Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 53


__ADS_3

Tetesan air menjalar di seluruh area tubuh seorang perempuan yang tampak rapuh. Wanita tegar pantas disematkan padanya, bahkan tidak hanya disakiti secara batin namun fisik juga menjadi sasaran untuk melemahkan dirinya.


Wajah itu tak lagi menunjukkan gairah hidup sepeserpun. Seakan jiwanya telah hanyut diseret derasnya air. Kemurungan dan wajah penyesalan yang hanya disisakan oleh raut datar tersebut.


Ia memejamkan mati sembari menikmati setiap rasa sakit yang menghujam dirinya. Perempuan tersebut telah kehilangan arah dan tak lagi bisa berpikir dengan jernih. Begitu menyakitkan kenyataan yang harus diterima.


Quenna hanya menerima penyesalan jauh di dalam relung hatinya. Andai ia tidak membuat lelaki itu marah mungkin hal sekeji itu tidak akan ia rasakan. Namun, salahkah ia juga bila menolong Andreas? Maka akan menjadi mimpi buruk lagi jika ia hanya melihatkan Andreas sekarat bak orang bodoh menjadi penonton maut seseorang.


Andreas adalah pria yang selama ini menemani karirnya. Pria itu sangat baik kepada Quenna, bahkan tidak satupun hal yang dilakukan Andreas untuknya Quenna lupakan.


Wanita bermata teduh itu hanya berharap kepada keadaan yang nyatanya tak akan pernah berpihak kepadanya. Satu hal yang menjadi kehkawatiran Quenna sekarang adalah keselamatan Andreas.


Meskipun dirinya tidak baik-baik saja tapi Quenna malah mengesampingkan itu dan lebih memikirkan Andreas. Bagaimanapun Viktor merupakan orang kejam dan bahkan tidak bisa diharapkan untuk perubahan. Pikirannya yang bagaikan piskopat tentu saja laki-laki itu tak mungkin membiarkan Andreas hidup dengan tenang.


Satu fakta yang ia ketahui mengenai Viktor malah membuat dirinya dihantui oleh bayang-bayang rasa cemas yang tak kunjung hilang.


Begitu banyak pertanyaan yang tertumpuk di dalam benaknya. Wanita itu berdoa kepada sang kuasa agar kekhawatirannya hanyalah sebuah ujian bagi Quenna.


Ia mengoleskan sabun penuh dengan busa tebal kepada seluruh tubuhnya. Tapi, pikirannya entah berkelana ke mana dan tak berpusat pada kegiatan yang dikerjakan oleh wanita tersebut.


Belum lagi luka goresan di tangannya seolah memberikan signyal buruk. Tidak tahu apa yang telah terjadi di belakangnya. Yang pasti itu bukan sesuatu yang baik bagi dirinya.


"Andreas maafkan aku!"


Quenna menarik napas dalam dan membiarkan air shower menyiram seluruh bagian di tubuhnya. Wanita itu tidak sadar bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamar mandi seraya menatap nyalang tubuh telanjang tersebut.


Orang tersebut memasukan kedua tangannya di dalam saku sedangkan punggungnya bersender pada tembok. Tidak ada raut wajah di muka itu. Begitu dingin seperti kutub di paling Utara .


Saat ia menggerakkan persendian tubuhnya ingin mematikan shower, namun Quenna tak dapat bergerak banyak disebabkan area pribadinya sangat sakit karena ulah dari Viktor. Sekedar ingin melangkah saja ia rasanya hendak terjatuh di tempat dan tak dapat melakukan hal banyak.


Quenna membenci keadaan yang begitu menyakitkan. Ia menangis seraya mengutuk pria itu penuh dengan sumpah serapah yang ia lontarkan.


"Aku membenci mu Kak! kau baji.ngan, penja.hat, gila, setres!"


Belum menyadari jika objeknya ada juga di dalam kamar mandi itu menyaksikan kemarahan Quenna. Tidak ada suara sangkalan untuk membantah ucapan Quenna.


Ia terus memandang wajah kesal itu. Namun, Quenna merasakan ada hawa lain. Ia spontan melirik ke arah hawa tersebut dan sangat terkejut kala melihat Viktor berdiri tak jauh dari ia berada.

__ADS_1


Quenna pun tersadar dengan ketelanjangannya. Ia cepat mengambil handuk tapi sayang ia malah tak bisa menjangkau handuknya karena rasa sakit di bagian pusat dirinya.


Ia terjatuh, tapi sebelum benar-benar menyentuh lantai dingin Viktor menyambut tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?!!!"


"Apa?" tanya Viktor dingin seraya matanya yang nakal menjelajah ke mana-mana.


Quenna yang melihat kelancangan Viktor pun amat geram. Ia bergerak dengan brutal ingin lepas dari pria itu, namun hasilnya malah ia dilepaskan begitu saja lalu tubuhnya dengan lancar terhempas ke lantai sangat kuat, amat menyakitkan.


