Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
108 {Bonus Chapter}


__ADS_3

"Carol!"


"Hadir!"


"Venus!"


"Hadir!"


"Markerius!"


"Hadir!"


"Gilbert!"


"Hadir!"


"Camalia!"


"Hadir!"


Viktor tersenyum setelah mengabsen satu-satu nama putra dan putrinya. Ia memperhatikan wajah-wajah anaknya yang telah berkumpul di ruang makan.


Quenna tersenyum lebar sambil menggendong anak mereka yang masih berada di dalam gendongan. Quenza masih sangat kecil dan merupakan anak terakhir Quenna sebelum akhirnya memutuskan untuk KB. Quenza Mackenzie Aganta nama anak bungsu Quenna dan Viktor.


Hanya anak itu yang benar-benar mirip dengan Quenna mulai dari wajah dan juga sifatnya. Quenna sangat senang dengan keluarga barunya. Ia banyak menerima kasih sayang dari anak-anak dan juga suaminya.


Quenna benar-benar dijadikan ratu oleh keluarga itu. Semua hal Quenna yang mengendalikan di dalam keluarga ini meski Viktor yang merupakan kepala keluarga.


Viktor menyerahkan semuanya jika urusan rumah kepada sang istri. Ia juga sudah sangat tua dan Carol sudah berumur 18 tahun dan ingin kuliah di Korea Selatan.


Karena anak itu sempat tumbuh di negara tersebut dan ia merindukan suasana Korea yang penuh dengan kenangan. Teman-temannya juga banyak di sana dan karena itulah ia ingin berkuliah di sana.


Viktor berat hati melepaskan anak perempuannya itu. Namun tak ada pilihan lain selain itu juga keinginan Quenna.


Mereka tengah menikmati kumpul keluarga yang benar-benar ribut dengan suara anak-anak yang berteriak kencang.


"Sayang," panggil Viktor pada saat Quenna tengah menyusui Quenza.


"Apa?"


"Aku juga kepengen," lirik Viktor sambil memperhatikan anaknya yang kesenangan menyusu. Kini jatahnya semakin hari semakin berkurang dan Viktor sangat khawatir dengan itu.


Bagaimana mungkin hampir setiap tahun Quenna selalu melahirkan dan Viktor pastinya jarang mendapatkan jatah. Padahal Quenna terus menerus bunting juga karena dirinya. Quenna masih muda dan ia sangat cantik jadi masih sanggup untuk melahirkan berbeda dengan Viktor kepalanya sudah penuh dengan uban.


Ia tak ingin mencat rambutnya tersebut karena menurut Quenna Viktor sangat seksi dengan rambut putihnya.


Sebut saja Quenna penggila om-om. Dan ada perasaan tersendiri ketika berjalan di samping suaminya yang ubanan tersebut.


"Kamu apaan sih, sayang!" melas Quenna sambil menghindari bertatapan dengan suaminya yang sangat menyebalkan tersebut.

__ADS_1


Quenna amat membenci pria itu ketika telah mengeluarkan sifat seperti itu. Ia tahu sudah apa yang diinginkan oleh Viktor. Quenna sampai heran apakah hanya tentang ranjang saja yang ada di otak suaminya tersebut.


Hampir setiap malam ia mengeluh menginginkannya. Tentu saja Quenna tidak memberikannya begitu saja. Ia sangat lelah di siang hari mengurus anak-anaknya dan pada saat malam itu adalah waktunya untuk beristirahat. Tidak ada olahraga malam karena ia hanya ingin tidur.


"Sayang dikit aja boleh ya?" mohon Viktor dengan mengedipkan kedua matanya.


"Kau gila, di sini ada anak-anak Viktor." Jika Quenna sudah menyebut Viktor dengan namanya, itu artinya Quenna sudah benar-benar muak dengan suaminya.


Viktor membuang napas kasar. Pria itu juga mulai bersikap sewajarnya. Ia melirik anaknya yang bernama Gilbert. Anak itu sedang berusaha menyuapkan makanannya sendiri ke dalam mulut.


Melihat Gilbert yang makan dengan belepotan membuat Viktor berdecak dan mengusap mulut sang anak yang penuh dengan makanan tersebut.


Ia menatap Merkurius yang membiarkan adiknya makan dengan blepotan tersebut. Merkurius berginik ngeri melihat tatapan sang ayah yang benar-benar menakutkan.


Viktor memang sudah sekali marah maka tidak akan ada yang berani membantah laki-laki tersebut. Sifat kejamnya seakan telah melekat kepada dirinya dan sudah menjadi identitas seorang Viktor Alexander Aganta.


"Kenapa kau membiarkan Gilbert makan begini," serunya pada anak-anak nya yang lebih tua dari Gilbert.


