Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 48


__ADS_3

Quenna memasang wajah cemberut kepada Viktor yang menariknya secara tak manusiawi. Pria itu membawanya keluar dari dalam mobil dan mengaraknya masuk ke dalam rumah megah yang bahkan Quenna lupa kapan terakhir kalinya ia masuk ke dalam rumah sebesar itu. Ah ya, Viktor setelah sempat ingin menginap di hotel memutuskan untuk tinggal di rumahnya di Inggris saat mengetahui jika Quenna ada di London.


Quenna pikir pria itu membiarkannya untuk berjalan sendiri saja, nyatanya tubuhnya yang ringkih diangkat dengan mudahnya oleh pria itu.


Wanita tersebut berteriak minta diturunkan dari gendongan pria tersebut. Suaranya yang cempreng terus berdengung namun, sama sekali tak dihiraukan oleh laki-laki itu, seolah teriakannya menjadi angin lalu yang hanya beberapa detik singgah.


"Lepaskan aku KAKAK!!" teriak Quenna seraya memukuli punggung Viktor. Ia tak putus asa begitu saja ketika teriakannya terus tak diindahkan.


Napasnya ngos-ngosan akibat banyak mengeluarkan suara. Ia menghabiskan separuh tenaganya demi lepas dari pria ini. Quenna pun pasrah dan membiarkan Viktor membawanya seperti karung beras itu ke dalam.


Meskipun harga dirinya terluka, tapi ia memang tak ada pilihan lain. Kalian tau sendiri bukan jika Quenna tidak dapat melawan kakaknya?


Viktor seperti sosok sempurna, itulah yang dirasakan Quenna. Jadi apapun yang ia lakukan akan berakhir dengan sia-sia. Memang satu-satunya cara adalah ia harus bisa mengendalikan pria ini. Tapi bagaimana caranya ia bisa mengendalikan Viktor? Dengan cinta? Cinta antara adik kakak? Quenna khawatir itu malah membawanya ke jalan yang lebih sesat. Bagaimanapun Viktor mencintainya, itu yang Quenna tahu. Pria itu akan bersalah sangka kepadanya.


Viktor menurunkan tubuh Quenna. Setelah menguras banyak tenaga, ia pun dapat menghirup udara dengan bebas. Sejenak ia melupakan masalah yang terjadi antara Viktor dan ia. Yang terpenting Quenna mengatur pernapasan dan mengumpulkan tenaga untuk melawan kakaknya.


Ia tak ingin di bawa kembali ke tempat jahanam itu. perempuan tersebut sudah berdamai dengan hidupnya dan sudah melupakan masa lalu. Ia tak ingin semuanya gagal hanya karena kejadian pria ini kembali. Sia-sia saja pengorbanannya selama ini untuk menghapus segala memori dan memulai lembaran baru.


"Di mana kau membawa ku? Kau, kau bahkan tak pantas ku sebut kakak lagi.. pulangkan aku!!" marah Quenna dan mencengkam kerah jas Viktor.


Pria itu mengangkat kedua alisnya. Wajahnya yang tampan memasang tampang pura-pura bodoh. Ia tertawa tipis dan pelan-pelan melepaskan tangan Quenna pada jasnya.


"Kau sudah mulai berani berteriak di depan ku rupanya. Tak apa meskipun telinga ku sedikit panas, tapi aku menyukainya, ini menunjukkan kau semakin binal!" Mata Quenna langsung membulat.


Ucapan ambigu pria itu sukses mendapatkan hadiah pelototan dan hampir saja digampar oleh Quenna.


"Kau!! Tutup mulut mu!!" Quenna mendecih menatap pria yang bergaya angkuh di depannya.


Ingatkan pria itu bahwa Quenna yang sekarang tidak lagi seperti Quenna dulu yang mudah dikendalikan oleh Viktor.


"Kau tak berhak mengatur ku, kakak mu memiliki kuasa atas mu! Jadi tidak pantas seorang adik yang memerintah kakaknya!" timpal Viktor dan menyudutkan Quenna.


Quenna baru sadar jika tubuhnya terkunci oleh dua tangan Viktor yang bertumpu pada meja di belakangnya. Ia ingin mundur tapi belakangnya sudah mentok dengan meja. Ia ingin keluar melalui jalan bawah, tapi tempat itu dihalangi oleh pria tersebut dengan kakinya.

__ADS_1


Perempuan tersebut memejamkan mata dengan perasaan gundah serta tangan yang mengepal menandakan ia sangat geram.


Ia pun tersenyum sangat terpaksa. Wanita itu pelan-pelan menjauhkan tangan Viktor. Tapi, tangan laki-laki tersebut seperti besi, sama sekali tak ada hasil meski ia menyingkirkannya.


