Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 68


__ADS_3

Siang itu matahari sangat cerah dan sedikit bersahabat dengan musim salju saat ini. Quenna mengajak anaknya Carol untuk berjalan-jalan menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari angin dan menikmati pemandangan indah serta melihat banyak pasien yang sedang berjuang untuk sembuh terhadap penyakitnya.


Kali ini ia berkesempatan untuk menjenguk Celine. Itu bukan terjadi begitu saja, Quenna penuh pengorbanan membujuk pria itu agar diizinkan. Viktor berdalih bahwa sanya ia tak ingin kandungannya ini kenapa-kenapa. Padahal bayi di dalam sana juga butuh suasana baru.


Quenna berjalan bergandengan dengan Carol. Anak itu antusias melihat pemandangan para pasien yang mengalami kekurangan dalam arti cacat sedang berusaha untuk hidup dengan normal layaknya manusia sempurna. Mereka dilatih agar mampu menerima fisik mereka dan juga ada yang dilatih untuk menjadi sempurna sama seperti sedia kala.


Carol adalah anak yang sangat menyukai kegiatan sosial. Bahkan ia sampai mewawancarai para pasien itu. Jiwa sosialnya seakan tengah dimanjakan.


"Kau menyukai ini?"


"Ibu, aku rasa aku sangat menyukainya," ujar Carol dengan penuh semangat dan melihat-lihat para pasien di taman rumah sakit, "di sini sangat menyenangkan. Aku memiliki cita-cita untuk menjadi doktel dan ingin menolong orang seperti doktel-doktel di sini," semangat Carol dan tersenyum bangga kepada Quenna.


Quenna terharu mendengar sang anak. Jiwa Carol sungguh mulia tidak seperti kedua orangtuanya yang begitu buruk di hadapan Tuhan.


Sudah banyak dosa yang sangat melampaui batas. Dan Carol juga lahir diantara dosa yang mereka perbuat.


Quenna mengusap kepala sang anak menandakan ia sangat bangga kepada Carol yang memiliki hati yang baik.


"Aku sangat senang mendengarnya, aku dan Daddy mu pasti akan mendukung mu." Carol menatap sang ibu dan mengangguk semangat.


Siapa yang tidak bahagia saat cita-citanya disokong oleh kedua orangtuanya? Tentu kalian juga bakal merasakan hal yang sama.


Caroline masih kecil tetapi pemikirannya sangat terbuka. Dia adalah anak dengan sejuta pemikiran cerdas yang diwariskan kedua orangtuanya.


"Makasih Ibu!!!" Quenna memeluk sang anak dengan erat. Ia mencium seluruh kepala Caroline gemas hingga ke wajahnya.


"Anak Ibu pintar banget sih," ujar Quenna sembari membawa pergi Carol dari taman.


"Ibu, Carol ingin adik laki-laki," lirih Carol dan melirik perut sang ibu yang sedikit membuncit.


Quenna menyentuh perutnya dan tersenyum lebar. Wanita itu juga menginginkan hal yang sama tapi balik lagi kepada Tuhan yang menentukan segalanya.


"Carol sayang, Ibu sudah sering mengatakan kepada mu, bukan? Jika kau menginginkan sesuatu maka kau harus berdoa kepada Tuhan. Ibu tidak bisa menentukan kelaminnya, tapi siapa tau permohonan dari anak cantik ini bisa dikabulkan Tuhan." Quenna mencubit pipi chubby Carol membuat anak itu terkikik lebar.


Saat asik tertawa Quenna tak sengaja melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Wanita itu langsung terdiam dan melirik Carol. Ia harus menemui orang itu sebab dialah yang tengah dicari Quenna.


Wanita tersebut mengajar pria itu dan memanggil nama laki-laki tersebut dengan lembut akan tetapi terdapat penekanan.


Rigel berhenti di tempat dan menoleh ke belakang. Ia terdiam kala melihat ada Quenna di depannya.

__ADS_1


Mati-matian laki-laki tersebut menahan perasaannya yang bergejolak ingin memeluk Quenna. Ia melirik bocah yang dibawa oleh Quenna.


"Hey anak cantik kita bertemu lagi." Carol balik menyapa Rigel dan melambaikan tangannya.


"Iya Om. Kapan kita main lagi?"


"Kapan-kapan yah."


Rigel melirik Quenna yang ternyata tengah memperhatikannya. Ia melirik perut Quenna, apa yang dikatakan oleh mata-mata itu ternyata benar adanya. Quenna tengah hamil, sungguh kabar itu melukai perasaannya.


