Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 97


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling sakral menurut Quenna sebab hari ini ia akan melangsungkan pernikahannya bersama Rigel.


Suka tidak suka ia harus tetap menyukainya. Lagipula ia harus berbahagia menyambut hari pernikahannya karena hari ini ia akan lepas dari masa hukumannya dan kembali bertemu dengan sang anak yang sangat Quenna cintai, Caroline.


Putri hasil dari ia menjalin asmara bersama sang kakak. Meskipun terdengar konyol sungguh Quenna tetap hanya mencintai sang kakak.


Hatinya tidak akan pernah berubah meskipun kekecewaan menelan segalanya menyadarkan Quenna dari mimpi indah yang selalu ia rajut dengan penuh asa.


Wanita itu menatap ke depan tepat pada pantulan seorang wanita yang sedang didandani dengan make up yang sederhana namun menampilkan kesan elegan.


Quenna sampai terpana kepada dirinya sendiri. Wanita itu tak menyangka jika orang yang ada di dalam kaca tersebut adalah dirinya.


Dengan gemetar wanita itu menyentuh wajahnya dan mengusap pipinya yang berpoleskan make up. Dia baru sadar jika sangat cantik.


"Anda sangat cantik sekali Nona," puji sang perias itu dan Quenna tidak mempermasalahkannya dan juga tidak menanggapinya.


Kecantikan ini harusnya milik Viktor. Viktor lagi, entahlah otaknya malah diisi nama pria itu padahal ia sebentar lagi resmi menjadi wanita orang lain. Kenapa ia malah memikirkan orang selain calon suaminya.


"Ini benar aku?"


Ana yang baru masuk ingin menjemput Quenna pun terkejut melihat wanita itu yang bagaikan Dewi kayangan yang diciptakan Tuhan untuk pelengkap hidup sang kakak.


Ana tersenyum lebar lalu menghampiri Quenna dan menyentuh pundak Quenna dari belakang. Ia pun keheranan sama seperti yang ada di sini. Ini adalah pengantin tercantik yang pernah dirias oleh MUA yang dipakai Quenna.


"Kau sangat cantik Quenna, pantas Kakaku sangat menyukai mu." Quenna diam. Jadi ini alasan Rigel menyukainya, hanya karena dirinya cantik? Berarti karena fisik? Bagaimana seandainya jika dia suatu hari nanti tak cantik lagi?


Quenna berubah cemas memikirkan hal tersebut. Ia menggigit jarinya dan menatap Ana yang heran dengan reaksi Quenna.


"Rigel mencintaiku hanya karena aku cantik?"


Ana ternganga lalu mengatup bibirnya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menarik napas panjang.


"Tidak begitu Quenna. Aku tahu kakakku sangat mencintai mu bukan hanya karena kau cantik. Mungkin karena kau pernah menolongnya dulu," yakin Ana agar Quenna tidak berpikiran buruk tentang kakaknya.


Quenna pun menutup bibirnya. Yang ia harapkan pernikahan ini cepat berlalu.


Ia merindukan Carol dan ingin memeluk tubuh anak itu dengan erat saat ini.


"Apakah di luar semuanya sudah siap?"

__ADS_1


"Ya Quenna. Semua sedang menunggu mu."


Quenna tiba-tiba sangat panik dan dadanya bergemuruh tak tenang. Ia harus bagaimana, entah kenapa rasanya tidak ikhlas.


"Kau ke sini ingin menjemput ku?"


Ana mengangguk dan meraih tangan Quenna. Mereka pun keluar dan muncul di depan altar. Seorang yang akan menjadi wali Quenna sudah hadir dan siap menyambut tangan wanita itu.


Hati Quenna sangat sakit sebab laki-laki itu bukanlah ayahnya. Ayahnya tidak ada dan tak bisa menyaksikan dirinya menikah. Tapi Quenna tak bisa menutupi jika orang yang membunuh ayahnya adalah orang yang sangat dicintainya.


Air mata Quenna jatuh. Orang mengira ia menangis karena bahagia akan tetapi itu malah sebaliknya. Ia menangis karena banyak hal.