Viktor hanya menikmati wajah Quenna. Ia memperhatikan setiap detail yang wanita itu lakukan. Ia tak bosan memandang wajah cantik yang terpampang di depannya. Menatap lama dan berhubungan tubuh dengan wanita ini tak cukup membuat Viktor puas setelah 6 tahun lamanya ia tak melihat Quenna.


"Kakak!" kekeh Quenna berpura-pura asik dengan laki-laki itu.


Viktor membuang ekspresi kagumnya. Ia mengubah dengan tampang senyuman penuh kelicikan.


"Suara mu sangat membuat ku tergoda, bisa kau mengulanginya lagi untuk ku?"


Quenna menatap Viktor tak percaya. Tangannya yang menggenggam pun terbuka lalu diarahkan ke wajah Viktor.


Matanya yang semula menatap berani mulai memanas. Hilang sudah seorang Charlotte, tapi hanya tersisa wanita bernama Quenna dengan sejuta amarahnya.


"Kau!!! Sudah aku katakan kita ini adik kakak!! Tidak pantas bagi kita untuk melakukan hal keji itu!!"


Viktor tertawa mendengar ucapan Quenna. Sementara sang wanita kebingungan dengan ekspresi yang ditunjukkan Viktor. Ia pun tersenyum kikuk.


Ia menghembuskan napas lelah. Wanita tersebut menatap ke arah lain. Quenna menggigit bibirnya, antara menahan malu dan marah.


"Lupakan itu!!"


"Setelah apa yang telah kita lakukan, kau ingin aku melupakannya? Aku rasa membuat mu berada di sisi ku dan terus melakukan hal seperti malam tadi, juga ada baiknya!"


"Kau!!" Quenna mendorong tubuh Viktor dan ia berlalu meninggalkan pria tersebut.


Ia pikir telah berhasil menyingkirkan Viktor, tapi oh tetapi pria itu tersenyum smirk dan ia menarik tangan Quenna hingga Quenna yang tak memiliki keseimbangan berakhir menabrak dada pria tersebut.


Waktu seakan berhenti ketika Quenna terkejut mendapatkan dirinya menyentuh dada bidang Viktor. Ia mendongak dan mata mereka saling bertemu.


Quenna terpana dengan wajah tampan sang kakak. Ia masih tak percaya setelah bertahun-tahun bersama pria ini, baru kali ini ia melihat wajah Viktor yang sebenarnya.

__ADS_1


Sangat tampan dengan bulu mata lentik dan hidung mancung. Rahangnya sangat tegas sementara luka di matanya menjadikan lelaki itu malah terlihat berwibawa.


Untuk sesaat ia memuji ketampanan sang kakak. Wanita itu belum menyadari tengah berada di mana.


"Apa aku begitu tampan?" Suara Viktor menyadarkan Quenna yang melamun memikirkan ketampanan hakiki milik Viktor.


Wanita itu seakan baru saja bangkit dari ketercengangan bertahun-tahun. Ia mendorong tubuh Viktor dan memalingkan wajah, tak ingin Viktor melihat ia yang merona.


"Antarkan aku pulang!"


Quenna menatap datar Viktor. Ia teringat jika dirinya belum menjemput Carol. Ia harus menemui anak itu, pasti Carol tengah menunggunya.


"Kau ingin pulang ke mana? Ini rumah mu!"


"Viktor aku tidak sedang ingin bercanda dengan mu! Antarkan aku pulang! Ada yang harus ingin ku selesaikan!"


Viktor mengerutkan alisnya. Ia meneguk ludahnya lalu melangkah lebih dekat dengan Quenna.


"Ingin menyelesaikan apa? Sepertinya kau sangat khawatir sekali." Viktor mengamati wajah cemas milik Quenna.


Quenna menggigit bibirnya. Ia hendak bersimpuh di kaki Viktor memohon diizinkan keluar, Viktor lekas menyanggah.


"Aku mohon!"


"Berdirilah, hal yang ingin kau selesaikan telah aku selesaikan!"


"Maksudmu?" Quenna pun mengikuti arah pandang Viktor yang sangat fokus ke belakangnya. Ia terkejut melihat ada seorang anak kecil yang serupa dengan Caroline berdiri sambil memegang bonekanya.


Mata bulatnya yang polos menatap aneh Quenna dan Viktor.


"Carol kenapa kau bisa ada di sini?!" Quenna memandang Viktor meminta kejelasan dari pria tersebut.


________

__ADS_1


Tbc


BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETALAH MEMBACA🤗


__ADS_2