Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 50


__ADS_3

Seharian ini Quenna telah menghabiskan waktunya di sebuah taman bermain yang sangat terkenal di London. Ia menemani anaknya untuk bermain di tempat itu. Mewujudkan keinginan anak tersebut yang sudah lama ia impikan.


Carol tampak tengah tertawa bahagia, pemandangan itu menjadi hal yang terindah yang Quenna pernah lihat. Hanya saja bedanya saat melihat Viktor sedang bersama dengan putrinya Carol air mukanya pun berubah. Wanita itu memasang tampang datar seraya menatap kedua orang tersebut sangat dalam.


Meskipun sedikit terganggu tapi tak bisa dibohongi jika dadanya juga bergemuruh hebat menatap keindahan pemandangan tersebut. Sungguh sesuatu yang langka. Jika Viktor bukan merupakan kakaknya percayalah Quenna akan berusaha membuka pintu hatinya dengan lebar.


Quenna bisa merasakan jika ada sesuatu di dadanya manakala setiap kali berdekatan dengan Viktor. Sebenarnya ia tahu betul perasaan apa itu, hanya saja ia tak berani mengakuinya karena takut dengan hukum alam yang sewaktu-waktu akan menyerang mereka.


Tak ada hal yang lebih menyakitkan ketika cinta mu jatuh kepada orang yang salah dan tak pernah diharapkan. Tapi kata orang cinta itu buta, ia tak memandang siapa yang akan menjadi tuannya. Dan itu telah dirasakan Quenna sendiri, betapa gilanya cinta tersebut.


Benar, ia mencintai Viktor. Mulai detik itu saat melihat anaknya sangat bahagia bersama lelaki tersebut yang merupakan ayah kandungnya, Quenna semakin dapat merasakan jika hatinya benar-benar terpikat oleh laki-laki itu.


Tapi tampaknya cinta mereka hanyalah angan. Meskipun Quenna tahu mereka saling mencintai, tapi apa boleh buat jika status kakak adik menghalangi segalanya.


"Ibu kau tidak ingin ikut bermain dengan ku dan Daddy?" tanya Carol dengan tampang polosnya di gendongan Viktor.


Quenna tersenyum penuh kebohongan. Sebenarnya ia hendak menangis tapi berusaha tetap ceria. Hatinya sangat tersentuh manakala Viktor memperlakukan anaknya dengan begitu lembut.


"Tidak, aku sedang lelah. Kau bermainlah bersama Daddy mu!" tolak Quenna seraya menggelengkan kepala.


Viktor pun menurunkan Carol di gendongannya. Ia berjalan menghampiri wanita tersebut sambil menatapnya dengan tajam. Quenna melihat itu meneguk ludahnya kasar.


Kenapa Viktor berubah menjadi sangat mendominasi. Pria itu seolah ingin melahapnya hidup-hidup.


"Kau tidak ingin menuruti keinginan anak mu?" tanya Viktor yang auranya sangat menusuk ketika mengucapakan kalimat pertanyaan tersebut.


Quenna menormalisasikan wajahnya dan tampak baik-baik saja. Ia sudah berhari-hari tinggal bersama dengan Viktor. Ia tidak satu kamar seperti dulu karena Quenna tak ingin trauma di masa lalu kembali terulang. Dengan segenap hati Viktor menyetujuinya, namun Quenna tetap tidak mengerti alasan kenapa Viktor dengan mudah mengizinkannya. Dahulu saja baru ia hendak mengungkapkan keinginan tersebut tetapi tamparan sudah melayang ke wajahnya.


Viktor yang sekarang lebih lembut dan lebih menghargai wanita. Ia memperlakukan Quenna dengan penuh kasih. Tak pernah lagi ia main tangan seperti dahulu.


Pria itu juga akan menghargai pendapatnya berbeda dengan beberapa tahun yang lalu akan memaksakan kehendak pria itu kepadanya. Quenna sedikit bersyukur akan hal itu meski beberapa pertanyaan kerap kali muncul di benaknya.


"Kakak! Aku benar-benar lelah," elak Quenna berusaha mencari cara agar bisa terbebas dari kedua orang ini.

__ADS_1


"Maka aku akan memaksa mu! Apa pun keinginan Carol aku akan memenuhinya!" Viktor tersenyum miring dan berjalan mendekat padanya.


Quenna memasang ancang-ancang untuk menghindar dari pria tersebut. Ia pun mengeleak tapi dengan penuh keberanian Viktor menarik tangannya ke tengah-tengah taman bermain itu.


Carol yang melihat sang ibu ikut bergabung meloncat-loncat sangat bahagia. Quenna yang awalnya sangat terpaksa pun tak kuasa menahan senyumnya.


