
Tepat di tengah malam dan semua penjaga sudah dibuat tertidur oleh Quenna dengan segelas air kopi berisi obat tidur dengan dosis tinggi.
Tidak ada satupun di rumah ini yang sadar bahkan Ana sendiri juga yang tadinya tidur bersamanya juga ikut tak sadarkan diri. Sebut saja Quenna benar-benar keterlaluan.
Ia berencana melakukan kabur dari rumah bersama sang anak yang sudah bersiap siaga. Keduanya mengenakan pakaian hitam yang selaras dengan keindahan malam.
Jadi para penjaga Rigal tidak bisa menemukan dengan mudah keberadaan mereka. Itu adalah usulan Carol pertama kali. Quenna pun menyetujuinya karena ia juga pernah menggunakan alternatif itu.
Hal tersebut tergolong ampuh bagi Quenna jadi sebabnya Quenna pun pada malam ini menggunakan kostum serba hitam sembari melangkah mengendap-endap di dalam ruangan tamu bersama sang putri.
Di tangan masing-masing terdapat senjata api yang diperoleh Quenna dari gudang persenjataan yang tersimpan di dalam kamar Rigel.
Dan karena itu pula tadi siang ia berada di kamar pria itu. Sialnya ia hampir ketahuan oleh Ana. Untungnya Ana tergolong wanita polos dan percaya begitu saja ucapannya.
"Ibu lewat sini," tuntun Carol menuju sebuah lorong sempit yang ternyata letaknya sangat rahasia.
Kebetulan Carol yang dianggap sepele oleh para penjaga sehingga membuatnya lepas dari pengawasan saat menyelidiki ruangan itu. Sungguh tak menyangka ternyata ruangan itu adalah ruangan rahasia yang digunakan anak buah Rigel dan Rigel sewaktu-waktu jika ada hal yang terjadi.
"Di mana kau menemukan tempat ini?" Quenna benar-benar takjub dengan anaknya tersebut yang mampu menemukan celah yang bahkan tak mungkin untuk ditemukan.
"Aku tak sengaja melihatnya saat berkeliling," ucap enteng Carol dan menyuruh ibunya itu masuk ke dalam lorong tersebut.
Menempuh perjalanan yang cukup panjang dan sangat sempit membuat keduanya akhirnya keluar setelah menghabiskan waktu setengah jam melewati lorong itu.
Saat telah sampai di jalan keduanya menarik napas panjang dan saling melemparkan senyum bahagia.
Kini mereka sudah lumayan jauh dari rumah pria itu. Cepat saja Quenna segera mencari taksi yang melintas.
Ia menyimpan senjata apinya agar tidak membuat supir taksi itu takut dan malah nanti tidak ingin memberikan ia dan anaknya tumpangan.
Sopir taksi itu sangat senang melihat Quenna dan Carol. Akhirnya setelah menunggu dengan sabar ia pun menemukan penumpangnya.
"Nona masuklah, Anda ingin diantarkan ke mana?" tanya supir taksi itu.
Quenna pun mengatakan kepada sang supir bahwa ia ingin diantarkan ke halte bus yang tidak jauh dari tempat ini. Rencananya Quenna bersama Carol akan beristirahat sebentar di sebuah hotel tapi jika dipikir lagi itu akan membahayakan dan sempat obat tidur tersebut berhenti bekerja.
__ADS_1
"Aku ingin ke halte bus yang terdekat dari sini."
"Tapi Nona ini sudah sangat malam. Tidak ada lagi yang berpatroli, Anda lebih baik menginap terlebih dahulu di hotel yang dekat dengan sini," ucap supir itu menginformasikan pada Quenna jika tidak ada lagi halte yang buka di tengah malam buta seperti ini.
Quenna menarik napas panjang menatap Carol yang sudah sangat mengantuk. Anak itu tak bisa tidur terlalu malam dan oleh karena itu lantas Quenna memutuskan jika malam ini ia akan bermalam di sebuah hotel.
Satu yang menjadi kekhawatiran dirinya yaitu jika mereka secepatnya tidak kabur dari Busan mungkin cepat atau lambat akan segera ditangkap oleh Rigel.
Obat tidur yang diberikannya tak bisa menahan mereka hingga berhari-hari. Seharusnya pagi besok mereka telah sadar dan segera mencarinya. Ia tak mungkin terus di sini.
Dengan berat hati ia pun memilih untuk tetap di Busan dan bermalam di sebuah hotel. Akhirnya mereka sudah sampai di hotel yang yang dimaksud sang supir.
