Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 59


__ADS_3

Menyempatkan untuk menulis di sela-sela belajar untuk ujian.


__________


Rigel menatap Ana yang terus melamun tak ingin berkata sepatah pun setelah ia selamatkan dari Viktor. Laki-laki tersebut tidak mengerti apa yang dipikirkan Ana hingga tidak ingin pergi dari Viktor yang notabennya adalah musuh bebuyutannya.


Padahal sudah sangat jelas pria itu juga tidak memperlakukan Ana dengan baik. Untungnya ia bisa secepatnya menemukan Ana. Jika tidak, maka tak akan ada yang tahu bagaimana nasib Ana kepdepan nya. Mungkin ia tak akan pernah lagi melihat Ana untuk selamanya. Ia tidak ingin kehilangan adiknya yang sangat ia cintai itu, jika benar perkataan Ana perihal ia dijual oleh ayahnya maka Rigel tidak akan memaafkan ayahnya sendiri. Tidak peduli Ana adalah adik kandung atau tiri, ia akan tetap mencintainya sebagai adik.


Rigel sangat tahu betapa kejam dan kejinya Viktor. Bagaimanapun ia pernah bermalam di penjara laki-laki tersebut. Viktor pasti tak akan bersikap lembut, kepada orang dicintainya saja ia bermain kasar, apalagi Ana yang hanya seorang pelayan yang kehadirannya tak diperhatikan oleh Viktor.


Pria itu menarik napas panjang lalu mendekati sang adik yang lebih asik terhadap pikirannya ketimbang sekitarnya. Wanita itu terus murung seperti itu beberapa harian ini.


Rigel menyentuh pundak Ana. Wanita itu tampak pucat dan duduk di tepi ranjang seraya menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong. Tak mendapatkan respon apa pun membuat Rigel merasa kehadirannya tak dianggap.


"Hey, kau terus melamun seperti itu. Ada sesuatu hal yang menganggu pikiran mu?" ajak Rigel berbincang.


Ia mengikuti arah pandangan Ana. Ia meringis saat Ana menatap dirinya sekilas lalu membuang muka.


Ana tampak tak tertarik dengan kehadiran Rigel. Ia menyingkir mengabaikan pria itu.


Tentu Rigel menahan tangan wanita tersebut dan memandangnya tidak mengerti. Ana melirik tangannya yang tengah disentuh oleh Rigel kemudian menatap ke waja pria itu.


"Lepaskan," lirih Ana sembari menjauhkan tangan Rigel.


Rigel mencengkram dengan kuat tangan tersebut hingga Ana sukar untuk melepaskannya. Matanya yang terdapat lingkaran hitam itu berkaca-kaca dengan wajah yang teduh.


"Ana," ucap Rigel putus asa. "VIKTOR!! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN KEPADA ADIKKU HINGGA IA TAK INGIN BERBICARA DENGAN KU. BAJI.NGAN KAU!! AKU AKAN MEMBUNUH MU!" umpat Rigel teramat kesal kepada Viktor yang telah lama menjadi saingannya tersebut dan sekarang merubah perilaku adiknya berbeda dari sebelumnya.


Ana yang mendengar itu langsung menatap wajah kakaknya seraya menggeleng keras.


"Kak, ku mohon jangan membunuh Viktor!"


Sontak saja Rigel menatap Ana, "LANCANG! APA PEDULI MU?"


Ana menarik kasar lengan Rigel hingga pegangan pria itu di tangannya terlepas. Ia menampar dengan keras wajah Rigel membuat pria itu mundur beberapa langkah.


Wajah puas dari Ana membuat Rigel yang merasakan panas menjalar di area wajahnya itu memandang Ana tak percaya.

__ADS_1


"JIKA KAU MEMBUNUH VIKTOR, MAKA KAU HARUS MEMBUNUH KU JUGA!!" marah Ana berapi-api. Tangannya mengepal, itu belum cukup untuk mengeluarkan unek-uneknya.


"ANA!! KAU..." Rigel menghempaskan tangannya dengan frustasi. Ia mencengkram rambutnya lalu memandang lirih adiknya. "Untuk apa kau membela musuh ku? Dia pantas mati. Sadar Ana, kau telah dihasut olehnya!"


"UNTUK APA? KARENA AKU MENCINTAINYA, KAK!!!! HIKS, HIKS, HIKS." Rigel merasakan seluruh jiwanya hancur berkeping-keping. Ia menggeleng berharap apa yang ia dengar hanyalah omong kosong dari adiknya. Wajahnya pun berubah menjadi melemah dan menyentuh kedua pundak adiknya.


Tetapi, Ana menyingkirkan tangan Rigel dari pundaknya. Ia membersihkan sentuhan Rigel bagaikan itu adalah sebuah najis.


