Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 43


__ADS_3

Seorang wanita duduk di tengah ruangan. Telunjuknya yang lembut mengetuk-ngetuk wajahnya. Hal itu ia lakukan seolah-olah ia sedang banyak pikiran.


Bagaimana tidak, Quenna telah seharian menyusun strategi untuk membunuh orang tersebut. Apalagi orang itu sudah menyadari ada jebakan di Inggris yang akan membunuhnya.


Quenna akui laki-laki tersebut memang tidak biasa. Tampangnya lebih rupawan dari yang ada di Foto. Tapi sebentar, kenapa ia malah memikirkan wajah pria itu?


Quenna mengetuk kepalanya dan mengumpati bodoh kepada diri sendiri. Kenapa ia bisa berpikiran hal semacam itu? Apa ia sudah gila seperti mereka yang memuja-muja targetnya bak Dewa.


"Tapi aku belum mengetahui nama target ku siapa," pikir Quenna yang juga baru sadar bahwa tak mengetahui siapa targetnya.


Ia menghembuskan napas lelah lalu memegang kepalanya. Perempuan itu memejamkan mata dan berusaha mencari akal, barang kali ini sedikit membantu.


Ia menggelengkan kepala sembari menepuk-nepuk pipinya agar sadar bahwa ia tak boleh terlalu larut dalam memikirkan hal ini.


"Ibu, kenapa kau sedari tadi duduk di sini?" tanya Carol sambil membawakan makanan untuk Quenna.


Quenna yang sudah sangat lelah merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh anaknya. Ia menyuap makanan tersebut ke mulutnya dan berdecak kagum dengan cita rasa makanan tersebut.


"Kau yang memasaknya?"


"Apa Ibu menyukainya?" tanya Carol dengan wajah melirih.


Ia takut sang ibu tak menyukai masakan yang ia buat. Perempuan tersebut menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menyengir berharap hal itu dapat mengurangi kemarahan sang ibu.


"Kenapa wajah mu seperti itu? Kau tenang saja aku sangat menyukainya!" puji Quenna yang membuat Caroline bersemangat mendengarnya.


Ia tak berhenti tersenyum dan memeluk sang ibu. Ia sangat menyayangi wanita yang tengah bersamanya ini. Caroline menganggap Quenna adalah satu-satunya orang yang akan dicintainya.


Tapi, tetap saja Carol tidak akan merasa puas dengan kebahagiaan ini. Wajahnya murung memikirkan jika ia tak memiliki keluarga lengkap. Carol sangat berharap jika ada juga sosok ayah di tengah-tengah mereka.


"Ibu kau tidak pernah menunjukkan ayah untuk ku, kau bahkan tak pernah menceritakannya kepadaku, aku sangat ingin tahu tentang ayah Ibu." Spontan Quenna melepaskan dekapannya terhadap tubuh Caroline.


Ia menatap sang anak dengan wajah sangat terkejut. Quenna membuang muka berusaha mencari alasan lain yang tak basi untuk menanggapi ucapan sang anak.


"Maafkan aku!!"


"Ayolah Ibu ceritakan sekarang bagaimana ayah ku!" Permohonan dari anak tunggal seperti Caroline tak dapat dielak oleh Quenna.


Ia pasrah dengan keadaan sembari berusaha tenang. Ia akan menceritakan sebagian tentang Viktor kepada Caroline.


"Dia adalah sosok yang dingin tak terduga. Terkadang ia akan bersikap kasar dan terkadang ia akan baik kepada ku! Aku bingung dengan sifat ayah mu! Dia adalah pria yang tampan (meski aku tak tahu wajahnya) dan sangat beribawa!" jelas sang Quenna mengenai sosok Viktor di matanya.


"Apakah ayah sangat buruk untuk mu?" Quenna terdiam, ia tak mungkin mengatakan sejujurnya tentang Viktor kepada anaknya.


Terpaksa Quenna harus berbohong kepada Carol. Batinnya beberapa kali memohon ampun karena telah berdusta.


