
Rigel keluar dari bandara dan berjalan angkuh ke mobil yang sudah menjemput pria itu. Laki-laki bersetelan jas mahal serta dengan aura yang sangat mencekam tersebut masuk ke dalam mobil itu dan meminta supirnya mengantarkan ia ke rumah sakit George Hospital untuk menjenguk Quenna.
Karena tujuan utama pria itu juga adalah menjenguk Quenna. Ia akan melakukan apa pun agar wanita itu bisa melewati masa kritisnya.
Apalagi mata-mata yang ia kirimkan melaporkan kepadanya bahwa Quenna sempat mengalami masa kritis dan sampai sekarang masih berlangsung.
Dan karena itu Rigel segera melakukan penerbangan ke Texas agar bisa menjenguk wanita itu dan melakukan apa saja yang bisa dirinya lakukan.
Ia menatap keindahan kota Texas yang penuh dengan gedung pencakar langit dan tidak jauh berbeda dengan ibu kota.
Amerika terkenal dengan negara adidaya dan tidak hanya memiliki kehebatan militer juga memiliki keindahan kota. Bahkan Amerika Serikat merupakan negara paling maju dari pada negara Amerika lainnya.
Rigel menarik napas panjang dan menatap arjoli yang melingkar di tangan kekarnya. Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Sementara Quenna mengalami masa kritis dari tadi malam.
Ia sangat khawatir dengan wanita itu. Jika terjadi sesuatu sungguh Rigel tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Ini adalah kesalahan fatal dan amat bodoh dalam hidupnya.
Tetapi jika berhasil maka akan menjadi rencana yang paling berlian dilakukan oleh pria itu.
Ia mendengus ketika asistennya Autsin menelpon. Autsin sekarang bertugas di Dubai untuk mengelola kilang minyak yang sempat ingin diledakkan oleh Viktor.
Laki-laki itu mengernyitkan kening heran kenapa Autsin menelpon. Apakah terjadi sesuatu di Dubai yang berkaitan dengan kilang minyaknya. Ia harap bukanlah berita Itu sebab jika terjadi sesuatu akan mematikan bisnisnya sebab kilang minyak merupakan sumber keuangan Rigel.
Ia pun lantas mengangkat telepon dari Autsin di seberang sana. Tidak terdengar apapun di sana dan Rigel melihat ke layar ponsel apakah masih terhubung dengan Autsin.
"Halo kenapa kau menelponku? Apakah sesuatu telah terjadi? Aku harap kau telah menanganinya dengan baik, sungguh aku mempercayaimu Autsin."
Autsin di belahan negara Dubai itu terdiam tak bisa berkutik apapun. Terdengar helaan nafas kasar dari dalam sambungan telepon tersebut. Perasaan Rigel mulai tak nyaman sebab sepertinya sesuatu telah terjadi.
"Tuan, maafkan saya. Musuh berhasil meledakkan sebagian kilang minyak kita. Untungnya ada para pengawal yang segera menghentikan seseorang yang hendak meledakkan bom lagi. Maafkan saya Tuan yang tidak becus mengurus masalah ini."
Barkkk
Rigel memukul kaca mobil dengan keras. Berita yang dibawa oleh Autsin sungguh menguji kesabarannya.
__ADS_1
Pria itu menghembuskan nafas kasar berkali-kali bertanda ia benar-benar sangat emosi sementara Autsin yang berada di seberang sana gemetaran karena takut Rigel akan menghukumnya sama seperti korban-korban yang pernah ia hukum sendiri.
"Kau!!"
Tut
Tut
Tut
Rigel mematikan sambungan telepon tersebut karena tidak ingin mendengar ocehan dan permohonan maaf Autsin yang tidak berguna sama sekali dan tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula.
Iya melirik sopirnya itu yang ketakutan. Regal sangat geram kepada sopirnya itu meskipun rasa geramnya ini tidak berdasar.
"Sampai kau melakukan kesalahan dalam menyupir Jangan harap kau dapat hidup dengan tenang." Laki-laki itu menegur karena melihat sopirnya yang menyupir dalam kondisi gemetar.
Jelas hal itu sangat berbahaya karena bisa membuat kecelakaan lalu lintas. Dan sang supir itu mau tidak mau ia harus mengontrol perasaannya dan segera mengantarkan ke rumah sakit George Hospital.
