Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 27


__ADS_3

Tak


Tak


Tak


Ketukan dari high heels yang beradu dengan keramik dan menghasilkan irama yang sempurna. Aura keanggunan dan penuh wibawa menambah dirinya bak seorang paling disegani.


Senyum miringnya terukir ketika memasuki sebuah tempat pertemuan rahasia. Orang tersebut menatap manusia-manusia yang juga berkunjung ke tempat pasar ilegal ini.


Ia berhenti sejenak dan menatap pintu yang akan dilaluinya. Pintu itu adalah pembatas tempat yang hendak dikunjunginya.


Ia menatap jam yang melingkar di tangannya. Tatapan dingin begitu jelas ditunjukkan oleh orang tersebut.


Kesan misterius penuh kegelapan mengiringinya. Ia pun masuk ke dalam tempat itu dan mendorong pintu itu pelan.


Suara decitan pintu mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalam sana. Mereka menatap orang yang baru saja datang sambil memberikan penghormatan.


Orang tersebut menatap pria yang bersandar pada sofa dengan seringaian. Pria itu juga membalas dengan senyuman miring.


Dia berjalan menghampiri laki-laki itu dan berdiri di depannya.


"Selamat datang," ujar pria itu mempersilakan agar duduk di sampingnya.


"Kau menyambut ku terlalu formal bagaikan aku orang asing saja," sindirnya dan duduk di samping pria tersebut.


Ia membuka topi hoodie yang menutupi wajahnya dan tersenyum misterius. Wanita yang berwajah khas Korea yang tak lain adalah Yohana Kim.


"Wow Nona Kim aku tersanjung. Kau ternyata sudah menganggap diri ku orang terdekat mu," lelucon pria tersebut dan mengangkat kedua alisnya.


Yohana Kim memutar bola matanya malas dan mengambil wine yang dipegang Rigel. Rigel mendecih melihat wine yang direbut dan dihabiskan oleh Yohana.


"Lumayan pahit, wine apa ini?"


"Kalau kau tak suka mending kau berikan pada ku," ujar Rigel dengan malas hendak mengambil wine itu dari Yohana.


Yohana menjauhkan wine tersebut dan meneguknya habis. Ia meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja. Melihat ada rokok milik Rigel wanita itu mengambilnya juga dan membakar ujungnya dengan pemetik.


Rigel menggelengkan kepala melihat kerakusan Yohana. Pria itu menghela napas dan menumpahkan wine ke dalam gelas yang sudah kosong tadi. Baru saja ia hendak menuntum nya lagi-lagi Yohana merebutnya.


"Anak baik tidak boleh minum seperti ini," ujarnya seraya menghabiskan wine tersebut.


Pria itu tertawa dan memainkan lidahnya salut melihat Yohana.


"Kau memang sangat rakus."


"Kau baru tahu? Semua yang ku inginkan harus ku dapatkan." Yohana menatap Rigel dan mengedipkan matanya


"Nona Kim kau memang berbeda."


"Ku rasa sama saja," sangkal Yohana dan menatap ruangan itu yang semuanya pria hanya dirinya saja yang wanita. "Ah, ya. Viktor sudah mencurigai kita."


Rigel tak terkejut mendengarnya. Ia menganggukkan kepala paham dan mengikuti arah pandangan Yohana.


"Lalu?"

__ADS_1


"Dia mencari mu!"


"Aku sudah tahu."


Yohana tersenyum mengejek. Wanita itu menyilangkan kaki dan tangannya sambil menatap satu persatu orang di dalam sana.


"Kau biasa saja? Seharusnya kau tahu di sini ada penghianat," tutur Yohana di telinga Rigel.


Rigel menghembuskan napasnya. Ia menatap Yohana tak kalah meremehkannya.


"Kau pikir aku bodoh?"


"Kenapa kau biarkan?"


"Untuk memancing Viktor," jujur Rigel seraya mengedipkan matanya.


Yohana tak menyangka dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rigel. Pria itu tetap tenang seperti biasanya.


"Rencana kita sudah setengah berhasil. Dendam ku harus terbalaskan kepada pria itu." Rigel menepuk pundak Yohana yang sedang membayangkan Viktor dengan raut emosinya.


"Hal apa yang membuat mu kemari dan menyuruhku untuk melakukan rapat?" tanya Rigel kepada wanita itu.


Yohana tak bergeming. Senyum licik di wajahnya membuat Rigel puas dengan wanita itu.


"Aku ingin melakukan strategi baru. Viktor bukan orang sembarangan, dia bisa menebak kita. Aku ingin Quenna jadi umpannya," ujar Yohana sambil tertawa.