"Tidak. Dia sangat baik Kepadaku!" Dalam hati Quenna seakan tidak rela mengatakannya.


Diam-diam ia menangis tanpa suara dan ekspresi. Hati Quenna sangat sakit mengingat Viktor kembali.


Namun ada yang salah sebagian hatinya sangat senang menceritakan diri Viktor. Mengingatnya sedikit membuat ia tersenyum.


"Aku tidak tahu bagaimana kabar mu, aku hanya berharap kau akan aman, aku tahu banyak yang menginginkan nyawa mu, meskipun aku membencimu teruslah hidup sebelum aku yang akan mencabut nyawa mu sendiri," lirih Quenna dalam hati. Ia tak ingin orang lain mengganggu Viktor, ia ingin dirinya sendiri yang akan menghabisi pria tersebut untuk membalas dendam, mungkin ia akan memikirkan cara baik ke Amerika dan membalas dendam. "Maafkan aku!"


"Ibu aku menemukan senjata api di kamar mu, itu milik siapa?" tanya Caroline yang lagi-lagi membuat Quenna membeku.


Ia menggeleng cepat dan memohon agar Caroline mengabaikan penemuannya. Ia tak ingin rahasianya terbongkar.

__ADS_1


"Aku diberikan oleh seseorang untuk berjaga-jaga!"


Quenna tersenyum meyakinkan Carol. Gadis itu mengangguk dengan lemah. Ia berjalan gontai ke kamarnya.


"Selamat malam Ibu!"


"Ya!" Quenna menatap punggung kecil sang anak. Tidak menyangka hasil dari Viktor akan sebesar ini.


____________


Tiba pada malam yang ditunggu-tunggu. Acara penyambutan oleh Albert di sebuah hotel mewah di Inggris.


Viktor turut menghadiri acara tersebut, secara ialah tokoh utamanya. Meski tahu pasti ada jebakan, namun Viktor ingin melihat kehebatan orang itu.


"Menikmati pesta sambil bermain-main, bukan kah itu sensasi yang sangat luar biasa?" tanya Viktor terhadap Prima yang mengikutinya di belakang.


"Kau benar Tuan."


"Di mana acaranya?" tanya Viktor dan tak lama ada orang yang menuntun dirinya menuju tempat pesta.


Viktor tersenyum melihat kemegahan acara itu. Mungkin Albert berpikir bahwa ia akan melakukan yang terbaik di malam kematian dirinya, pertanyaannya malam kematian Albert atau ia?


Viktor mendecih geli sambil melangkah memasuki acara tersebut. Oleh panitia ia disarankan memasang topeng sebelum masuk ke dalam acara. Bedanya kali ini topeng yang dipilih Viktor adalah menutupi seluruh wajahnya.


Ia dapat dikenali hanya dengan pakaiannya. Pria tersebut pun melangkah masuk ke dalam acara itu. Melihat pesta mereka yang sangat heboh dengan minuman dan narkoba yang menemani mereka.


Viktor melihat Albert yang menghampiri dirinya. Ia menatap tajam pria tersebut sambil melipat tangan di dada.


"Aku yakin ini benar kau, Viktor?"


"Ya, kau memang tak salah menebak Tuan!" puji pria tersebut sambil bertepuk tangan kecil.


Tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu pesta miras. Para undangan pun menggila dan bahkan melakukan hal tak sewajarnya di tempat umum.


Viktor menarik napas dan bosan dengan acara ini. Ia membuka topengnya mengabaikan peraturan di pesta ini.


"Ambilkan aku wine lima botol!"


Prima mengangguk dan mengambilkan beberapa botol arak untuk Viktor.


Pria itu pun meminum habis wine tersebut. Tapi, ia berpura-pura mabuk dan menunggu jebakan itu. Ia tidak bodoh dan tak melupakan hal itu.


Viktor melirik wajah Albert yang tersenyum miring melihat keadaannya. Nyatanya ia hanya bersandiwara saja.


Benar dugaan Viktor, seorang wanita cantik mengenakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya mendekat pada dirinya.


