
Quenna menatap kamarnya dengan pandangan sedih. Ia menarik napas panjang lalu merapikan kamar tersebut yang tampak berantakan.
Wanita itu menyulap kamar yang seperti kapal pecah tadi dalam sekejap. Ia tersenyum senang dengan hasil tatanannya. Ia menggunakan alas kasur hasil jahitannya sendiri.
Quenna menyentuh kasur tersebut yang terasa empuk. Alasnya pun sangat lembut. Jahitan dan hasil corak yang dibuatnya begitu indah, ia merasa bangga kepada dirinya sendiri.
Viktor yang memperhatikan Quenna diam-diam dari tadi menarik sudut bibirnya. Ia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri wanita tersebut.
Ia memeluk tubuh Quenna dari belakang. Sementara Quenna kaget merasakan pelukan di belakangnya, hanya sebentar namun seterusnya ia tampak biasa saja.
"Kakak," lirihnya tak nyaman seraya menggeliat berusaha menjauhkan tangan Viktor yang memeluk tubuhnya.
Viktor meletakkan rahangnya di atas kepala Quenna. Ia mengusap tangan Quenna dan tersenyum sekilas.
"Aku merindukan mu," bisik Viktor sensual di telinga Quenna.
Ia mengecup telinga perempuan itu, awalnya hanya kecupan biasa lama-lama ia melum*at telinga Quenna.
Quenna memejamkan mata merasakan pusat tubuhnya yang mulai terangsang. Ia berusaha menjauhkan tubuh Viktor yang mengurungnya.
"Kak aku adik mu. Berhentilah."
"Adik? Kenapa memang jika kau adik ku? Kita sudah sering melakukannya juga bukan?"
Quenna menahan napas dan diam tidak membalas sepatah kata pun. Ia memejamkan matanya menikmati semua yang dilakukan oleh pria itu meski sulit baginya menerima.
Viktor melepaskan Quenna dari pelukannya dan beralih duduk di samping wanita itu. Ia mengamati wajah Quenna yang sangat polos dan sangat kontras dengan cahaya rembulan yang menyelinap di celah-celah lubang.
Ia menjauhkan serpihan rambut yang menutupi kecantikan yang dimiliki Quenna. Pria itu takjub dengan wajah Quenna yang sangat sempurna dan tidak satupun wanita yang dapat menandinginya.
"Kau tahu Quenna? Kau sudah sangat cantik sejak kecil."
"Biasa saja," timpal Quenna dan menatap kakaknya dengan mengejek.
Viktor tertawa kecil dan mengacak rambut Quenna. Ia menarik tubuh perempuan tersebut dan menyuruh wanita itu bersandar di dada bidangnya.
"Kau lebih dari kata biasa, tidak ada yang bisa menandingi kecantikan mu," ujar Viktor memberitahukan kenyataan yang dipikirkannya.
Quenna mendongak dan bertatapan langsung dengan manik kelam sang kakak. Ia menghela napas panjang.
"Kapan kau akan membelikan ku kain terbaik di dunia? Kau sudah berjanji dengan ku bukan?"
Viktor teringat akan janjinya. Bukan masalah besar, ia dapat membelikan barang yang diinginkan Quenna berapa pun yang wanita itu inginkan.
__ADS_1
Viktor tak takut sama sekali jika uangnya habis karena harta yang ia miliki tak cukup untuk dihabiskan dari generasi ke generasi.
Kecerdikan dan kepandaiannya serta dirinya yang memiliki otak yang sangat licik berhasil mengubah segalanya. Ditambah harta yang ditinggalkan oleh Gibran tidak sedikit, semuanya ia alihkan atas nama dirinya.
Jika kalian berpikir Viktor sangat jahat selamat kalian benar. Ia tidak perduli apa kata orang yang penting ia dapat melakukan caranya untuk meraih keberhasilan.
"Maafkan aku melupakannya. Aku pasti akan memberikannya untuk mu besok."
Quenna tersenyum senang sejenak ia melupakan rasa bencinya dan memeluk tubuh Viktor dengan erat.
"Kaka aku sangat berterimakasih kepada-Mu," ujar Quenna dengan sangat manja. Ia lupa bahwa Viktor di hadapannya ini bukan lagi Viktor yang dulu melainkan Viktor dengan jiwa yang busuk.
"Bulan malam ini sangat indah. Formasi bintang malam ini juga sangat unik. Kau ingin melihatnya bersama ku?" ajak Viktor kepada wanita tersebut.
Quenna tanpa menjawab ucapan Viktor lagi langsung berjalan menuju jendela. Ia menyembulkan kepalanya dan menatap keindahan langit.
"Apa yang kau katakan benar Kak," takjub Quenna dengan matanya yang tak dapat dilepaskan dari keindahan langit.
