikir.
"Melihat dari kepribadian Viktor, aku menanggapi jika semua ini tidak akan lancar," ujar Yohana sambil menatap Rigel yang tak merespon apa pun.
Rigel tersenyum kecut lalu memandang keramaian orang di club ini. Banyak mereka menghabiskan waktu dengan para pelacur dan tidak sedikit mereka datang ke sini karena urusan pekerjaan.
"Viktor sudah berani menghubungi Quenna! Aku pikir dia sudah ada di Tokyo."
Yohana berdecak malas melihat Rigel. Ia berusaha tenang dengan auranya yang anggun.
"Kau selalu mengkhawatirkan wanita itu, bagus jika dia sudah melakukan itu, artinya dia sebentar lagi akan masuk ke perangkap kita. Hilangkan perasaan mu! Dia hanya wanita rendahan yang menjadi umpan untuk kita!"
Rigel menatap Yohana tidak setuju. Tapi intimidasi dari perempuan tersebut membuat Rigel tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hentikan ucapan mu!"
"Jangan sampai rencana kita rusak karena wanita itu!" Yohana mendelik tajam, ia juga heran apa hebatnya Quenna bahkan sampai memikat dua pria berpengaruh di dunia sekaligus. "Pelayan!! Ambilkan aku satu gelas wine impor dari Amerika!!"
Rigel melirik Yohana tidak percaya. Wanita ini terlalu rakus, sudah 5 botol wine ia habiskan kini meminta lagi. Tapi yang membuat Viktor salut dengan Yohana adalah wanita itu sama sekali belum mabuk.
Seorang pria berseragam pelayan datang dan memberikan beberapa botol wine untuk Yohana.
Yohana mengangguk dan meminta si pelayan pergi dari tempatnya. Pelayan tersebut lantas menjauh.
Ketika jauh dari tempat itu ia membuka seragam pelayan tersebut dan juga membuka topinya. Wajahnya yang tak mengenakan topeng pun terekspos. Ia mengambil topeng di saku celananya dan mengenakannya.
Viktor pria dengan ciri khas selalu mengenakan topeng. Tidak ada yang tahu rupanya dan bagaimana bentuk wajahnya. Ia sudah lama di tempat itu dan mendengar semua yang dibicarakan mereka.
_________
__ADS_1
Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.