Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 106


__ADS_3

lKandungan Quenna sudah memasuki bulan ketujuh masa kehamilan. Wanita itu pun semakin hari semakin mudah kelelahan. Viktor bahkan melarang Quenna untuk tidak keluar rumah selain untuk melakukan hal penting.


Selain itu Viktor menyediakan kamar khusus di lantai bawah. Sebelum Quenna hamil sebesar ini kamar mereka dulunya terletak di lantai atas.


Demi keamanan wanita itu lantas kamar utama pun dipindahkan di lantai bawah.


Carol yang tidak mau pisah dengan orangtuanya juga menginginkan kamarnya dekat dengan Viktor. Alias kamar mereka berseberangan.


Demi sang tuan putri anak wanita satu-satunya Viktor pun memenuhi keinginan Carol. Sayangnya di tengah malam ketika mereka melakukan olahraga malam yang biasanya rutin dilakukan oleh pasutri pasti anaknya kadang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan mengacaukan semuanya.


Terpaksa mereka yang kadang belum berpakaian lengkap mencari alasan untuk diberikan pada Carol. Carol belum terlalu paham dengan hal itu jadi Quenna tidak terlalu malu.


Pada saat ini satu keluarga tersebut sedang berada di tengah pemakaman keluarga. Quenna menatap batu nisan berbentuk salib sang ayah dan ibu yang tertajak di atas tanah membuat dadanya terasa sakit.


Kedua orangtuanya tak sempat menatap dirinya yang sudah berada di posisi paling membahagiakan. Quenna hanya bisa menyentuh perutnya yang sudah membulat sambil menceritakan bagaimana keadaannya pada orangtunya.


Sementara sang pelaku hanya menatap datar batu nisan orang yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri. Tak ada penyesalan sama sekali bahkan ketika Quenna yang merupakan anak dari pasangan itu yang telah menjadi istrinya tetap tak membuat hati Viktor bergetar.


Ia puas dengan hasil yang Viktor terima. Memang sudah banyak nyawa yang habis di tangannya. Viktor tidak untuk menyesal tapi hanya meninggalkan kebiasaan lamanya itu dan memulai hidup baru dengan cara lebih mudah memaafkan seseorang.


Itu adalah keinginan Quenna. Demi wanita itu apapun pasti ia lakukan. Kala sang wanita memintanya berubah Viktor pun memenuhi keinginan perempuan tersebut.


"Ibu, kau sudah tenang di sana. Ibu aku sedang mengandung cucu mu yang kedua. Kau pasti senang, 'kan?" Hati Quenna benar-benar terluka. Ia antara senang dan sedih kala menyebutkan kalimat itu.

__ADS_1


Sebab Quenna hapal kalimat yang ia dengar terkahir dari sang ibu adalah menyatakan bahwa dia benar-benar mengutuk Viktor dan kocaknya ia sekarang malah mengandung benih dari pria tersebut. Maria pasti membencinya.


"Ibu, kenapa Nenek bisa lebih dulu ada di sini?" tanya Carol dengan hati-hati demi menjaga perasaan sang ibu.


Quenna melirik anaknya yang tengah menatap dirinya dengan mata bulatnya. Ia tahu anaknya itu ingin mengetahui kronologis kematian sang nenek, dan ia menannyakan dengan penuh kehati-hatian bermaksud agar dirinya tidak sakit hati mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang anak.


"Jika kau besar nanti kau pasti tahu. Asal kau tidak salah paham. Tapi ku harap kau nanti dapat mengerti keadaannya," ucap Quenna sambil mengusap kepala sang anak.


Viktor yang mendengar anaknya bertanya demikian hanya menundukkan kepala. Bukan bertanda dia menyesal, akan tetapi pria itu ingin menghindari anaknya bertanya kepadanya.


Iya tidak mungkin mengatakan sebenarnya bahwa ialah yang telah membunuh neneknya hingga neneknya tersebut berada di sana. Viktor belum siap dibenci oleh anak-anaknya.


"Ibu, apakah aku punya kakek."


Yang ada hanya Celine dengan rambut putih dan kursi roda sambil menatap salah satu kuburan dengan air mata yang berlinang.


Quenna dan Viktor sengaja tidak menghampiri wanita itu dan membiarkan Celine menghabiskan waktu untuk melepas rindu dengan suaminya.


Viktor sudah sering ke sini dan mengobrol dengan kuburan ayahnya. Jadi sekarang biarkan Celine yang berada di kuburan suaminya sendirian.


Air mata Celine yang keluar dari pelupuknya, membuat hati Quenna sangat tersentuh dan ikut terbawa suasana.


Semua ini adalah berawal dari kesalahan orang tuanya. Andaikan dulu ayahnya tidak buta dengan harta, mungkin mereka sudah lengkap dengan keluarga masing-masing.

__ADS_1


Tidak ada lagi sosok yang akan merasa sakit hati. Semuanya akan menjadi kehidupan masing-masing dengan konflik tersendiri. Meskipun nyatanya tidak sesuai dengan katanya, Quenna akan tetap menerima takdir ini.


Lagi pula dia sedang menunggu kelahiran anak keduanya yang hanya menunggu dua bulan lagi. Viktor sangat antusias menunggu kelahiran anak kembarnya.


Quenna memang sedang mengandung anak kembar, karena itu pulang dia sering merasakan kelelahan.


"Ziarah nya sudah selesai mari kita pulang, Nak," ajak Quenna sambil menggandeng tangan Carol keluar dari area pemakaman.


Viktor mendorong kursi roda Celine. Tampak di mata Celine jika ia tidak ingin berpisah dengan sang suami.


Tatapan sendu penuh dengan kerinduan yang cukup dalam. Orang yang tersayang yang dulu hanya menemani dirinya berakhir sedang menunggunya di alam yang berbeda.


Sedikit senyum tersungging di balik rasa sakit yang mendalam. Celine menarik napas dalam dan belajar untuk mengikhlaskan.


"Ibu, kita pulang. Apa kau setuju?" tanya Quenna.


Celine mengangguk lemah, "kenapa aku harus tidak setuju? Tidak mungkin aku di sini. Kau tidak perlu khawatir kepadaku. Lagipula aku sudah sangat tua dan memang sudah sepantasnya lebih banyak beristirahat."


___________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2