Wajah tenang Rigel seketika padam. Ia menatap serius Yohana dengan pandangan mematikan.


Yohana melirik Rigel lalu menatap pria itu beberapa detik. Decihan keluar dari mulutnya.


"Ck, sudah ku duga, cinta memang buta. Jika kau ingin menang dan mencapai sesuatu kau harus bisa menatap tajam lawan mu, jangan dibutakan dengan cinta!" Sindiran Yohana membuat tangan Rigel mengepal.


Ia menarik napas dan menatap anak buahnya yang juga memperhatikan pembicaranya bersama Yohana.


"Diam lah Nona Kim, kau tidak berhak mengurusi perasaan ku!"


"Aku hanya memberikan mu peringatan saja," ujar Yohana sambil menggidikan bahu.


"Strategi apa yang ingin kau lakukan?"


Yohana menatap berbinar Rigel. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu dan membisikan sesuatu.


"Sudah ku katakan jangan membawa Quenna!"


"KAU SUDAH DIBODOHI WANITA ITU!!"


"YOHANA!! SUDAH KU KATAKAN JANGAN SOK TAHU DENGAN PERASAAN KU!!" Rigel bahkan sampai menunjuk wajah Yohana


Yohana yang sudah gelap mata menatap marah Rigel. Ia keluar dari ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.


"Lihat saja kau Rigel, wanita itu pasti akan habis di tangan ku!"


_______


"Tidak mungkin," ucap Viktor sambil menatap Prima dan dokter yang memeriksanya.

__ADS_1


Ia mengingat-ingat kejadian beberapa bulan lalu. Ia memang sering melakukan hal itu kepada Quenna dan juga memberikan pil kepada wanita itu, apakah Quenna tak memakannya?


Napas Viktor memburu dan ia berusaha menetralkan nya kembali. Pria itu turun dari ranjang dan duduk di kursi sambil berpikir.


"Apa kau benar-benar yakin dan bukan karena penyakit lain? Memangnya pria bisa mengalami hal seperti itu juga?" tanya Prima kepada dokter itu.


Dokter tersebut mengangguk dan menjelaskan beberapa pria juga bakal bisa mengalami hal mual-mual seperti itu.


Prima mengangguk paham dan menatap tuannya yang masih diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Viktor mengangkat kepalanya dan sedikit menitikkan air mata. Ia tak menyangka jika dirinya akan memiliki anak. Kabar yang baru dugaan ini cukup membuatnya senang.


Itu artinya Quenna masih hidup. Tapi entah dimana keberadaannya, Viktor harus lebih bekerja keras untuk menemukan Quenna.


"Aku merindukan mu," bisik Viktor yang hanya didengar dirinya seorang.


Viktor menatap Prima dengan senyum tipis. Ia tak tahu harus mengungkapnya seperti apa.


"Selamat Tuan."


"Tidak ada yang tahu di mana Quenna berada?"


Prima menundukkan kepalanya. Informasi yang mereka peroleh sangat sedikit.


Viktor menarik napas panjang dan beranjak dengan emosi. Ia mendekati Prima dan menamparnya bolak balik.


"Tidak becus!!" marah Viktor seraya pergi dari ruangan itu.


"Maafkan saya Tuan."


Tapi tiba-tiba ia merasakan ingin sesuatu yang membuatnya kembali menghampiri Prima.


Prima menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Viktor. Dokter di sampingnya pun melakukan hal yang sama.


"Kenapa aku tiba-tiba menginginkan boneka Barbie?" tanya Viktor tak mengerti dengan dirinya.


Mata Prima dan dokter itu melotot. Mereka saling pandang dan hendak tertawa tapi ditahan karena melihat Viktor sedang memperhatikan mereka.


"Maaf Tuan, tapi kenapa Tuan bisa berkata seperti itu?" tanya Prima tak menyangka. Mungkin karena habis menamparnya tiba-tiba Tuhan melakukan sesuatu kepada Viktor.


"Aku juga tidak tahu."


Dokter tersebut tertawa dan menepuk pundak Prima dan Viktor. Mereka wajar saja tidak tahu, karena sibuk dengan urusan pria.


"Mungkin saja itu karena keinginan anak mu Viktor!"


Dokter itu tertawa sambil menggelengkan kepala. Ia meninggalkan ruangan tersebut terlebih dahulu. Viktor terdiam tak menyangka.


"Begitu kah?"


________


Tbc


Hay teman-teman aku punya rekomendasi bagus nih buat kalian. Jangan lupa mampir juga yah ke karya yang ini.

__ADS_1



__ADS_2