
Quenna membuka matanya seraya meraba sampingnya. Wanita itu mengernyit heran karena tidak mendapatkan siapa pun di sini. Sontak saja matanya langsung melotot melihat pakaiannya yang berserakan di lantai serta dirinya yang sama sekali tak mengenakan apa pun selain selimut yang menutupi tubuhnya.
Kontan Quenna duduk dengan wajah meringis berusaha mencerna apa pun yang bisa ia ingat. Ia fokus bergulat dengan pikirannya sebenarnya apa yang telah terjadi.
Wanita itu menyipitkan matanya tatkala mengingat sebelumnya apa yang telah terjadi antara dia dan Viktor. Ia menutup mulut tak menyangka malam pengantin dihabiskan dengan pria lain.
Oh God, sungguh ini nyata? Tapi bagaimana dengan Rigel? Ah bodoh amatlah ia tak akan memikirkan pria itu.
Quenna lebih fokus ke dirinya sendiri seraya bangun dan memunguti pakaiannya. Tapi tubuhnya terasa remuk dan wanita itu pun menarik napas panjang karena kesal dengan Viktor yang tanpa mengenal lelah tadi malam.
"Pria itu benar-benar selalu membuat ku kesal," keluh Quenna sembari berjalan teratih-atih ke kamar mandi.
Saat membuka kamar mandi ia kaget melihat Viktor yang ada di dalam sana tanpa mengenakan apa pun. Cepat Quenna menutup pintu itu dengan dada yang berdetak kencang.
Apa yang sudah dilihatnya tadi? Tuhan sungguh pemandangan yang sangat indah tapi Quenna malu untuk menatapnya.
"Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu saja?" tanya Viktor dan keluar dari dalam kamar mandi lengkap dengan handuk yang melilit di perutnya.
Quenna menutup mata berusaha tak mencuri pandang ke perut pria itu. Sangat aneh padahal malam tadi mereka menghabiskan waktu lebih dari sekedar menatap.
Viktor tertawa renyah lalu memeluk tubuh Quenna membuat wanita itu menahan napas. Tubuh Viktor belum kering hingga membuat basah tubuh Quenna.
"Apa yang kau lakukan?" kaget Quenna dengan apa yang sedang pria itu lakukan padanya.
"Memeluk calon istri ku, apalagi?" heran Viktor seraya mengusap kepala Quenna dengan penuh perasaan sayang.
Quenna ternganga dan berusaha melepaskan pelukan Viktor. Tolong selamatkan ia dari situasi ini. Jantung Quenna sangat tidak cocok untuk berada di dekat pria ini dalam keadaan pria itu hanya terbalut handuk.
"Viktor menjauhlah aku ingin mandi," ucap Quenna berusaha lepas dari sang kakak yang malah tak peduli padanya.
"Aku belum puas memeluk mu," tolak Viktor dan mengecup bibir Quenna.
Quenna terkesiap lalu menarik napas dalam. Saat ada kesempatan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu rapat agar laki-laki tersebut tak bisa masuk.
Dan dirasa aman ia pun melakukan ritualnya. Hingga tak membutuhkan waktu lama Quenna pun selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi tersebut.
Viktor rupanya sudah rapi dengan baju kaosnya serta celana pendek selutut. Pria itu tak terlihat seperti pria dewasa yang hampir berkepala empat akan tetapi mirip dengan perawakan anak remaja.
Quenna tidak bisa menolak pesona kakaknya dan itulah salah satu pemicunya membuat wanita itu pun jatuh ke dalam tangan sang kakak.
"Kau sudah rapi rupanya."
"Jadi kau ingin aku belum rapi dan tak mengenakan apapun?" goda Viktor sambil menarik turunkan alisnya.
Hal itu membuat Quenna jijik dan membuang wajahnya yang bersemu merah. Ia salting dengan ucapan Viktor.
__ADS_1
"Dih!"
"Kenapa sayang?" Viktor menghampiri Quenna dan membungkukkan tubuhnya sejajar dengan Quenna.
Quenna dibuat salah tingkah dipanggil dengan embel-embel sedemikian rupa.
"Ih..."
"Cantik banget sih. Calon nya siapa yah, pasti yang bisa naklukin hati si cantik ini orangnya tampan dan sangat beruntung." Quenna menatap Viktor dengan wajah syok tak menyangka.