Dan pada akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh sang supir itu pun tiba. Mereka telah sampai di George Hospital. Rigel dengan perasaan marah keluar dari mobil itu sembari membanting pintu mobil hingga menghasilkan bunyi yang sangat nyaring dan menarik perhatian orang di sekitar.
Ucapan syukur tak henti-hentinya dirapalkan oleh Prima. Pada akhirnya setelah menunggu sangat lama dengan perasaan cemas Quenna dan Viktor sama-sama bisa melewati masa kritisnya.
Ini tak lepas dari berkat doa Celine. Wanita itu meminta diantarkan ke gereja dan berdoa semalaman dalam kondisinya yang lemah. Iya tidak ingin melihat putranya itu sengsara.
Celine sungguh sangat menyesali perbuatannya dan menyia-nyiakan kesempatan untuk melepas rindu kepada Viktor.
Malah Dengan bodohnya ia berpura-pura gila. Meskipun tidak sepenuhnya sebab Ia memang mengalami stress yang berlebih tetapi ia masih memiliki setengah kewarasannya.
Celine sebelumnya tidaklah sehat dan ia memaksa Prima agar membawanya ke gereja dengan kondisinya yang sangat lemah itu.
"Oh Tuhan kau benar-benar mengabulkan doa seorang ibu. Aku jadi merindukan ibuku di sana."
Tiba-tiba Prima mengingat orang tuanya yang dulu sangat menyayanginya akan tetapi pergi lebih dulu meninggalkan dirinya dan yang ada hanyalah ibu tirinya yang dulu sempat menikah dengan ayahnya dan ayahnya pun meninggal tak lama setelahnya.
__ADS_1
Meskipun Quenna dan dan Viktor belum sadar tetapi mereka sudah hebat telah berhasil melewati masa kritis yang sempat ingin merenggut nyawanya.
Tim medis berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pengobatan dan pertolongan pertama.
Iya sangat bahagia dan tidak bisa berkata-kata hanya bisa melihat dari luar ruangan itu. Setidaknya mereka masih memiliki harapan untuk hidup.
"Dokter bagaimana kondisinya?"
"Meskipun belum benar-benar baik tapi ini ada kemajuan sedikit. Tapi kami harus waspada takutnya tiba-tiba terjadi sesuatu tanpa kami duga. Oleh karena itu kami tidak boleh senang terlebih dahulu dan tetap melakukan perawatan semaksimal mungkin. Kami pasti akan melakukan yang terbaik."
Prima mengangguk paham dan menyuruh dokter itu pergi. Ia belum dibolehkan masuk ke dalam ruangan tersebut dan hanya bisa melihat dari kaca buram.
"Aku yakin kau bisa melewati ini. Bangunlah ibumu sangat merindukanmu apalagi Carol dia terus menangis memanggil namamu apakah kau tidak kasihan dengan princess kecilmu itu?"
Prima tersenyum masam akan tetapi ia mendengar sebuah rengekan suara yang terus memanggil-manggil nama Viktor dan Quenna.
Sontak saja Prima langsung mencari arah sumber suara itu dan ia melihat seorang anak kecil berjalan sambil memegang bonekanya lalu menangis kencang di lorong rumah sakit.
Segera saja Prima menghampiri anak itu dan mendekap tubuh anak gadis tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Carol.
Carol terkejut melihat tangan kekar memeluk tubuhnya. Ia berbalik dan berharap itu adalah ayahnya. Tapi tangisnya kembali pecah saat melihat itu adalah Prima.
"Sedang apa kau di sini anak cantik. Kau tidak boleh keluar di sini sangat berbahaya."
"Carol merindukan Daddy, Paman!"
Prima tahu sangat bagaimana perasaan Carol. Iya tersenyum lalu mengusap kepala anak itu.
"Carol harus menjadi anak yang penurut dulu supaya bisa bertemu dengan Daddy dan ibu." Carol memeluk tubuh Prima dengan lemah. Ia tak memiliki daya hidup lagi. Anak itu kesehatannya menurun dan dapat dirasakan oleh Prima jika tubuh Carol sangat panas. "Astaga! Kau sakit sayang?"
___________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA