Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 57


__ADS_3

BERHUBUNG DI NT TIDAK BISA UPLOAD VIDEO JIKA INGIN MELIHAT THRILLER DARI OBSESI KAKAKU KEPADKU BISA DILIHAT DI INSTAGRAM amandaferina6


Maaf yah frekuensi update ku turun karena sibuk dan bentar lagi akan ujian sekolah.


__________


Suara gaduh dari arah bawah membuat istirahat Quenna yang semula sangat hikmat berubah menjadi keributan. Ia menghela napas panjang atas kegaduhan tersebut dan mengharuskannya untuk turun mengecek sendiri hal apa yang telah terjadi hingga menghasilkan keributan yang sangat nyaring.


Wanita itu pun merapikan rambutnya terlebih dahulu lalu mencepolnya. Ia menarik napas panjang dan mencari sandal. Ia pun turun ke bawah dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka.


Namun, pemandangan di depannya malah membuat Quenna langsung tersadar dan membelalak lebar. Ia mengucek matanya lalu mengerjapkannya berkali-kali untuk memastikan apa yang wanita itu lihat benar.


"Oh Tuhan Viktor!!" Quenna lekas berlari ke arah dua orang tersebut.


Ia sangat terkejut kala mengetahui jika Ana sedang disiksa ganas oleh Viktor. Bahkan Quenna pun tak menyangka jika di rumah ini ada teman lamanya juga, Ana.


Ia berlari dan memeluk tubuh Ana saat Viktor ingin mencambuk wanita itu. Alhasil dialah yang terkena cambukan tersebut. Saking kerasnya bahkan Quenna sampai memuntahkan darah.


Viktor bergetar saat tahu siapa yang dicambuknya. Cambuk itu pun lepas dari tangannya dan pria itu menatap kedua telapak tangannya tidak percaya.


Kepalanya pun terangkat melihat Quenna yang tersengal-sengal sambil memeluk Ana yang menangis tersedu-sedu.


"Wanita bodoh!" kesal Viktor mengumpati kebodohan Quenna di depannya ini yang merelakan tubuhnya demi menyelamatkan orang lain.


Quenna menoleh pada Viktor dengan mulut yang berdarah-darah. Perempuan itu tersenyum lalu dengan sisa tenaga yang ada ia bangkit dan berjalan ke arah laki-laki tersebut.


Viktor diam seribu bahasa di tempat. Tubuhnya bergetar saat tangan halus itu menyentuh permukaan wajahnya.


"Kakak!!"


"AKU BUKAN KAKAK MU!" marah Viktor dan dengan tega ia menghempaskan tangan Quenna yang menyentuh wajahnya.


Quenna terisak seraya menatap tangan tersebut prihatin. Ia pun mendongak memandang penuh harapan kepada Viktor.


"Kau punya masalah? Kau bisa menceritakannya kepadaku!" Viktor melirik Quenna lalu mendengus kesal dan hendak meninggalkan wanita tersebut.


"Apa peduli mu?"


Akan tetapi Quenna berlari dan memeluk tubuh Viktor dari belakang. Ia menangis nyaring dan menjepit kuat tubuh laki-laki itu.


"Kakak, jangan pergi. Hiks, Kak. Aku, aku, aku mencintaimu!! Mari kita menentang takdir ini bersama-sama." Viktor sontak berbalik dan menatap Quenna tidak percaya.

__ADS_1


Quenna mengangkat kepalanya dan mengangguk penuh keyakinan. Wajah Viktor tidak menunjukkan kesenangan tapi dalam hatinya berdisko saking bahagianya. Tapi ia tak mau jika Quenna menyukainya karena terpaksa dan takut akan dirinya.


Pria itu melepaskan pelukan Quenna pada tubuhnya dan mundur beberapa langkah memberikan jarak. Wajah Quenna semakin murung dan sangat sedih melihat reaksi Viktor.


"Kau tidak menyukaiku? Kau jahat!! Ketika aku tak mencintaimu kau mengatakan kepadaku mencintaiku!! Baji.ngan!! Kau mempermainkan perasaan ku, hiks, hiks, hiks," tangis Quenna putus asa ia memukuli seluruh tubuh Viktor yang tak bergerak saat ia menyerangnya.


Bagi Viktor pukulan Quenna tidak ada apa-apanya. Tangan halus itu bagaikan sedang menyentuh dirinya tidak memukulnya. Ia menarik napas panjang dan menangkap tangan wanita itu lalu menguncinya.


Mata merah Quenna mendongak dan saling tubruk dengan mata cerah milik laki-laki tampan bak patung itu. Rahang Viktor mengeras dan tiba-tiba memberikan ciuman dalam kepada adiknya.


Quenna yang belum siap pun terkejut. Lama mereka dalam posisi itu hingga saat keduanya sama-sama membutuhkan napas lantas Viktor melepaskannya. Mereka saling tatap dengan wajah yang bersemu merah.


"Gadis to.lol!" Viktor menyentil kening Quenna. Wajahnya yang kaku pun membentuk lengkungan sebuah senyuman. "Kau bukan saudara ku buat apa kita menentang takdir?"


"Maksudmu?"


"Lupakan. Kau akan mengerti saat melihat Carol nanti," ujar Viktor dan membawa Quenna ke dalam pelukannya. Ia sangat bahagia saat cintanya terbalaskan.


