
"Aghkkkk!!" amuk Viktor sembari menendang kesal tembok yang tak bersalah. Tangannya mencengkram erat dan kilatan amarah menyelimuti pria itu. Wajah mengerikan yang ditunjukkan Viktor membuat anak buahnya tak berani membantah apalagi berkata sepatah kata pun.
Viktor menelan ludahnya kasar tak menyangka jika sang adik telah melampaui batas tanpa sepengetahuannya. Pria itu mendesah panjang dan berlari mengejar Quenna.
Entah bersembunyi di mana wanita itu, intinya ia harus menemukan dan memberikan pelajaran kepada Quenna agar wanita itu tahu konsekuensinya jika menentangnya.
Sudah banyak hukuman yang diterima Quenna tetapi wanita itu sama sekali tidak jera dan tetap mengulangi kesalahan yang sama, seakan membangkang menjadi candunya.
Ia tidak mengerti kenapa Quenna bisa membangkang kepadanya padahal Viktor sendiri yang membesarkan wanita tersebut. Bahkan ia menunjukkan yang terbaik dan melimpahkan linangan harta yang tak terhitung jumlahnya untuk adiknya.
Mungkin dipikir Viktor dengan hanya memberikan harta dan barang mewah bisa membuat Quenna bahagia, tanpa ia ketahui dan sadari jika wanitanya, adiknya itu lebih tertarik dengan dunia pendidikan, dan kesetaraan gender.
Pemikiran adiknya sama dengan yang dimiliki oleh wanita karir pada umumnya. Ia bukan wanita bisa tapi ia adalah wanita cerdas. Pantang menyerah sebelum mencapai tujuannya.
Tidak ada yang bisa menghentikannya meski badai terus menerjangnya. Ia akan bangkit dan tetap melakukan hal yang serupa meski air mata taruhannya.
Ia memang sering menangis, tapi bukan berarti ia lemah. Ia menangis karena kesal dengan kegagalannya.
"Wanita itu memang kurang ajar, kau akan tahu kehidupan seperti apa yang akan kau terima setelah ini," ancam Viktor dengan napas berderu.
Ia memasuki ruangan perpustakaan, ia tahu Quenna sering bersembunyi di tempat itu. Bahkan wanita itu sama sekali tidak mengetahui jika Viktor sudah menemukan tempat rahasianya.
Tidak mudah memang menemukan Quenna, tapi itu dijadikan tantangan untuk menaklukan wanita tersebut.
Viktor berjalan mengendap-endap dan mendekati tempat itu. Ia menghela napas karena benar dugaannya. Quenna belum sadar dengan kehadirannya.
Ia masih menyembunyikan diri di sana dengan keadaan takut. Tubuhnya bergetar karena khawatir Viktor akan menemukannya.
"Buat apa kau terus bersembunyi? Kau pikir aku tak bisa menemukan mu?" tawa Viktor mengejek dan meraih tangan wanita itu.
Ia mengangkat tubuh Quenna yang masih dalam keadaan syok. Wanita itu hendak berjalan mundur tapi punggungnya malah menyentuh tembok.
Ia hendak kabur tapi dikunci oleh Viktor dengan kedua tangannya hingga Quenna tak bisa berkutik lagi.
Ia menelan ludahnya kasar dan mencengkam bajunya kuat.
__ADS_1
"Kak maafkan aku, aku tidak beraniat menguping dan pergi ke ke tempat itu," lirih Quenna yang tentunya pembohong handal seraya bersimpuh di kaki Viktor.
Ia memeluk kaki pria tersebut bak tak memiliki harga diri. Menyakitkan memang karena ia harus menurunkan martabatnya di depan pria yang jelas-jelas adalah musuhnya.
Ia berusaha menahan malu dan melakukan kebohongan dengan hebat. Tapi nyatanya meski hampir sempurna ia lakukan jika itu Viktor dia tetap akan mengetahui kebenarannya.
Quenna akui ia sudah letih untuk mencari cara menaklukkan Viktor. Pria itu lebih jauh di atasnya, dan kecerdasannya juga tak bisa ia tandingi.
"Tak sengaja kata mu?" sinis Viktor dnegan decakan marah.
Ia mendekatkan wajahnya ke wanita itu. Quenna harus mati-matian menahan dirinya. Ia memejamkan matanya melihat Viktor semakin mendekatkan wajahnya.
Plakkk
Bukan ciuman lembut yang didapatnya melainkan tamparan keras hingga bibirnya mengeluarkan darah. Quenna memang tak bisa berharap lebih dengan laki-laki di depannya ini. Tapi ini jauh lebih baik ketimbang dicium kakak sendiri.
