
Di tengah ruangan luas serta kedap suara dan juga kedap dari cahaya matahari tampak seorang pria tengah berdiri di tengah-tengahnya.
Seseorang memasuki ruangan itu sambil membawa lilin di tangannya. Orang yang tak lain adalah asisten dari pria tersebut meletakkan lilin yang dibawanya sembari tersenyum tipis.
Ia menghampiri pria yang tengah berdiri dengan misterius tersebut. Laki-laki itu tak takut sama sekalipun berdiri di balik punggung sang pria.
"Tuan kau sudah berdiri di sini berjam-jam. Inikah metode yang kau maksud menenangkan diri?" Orang yang diajak berbicara itu menoleh ke belakang lalu tersenyum smirk.
Dalam satu petikan jari seketika lampu di ruangan itu menyala seluruhnya. Orang itu terkejut dan menjelajahi ruangan tersebut kemudian kaget setengah mati saat melihat apa yang ada di depan tuannya itu.
Seseorang yang tengah menunggu ajalnya dan pemandangan yang amat menggenaskan. Salah satu temannya sudah merenggang nyawa dengan beberapa pisau tertusuk di wajahnya.
Yesaya menelan ludah susah payah. Ia membuang wajah padahal pria itu kerap kali melihat pemandangan semacam itu. Namun ini lebih mengerikan karena sang tuan turun tangan sendiri.
"Seperti yang kau pikirkan," ujarnya dengan nada terdengar misterius.
Yesaya menarik napas panjang lalu memandang sang tuan dengan serius. Ternyata Rigel juga tak kalah kejamnya, pria itu jarang mengeksekusi seseorang karena menganggap tangannya terlalu berharga untuk melakukan hal-hal bejat.
Namun, hari ini seolah tengah ditunjukkan kepadanya siapa sosok Rigel sebenarnya. Ia bukanlah orang yang berbaik hati, tidak sama sekali ia memiliki nurani, apalagi tampak pria itu tengah dirundung frustasi.
Terlihat dari gelagatnya yang mengerikan dan auranya lebih mencekam dari sebelum-sebelumnya. Ini sudah membuktikan ada sesuatu yang telah terjadi yang tak diketahui Yesaya.
"Tuan kenapa Anda membunuhnya, kita belum mendapatkan bukti dari mereka?"
"Hanya untuk bersenang-senang." Ia melirik Yesaya lalu merebut satu batang rokok yang terselip di saku pria tersebut. Ia menyelipkan diantara kedua belah bibirnya lalu membakar ujung rokok tersebut. Laki-laki itu sangat ahli dalam memainkan asap. "Ah, ya. Bagaimana hasil dari penyelidikan?"
Yesaya pun berubah formal. Ia menyampaikan beberapa perihal yang dikirimkan mata-mata. Salah satu penyelidikan Rigel adalah mencaritahu keberadaan Quenna sekarang.
"Mereka ada di luar kota bersama Viktor."
"Cih! Pria itu, lagi-lagi menjadi penghalang jalan ku. Aku sudah muak bersaing dengannya," umpat Rigel yang sudah merasa bosan orang yang menjadi saingannya terus saja pria itu.
Ia menghela napas dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Tatapannya tajam seakan tengah menyusun rencana. Pria tersebut membuang puntung rokok yang telah habis dengan asal.
"Tuan ada perihal lagi yang saya ingin sampaikan. Mata-mata entah kenapa dapat dengan mudah menerobos pertahanan Viktor. Dia mengatakan jika nona Quenna tengah hamil untuk kesekian kalinya."
Brak
__ADS_1
Rigel menendang kursinya dengan keras. Napasnya memburu dan telapak tangannya mengepal sangat kuat.
Ia menatap Yesaya dengan marah tapi ia juga tak berhak marah tidak berdasar kepada pria ini. Terpaksa Rigel menahan amarahnya.
Ia tersenyum dengan samar api penuh dengan wajah kekecewaan. Tatapan matanya saja dapat membuktikan tengah merasakan sakit yang sangat mendalam.
"Aku sangat mencintaimu. Kenapa kau tidak bisa melihat cinta itu? Kau bahkan jatuh kembali kepada musuh ku, apa aku tidak sepantas itu memiliki mu?" Rigel menatap Yesaya dengan putus asa. "Apakah aku tidak pantas untuk dicintai?"
