Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 13


__ADS_3

"katakan yang mana sakit?" interogasi Quenna dengan serius kepada Ana. Dari mimik wajahnya sudah dapat dipastikan jika wanita itu sangat mengkhawatirkan Ana.


Ana terus menangis histeris dan ketakutan dengan orang . Quenna menarik napas panjang dan berusaha memberikan ketenangan kepada Ana.


Berbagai cara ia lakukan untuk menghibur Ana tapi nyatanya tak semudah itu menghilangkan trauma yang dialami oleh perempuan itu.


Ana menatap Quenna dengan matanya bulatnya yang basah. Wanita itu terus memandang Quenna yang mengobati lukanya.


"Kau bukan orang jahat, kan?" tanya Ana kepada Quenna pasalnya ia harus mewaspadai sekitar.


Ia menatap Quenna dengan percaya jika wanita itu adalah merupakan orang baik. Akhirnya hal yang selalu ditunggu Quenna pun ia dapatkan. Ana tersenyum lebar dan mampu menciptakan senyum bahagia pula di wajah Quenna.


"Tentunya aku adalah orang yang akan membantu mu, kau tenang saja. Kau akan aman bersama ku," ujar Quenna sembari mengusap kepala Ana.


Quenna dengan telaten mengoleskan obat bubuk di luka yang Ana dapatkan. Ana di dalam sana disiksa dengan tak manusiawi bak binatang.


Bahkan Viktor sama sekali tak memperdulikan nyawa orang ketika melakukannya. Yang ia tahu hanyalah kepuasannya.


"Aku takut," lirih Ana menyentuh telapak tangan Quenna.


Ia menatap Quenna penuh arti. Quenna menghela napas dan menggeleng. Perempuan itu tersenyum ramah begitu anggun.


Wajahnya yang begitu cantik membuatnya mudah dipercaya. Gelengan dari kepalanya tentu benar-benar menjadi simbol tidak.


"Ana, sudah aku katakan bukan pada mu jika kau akan aman? Tenanglah, kau cukup beristirahat maka tidak akan ada yang menyakiti mu," ucap Quenna sembari meletakkan piring obat di atas nakas.


Ia membantu Ana berbaring dengan baik. Wanita itu menyentuh kepala Ana untuk memastikan suhu tubuh perempuan tersebut.


Quenna tersenyum tipis tapi terlihat tak puas. Tak sesuai apa yang diharapkan, Ana masih demam tinggi namun ada perubahan. Kemajuan dari tubuh Ana membuat Quenna sudah bersyukur.


Ia berharap Ana akan lepas dari penderitaannya. Viktor membawa orang baru ke rumah ini sudah pastinya Quenna menebak jika tidak ada yang sanggup tinggal di sini, hanya dirinya yang mampu bertahan cukup lama.


"Kenapa Anda ingin sekali kabur Nona? Dunia luar juga sangat kejam," tutur Ana seraya mengingat seluruh hidupnya yang ia habiskan untuk dunia luar.


Kekejaman yang tidak berarti. Semua dilakukan dengan rakus dan ingin menang sendiri. Lebih menakutkan dari tinggal di rumah ini.


Quenna menatap Ana antusias. Ia sering diceritakan oleh Melisa jika dunia luar juga tak kalah kejamnya. Sekarang ia ingin mendengar cerita itu dari mulut Ana.

__ADS_1


"Bisa kau ceritakan semua itu pada ku?" tanya Quenna semangat tapi senyumnya langsung berubah kikuk, wanita itu baru sadar jika Ana masih dalam kondisi tidak baik-baik saja, "Maafkan aku," ucap Quenna.


Ana mengerutkan keningnya tak mengerti dengan permohonan Quenna. Ia juga tak masalah menceritakan beberapa hal kepada Quenna untuk mengalihkan rasa sakit yang dialaminya.


Ana meraih tangan Quenna dan menatap lurus ke atas dengan pandangan kosong sembari memutar ingatan masa lalu.


"Kau yakin ingin mendengarnya? Ini lebih kejam, kau tahu?"


Ana menceritakan setiap detail kehidupan luar yang tak adil itu. Ia menceritakan kisahnya yang menggenaskan.


Quenna tak menyangka dengan hal yang dilalui Ana. Ia bergidik negri mendengar setiap kekejaman yang dilakukan umat manusia.


