
Viktor duduk merana di sudut ruangan sambil bergulat dengan pikirannya. Pria tersebut memainkan pistol di tangannya.
Belakangan ini kepalanya dibuat pusing oleh beberapa hal. Rigel dan Yohana benar-benar terang-terangan menunjukan perlawanan dan keambisiusan mereka. Mereka adalah lawan yang setara, bahkan setiap yang dirinya lakukan pasti berisi jebakan mereka.
Sama halnya dengan dirinya berada di Tokyo sekarang karena Rigel pria itu sengaja memancingnya kemari karena tempat ini jauh dari area kekuasaan dan zona aman dirinya.
Markas terbesar Rigel salah satunya di Jepang, jadi pria itu lebih mudah untuk membunuhnya di sini. Tapi, bukan Viktor namanya jika ia tidak memiliki rencana lain.
Ia menyimpan banyak persenjataan di sini yang dikirim secara ilegal, jaringannya juga tersebar luas hingga merasuki ranah entertainment, politik, dan bisnis.
Mereka bekerja untuknya dan orang-orangnya juga banyak. Serta organisasi gelap yang sudah dihimpunnya dengan rahasia sudah siap berjaga-jaga jika sewaktu-waktu akan terjadi serangan.
Viktor mendengkus sambil menatap bosan kepada senjata yang sedang dipegangnya. Sudah sekian lama benda itu menemaninya, bahkan benda tersebut pula lah yang membunuh Gibran dan Maria.
Laki-laki itu menatap percikan darah yang sudah sangat lama dan bahkan telah menyatu dengan pistol tersebut. Itu adalah darah Gibran saat ia menembaknya di akhir hembusan napas pria tersebut.
Viktor terkekeh geli melihat benda itu. Sudah ratusan orang sekarat karena pistolnya. Sekarang targetnya adalah Rigel.
"Kita lihat apa yang bisa kau lakukan setelah ini?" tanya Viktor sambil meremehkan Rigel.
Di tengah keheningan yang melanda ruangan tersebut tiba-tiba pintu terbuka dan masuk dari sana seorang pria yang menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa.
"Tuan!"
"Ada apa?" tanya Viktor menatap pria itu tajam.
Prima menyerahkan sebuah ponsel ke tangan Viktor. Di mana ponsel tersebut menayangkan sebuah video.
Mata Viktor fokus menatapnya dan tampangnya berubah muram setelah melihat video itu. Jeritan yang ada di dalam sana membuat Viktor merasakan panas di telinganya. Ia memejamkan matanya sambil menetralkan deru napasnya yang terus berhembus saling memburu.
Seorang wanita biasa tidak menarik dengan penampilan usangnya sambil menggendong seorang boneka yang dianggapnya anak.
Ia berbicara dan memperlakukannya bak anak boneka tersebut. Tertawa ketika menceritakan sesuatu kepada boneka tersebut. Ia juga memanggil beberapakali nama yang sangat tak asing di telinga Viktor.
Melihat anaknya yang ternyata hanya boneka itu tak merespon membuat wanita tua renta tersebut marah dan melemparkan boneka itu asal. Ia mengamuk dan tertawa lalu menangis setelahnya.
Viktor meremas ponsel tersebut dan mematikan layarnya ketika sudah tak sanggup dengan tontonan tersebut. Matanya berkaca-kaca dan ia berusaha menahannya.
"Kau pergilah!!" usir Viktor yang moodnya seketika berubah. Ia tidak ingin diganggu untuk sementara waktu.
Prima melangkah hendak melewati pintu tapi suara panggilan Viktor menghentikan dirinya.
"Prima!!"
"Ada apa, Tuan?"
__ADS_1
"Rencana yang ku lakukan sudah berjalan lancar?"
Prima menghadap Viktor dan mengatakan laporan mengenai hari ini semuanya.
"Tenang saja tidak ada yang buruk, Tuan pasti akan puas."
Viktor mengangguk tapi tidak sambil berekspresi. Wajah dingin bak kutub Utara membuat ia semakin memiliki aura pembunuh yang kuat.
"Nyonya baik-baik saja?"
"Kesehatan nyonya akhir-akhir ini menurun. Penyakitnya semakin parah, dokter akan berusaha mengobatinya." Viktor memejamkan mati sambil mengepalkan tangannya.
"Kau jaga dia, jangan sampai dia kenapa-napa!"
"Baik Tuan!"
Viktor mengangguk dan membiarkan Prima pergi dari ruangannya. Laki-laki itu ke tempat letaknya barang-barang penting miliknya dan mengambil teropong.
Seperti biasanya ia akan mengamati rumah di seberang hanya demi ingin melihat wanita yang tinggal di sana.