Viktor melirik Ana yang terbaring tak berdaya. Wanita itu ia suruh menjaga Celine tapi ia tak becus mengemban pekerjanya. Celine hilang dan malah Ana masih hidup. Tidak pantas bagi seorang pelayan hidup di bawah penderitaan majikan.


Quenna yang terkena cambukan yang sangat kuat tadi pun merasakan tubuhnya amat remuk. Cambuk Viktor berbeda dengan cambuk lainnya, ini sangat menyakitkan apalagi pria itu memecutnya sangat keras.


Mata Quenna perlahan tertutup akibat tak sanggup menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Jantung Viktor bagaikan tertusuk jarum saat tubuh Quenna lunglai tak memiliki kesadaran. Ia melirik wajah wanita itu yang tampak pucat. Ia pun mengangkat tubuh Quenna dan membawanya ke kamar melewat Ana yang diambang kematian begitu saja.


__________


Rigel akan menyerahkan Celine dan Viktor akan menyerahkan pembantu yang diinginkan Rigel.


Mereka pun sepakat akan bertemu di gedung tua yang sudah tak terpakai lagi di kota Washington DC ini. Kedua belah pihak menyiapkan pasukan untuk berjaga-jaga jika ada pertikaian.


Viktor menatap dingin dengan rahang mengeras melihat Rigel yang tersenyum mencemooh dirinya. Ia pun melirik Celine yang diborgol dan mulut dibekap.


"Ban.gsat!!! Lepaskan ibu ku!!" marah Viktor yang hendak menembak habis Rigel.


Tapi tangannya ditahan dan diturunkan oleh Prima agar Viktor tidak gegabah.


"Tuan bersabarlah!" Dua orang ini bukanlah orang baik.


Mereka sama-sama licik dan sangat kejam. Pasti keduanya telah menyiapkan siasat licik.


Viktor pun menghela napas dan menatap Prima sebentar. Saat ia menoleh ke depan ia melihat ada seorang wanita dengan setelan seksi dan sangat anggun. Ia tersenyum miring melihat Yohana yang berdiri di tengah-tengah barisan Rigel.

__ADS_1


"Well, sesuai janji yang kita buat. Dimana pelayan cantik itu?" tanya Rigel yang tidak sabar ingin melihat Quenna. Sudah sangat lama ia tak berjumpa dengan wanita penakluk hatinya. Ia sangat merindukan wanita tersebut.


Viktor pun meminta agar Prima membawa pelayan itu. Wajah pelayan tersebut tertutup oleh rambut. Tetapi ketika ia mengangkat wajahnya yang terus tertunduk itu lantas seluruh pasukan Rigel terkejut.


Tangan Rigel mengepal tetapi ia berusaha tenang.


"Ini pelayan yang kau inginkan!"


"Baji.ngan yang ku maksud adalah pelayan mu yang cantik itu, Quenna," kesal Rigel dan penuh amarah.


Mata Viktor terbuka lebar. Tangannya mengeras dan siap mengangkat senjata. Sang pelayan tak lain adalah Ana pun terkejut atas ucapan Rigel.


"Apa maksudmu? Dia bukan pelayan tetapi adiknya Viktor." Mata Rigel melebar terkejut, syok, kaget, pokonya yang berhubungan dengan hal yang tak menyangka.


Ia menatap Ana kemudian melirik Viktor. Ia seakan tengah dibohongi. Tapi melihat kondisi Ana yang menggenaskan membuat emosi Rigel semakin bertambah.


Jika pelayan itu bukan Quenna tetapi Ana juga tidak apa. Ana juga sama berharganya dengan Quenna. Mereka adalah wanita yang bisa menghangatkan hatinya.


"Wow pertunjukan yang sangat menarik. Selain kau broken home kau juga mencintai adik mu sendiri, heh?!!"


"Dia bukan adik ku."


Rigel melirik ke arah Celine lalu menyeringai. "Aku tahu Quenna anaknya Gibran, bukan? Orang yang telah membunuh keluarga mu? Hahahha kau mencintai anak dari pembunuh orangtua mu? Konyol sekali!"


"Diam kau bajin.gan." Tanpa bisa dicegah lagi Viktor yang sudah tersulut amarah maju dan meninju mulut kurang ajar Rigel.


Wajah Rigel mengeras dan alhasil terjadilah bentrokan sengit. Suara ruangan di gedung tua itu penuh dengan tembakan.


Viktor melawan Rigel dan keduanya sama-sama bisa mengelak peluru yang diarahkan kepada mereka. Saat peluru senjata api Viktor habis pria itu membuang senjatanya. Ia meminta Prima agar mengalihkan perhatian Rigel maka ia akan menyelamatkan ibunya.


Tapi Rigel yang sadar dengan hal itu menatap ke arah Viktor. Belum sempat Viktor menggapai sang ibu Rigel lebih dulu menembak Celine.


Mata Viktor terbuka. Mulutnya menganga saat melihat ibunya yang tertembak. Ia menoleh ke arah Rigel dan tangannya serta hatinya mengeras.


"RIGEL BANG.SAT!!!"


__________


TBC


BERHUBUNG DI NT TIDAK BISA UPLOAD VIDEO JIKA INGIN MELIHAT THRILLER DARI OBSESI KAKAKU KEPADKU BISA DILIHAT DI INSTAGRAM amandaferina6

__ADS_1


Budayakan like dan komen setelah selesai membaca.


__ADS_2