"Ana, kau boleh mencintai siapa pun tapi tidak untuk musuh ku, Viktor!"


Ana melirik sinis Rigel, "kau ingin egois? Sedangkan kau sendiri juga mencintai Quenna? Cih! Kau pikir bisa merebutnya?"


"Kenapa kau seolah bangga dengan hubungan mereka? Sementara ku sendiri mencintai pria si.alan itu."


Ana tertawa masam dan berjalan beberapa langkah menuju jendela. Ia mengamati keindahan ibu kota dengan senyum tipis di wajahnya. Setetes air mata runtuh dari tempatnya.


"Melihatnya bahagia saja, telah membuatku senang. Aku tak mungkin merusak kebahagiaannya, lagi pula aku hanya orang baru yang datang ke kehidupannya. Berada di sisinya cukup membuat ku merasa bahagia." Ana berbalik ke belakang dan menatap Rigel dengan air mata yang menggenang di wajahnya.


Rigel pun pergi begitu saja meninggalkan Ana yang terisak nyaring di tempat itu. Pria itu tak bisa berpikir banyak dan sangat marah saat mengetahui isi hati adiknya.


____________


Mereka berdua terperangah setelah mendengar cerita sang anak. Wajah Quenna berubah menjadi tak nyaman pasalnya ia tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


Ia melirik Viktor yang mengeraskan rahangnya sambil menegak kopi. Pria itu melirik anaknya dengan tajam.


"Siapa yang telah berani mengatakan itu kepada anak ku?"


"Itu Daddy, Ces.. eummm!!" mulut Carol lebih dulu dibekap oleh Quenna.


Laki-laki itu melirik Quenna yang melakukan hal itu. Ia mengangkat satu alisnya dan mengintimidasi Quenna yang telah berani menghalangi dirinya.


Quenna salah tingkah dan membuka bekapannya saat melihat Carol yang kesulitan bernapas. Ia tersenyum pada anak itu dan mengusap surainya.


"Carol, ingat kata ibu, bukan? Kalau ada yang mengolok-olok Carol, Carol harus bisa memaafkannya. Semuanya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, kan?" Viktor tersenyum miring. Ia tertarik dengan wanita ini.


Laki-laki itu menatap Quenna mengejek. Seakan-akan wanita itu dirinya adalah orang suci, bagaimana juga Quenna merupakan pembunuh bayaran yang sangat terkenal di kalangan dunia hitam. Bisa-bisanya ia berkata semacam itu, padahal sifatnya juga sama.

__ADS_1


"Begitukah?" ejek Viktor seraya menertawakan Quenna diam-diam.


Quenna meneguk ludahnya kesal. Ia mendecih seraya merengut kepada pria itu. Quenna mendekatkan bibirnya pada Viktor.


"Lihat saja, malam ini kau akan tidur di luar." Mata Viktor kontan membulat. Ia tidak terima dengan ucapan Quenna, ia protes.


"Apa-apaan maksud mu?" Quenna memutar bola matanya malas. Ia lebih memilih untuk berbincang dengan Carol seraya tertawa bersama.


Sementara Viktor merasa bagaikan nyamuk di antara ibu dan anak ini. Ia pun mengercutkan bibirnya seraya mencolek perut Quenna.


Quenna yang kesal terus diganggu pun mengajak Carol berpindah tempat. Ia tersenyum maklum, wajar wanita gampang ngambekkan.


"Oke kali ini aku harus mengalah. Wanita memang selalu benar."


Viktor menatap Quenna yang juga tengah menatapnya. Pria itu tersenyum tipis dan pergi dari tempat makan tersebut. Pikirannya sedikit terganggu karena kekhawatiran ia pada ibunya yang belum juga sadarkan diri.


Ia menarik napas lalu merana di tempat kerja dengan segala pikiran yang selalu menggentayanginya.


Ia mengangkat sedikit kepala saat mendengar suara decitan pintu yang dibuka. Pria itu tersenyum melihat Quenna yang masuk sambil membawakan minuman untuknya.


"Tidak jadi mendiamkan ku? Aku tahu kau tidak akan bisa lama marah kepada ku, aku terlalu menggemaskan untuk kau diamkan," pede Viktor dengan senyum kemenangannya.


Quenna ingin muntah saat mendengar pria itu memuji diri sendiri.


"Ada hal yang menganggu pikiran mu, Kak?"


Quenna melirik pada foto yang terdapat di ruang kerja Viktor. Ia pun meraih foto itu dan menatap Viktor.


"Kau memajang foto bibi Celine di ruang kerja mu?" Viktor merebut cepat foto tersebut dari Quenna.


"Kau tidak seharusnya bertanya."


__________


Tbc


BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


untuk thriller ada di Ig amandaferina6 ya😍


__ADS_2