Quenna memejamkan matanya bersamaan dengan jatuhnya air bening tanda lemahnya ia. Wanita itu tersenyum masam dan mengangkat tangannya berencana ingin membalas perbuatan kakaknya.
Quenna baru saja ingin mengangkat tangannya tapi harus dicekal oleh pria tersebut sembari mengintimidasi dirinya.
"Akhhh!!! Kakak sakit," isak Quenna sambil berusaha menarik tangannya.
"Kau memang harus lebih ku beri pelajaran!!"
Viktor menggendong tubuh Quenna menuju kamar mereka. Quenna memukuli tubuh Viktor, karena sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh kakaknya. Lagi-lagi ia harus menambah dosa hari ini.
"Kak!! Aku tahu aku salah, tapi aku juga harus menolong mereka yang menjadi korban Kakak!!"
"DIAM QUENNA! KAU TIDAK BERHAK MENCAMPURI URUSAN KU!!" gretak Viktor memecahkan keheningan rumah besar ini.
"KAK LEPASKAN AKU!!!"
"DIAM! ATAU AKU AKAN MELAKUKANNYA DI DEPAN ANAK BUAH KU, HAH?" Quenna seketika terdiam dan mencengkam dada lelaki itu kuat. Ia harus menyimpan perasaan takutnya dan harus mengalah untuk kesekian kali. "Anak pintar!"
___________
__ADS_1
Rigel menatap orangnya yang memasuki penjara bawah tanah diam-diam. Pria itu adalah mata-mata Rigel di rumah Viktor.
Siapa sangka orang sehebat Viktor bisa dikelabui oleh orang seperti Rigel. Ah iya, asalkan kalian tahu Rigel juga bukan sembarang orang.
Dia adalah musuh nyata Viktor yang harus disingkirkan pria itu secepatnya. Tapi namanya Rigel, sudah pasti ia juga sama hebatnya. Meski ia tertangkap dipenjarakan oleh Viktor tak membuatnya kalah.
Ia malah memiliki kesempatan yang banyak untuk mencari kelemahan Viktor di rumah ini. Ia tak menganggap hal ini adalah kesialan melainkan kesempatan yang tak diduga-duga.
"Bagaimana?" tanya Rigel pada orang itu yang akan membawakannya berita.
Pria tersebut menunjukkan beberapa video dan bukti-bukti gambar. Tanpa berbicara dari mulutnya sendiri untuk menjelaskan ke Rigel, pria itu dapat memahaminya.
Ia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. Melihat wanita bodoh yang selalu datang dan menyapanya setiap hari harus diperlakukan buruk oleh Viktor membuat emosinya menaik.
"Kau Viktor!!" Rigel menatap orang tadi, dan memberikan perintah barunya, "kau awasi wanita itu, dan berikan seluruh informasinya kepada ku. Aku membutuhkannya. Ah iya, aku akan menyusun strategi baru dan juga akan membawa wanita itu keluar dari sini. Kenzo! Menurut mu kenapa wanita itu bisa berada di sini?"
Kenzo menunduk dan memberikan pendapatnya, "saya rasa ia juga dikurung dan tidak bisa keluar lagi dari rumah ini."
"Ah, pelayan itu. Aku berjanji akan membawa mu keluar dan membebaskan kau dari pria itu. Kita lihat bagaimana reaksi Viktor mengetahui pelayan kesayangannya diculik musuhnya. Pasti akan menyenangkan." Rigel terkikik membayangkan ekspresi Viktor nanti.
Ya selama ini faktanya Rigel tak tahu jika Quenna adalah adiknya Viktor. Sangkaannya masih sama jika Quenna merupakan seorang pelayan di rumah ini.
Bahkan asistennya sendiri sukar mengulik informasi mengenai Quenna. Viktor begitu hati-hati mengenai tentang Quenna. Bahkan orang di rumah ini hanya sedikit yang tahu jika Quenna adalah adiknya.
Mereka yang tahu adalah pekerja yang dekat dengannya.
"Kau pergilah Kenzo sebelum diketahui pihak Viktor. Lakukan hati-hati dan jangan sampai merusak rencana ku," ancam Rigel kepada asistennya tersebut.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan. Mungkin disangka Viktor ia mulai menyerah dan mengakui kehebatan laki-laki tersebut.
Biarkan Viktor memiliki pemikiran itu selamanya. Malah itu lebih baik dan bagus untuk tujuannya.
"Kau juga ternyata pria bodoh," umpat Rigel dengan penuh sinis.
_______
__ADS_1
Tbc