Rigel harus terima lapang dada. Wanita cantik memang banyak akan tetapi Quenna lah yang mampu memporak porandakan hati Rigel. Jika Rigel bisa mencintai perempuan selain Quenna maka sudah lama ia melupakan perasannya terhadap wanita itu.


Ditambah lagi Quenna sekarang tengah tersenyum di depannya dan anak wanita itu juga menyapanya dengan baik, hingga otak Rigel melayang jauh langsung memikirkan bagaimana resepsi pernikahan mereka nanti.


"Rigel." Sontak Rigel terkejut manakala Quenna menyebut namanya. Laki-laki itu tengah melamun membayangkan wanita itu pula. Bayangkan betapa malunya hati Rigel.


"Eumm... Ya?"


Rigel mengerutkan satu alisnya tatkala melihat Quenna merubah raut wajahnya menjadi cemas.


"Pergilah secepatnya dari sini. Viktor ada di sini, dan kau harus melihat perusahaan mu karena Viktor akan menghancurkannya, ditambah dia akan membom pertambangan minyak mu di Kuwait. Pergilah dari sini dan hentikan dia," mohon Quenna dengan wajah yang lirih.


Anehnya Rigel malah diam tak berbicara dan juga tak memberikan reaksi apapun. Pria itu tersenyum tipis lalu memeluk Quenna.


Quenna mengernyit tak paham apa maksud Rigel. Ia ingin bertanya tetapi laki-laki itu sudah menjauh darinya. Ia menyeru pria itu dan nyatanya Rigel tak menjawabnya.


Ada yang aneh dari Rigel. Entah kenapa Quenna merasa ucapan pria itu adalah isyarat.


"Ibu, ayah mungkin sudah menunggu kita."


Quenna menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Carol. Ia tadi pergi tak berpamitan kepada pria tersebut mungkin Viktor sedang mencarinya.


"Kau benar, aku tidak meminta izin padanya tadi." Quenna bersama sang anak lantas berjalan ke lantai atas tepat di mana ruangan Celine berada.


Baru selangkah ia berjalan ternyata orang yang sedang dipikirkannya berdiri di depan dengan wajah panik.


Laki-laki itu menarik kasar Quenna ke dalam pelukannya dan mendekapnya sangat erat.


"Syukurlah kau ada di sini rupanya," lirih Viktor dan mengurangi jarak mereka.

__ADS_1


Pria itu mengusap pipi Quenna dan menjauhkan anak rambut yang menutupi wajah perempuan itu. Ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya hanya mengecup sebentar.


"Maafkan aku," ucap Quenna dan tersenyum lebar. Ia mengalungkan tangannya di leher laki-laki tersebut memamerkan kemesraan kepada para khalayak yang berlalu lalang di sekitar.


"Aku mengira kau akan pergi dari ku. Entah kenapa firasat ku akhir-akhir ini tidak baik." Viktor seakan sudah mendapatkan kelegaannya kala melihat wanita ini di depan matanya.


Quenna merasa ucapan Viktor sangat berlebihan. Ekspresi pria tersebut juga bagaikan ia akan meninggalkan pria itu. Mana mungkin Quenna melakukannya.


Viktor memeluk Quenna dan menatap sang anak yang tengah cemberut melihat kedua orangtuanya yang lupa daratan hingga tak menyadari ada dirinya.


"Maafin Ibu sayang."


Viktor menggendong Carol dan menciumi wajah anak itu yang membuat Carol menghilangkan wajah cemberutnya.


"Daddy, geli."


"Sebentar lagi Calol akan punya adik dan Calol tidak akan sendirian," kata Viktor sembari mengedipkan mata kepada Quenna.


Quenna memutar bola matanya malas. Pria ini membuatnya bersemu merah. Viktor paling hobi menggodanya.


Suara jeritan seorang suster membuat keharmonisan keluarga itu terganggu. Suster yang tak lain adalah orang yang dulu melarang Quenna untuk bertemu Celine.


"Pak?"


"Pergilah. Dia adalah istri ku." Sontak saja kedua suster itu sangat terkejut dan menutup mulut mereka.


Suster itu juga melirik Quenna. Sementara wanita itu terbengong polos mendengar ucapan Viktor. Sejak kapan mereka menikah?


"KEBAKARAN!!!"


"KEBAKARAN!!!"


Kedua suster itu seketika panik dan melihat api yang sudah melalap bangunan rumah sakit tersebut.


Quenna menatap Viktor yang terkejut di tempat. Pria itu terdiam sementara Quenna menarik tangan laki-laki tersebut untuk melarikan diri.


"VIKTOR CEPATLAH KITA HARUS PERGI!"


__________

__ADS_1


Tbc


MOHON LIKE DAN KOMENNYA 🥺


__ADS_2