Ia meraih tangan pria tersebut lalu berjalan di atas karpet merah dan anak-anak melemparinya dengan bunga. Di sana ia bisa melihat Carol yang ikut melempar bunga.


Tapi tunggu dulu, kenapa wajah Carol sangat pucat seolah tak ingin hidup. Anak itu sangat bahagia melihat ibunya, Quenna ingin memeluknya tapi situasi tidak tepat.


Ia menatap ke depan yang mana Rigel telah siap dengan kemejanya menunggu dirinya di atas altar.


Quenna menarik napas sebanyak mungkin untuk menenangkan perasannya yang sangat gugup.


Ia meremas tangannya yang terasa dingin. Quenna melirik orang yang tak dikenalnya yang menjadi walinya ini.


"Nona tenanglah, Anda tidak perlu gugup," ujar orang itu membuat Quenna tersenyum masam.


Dor


Suara tembakan berkali-kali dari arah luar membuat seluruh undangan yang ada di sana langsung berlarian ketakutan. Rigel mengahapus darah yang keluar dari dalam mulutnya dan menetap ke seluruh penjuru dari mana datangnya tembakan tersebut.


Sedangkan Quenna panik bukan main. Ia meraih tangan Carol dan membawa kabur anaknya dan mencari lokasi yang lebih aman.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Rigel pada Autsin yang juga sama paniknya dan hendak membawanya kabur.


"Puluhan mobil Pajero berwarna hitam terparkir di depan dan orang-orang berseragam hitam juga sedang menyerbu tempat ini. Tuan tenang saja Yesaya sudah mengatasinya dan mengirim banyak pasukan."


Rigel memejamkan matanya. Lagi-lagi ia gagal, padahal sebentar lagi. Pria itu kembali memuntahkan darah dan seluruh tubuhnya bagaikan diremukkan, sangat sakit.


Rigel hendak terjatuh akan tetapi Autsin menahannya. Ia memberikan obat penawar dari racun yang berada di dalam diri Rigel.


Autsin iseng mengetes minuman yang diminum Rigel dan ternyata terdapat racun. Tapi belum sempat ia mengatakan pada Rigel kekacauan sudah terjadi.

__ADS_1


"Minumlah, Anda keracunan."


Rigel pun meminum obat penawar itu hingga tandas lalu membuang botolnya. Ia melarikan diri untuk menyiapkan pasukan.


Tapi, di mana Quenna? Ia melirik wanita itu yang menangis di dalam sebuah tirai.


Rigel menghampiri Quenna dan Quenna terpekik merasakan ada yang menyerang dirinya.


"Tenanglah kita harus kabur dari sini," bujuk Rigel dan langsung membawa Quenna.


Quenna menatap Rigel seolah bertanya apa yang sebenernya sedang terjadi.


"Apa yang terjadi?"


"Ada yang menyerang kita."


"Siapa?"


Rigel berhenti. Ia ingat pasti yang melakukan penyerangan ini adalah Viktor. Pria itu menatap Quenna dan makin membawa jauh wanita itu sebelum Viktor mendapatkannya.


"Quenna berhentilah bertanya kita harus segera pergi dari sini. Aku tak mau bajing.an itu mengambil mu."


Quenna kontak menatap Rigel. Ia berhenti berlari dan melirik Carol yang sudah sangat kelelahan. Tubuh wanita itu menegang dengan air mata yang menggenang.


"Mak.. maksud mu adalah Viktor yang melakukannya?"


Rigel terdiam ternyata dia sudah salah bicara. Melihat Quenna yang sangat antusias pun membuatnya khawatir.


"Ingat Quenna aku tidak akan menyerahkan kau begitu saja. Jangan berani-berani kau kabur dari ku.. atau..." Rigel mengacungkan pistol ke dahi Carol. "Dia akan mati."


Carol terkejut sama halnya Quenna yang langsung panik ia menggeleng memohon agar Rigel tidak melakukan itu.


Dor


Suara tembakan nyaring dari arah belakang mereka membuat Quenna berharap lebih. Akan tetapi tubuhnya ditarik dengan kencang hingga ia dibawa jauh.


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


Spoiler dikit intinya nih novel akhir bulan udah tamat.


__ADS_2