Yesaya langsung panik dan menggeleng dengan kuat. Tidak mungkin ia berpikiran semacam itu, tuan muda mereka begitu sempurna tidak ada yang berani menolaknya.
"Sungguh Anda sangat pantas mendapatkannya, hanya wanita bodoh saja yang telah berani menolak Anda. Bahkan nona Yohana saja menyukai Anda, apakah Anda tidak menyadari itu?"
Rigel menoleh pada Yesaya. Ia tertawa hambar dengan nyaring. Lalu menyeringai mengerikan.
"Yohana menyukai ku?"
"Ya Tuan."
"Tapi aku menyukai Quenna. Aku tidak mau tahu harus mendapatkannya bagaimana pun caranya."
Rigel berjalan keluar dari ruangan itu menyisakan Yesaya yang termenung di dalam ruangan tersebut mencerna ucapan sang atasan.
Dentingan sendok yang beradu dengan benda berbahan kaca membuat ruangan yang semula sepi pun penuh dengan suara dentingan tersebut.
Quenna tersenyum melihat hasil kopinya yang sudah jadi dengan sempurna. Kopi itu akan ia antarkan ke ruangan sang kakak yang sudah bekerja dari pagi dan belum ada sama sekali beristirahat.
Ia tersenyum bangga melihat hasil kopi buatannya. Wanita tersebut menambah toping di atas kopi itu.
"Begini lebih bagus," ujar Quenna bermonolog sendiri sembari memuji hasil buatannya, "ku rasa memuji hasil buatan sendiri juga tidak ada salahnya."
Quenna pun mencari nampan dan mengantarkan kopi itu ke ruangan Viktor. Jalannya begitu bersemangat dan melewati ruangan utama.
Ia melihat ada Carol yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya yang dikirim sang guru karena ia belum kembali ke Washington DC dan bersekolah seperti biasanya. Terpaksa harus dengan cara sekolah online.
Hati Quenna bagaikan disiram ribuan bunga ia merasa sempurna untuk hari ini. Perempuan itu melirik perutnya, sebentar lagi makhluk hidup di sana juga akan melihat dunia. Menunggu sekitar 8 bulanan lagi.
"Aku sangat bahagia atas berkat mu." Quenna pun melanjutkan perjalannya kembali.
__ADS_1
Ia berhenti di depan ruang kerja milik Viktor di hotel ini. Hotel mereka bukan hotel sembarangan, fasilitas yang ada di sini jauh lebih baik dari penginapan terbaik di dunia.
Awalnya perempuan itu ingin masuk begitu saja. Tapi Quenna menghentikan niatnya, wanita itu berpikir akan lebih baik jika mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok
Tok
Tok
Belum ada sahutan sama sekali dari dalam. Quenna mengernyitkan kepalanya. Sekali lagi ia mengetuk pintu itu hingga pada akhirnya ia lelah dan masuk ke dalam begitu saja.
Betapa terkejutnya Quenna melihat Viktor tidak ada di sana. Ia meletakan nampan itu di atas meja kerja sang kakak lalu mencari Viktor di seluruh ruangan.
"Kakak! Kak!
"Kakak!"
"Viktor!!"
Quenna mengehela napas panjang. Wanita itu mengercutkan bibirnya lalu duduk di atas meja kerja sang kakak.
Ia bertumpu pada kedua telapak tangannya dan melamun beberapa saat. Tapi ia terganggu dengan sebuah berkas yang menarik perhatiannya.
Wanita itu pun lantas menarik berkas itu lalu membukanya. Ia berpikir tidak apa melihat berkas itu, pasalnya mereka bukanlah orang asing.
"Apa maksudnya?" Quenna membaca dengan teliti bait demi bait di dalam berkas itu. Sudah sangat jelas di sana tertulis jika itu adalah hasil memata-matai Rigel.
Ia membuka lembaran berikutnya yang merupakan titik-titik kelemahan yang ada pada perusahaan Rigel. Rencananya mereka akan menjalankan peledakan perusahaan pria itu malam ini.
Quenna menahan napasnya dengan seksama. Ia menyentuh dadanya yang berdetak sangat kencang. Ada perasaan tidak rela sebab Rigel telah ia anggap sebagai sahabatnya.
"Aku tidak bisa membiarkan ini."
__________
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen yah. Yey akhirnya udah selesai ujian akunya, Insyaallah bakal up lebih dari ini.