Sementara Camalia anak itu lebih kalem dari kakak-kakaknya. Viktor bingung dari manakah sifat Camalia tersebut. Dia lebih menyukai kesendirian dan juga tak banyak bicara seperti kakak-kakaknya.


"Camalia, sudah makannya Nak?" tanya Quenna yang baru saja selesai memberikan asi pada adik Camalia.


"Sudah Bunda." Hanya Camalia yang memanggil Quenna dengan sebutan bunda. Yang lainnya adalah Ibu, begitu juga dengan Viktor hanya Camalia yang menyebutnya Ayah.


Viktor tersenyum dan mengambil piring Camalia yang sudah kosong dan diletakkan di samping tempat tumpukan piring kotor.


Anak itu menatap kakaknya dengan polos satu persatu. Carol dan kedua adik kembarnya tercengang dengan sifat Camalia yang sangat berbeda.


"Kenapa kita bisa mempunyai adik seperti dia?" heran Venus sambil melirik kembarannya.


"Aku tak tahu. Adik kita sangat lemah dan cengeng."


"Tidak asik dan tidak mau bermain dengan kita," sambung Venus sambil melirik aneh Camalia.


Camalia hanya menatap kedua kakaknya itu dengan mata bulat dan polos. Ia tersenyum pada dua kakaknya tersebut lalu hendak pergi dari ruang makan.


"Kalian ini apaan sih. Bagaimana jika Camalia mendengarnya?" marah Carol kepada dua adik nakalnya itu.


"Tidak peduli."


"Kakak Venus jahat," ucap Gilbert membuat mata Venus membulat dan ditertawakan oleh kembarannya Markerius.


"Hahha."


"Heh bocah kecil, apa yang kau katakan 'huh? Dasar adik laknat," umpat Venus menggeram marah.


Viktor yang mendengar perdebatan di atas meja memejamkan matanya. Napas penuh amarah dari pria itu terdengar memenuhi ruangan makan dan artinya semua anaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Apakah kalian tidak bisa diam?"

__ADS_1


"Maaf, Daddy," ucap Carol mewakili adik-adiknya.


Viktor menarik napas berat dan melihat putrinya yang sedang mengigit jari. Ia memeluk Camalia yang ketakutan mendengar suara lantangnya.


"Camalia tenanglah, kau akan aman," ucap Viktor sambil membelai punggung anak itu.


Anak itu mengangguk dan menghampiri sang ibunda ingin melihat adiknya Quenza."


"Bunda, dedek cantik." Camalia tertawa sambil menoel pipi Quenza.


"Iya sayang. Kan adiknya Camalia."


"Hihihi."


Suara bel dari arah luar membuat seluruh orang yang ada di ruang makan itu pun mengernyitkan kening.


"Biar aku saja yang keluar Daddy," ucap Carol seraya berjalan ke arah luar.


Sayangnya Celine hanya bisa melihat sampai cucu kedua dan ketiganya saja. Tak lama setelah Quenna melahirkan Venus dan Markerius Celine menutup usianya.


Pada saat itu Viktor benar-benar terpukul. Ia tak mau keluar kamar dan makan. Bahkan istrinya yang baru saja melahirkan dulu hanya didiamkan Viktor.


"Siapa yang datang?" tanya Quenna melihat Carol yang masuk sambil membawa rombongan.


Deg


Mata Viktor dan Quenna membulat. Mereka melirik dengan jeli orang-orang yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


Itu adalah Rigel dan Yohana serta juga ada Ana. Di tengah-tengah Rigel dan Yohana terdapat seorang anak laki-laki yang menatap mereka malu-malu.


"Kenapa kau membawanya masuk?" Suara dingin Viktor sangat menusuk.


"Kenapa memang? Paman hanya ingin bertemu kalian dan sekalian minta maaf."


"Maafkan aku Quenna, Viktor. Aku menyesal dengan perbuatan ku selama ini. Aku dan Yohana sudah menikah. Perkenalkan anak ku Max."


Quenna tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Wanita tersebut menarik napas panjang lalu menutup mulutnya.


"Kalian benar-benar sudah menikah?"


"Tentu saja," sahut Yohana.


"Aku sangat tidak percaya."


"Kau ini ada-ada saja. Anak mu banyak juga ya," sahut Rigel sambil tertawa melihat anak-anaknya Viktor.


"Karena yang membuatnya sangat hebat." Viktor menyombongkan diri dan setelah itu orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa berbeda dengan Quenna yang kesal dengan suaminya.


_________

__ADS_1


END


TERIMAKASIH YANG SUDAH MENGIKUTI NOVEL INI HINGGA TAMAT. TUNGGU NOVEL SAYA SELANJUTNYA YAH GAES!! LOVE YOU KALIAN SEMUA.


__ADS_2