"Aku tak mengajak mu melihat dari sini." Viktor melangkah mendekati Quenna yang berdiri di tepi jendela. Ia menunjukkan tangannya ke taman di dekat rumah. "Aku mengajak mu melihat bintang dari situ."
Quenna mengikuti arah tunjukkan Viktor dan secepat kilat ia terkejut. Ia menatap Viktor tak percaya dan kembali mengalihkan pandangan ke taman itu lagi.
"Aku tidak salah lihat bukan?" tanya Quenna tak menyangka.
"Ya, aku tahu kau selama ini ingin ke sana. Maka malam ini aku kabulkan permohonan mu," ujar laki-laki bernama Viktor itu.
"Kakak aku duluan!!"
"Quenna hati-hati!" seru Viktor seraya menggelengkan kepalanya.
Mereka memasuki taman yang sangat indah jika di malam hari. Viktor menghampiri Quenna yang melihat-lihat bunga di taman itu.
Ia menyentuhnya seakan tak percaya. Puluhan tahun ia hendak menyentuh bunga melati tersebut dan di umur ke 18 ini keinginannya terkabul.
"Sangat indah," gumam Quenna dan meneliti setiap bunga itu.
Ia juga mengamati bunga-bunga yang lain yang ada di taman ini. Quenna masih tidak menyangka jika ia bisa bersentuhan langsung dengan dedaunan.
"Kau senang?"
"Tentu. Terimakasih Kak." Viktor mengangguk dan membawa Quenna untuk berkeliling taman.
Ia juga mengenalkan beberapa tumbuhan di taman itu. Mereka duduk di kursi yang ada di sana.
__ADS_1
Quenna menatap langit dengan senyum yang tak pernah luntur. Baru kali ini ia menatap bintang dan bulan dari alam terbuka.
"Kau pernah ingin melihat bulan yang bersinar di atas kepala mu. Mungkin sekarang aku bisa mengabulkan keinginan mu saat kecil. Kau tahu, dulu kau sangat manja dan tidak ingin pisah dari ku," kekeh Viktor mengingat kenangan mereka dulu.
Quenna tersenyum malu mengingat semua hal tentang dirinya di waktu kecil yang sangat memalukan.
"Kau masih mengingatnya?"
"Bagaimana aku bisa melupakannya?"
Viktor membawa Quenna ke suatu tempat yang belum terjamah oleh mereka. Wanita tersebut merasa takjub dengan taman yang sangat indah serta keindahan lampion-lampion yang digantung di tepi taman itu.
Ia melihat ada piano di sana. Mata Quenna mengikuti Viktor yang berjalan menghampiri piano tersebut. Pria itu duduk di kursi yang ada di sana dan menyentuh not piano tersebut.
Bunyi alunan lagu yang begitu menyayat hati membuat Quenna merasakan ingatannya terlempar ke masa lalu.
Pertahan tubuhnya lemah kala ia mengingat dengan jelas sang ayah pernah memainkan irama piano menyedihkan ini.
Ia sangat merindukan mereka. Quenna berusaha tetap tersenyum hingga akhirnya alunan musik dari piano itu berhenti.
Viktor menatap Quenna dan menghampiri perempuan tersebut. Quenna tak kuasa menahan perasaannya, dulu juga Viktor selalu belajar musik tersebut bersama ayahnya dan ia yang menemani.
Quenna mengangkat tangannya dengan bergetar. Ia menyentuh wajah Viktor dan mengusap bagian pipi Viktor yang tak ditutup topeng itu.
"Kakak Viktor," ucap Quenna bersamaan dengan jatuhnya air mata.
Ia memeluk tubuh Viktor dengan erat. Ia merindukan Viktor setelah sekian lama menghilang dari diri pria ini.
"Aku merindukan dirimu Kak, kemana saja kau selama ini? Aku sangat menyayangimu," ucap Quenna dan tak mau melepaskan pelukannya di leher Viktor.
Tangan Viktor ragu untuk membalas pelukan Quenna. Matanya lurus menatap ke depan sementara ia juga menitikkan air mata yang tidak diketahui Quenna.
"Aku selalu bersama mu Quenna. Ini aku."
"Kak kenapa kau membunuh ayah dan ibu? Apakah kau pernah merindukan mereka?"
Viktor terdiam dengan pertanyaan Quenna. Ia tersenyum simpul dan semakin deras menitikkan air mata. Ia teringat dengan canda dan tawanya bersama Maria dan Gibran.
Mereka membesarkan dirinya bertahun-tahun dan melimpahkan kasih sayang yang tak terhitung dan menyayangi Viktor dengan tulus. Namun, sedetik kemudian Viktor langsung merubah ekspresinya dingin.
"Tidak hak mu untuk menannyakan itu."
Quenna menarik napas dan menelan kepahitan yang diterimanya.
__ADS_1
______
Tbc