Ia duduk di samping Viktor sambil memberikan godaan untuknya. Viktor berpikir bahwa wanita ini belum mahir dalam menggoda pria.


Tapi ada usapan yang terasa aneh di tubuhnya. Tangannya sangat lembut membuat Viktor terpana dengan sosok ini.


Ia membiarkan wanita itu menggoda tubuhnya. Ia sangat penasaran kepada wanita yang dikirim Albert untuk mencabut nyawanya.


Sangat manis, dan baru kali ini Viktor sangat terpana dengan seorang wanita selain adiknya.


"Siapa nama mu Nona?"


Tampak wanita tersebut tersenyum miring. Ia berbisik dengan sensual di telinga Viktor.

__ADS_1


"Nama ku Charlotte Tuan!"


Deg


Viktor terkejut mendengar suara itu. Ia menatap wanita bernama Charlotte tersebut. Suara yang mengalun lembut itu mengingatkannya dengan seseorang.


Viktor mengsergap tubuh wanita tersebut dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Tidak mungkin, meskipun memang ada kemiripan dari bentuk wajah mereka.


"Kau ingin bermain dengan ku Nona?" tantang Viktor sambil menerbitkan senyum mendamba terhadap Quenna.


Quenna berbinar dan mengangguk. Ia memeluk tubuh Viktor dan menjilati berbagai bagian tubuh pria itu.


"Aku ingin selalu bersama mu Tuan!"


"Bagaimana jika kita mencari kamar!"


Quenna tak menyangka jika ini terjadi sangat cepat. Tapi tak apa lebih cepat lebih bagus. Ia ingin menyelesaikan misi tersebut dengan baik malam ini membuat Albert senang dan akan memberikan lebih kepadanya.


Merea pun masuk ke dalam salah satu kamar yang dituntun Quenna. Sementara Albert menyeringai melihat Viktor sudah mulai masuk perangkap.


Pria tersebut pun direbahkan Quenna di atas kasur. Ia berada di atas pria itu dan menggodanya sangat sensual. Quenna terpaksa melakukan cara ini, ini adalah perdananya melakukan hal menjijikkan kepada korbannya.


Mereka pun mulai saling ingin melepaskan. Viktor ingin membuka baju Quenna dan sebelum benar-benar ia bertelanjang bulat, Quenna pun mengeluarkan pistol kecil diam-diam dan ingin menembakkan ke arah Viktor.


Viktor bergerak cepat menyergap tangan Quenna. Ia memilasnya dan membuang senjata tersebut.


"Nona Charlotte, Anda sangat nakal!" ujar Viktor tersenyum datar.


Quenna tiba-tiba merasa gugup. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Ia tak menyangka korbannya kali ini dapat mematahkan perangkapnya.


Quenna bergerak mundur takut sang korban yang maju mendekatinya. Ia berusaha menangkis tangan Viktor.


"Menjauh!!"


"Kenapa kau tiba-tiba takut Nona, bukankah kau yang telah menggoda ku?"


Quenna membuang muka dan sedang memikirkan cara untuk kabur dari tempat ini, jangan sampai malam ini dirinya yang akan menjadi korban.


Viktor meraih tangannya dan dengan cepat menarik topeng yang dikenakan Quenna. Mata Viktor membulat lebar saking tak percaya melihat wanita itu di depannya.


Ia menjatuhkan topeng tersebut dan tatapannya antara senang dan kecewa.


"Quenna!"


Kali ini perempuan itu yang diberikan kejutan. Ia tercengang melihat korban itu mengetahui namanya.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa tahu siapa aku?"


Viktor mengambil topeng milik Quenna dan mengenakan di wajahnya. Quenna tak bisa bersuara sambil menutup mulut tak percaya. Ia menggeleng kuat ketika melihat ada sosok yang sangat ia kenali.


"Kakak!"


___________


Tbc


Hay teman-teman aku memiliki rekomendasi novel baru nih buat kalian. Jangan lupa buat masukin ke Favorit ya.

__ADS_1



__ADS_2