"Akh!!! Kakak!!" Quenna pun menangis histeris merasakan sakit di punggungnya.


Lalu Viktor? Pria itu malah menukik alisnya bak pria polos tak tahu apa-apa. Dan belum menyadari perbuatan yang ia lakukan.


"Ada apa?"


"Kakak sakit!" Quenna berusaha menahan rasa sesak di seluruh tubuhnya.


"Bukannya kau ingin lepas dari ku, kan?" tanya Viktor seraya mengangkat tubuh Quenna dengan ringannya dan keluar dari kamar mandi. Ia meletakan wanita itu sangat pelan di atas kasur, seakan takut melukai sang wanita.


Quenna terdiam tanpa bisa mengeluarkan kalimat perlawanan. Yang dilakukan oleh pria itu benar namun juga salah. Malah yang ada ia semakin rematik.


Yang ia rasakan Viktor mengusap tubuh polosnya dengan handuk. Quenna sangat malu tapi tak punya waktu untuk melakukan protes. Yang wanita itu tunggu adalah ia segera diberikan obat.


"Berhentilah menangis! Kau sangat jelek jika kau menangis. Jadikan itu pelajaran bagi mu, jika tidak ingin mendapatkan lebih kesakitan kau harus patuh dengan segala ucapan ku," ujar Viktor yang mampu menusuk jantung Quenna.


Wanita itu tidak berkutik di tempatnya. Sementara Viktor membersihkan tubuhnya dan juga memakaikan pakaiannya.


"Aku membencimu, Kak!"


Viktor menatap Quenna dengan tajam. Ia mengepalkan tangannya saat kalimat itu mendarat tanpa hambatan dari mulut wanita tersebut. Jujur hati Viktor sangat sakit saat Quenna membenci dirinya.


Melihat Quenna yang membuang wajah darinya, Viktor pun menggeram. Ia menarik tengkuk perempuan tersebut dan mel.umatnya dengan kasar.


Quenna yang belum siap dengan ciuman tersebut sangat syok. Ia ketakutan dengan tubuh bergetar, sisa malam tadi meninggalkan bekas trauma berat bagi wanita tersebut.


"Eummm... Ka.. kak.." lirih Quenna seraya meneteskan air mata di sudut matanya.

__ADS_1


Ia pun pasrah di bawah gempuran Viktor yang sangat ganas dan berbeda dengan ia yang sangat lemah. Perlawanan terus ditunjukkan dan Quenna memukul dada Viktor dengan tenaga yang tak seberapa.


"Hiks, hiks Kakak!!" isak Quenna kala pria itu mengisap lehernya.


Viktor pun melepaskan bibirnya dari area tubuh tersebut. Laki-laki itu memandang wanita lemah di depannya.


Wajah sembab Quenna dengan mata yang memerah serta rambut sangat berantakan. Napasnya tersengal-sengal karena baru bisa bernapas setelah Viktor yang tak berperikemanusiaan itu menciumnya sangat kasar.


"Tidurlah! Aku tahu kau sangat lelah karena malam tadi!"


Ia mengambil selimut yang terjatuh di lantai lalu menyelimuti tubuh Quenna sebatas dada wanita itu.


Ia memandang sebentar wanita kecil di depannya. Ia sangat menyesal dengan perbuatannya, tapi rasa tersebut hanya sedikit. Ia tak begitu benar-benar merasa bersalah. Hanya saja mendengar tangisan Quenna ia tersentuh.


"Kau tidak melukai Andreas, bukan?" tanya Quenna dingin dan menoleh pada Viktor seraya menatap kosong pria itu.


Viktor yang baru saja selangkah ingin keluar dari kamar tersebut seketika terhenti. Di bawah, tangannya mengepal kala nama pria lain lagi-lagi terucap dari mulut Quenna.


Quenna, wanita tersebut sempat melihat tangan Viktor di bawah sana. Ia meneguk ludahnya dan meratap penuh ketakutan.


"Bukan urusan mu!"


"Kakak jawab aku! Kau tidak boleh menyentuhnya, dia adalah teman ku dan sangat baik kepadaku. Bila kau melakukan sesuatu yang buruk kepadanya, aku tidak akan segan-segan membunuh mu!!" teriak lemah Quenna.


Viktor tersenyum miring. Ia melirik sedikit ke belakang menatap Quenna.


"Sayangnya aku sudah melakukannya!"


"Apa maksudmu?!!" Quenna pun bangkit, namun kembali terbaring tak sanggup untuk bangun.


Tangisan Quenna pun sangat kencang. Ia tak menyangka kepada kakaknya sendiri. Orang yang dulu sangat dicintainya berubah menjadi monster yang malah membuat cintanya hancur.


"Aku sudah membunuhnya!"


___________


Tbc

__ADS_1


BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA YGY.


__ADS_2