
Carol memeluk paha sang ayah dengan erat melihat kebakaran yang melalap habis bangunan, untung saja dinding rumah sakit ini bahan materialnya dari bahan berkualitas tinggi hingga api susah menjalar.
Maka dari itu ada banyak peluang buat orang untuk lari dari gedung ini. Hal-hal semacam ini memang sudah diprediksi makanya mereka telah melakukan persiapan dan para pemadam diturunkan untuk memadamkan api.
Tapi ada yang aneh seakan tempat ini telah ditumpahkan minyak gas alam yang benar-benar murni hingga api begitu ganas dan sulit dipadamkan.
Viktor tersadar ada kejanggalan dari kasus tersebut. Seakan sudah ada yang merencanakan. Laki-laki tersebut menatap istrinya yang sangat ketakutan.
Ia tahu Quenna sangat trauma dengan api besar karena mengingatkannya dengan tragedi yang benar-benar memilukan yang menewaskan orangtuanya.
Quenna merasakan kepalanya pusing dan bayang-bayang ketika ia bersama dengan orangtuanya melintas dengan mulus. Ia berusaha menahan isak tangis dan menepis bayangan itu tapi api semakin menjalar ke depannya membuat Quenna semakin panik dan bisikan-bisikan dari orangtuanya terdengar jelas di gendang telinga Quenna.
Maria yang menangis dan Gibran yang menyenangkannya. Senyum kebahagiaan saat memiliki harapan untuk kabur namun hasilnya adalah kebohongan. Mungkin dulu ia selamat apakah mungkin saatnya ia akan pergi?
"Quenna," lirih Viktor melihat adiknya itu memegang kepala dan mendesis kesakitan. "Kau tak apa?"
Quenna melirik Viktor dengan wajah sendu. Terdapat jutaan rasa kekecewaan di bola matanya juga ada perasaan tidak rela terdapat di sana.
"Kakak," isak Quenna dan menyentuh wajah sang kakak.
Perasannya sangat sakit saat mengetahui kebenarannya. Sesuatu yang benar-benar diluar dugaan, ternyata pria ini bukanlah kakaknya. Padahal ia sangat menyayangi sang kakak akan tetapi rasa sayang itu berubah seiring waktu yang membuat dirinya dicap sebagai wanita munafik.
"Jangan takut, kita pasti keluar dari sini."
"Apakah kau sadar kapan terakhir kali kita berada di posisi seperti ini?" Viktor terdiam di tempat. Laki-laki itu teringat hal keji yang ia perbuat dan mirisnya ia tak merasa bersalah sama sekali.
"Aku tahu."
"Apa aku akan mati sekarang?" Viktor melotot dan memeluk Quenna dengan erat. Wanita ini berucap yang tidak-tidak membuat jantung Viktor mencelos.
"Quenna, yakinlah kita akan selamat." Viktor berusaha kuat dan menitikkan air matanya karena ia ragu-ragu dengan ucapannya.
"Larilah dahulu melalui tangga darurat itu! Aku akan ke atas menyelamatkan ibu ku." Quenna menggeleng dan tidak rela jika Viktor meninggalnya.
"Hiks, hiks, hiks, kau jahat. Apa kau tak menyayangi aku? Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa."
Viktor menarik napas panjang dan menatap Carol yang sangat ketakutan.
__ADS_1
"Aku sudah biasa di dalam situasi ini, dan aku juga yakin kau sudah biasa di dalam situasi ini. Kau bahkan pernah membakar stadion saat membunuh untuk menghilangkan jejak dan kau melawan rasa trauma mu. Selamatkan Carol terlebih dahulu, aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya." Quenna diam dengan wajah sedih membiarkan punggung Viktor menghilang dan asap menutupi pandangannya.
Viktor berlari ke lantai atas dan mendobrak pintu kamar Celine saat mendapati kunci otomatis rusak dan kunci cadangannya pun menghilang. Aneh, Viktor rasa ia tidak mengunci pintu ini karena ada Prima di dalam, tapi siapa yang telah mengunci pintu? Selain itu di ruangan ini penuh dengan asap beracun.
Tanpa disadari Viktor sniper mengarah kepadanya. Pria itu tak sadar dengan orang yang hendak mengincar nyawanya dan sudah hendak melepaskan tembakannya.
Dor
Untungnya seseorang sudah menembak lebih dulu pembunuh tersebut dan peluru menembus mata kanan orang itu, ia mati dengan menggenaskan.
Viktor terkejut dan melihat ada seseorang yang tergeletak dengan senjata api berbahaya di dunia. Yang membuatkannya terkejut lagi adalah seorang wanita menurunkan pistolnya dan mendekati jasad orang tersebut sembari menggeledah tubuhnya.