"Aku rasa tidak ada yang adil di dunia luar maupun di sini. Aku tidak bisa membandingkan jika keduanya sama-sama menakutkan," ucap Quenna dengan tatapan ke arah lampu yang remang-remang.


______


Langkah Quenna terhenti melihat kakaknya berdiri di depannya. Ia menundukkan kepala tidak berani menatap sang kakak yang sangat mendominasi.


Viktor mendekati Quenna dan tak angkat bicara. Ia meneliti pakaian Quenna dan melihat tangan Quenna yang membawa sebuah nampan.


Mata Quenna membulat dan berusaha menahan nampan yang ada di tangannya. Tentunya Viktor dengan mudah mengambil obat yang terletak di nampan itu.


Viktor meneliti dengan jelas obat tersebut lalu membuang napas kasar. Ia menatap Quenna dan meletakkan obat itu kembali ke nampannya.


"Kau mengkhawatirkan orang lain, apa untungnya?" tanya Viktor dengan tawa mengejek.


"Kau tidak akan pernah mengerti, yang kau tahu hanyalah menyiksa." Quenna hendak melewati Viktor tapi tangan pria itu mencekal lengannya.


"Kenapa kau begitu lancang dengan kakak mu?"


"Viktor!" Mata Viktor membulat mendengar Quenna menyebutnya hanya dengan nama.


Ia meraih tangan Quenna dan menarik wanita itu ke dalam kamarnya.


Quenna berusaha meminta untuk dilepaskan tangannya. Tapi Viktor seakan tidak mendengar seruannya.


Quenna pasrah ketika harus diseret dan diperlakukan bak binatang peliharaan. Viktor mendudukkan Quenna di sofa yang ada di kamar itu.

__ADS_1


Pria tersebut memandang Quenna sebentar lalu beranjak pergi dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


Alih-alih merasa takut Quenna syok dengan apa yang dibawa Viktor. Viktor menyerahkan pil yang Quenna tidak tahu apa itu.


Quenna menatap Viktor memastikan pria tersebut. Tapi ia tidak menemukan jawaban apa itu.


"Apa ini Kak?"


"Makanlah." Viktor memberikan kepada Quenna dengan segelas air.


"Aku tidak sakit dan aku tidak akan memakan sembarang obat," ucap Quenna menolak pil tersebut dan hendak pergi.


Viktor menahan Quenna ia menatap wanita itu dengan amarah yang memuncak. Jika dilakukan dengan baik Quenna tak menurut maka terpaksa ia menggunakan kekerasan.


Viktor mencengkram rahang Quenna dan meminta perempuan itu membuka mulutnya. Quenna terisak dan berusaha mengatup bibirnya, nyatanya ia tak mampu dan menangis kencang ketika merasa sakit di area itu.


Quenna dipaksa untuk menelan pil itu. Tanpa disadarinya pun menelan pil tersebut. Quenna menatap Viktor tak percaya.


"Kau ingin membunuh ku?"


"Tak semudah itu jika aku ingin melakukannya. Pil itu adalah obat untuk mencegah kau hamil, kita sering melakukannya tanpa pengaman." Ucapan Viktor membuat Quenna merasakan dadanya bak tertusuk belati.


Betapa rendah dan hinanya dirinya. Ia menghapus air matanya dengan pelan dan berusaha tegar dengan berbekal satu senyuman.


Quenna melirik Viktor tidak percaya. Orang yang merenggut segalanya darinya adalah pria di depannya ini, abangnya sendiri. Benar-benar tak disangka.


"Aku tidak bisa membayangkan jika dia benar-benar ada. Aku tak sanggup melihat rupanya yang tersiksa. Kau memang bajingan Viktor, kau memperkosa adik mu sendiri, apakah kau sadar bagaimana perasaan ku?!!" marah Quenna dan menyerang Viktor dengan brutal.


Viktor menangkap tangan Quenna dan menguncinya. Quenna yang terisak berusaha melepaskan diri tapi sudah terlambat.


"Quenna jangan biarkan aku melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Tidurlah jika kau tidak ingin aku melakukannya pada mu."


Viktor melepaskan Quenna dan meletakkannya di kasur. Viktor membersihkan tubuh Quenna terlebih dahulu dan menarik selimut sebatas dada. Ia mengecup dahi Quenna.


_________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2