Quenna memberikan beberapa lembar uang kepada supir tersebut dan masuk ke dalam hotel yang sangat megah.
Ia harus menyewa hotel yang sangat mahal supaya akses mereka untuk menemukannya sangat sulit.
Tapi bagi Rigel tidak ada yang sulit menemukan Quenna, hal itu sangat mudah dilakukan seorang Rigel dikarenakan ia memiliki jaringan yang sangat kuat di dunia. Itulah yang menjadi kekhwatiran utama Quenna.
Ia masuk ke dalam kamar hotel tersebut dan melirik seluruh ruangan itu yang cukup aman dan nyaman.
Quenna meletakkan Carol di atas ranjang. Sepertinya Carol sudah sangat nyenyak hingga tak menyadari jika tubuhnya sudah berpindah dari mobil ke atas kasur empuk.
____________
Pagi harinya Carol sudah terbangun lebih dulu dan cepat membangunkan ibunya untuk segera melarikan diri. Quenna yang dasarnya hanya sebentar tertidur terpaksa melarikan diri dengan mata mengantuk.
Di bawah sana ia melihat banyak sekali mobil hitam yang berjajar seakan tengah melakukan penyelidikan.
Dada Quenna berpacu hebat, ketakutan jika orang-orang itu adalah suruhan Rigel.
Pastinya pria itu sudah menyadari jika ia telah menghilang. Mata Quenna semakin membulat melihat mereka menunjukkan sebuah foto yang memang itu adalah foto dirinya.
Quenna membawa Carol kabur ke dalam ruangan yang pantas disebut gudang. Ia tak bisa keluar dari dalam hotel ini begitu saja. Identitasnya sudah banyak diketahui orang dan tentunya ia harus mengganti identitasnya bersama sang anak.
"Ibu bagaimana ini? Mereka sudah mengejar kita. Apa kita akan tertangkap?" khawatir Carol seraya mengintip keluar. Quenna menarik kepala Carol dan membuat Carol bingung melihat wajah Quenna. "Kenapa?"
__ADS_1
"Kau tidak bisa sembarangan keluar. Mereka sudah mengawasi kita. Jika kau terlihat sedikit saja maka kita akan tertangkap."
"Lalu kita harus bagaimana, Ibu?" putus asa Carol dan menarik napas beberapa kali. Pikiran anak itu sudah buntu. Tetapi tidak dengan Quenna yang sudah memiliki persiapan yang sangat matang.
Ia menunjukkan sebuah koper besar yang dibawanya. Carol mengerutkan alisnya lalu ternganga kala koper itu dibuka.
"Aku sudah menyiapkan beberapa identitas palsu untuk kita kabur," ujar Quenna dan menunjukkan beberapa pakaian dan wig yang harus digunakan mereka. Selain itu ada make up untuk merubah raut wajah.
"Kau memang pintar Ibu," puji Carol sangat kagum dengan ibunya ini yang penuh dengan strategi matang.
"Kita harus memakai identitas lain, dan aku juga telah menyiapkan kartu identitas palsu untukmu." Carol pun mengangguk dan mengikuti seluruh instruksi dari Quenna.
Tak membutuhkan waktu lama Quenna pun menjelma menjadi seorang ibu yang kaya raya dan Carol anak yang penyakitan.
Dengan begini ia akan bebas keluar dari hotel tersebut tanpa harus dicurigai.
Keduanya lantas keluar dengan peran masing-masing dan melewati orang-orang yang sibuk mencarinya tersebut.
Tak sengaja kuping Quenna yang tajam mendengar pembicaraan salah satu pekerja di sini.
"Aku dengar kamar nomor 217 orangnya telah menghilang. Apakah dia yang sedang dicari Tuan Rigel?" tanyanya pada rekannya.
Rekannya itu pun mengambil foto Quenna yang sudah disebarkan. Ia memperhatikan dengan seksama dan terkesiap saat menyadari jika mereka memang orang yang sama.
"Kau benar, mereka adalah orang yang sama," ujar karyawan itu dan seketika panik.
"Astaga. Dia sudah melarikan diri dan lenyap begitu saja. Bahkan tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa kabur dari penjagaan ketat. Ku dengar juga barang-barang yang mereka bawa masih ada di kamar."
"Kita harus melaporkannya pada atasan."
Quenna memejamkan mata dan melirik Carol yang ada di kursi roda. Wajah kedua orang ini tak bisa dikenali dengan mata telanjang.
Sebelum ia dicurigai Quenna dan Carol cepat keluar dari gedung megah tersebut.
_____________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA