Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 52


__ADS_3

Aura mencekam begitu menguasai ruangan tersebut. Bahkan mereka yang sangat ketakutan di sana dengan tangan yang dirantai tidak bisa menghembuskan napas dengan tenang.


Kematian terbayang-bayang di dalam otak mereka. Hanya menunggu ajal dan jika ada kesempatan kabur maka itu merupakan anugerah terbesar yang dilimpahkan Tuhan.


Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angan dan diterpa angin dan hilang begitu saja. Hanya ada peluang beberapa persen yang bisa menjamin mereka lepas.


Intimidasi dari wajah laki-laki yang duduk di kursi kebesaran dan memilki aura yang sangat kuat dari antara lainnya membuat mereka mendapatkan rasa trauma. Tatapan matanya begitu tajam dan wajahnya bereksperesi sangat licik di balik topeng yang ia kenakan.


Tiada satupun yang bisa membantah karena pada dasarnya mulut mereka ditutup dengan rapat bahkan jika sukar membuat mereka bungkam maka akan dijahit mulut tersebut.


Kejam memang tapi itulah kebenaran. Laki-laki itu tidak betul-betul berubah. Hanya kepada satu wanita saja yang bisa mengendalikan dirinya. Tapi ia tetaplah ia yang sangat kejam.


Bahkan dirinya telah menyiapkan singgasana yang paling menyeramkan untuk orang yang hendak membunuhnya di Inggris ini.


Tapi, semua itu tergantikan. Ia pun membuang niatnya jauh-jauh dan mengganti tempat itu menjadi bak surga yang sangat indah saat tahu pembunuhnya adalah orang yang menempati hatinya.


Viktor tersenyum licik. Ia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah menatap orang yang terantai di lantai.


Rantai yang mengikat tangan serta kaki tahannya sangatlah kuat. Jika ia bergerak sedikit saja, maka rantai itu akan mencengkram dengan sangat erat tanpa ampunan. Hanya jeritan yang saling bersahutan yang bisa mereka lakukan.


Tawa gelak memenuhi ruangan tersebut. Ia memiliki markas di mana-mana dan bahkan di setiap negara ia memiliki jaringannya.


Orang yang tengah pasrah tak berdaya di depannya ini merupakan orang yang tadi siang berani melawan dirinya. Bahkan orang yang ia cintai sampai membelanya.


Mengingat-ingat itu lagi malah keinginan membunuh Viktor semakin meningkat. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan penuh wibawa menghampiri pria yang tak lain adalah Andreas.


"Seingat ku kau sangat berani tadi siang, bahkan berpikir untuk membunuh ku. Benar begitu tuan Andreas?" tanya Viktor serta tertawa.


Ia menampar kepala Andreas yang tak sanggup lagi untuk mendongak. Tapi, Andreas berusaha dengan penuh tenaga mengangkat kepalanya.


Dia tak ingin mati di bawah kepasrahannya kepada Viktor. Ia adalah seorang pria yang sudah dilatih untuk pantang menyerah.


"Ka.... Ka..Kau..IBLIS!!" teriak Andreas sangat marah.


"Hahahaha!!" Viktor sangat gelak menertawakan ketidak berdayaan Andreas.


Itu menjadi hiburan malam ini yang akan mengiringi malamnya. Suara jeritan sang korban menjadi kepuasan bagi Viktor.


"Le....lep.. lepaskan aku. Ba-baj... Akhh!!"


Viktor memukul kepada Andreas dengan palu yang ada di dekatnya. Suara jeritan pun tak terelakan lagi. Darah mengucur dari tempat itu.


"Kau telah lancang membuat Quenna membela mu! Kau bahkan menyentuh tangannya, aku akan membalas hal itu dengan cara ini. Jangan salahkan jika aku membunuh mu, itu semua karena kesalahan mu sendiri menyentuh kepunyaan ku tanpa seizin ku!" Meskipun tak mengerti siapa yang telah dimaksud Viktor. Ia tak tahu siapa Quenna, namun itu bukanlah hal penting yang harus dipikirkannya.