"Huh, kau benar. Dan yang pasti bukan dirimu," ujar Quenna balik.
"Hm... Bagaimana jika aku rebut saja dia yah? Sepertinya lebih seru. Kau terlalu menggoda hingga membuat siapa pun langsung jatuh cinta. Cantik banget sih," ujar Viktor seraya menoel pipi Quenna. "Ah ya, aku tadi malam lupa pakai pengaman mungkin sekarang dia telah berproses di perut mu dan Carol akan memiliki adik."
Quenna terkesiap. Ia baru ingat kenapa dirinya bisa melupakan fakta itu. Wanita tersebut mengintimidasi Viktor yang bahkan tak merasa bersalah sama sekali.
"Kau!!"
"Cepat berganti pakaian. Lihat handuk mu sampai melorot begitu."
Quenna menatap ke dadanya dan kaget.
"VIKTOR!!!!"
Setelah berperang sengit dengan Viktor Quenna pun akhirnya berbaikan dengan pria itu. Mereka sepakat untuk mengunjungi Carol di rumah sakit.
Anak itu sangat senang tatkala melihat Viktor banyak membawakan hadiah untuknya dengan beragam bentuk.
Apalagi ia dibawakan makanan kesukaannya. Anak itu dengan lahap memakannya. Tapi hal yang paling membuat Carol bahagia adalah kembalinya sang ayah.
"Daddy, Carol kangen," ucap Carol dengan memelas dan memeluk tangan Viktor.
"Anak Daddy udah bisa bilang huruf R ya," goda Viktor sambil mencubit gemas hidung anak itu.
Carol tertawa dan mengangguk. Ia lupa bercerita jika dirinya sudah tembus mengucapkan huruf R.
"Daddy, Carol ingin hadiah dari Daddy karena udah bisa bilang R."
"Katakan hadiah apa."
"Carol pengen jet pribadi seperti punya teman Carol."
Quenna yang tadi hanya melihatkan interaksi anak dan ayah pun seketika ingin pingsan mendengar permintaan sang anak yang tidak main-main. Bahkan Quenna sampai memegang dadanya.
"Carol!" peringat Quenna akan tetapi anak itu hanya melirik dirinya sebentar.
__ADS_1
"Ayolah daddy!" mohon Carol dengan jurus andalannya.
Viktor hanya tersenyum dan menatap Quenna yang menyuruh agar dia menolak permintaan Carol.
"Pasti Daddy belikan apapun yang kau inginkan. Tapi kita akan pulang ke Amerika dulu baru akan daddy belikan."
Quenna menghela napas kesal. Viktor terlalu memanjakan Carol hingga anak itu merasa dirinya berada di atas angin.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Quenna sinis pada Viktor.
"Kenapa? Karena dia anak ku. Apa pun yang Carol inginkan aku wajib memenuhinya."
"Tapi tidak semua harus kau turuti, Kak. Kau tidak takut uang mu habis?"
Viktor mengangkat satu alisnya lalu menyeringai, "kau pikir duit ku akan habis hanya karena membelikan jet pribadi untuk anak ku? Oh Quenna bahkan itu hanya sebagian kecil dari harta ku. Bahkan jika dia ingin pulau pun aku turuti."
"Kau serius?"
"Kenapa aku harus bercanda?"
"Kau tidak gila?"
"Aku sangat waras Quenna. Kenapa sayang? Kau menginginkannya juga?"
Quenna menggeleng cepat, "tidak terimakasih."
Viktor pun tertawa dan menghampiri wanita itu. Ia memeluk tubuh wanita itu di depan anaknya yang sibuk dengan makanan yang dibelikan Viktor. Anak itu sangat menyukai makanan yang dibawakan olehnya.
"Kenapa manyun gini sih? Ayangnya Viktor tuh harus gini," ujar Viktor sambil membuat senyuman di wajah Quenna.
"Gara-gara kau."
"Kenapa aku?"
"Kau terlalu memanjakan Carol."
"Apa salah ku? Aku berhak memanjakannya karena dia anak ku."
Quenna memutar bola matanya malas. Percuma ia menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan pria modelan Viktor.
_____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1