Ditemukan kunci manual ruangan itu serta ditemukan sebuah asap beracun bersama penawarnya. Quenna menawar obat itu terlebih dahulu kepada dirinya dan meminta Viktor juga mengenakan obat tersebut.
"Kenapa kau kembali lagi, hah?!! Kau tidak memikirkan dirimu? KAU LAGI HAMIL QUENNA!!" Quenna melirik Viktor dan tak ambil pusing dengan teriakan Viktor.
Wanita tersebut menyerahkan kunci kepada Viktor. Lelaki tersebut terpaksa meredam amarahnya dan lebih fokus menyelamatkan Celine.
"Kenapa kau tidak menuruti ucapan ku? Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu. Apa kau tidak memikirkan perasaan Carol jika orangtuanya kenapa-kenapa? Siapa yang akan menjaga Carol nanti?" Viktor berhasil membuka pintu ruangan tersebut.
Ia membelalak melihat Prima yang tergeletak. Lantas Viktor lekas menghampiri Prima dan menyelamatkan pria itu. Ia menggoncang tubuh laki-laki tersebut yang sudah keracunan dengan asap yang menggumpal.
"Sadarlah."
"Tu-tuan penyusup sudah berhasil masuk."
"Ya aku sudah tahu."
Dengan teratih-atih Prima bangun dan terbatuk-batuk. Sementara Celine seluruh tubuhnya sudah dilepaskan oleh Quenna dari selang-selang alat bantu kehidupan tersebut dan hanya bisa berdoa supaya Celine dapat keluar dan dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Sementara infus tidak dilepaskan. Quenna menyuruh agar Prima yang mengangkat Celine tapi Viktor langsung menunjuk dirinya sendiri dan dengan tegap mengangkat tubuh Celine dan infus dipegang Quenna.
"Cepatlah, api sudah menjalar sampai kemari."
Mereka turun dari tangga darurat. Sungguh sayang sekali sebab api juga sudah sampai di tangga darurat. Api seakan tengah memburu mereka.
Ketiga orang itu berlari dengan cepat ke bawah agar bisa keluar dengan selamat. Tapi sesuatu hal pasti tidak akan berjalan mulus.
__ADS_1
Sebuah tembakan beberapa peluru melayang ke arah mereka. Viktor celengak celenguk mencari arah tembakan tersebut.
"Prima bawalah Nyonya ke bawah dan segera bawa ke rumah sakit. Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan bisa memaafkan mu! Dan kau Quenna, ikut bersama Prima," pinta Viktor dan menatap wanita itu penuh harap.
"Lalu bagaimana dengan kau?"
"Aku akan di sini dan mengalihkan perhatian, pergilah jangan piki.... akhh!!" teriak Viktor tatkala satu peluru berhasil menembus kulitnya.
Quenna menyuruh agar Prima segera membawa Celine karena wanita tersebut harus segera diselamatkan.
"PERGILAH QUENNA!!" marah Viktor.
"Aku tidak akan meninggalkan mu! Bukankah kau bilang bahwa kita akan keluar bersama dengan selamat?"
"Quenna," lirih Viktor dan terdengar sebuah tembakan hendak menghantam mereka.
Segera Quenna menarik Viktor alhasil laki-laki itu tak terkena peluru tetapi dinding retak dan bolong bekas tembakan timah panas tersebut.
Quenna membalas serangan orang tersebut dan menembak brutal ke arah asal tembakan. Tidak disangka entah dimana keberadaan penembak tersebut yang jelas seorang berhasil ditumpas Quenna.
Viktor juga melakukan hal yang sama. Mata mereka dengan jeli mengamati sekitar waspada terhadap tembakan timah panas yang tak terduga akan mengancam mereka.
Dor
Quenna dan Viktor berhasil mengelak. Dengan berani Quenna naik ke tangga atas mencari sang pelaku. Ia menembakkan puluhan peluru hingga salah seorang juga terjatuh dan mati.
Quenna melirik Viktor yang terkena tembakan lagi. Ia menyentuh pria itu dan menyuruh Viktor agar pergi dari sini.
"Pergilah!"
"QUENNA KAU JANGAN BODOH! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MU SENDIRIAN DI SINI!"
"Apa pun yang terjadi kita akan tetap bersama, 'kan?" tanya Quenna penuh harap.
Viktor mengangguk dan menarik tengkuk Quenna. Mereka menyempatkan menyalurkan perasaan keudanya. Asap menggebul menghalangi sang penembak melihat targetnya yang sedang bercumbu di masa genting.
__________
__ADS_1
Tbc
MOHON LIKE DAN KOMENNYA