Jelas di wajah wanita tersebut menunjukkan rasa senang. Mereka pun melakukan serangkaian permainan di wahana tersebut.


Beragam jenis permainan mereka coba satu persatu. Kini mereka sekeluarga itupun kelelahan dan memilih untuk beristirahat.


Quenna terpana melihat Viktor yang dahulu sangat jarang tertawa tampak tengah mengukir tawa bersama sang anak. Ia memutar-mutar tubuh Carol dan melemparnya ke atas sedangkan bocah tersebut berteriak kegirangan.


Tapi lagi-lagi Quenna merasa hatinya bak diremas ketika menyadari kenyataan yang sangat pahit.


"Izinkan aku untuk berbuat dosa kali ini, aku tak sanggup menahannya... Aku mencintainya!" ujar Quenna sembari memejamkan mata meresap semua perasaan sakit di hatinya.


"Mencintai siapa?" Suara berat tersebut lantas membuyarkan lamunan Quenna.


Wanita tersebut membuka matanya dan menatap ke samping. Tepat Viktor berada dengan jarak dekat dengannya. Pria itu menatapnya dengan serius.


"Bu-buk-an apa-a-paa!" ucap Quenna terbata-bata sembari tersenyum canggung.


Ia mendorong tubuh Viktor yang perlahan akan terhubung dengan tubuhnya. Wanita tersebut sedikit bergeser memberikan jarak antara ia dan Viktor.


Akan tetapi Viktor menarik pinggangnya hingga Quenna berada sangat dekat dengan pria tersebut.


"Aku tahu kau juga mencintaiku! Jangan menyembunyikannya, itu sangat menyakitkan. Aku sudah pernah berada di posisi itu. Menyangkal perasaan ku hanya karena dia masih kecil dan aku pun menderita oleh perasaan tersebut," ucap Viktor lalu tersenyum.


Quenna memandang tak percaya laki-laki tersebut. Ia berusaha menghindar dari Viktor. Ia mengetahui dengan jelas siapa orang yang dimaksud Viktor di dalam ceritanya.


"Kakak! Apa yang kau maksud? Aku tidak sedang mencintai siapa pun!"


Viktor menyentil kepala Quenna. "Bodoh! Bahkan orang awam pun tahu kau sedang jatuh cinta, katakan siapa pria itu? Pasti dia sangat tampan hingga membuat mu jatuh cinta!"

__ADS_1


Quenna ternganga mendengar kalimat penuh angkuh yang diucapkan Viktor. Ia menggaruk kepalanya tak mengerti bagaimana dengan jalan pikiran Viktor.


"SUDAH AKU KATAKAN AKU TIDAK MENCINTAI SIAPA PUN KAK!!"


Quenna yang tersulut api amarah pun mendorong tubuh Viktor. Ia berdiri dan hendak meninggalkan taman itu. Namun, Viktor menarik tangannya lalu mencium kasar wanita tersebut di tengah keramaian.


Awalnya Quenna sangat terkejut akan hal itu. Tapi lama kelamaan ia terbuai dengan sentuhan Viktor di area tubuhnya. Lelaki itu tahu cara memuaskan ia sampai bahkan tidak menyadari mereka sedang berada di tempat umum.


"Sangat terpuji perbuatan kalian! Melakukan hal yang dewasa di tempat umum dan ditonton oleh anak-anak!"


Quenna lantas mendorong kasar tubuh Viktor dan membenahi pakaiannya. Ia melihat ada Andreas yang menatapnya sangat kecewa.


Tatapan Quenna pun terpusat pada Carol yang matanya ditutup oleh Andreas.


"Andreas!"


"Siapa kau berani-beraninya menghentikan kesenangan ku!" Viktor mendengus tak senang kepada Andreas.


"Kau seharusnya sudah mati! Jika bukan karena kau, Charlotte tidak akan mungkin mendapatkan hukuman!!"


"Apa peduli mu? Lepaskan anak ku!" Viktor menarik Carol yang bersama Andreas.


Wajah Andreas tercengang. Ia memandang Quenna dengan mimik terkejut sekaligus meminta kejelasan. Ia menunjuk Viktor dengan tangan bergetar.


"Charlotte!! Je-jelaskan kepada ku, dia orang yang menghamili mu?!" Andreas melirik Viktor, "sungguh tidak terhormat perbuatan mu, reputasi mu tak sesuai dengan perbuatan bejat mu!!"


Bugh


"Akhhh!! APA-APAAN MAKSUDMU?!!!"


____________


Tbc

__ADS_1


BUDAYAKAN UNTUK LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2