Andreas tak mampu berbicara lagi meskipun ia sangat ingin. Begitu banyak kenangan yang terpatri di dalam memorinya. Ia mengingat-ingat kedekatannya dengan Quenna bertahun-tahun ini sebelum ia akan meninggalkan dunia untuk selamanya.


Air mata tanpa sadar keluar dari sumbernya sangat deras. Perpisahan memang sangat menyakitkan. Andreas sangat tidak rela bahwa ia akan meninggalkan Quenna di dunia ini. Ia tersenyum sangat lirih saat memori yang merupakan harapannya memutar sangat indah.


Ia bercita-cita ingin menikahi Quenna dan berangan-angan bersama Quenna akan mengelilingi dunia. Tapi, semuanya tidak satupun dari harapannya terwujud.


Tak ada ia inginkan di dunia ini selain Quenna. Bahkan ia tak punya satupun keluarga, ia hanya memiliki Quenna yang selalu ada bersamanya.


"Maafkan aku, maafkan aku!! Aku meninggalkan mu sendirian di dunia ini. Aku sangat ingin mewujudkan keinginan ku!"


Air mata senantiasa selalu mengucur. Harapan semu yang akan menjadi debu berterbangan.


Plakkk


Kali ini kepalanya ditampar sangat keras hingga pening rasanya. Andreas menangis di dalam hati. Kekhawatirannya hanya satu, yaitu Quenna.


"Akh!!!!"


"Hahahaha!!" Nikmatilah masa-masa mu sebelum ajal akan membawa mu ke neraka!!"


Viktor mengacungkan senjata api di tangannya dan menarik pelatuk dari senjata itu. Peluru keluar dan sebentar lagi akan menghujami tubuh Andreas.


Pria itu sangat kuat menekan matanya. Hanya satu yang ia ingat yaitu Quenna.


"Charlotte aku mencintaimu!"


Dor


Andreas memuntahkan darah sangat banyak. Tubuhnya bergerak seperti tersentrum akibat peluru tak biasa tersebut. Kepalanya pun perlahan lunglai ke samping dan pria itu mati dalam keadaan membuka mata.

__ADS_1


Di mata tersebut tampak Quenna yang tengah tersenyum. Hal itulah yang membuat Andreas mati dengan tenang. Jika Viktor mengetahuinya, maka laki-laki tersebut tidak akan membiarkan hanya satu peluru yang akan menembus Andreas.


"Tidak boleh ada yang menyentuh milik ku!" Viktor menatap bengis mayat Andreas.


Ia keluar dari ruangan penuh hawa pembunuhan tersebut. Menurutnya Andreas pantas mati karena Andreas bukan orang baik, ia adalah pembunuh bayaran.


____________


Quenna menangis di ujung jendela. Ia masih kepikiran tentang sikap Viktor yang sangat dingin padanya setelah siang tadi. Laki-laki tersebut berbeda dengan hari-hari biasanya.


Perempuan itu menghapus sudut matanya yang berair dan menatap sang anak yang telah terlelap.


Quenna dapat sedikit tenang. Ia tak ingin Carol melihat kelemahannya. Wanita itu keluar dari kamar.


Perasaannya entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi tak tenang. Seolah-olah sesuatu telah terjadi.


Ia pun berusaha menganggap itu hanyalah persangka belaka miliknya.


"Quenna tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa!"


Quenna pun memutuskan berjalan menuju kamarnya. Tapi kepalanya dalam sesaat sangat sakit. Ia berjalan sempoyongan dan tak sengaja menjatuhkan guci di rumah itu hingga menggores jari telunjuknya.


"Akhh! Ada apa ini? Semoga bukan pertanda buruk," gumam Quenna melihat goresan di tangannya.


Tak lama setelah kejadian tersebut ia melihat Viktor yang baru saja datang. Quenna pun pergi dari ruangan tersebut karena tidak ingin satu ruangan dengan Viktor.


Namun, Viktor yang telah menyadari kehadiran Quenna lantas tersenyum miring. Ia menghampiri Quenna dan menarik tangan wanita itu.