Viktor mendekatkan matanya ke lensa teropong itu. Yang dipikir oleh Viktor akan melihat sesuatu yang indah malah ia melihat hal yang lebih mengejutkan dari dugaannya.
Ia lebih teliti lagi dan menatap dengan jelas ke teropong itu. Ternyata apa yang dilihatnya sebelumnya memang tidak salah.
Pria tersebut menghirup napas dengan emosi dan berbalik ke tempatnya. Ia meletakkan teropong itu dengan hentakan hingga terdengar bunyi benda saling beradu.
"Rigel sial.an!!"
____________
Suara deru napas resah dikeluarkan dari Quenna yang sedang terlelap. Sepertinya ia tengah bermimpi buruk.
Pasti ada hal yang membuatnya ketakutan di dalam mimpi itu. Tangannya mencengkram selimut di tubuhnya. Peluh keluar dari tubuhnya hingga tubuh Quenna basah karena keringat.
Kepalanya menggeleng seolah tengah menolak mimpi tersebut. Sebuah tangan mengusap peluh Quenna dan menenangkan wanita itu.
Hal tersebut tidak disadari oleh Quenna. Ia perlahan kembali merasakan aman.
Detak jantungnya pun kembali normal. Pria tadi tersenyum tipis sambil memandang wajah damai Quenna. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya kepada perut Quenna.
Perut yang buncit tersebut cukup membuat pria itu puas. Ia menyentuhnya dengan hati-hati dan mendiamkan telapak tangannya di sana beberapa lama.
Ia memejamkan mata sambil merasakan perut itu. pria itu membuka matanya dan memberanikan diri untuk mengusap perut tersebut meski ia merasakan dingin di sekujur tubuhnya.
Laki-laki tersebut yang terlena dengan perbuatannya harus terusik dengan Quenna yang menggeliat resah.
__ADS_1
Bulu matanya yang lentik bergerak menandakan ia sebentar lagi akan terbangun. Pria itu menarik tangannya dan langsung berlari ke tempat sedikit tertutup.
Quenna membuka matanya lalu meraba sekitar. Ia seperti merasakan ada seseorang di sini. Lantas wanita itu bangkit dari baringnya dan mengawasi sekitar dengan mata tajamnya.
Takut jika ada yang menyelinap ke kamar ini dan berniat buruk dengannya. Ia berjalan ke beberapa tempat berbekal benda tumpul di tangannya.
Menyadari jika memang tidak ada sesuatu di sini membuat Quenna mendesah lega.
"Mungkin hanya persangka ku," monolognya sambil duduk di kasur empuk.
Pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Ia tidak mampu untuk memikirkan lebih banyak.
Wanita itu menatap perutnya dan menyentuhnya. Rasanya seperti baru saja ada seseorang menyentuhnya di sana.
Viktor menatap Quenna dengan pandangan rindu. Lalu dirinya menatap tangannya yang tadi digunakannya untuk menyentuh calon anaknya.
"Aku akan berbahagia menunggumu!"
Saat Quenna lengah Viktor mengambil ancang-ancang untuk keluar dari kamar tersebut. Ia berlari ke arah jendela dan terjun bebas dari situ.
Quenna memutar kepalanya ketika mendengar sesuatu dari arah jendela. Ia menghampiri tempat itu dan menatap ke bawah tapi lagi-lagi ia tidak ada menemukan sesuatu.
"Kenapa jendelanya terbuka? Siapa, tidak mungkin dia terjun dari sini, kan?" Quenna tak percaya sambil menatap ke bawah yang jaraknya lumayan jauh dari atas sini.
Quenna berusaha mengenyahkan pikirannya dan berpikir lebih positif lagi. Wanita itu hendak menuju ranjangnya tetapi Rigel masuk ke dalam kamarnya dengan wajah panik.
"Kau tak apa?" tanya Rigel sambil mengapit wajahnya dengan kedua telapak tangan laki-laki itu.
Ia tidak mengerti kenapa wajah Rigel seperti tengah menyimpan sesuatu darinya. Rautnya sangat cemas seolah telah terjadi sesuatu.
"Aku baik-baik saja, kenapa kau sangat ketakutan sekali?"
"Syukurlah, aku sangat khawatir pada mu," lirih Rigel dan menarik kepala Quenna.
Ia mendekap tubuh kecil itu dengan erat seakan-akan sangat takut Quenna akan hilang darinya.
"Jadi benar ada orang tadi di sini?" batin Quenna bertanya-tanya.
________
Hay teman-teman aku punya rekomendasi bagus nih buat kalian. Jangan lupa mampir juga yah ke karya yang ini.
Tbc
__ADS_1