"Kenapa kau tidak menyapa ku?"


Quenna menarik tangannya dan memandang penuh permusuhan. Ia meninggalkan Viktor begitu saja.


"QUENNA!! AKU BERTANYA PADA MU!!"


Quenna menoleh saat ia dibentak. Ia tak terima ucapan nada kasar laki-laki tersebut.


"KAKAK!!"


Plakkk


Viktor tak bisa mencegah tangannya lagi. Quenna memandang Viktor sangat tak menyangka. Baru siang tadi ia memuji Viktor yang bisa berubah tapi kini pria itu kembali menjadi pria bengis yang selalu menyakitinya.


"Berani-beraninya kau menampar ku!!" marah Quenna dan menyerang Viktor.


Perkelahian antara dua orang itupun berlangsung sengit. Quenna mendapatkan kesempatan menendang perut laki-laki tersebut.


Viktor pun terdorong beberapa meter ke belakang. Ia tak menyangka kemampuan Quenna cukup ahli. Ia melihat Quenna yang sangat membabi buta menyerangnya.


Ia pun menangkis serangan Quenna yang hendak menendang kepalanya. Viktor menarik tangan Quenna dan mengunci tangan wanita itu.


"Lepaskan aku!!"


Viktor tak menyia-nyiakan buruannya. Ia mendorong tubuh Quenna ke sofa dan menarik seluruh pakaian Quenna dengan sangat kasar.


Quenna yang mendapatkan pelecehan itu berusaha melawan. Tapi ia memang sudah kalah sejak awal. Viktor bak bintang buas yang sangat kehausan.


Ia mencium kasar bibir Quenna dan membuang semua pakaian wanita itu hingga tiada satupun yang menutupi tubuhnya.


"KAKAK LEPASKAN AKU!!"


Pria tersebut menjamah dengan kasar tubuh Quenna. Tidak memperdulikan Quenna yang menangis kencang.


Kala ia geram ia akan menampar pipi Quenna. Bahkan pria itu tak memiliki hati saat memperkosa Quenna hingga pingsan. Ia pun mendesah kuat kala melakukannya dengan tubuh Quenna yang tak memiliki kesadaran tersebut. Quenna sudah pingsan dua jam lalu, tapi laki-laki tersebut tak memberhentikan perbuatannya.


________


Rigel menegak arak dengan begitu santai menghabiskan beberapa botol minuman keras tersebut. Sama sekali ia tak mabuk hanya kerena minuman tersebut.


Laki-laki itu berdiri dari tempatnya dan berjalan menghampiri rekannya. Wanita penghibur berkumpul mengerumuni dirinya.


Mereka memamerkan tubuh indah yang dimiliki setiap wanita itu. Meskipun sangat menggiurkan tapi tak akan bisa menggoda Rigel.


Walaupun ia sangat terkenal dengan cap laki-laki pemain wanita, tapi semuanya dapat dipatahkan ketika sosok bernama Quenna masuk ke dalam kehidupannya.

__ADS_1


Wanita itu merubah segalanya. Ia tak menyalahkan Quenna saat sosok dirinya yang dahulu semakin lenyap. Rigel menarik napas sangat dalam lalu menolak halus mereka yang mengajaknya untuk bersenang-senang.


"Cantik, maafkan aku, aku sedang tidak ingin bermain. Maka jangan salahkan aku akan membunuh mu nanti!" lirih Rigel dan tersenyum miring.


Anak buahnya menatap penuh arti kepada Rigel. Rigel pun membalasnya malas tapi itu mudah saja bagi bawahannya untuk mengerti. Itu tandanya Rigel memberikan lampu hijau untuk mereka akan membawa ke kamar wanita-wanita itu.


Semuanya begitu asik dengan mainan mereka. Mereka baru saja merayakan kemenangan yang telah berhasil menaklukkan pesaing mereka.


Tinggallah sang asisten yang selalu siaga bersama Rigel. Rigel menatap asistennya itu seakan-akan bertanya apakah tidak ada kabar yang telah dibawa oleh pria itu.


"Bagiamana dengannya!"


Sang asisten pun berubah menjadi sangat serius. Kali ini Rigel berpikir seakan ada sesuatu yang baru mengenai informasi Quenna dari sebelum-sebelumnya.


Pria itu lantas menatap sang asisten dengan sebuah senyuman. Apa pun berita yang akan dibawakan oleh asistennya baik buruk maupun tidak ia akan tetap senang karena adanya perubahan informasi.


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada mu Tuan."


"Apakah ini mengenai nona Quenna?" Asisten itu menarik napas panjang lalu mengangguk mengiyakan tebakan Rigel.


Rigel pun bersemangat akan mendengarkan informasi itu. Ia menggeretak agar asistennya itu tak lelet menyampaikan informasi tersebut.


"Katakanlah dengan cepat apa yang sebenarnya terjadi?"


Asisten itu mengeluarkan beberapa berkas yang berisi data-data penting dan menyerahkannya kepada Rigel.


Rigel pun menyambut berkas itu lalu membuka lembar per lembar kertas tersebut. Ia sangat terkejut dan tidak menyangka.


"Apa maksudmu?!"


"Saya belum bisa menyimpulkannya karena kurangnya bukti. Mereka mendapatkan informasi mengenai nona Quenna dan pebisnis gelap. Saya yang awalnya berniat ingin mencarikan pembunuh bayaran untuk Tuan dan malah mendapatkan informasi mengenai nona Quenna. Mereka mengatakan itu adalah Charlotte," jelas sang asisten.


Rigel tampak tengah berpikir keras. Ia memikirkan ucapan yang dilontarkan asistennya. Sangat tidak meyakinkan jika Quenna ikut serta dalam pembunuh bayaran.


Sebenarnya sudah sangat lama Rigel mendengar nama Charlotte. Tapi tak pernah disangka olehnya jika sosok bernama Charlotte itu adalah Quenna.


Tapi, bisa saja itu memang Charlotte dan bukan Quenna. Tetapi hanya ada kemiripan saja di antara kedua wanita ini.


Rigel tak tahu harus memilih yang mana. Ia bingung, di satu sisi ia sangat senang bila itu benar Quenna. Namun sisi lainnya ia berharap besar itu bukanlah Quenna.


Ia tak bisa berkata-kata. Pria itu hanyut sangat dalam kepada pikirannya.


Begitu banyak hal yang harus ia urus. Namun kali ini menurutnya lebih penting. Quenna adalah prioritasnya.


"Katakan di mana wanita itu?"


"Charlotte ada di Inggris. Dan terdengar kabar bahwa Viktor juga sedang ada di sana. Viktor sempat dimasukkan ke dalam rencana korban mereka. Katanya Charlotte yang mengerjakan tugas itu, namun gagal."


Rigel langsung menatap asistennya. Ia menggenggam tangannya sangat kencang. Jika begitu ia sudah terlambat satu langkah dari Viktor.


"Tidak akan lu biarkan dia mendapatkan Quenna terlebih dahulu!"


Rigel penuh emosi keluar dari Club tersebut. Asistennya mengejar Rigel dan menenangkan tuannya itu.


"Tuan tenanglah, kita bisa menyusun rencana."


"Aku berpikir jika Viktor sudah bertemu dengan Charlotte!"


"Tapi Charlotte belum tentu adalah nona Quenna. Kau santai sedikitlah."


"Maka dari itu tugas mu adalah menyelidikinya untuk ku! Aku ingin mendapatkan kabar baik secepatnya!"


"Baik Tuan," ujar asisten itu dan menerima titah yang diputuskan Rigel.


Rigel memejamkan matanya. Ia kembali membuka kelopak itu dan menatap keindahan malam yang sangat kelam.


"Jika benar itu kau Charlotte, maka aku benar-benar tidak menyangka dengan dirimu. Ke apa kau bisa melakukan hal tak terpuji itu. Kau adalah wanita suci, pekerjaan itu tak pantas dengan dirimu!"


_________


Tbc


BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SAAT TELAH SELESAI MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2