Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 25


__ADS_3

Prangg


Hempasan yang begitu kencang dilakukan Viktor hingga menghasilkan bunyi yang nyaring. Viktor meremas kedua tangannya hingga kukunya yang tajam melukai telapak tangannya.


Napasnya saling beradu dan dadanya mengembang. Wajah gelapnya serta kilatan marah di matanya sudah menggambarkan jika pria itu tidak bisa diganggu.


Ruangan yang semula tertata rapi kini menjadi bak kapal pecah yang diobrak-abrik. Begitupula dengan pria itu sendiri. Hidupnya yang uring-uringan dan tak ada gairah sama sekali membuat harinya hampa.


Viktor bak orang gila yang tak lagi mempunyai kehidupan dan akal sehat. Seiblis-iblisnya dia dulu sekarang lebih lagi.


Viktor brutal dari sebelumnya. Meskipun rumahnya yang di hutan sudah terendus, tapi Viktor berhasil menghindari itu semua dan hidup di tengah kota.


Tidak ada yang menyadari Viktor adalah dalang dari banyaknya orang hilang. Setelah melewati beberapa bulan dan kasus itu meredup begitu saja.


Tentu ialah yang melakukannya, menyogok mereka dengan gumpalan uang. Hanya selembar kertas mereka sudah menutup mulutnya. Sangat mudah bagi Viktor untuk memiliki dunia.


Hanya saja Quenna yang tak dapat ia gapai. Ini sudah berbulan-bulan ia ditinggalkan dan Viktor benar-benar tak bisa menemukan Quenna.


Ia sangat merindukannya, wanita itu bahkan membuat Viktor yang selalu dingin kepada wanita lain menjadi pria yang sangat manis dalam mengucapkan kata. Gombalan mautnya berhasil menjatuhkan para wanita bordil ke atas ranjangnya.


Ini semua karena Quenna. Ia selalu membayangkan wajah Quenna kala bersama wanita-wanita itu.


Meski ada yang tidak terima tapi Viktor akan menghukum dan memaksa mereka. Jika tidak mati pilihannya.


Belum lagi kasus Yohana Kim yang selalu menerornya. Ia sengaja mengabaikan Yohana dikira pria itu Yohana tidak akan sejauh ini melawannya. Nyatanya ia sampai dibuat pusing sendiri oleh wanita tersebut.


"Tuan!!" ujar wanita yang bernama Dencia sambil mengusap dada bidang Viktor yang kancing bajunya terbuka.


Viktor menarik napas panjang dan membiarkan wanita itu sesuka hatinya menyentuh tubuhnya.


Viktor menatap nyalang ke depan, kamarnya sudah seperti gudang, bau alkohol dan asap rokok menyeruak. Ia sengaja memanggil Dencia kemari agar dapat menenangkan pikirannya.


Meski tak seutuhnya sekiranya ia bisa membayangkan wanita itu adalah Quenna. Yang mengusap dadanya, yang menyentuh tubuhnya, serta usapan lembut.


"Dencia menjauh lah," usir Viktor karena lama-lama ia merasa risih.


Viktor meminum wine dari botolnya langsung dan meneguknya hingga tandas. Setelahnya ia membuang botol kosong tersebut begitu saja hingga jatuh ke lantai dan pecah.


Dencia sempat memkik kaget mendengar suara tersebut. Ia mengusap dadanya dan menatap Viktor sambil meneguk ludahnya.


"Viktor, kau tak suka dengan ku?" marah Dencia mencoba untuk mendapatkan perhatian Viktor.


Pria itu sama sekali tak menghiraukan ucapan Dencia yang dari tadi selalu berucap tak ada habisnya.


Ia menjambak rambutnya sendiri dan marah-marah tak jelas sambil melempari barang-barang. Sementara Dencia harus menyiapkan mental melihat Viktor tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Usai mengamuk pria itu mengusap wajahnya sambil menangis pelan, tangisan penuh penyesalan terhadap Quenna. Dencia berusaha menarik napas dan menenangkan Viktor.


Viktor menatap Dencia sinis dan menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku jala.ng!"


"Kau kenapa? Gara-gara Quenna lagi? Siapa sih tuh perempuan, ku rasa masih cantikan ku dari dia, kenapa kau terus memikirkannya, lupakan saja dia!"


Viktor membulat mendengar ucapan Dencia. Pria itu marah dan mengintimidasi Dencia, tangannya yang mengeras menampar kuat pipi Dencia hingga wanita itu terhempas ke lantai.


"Akhhh!!!"


"Jangan berani-berani kau mengucapkan nama Quenna dengan mulut busuk mu!! Dia lebih cantik dari mu Bit.ch!!"


Dencia memejamkan mata dan meresapi hinaan Viktor. Tangannya mengepal marah karena dimaki oleh orang yang lama didambakannya hanya perkara Quenna saja.


Viktor menatap deretan fotonya bersama Quenna mulai dari masa kecil mereka hingga foto terkahirnya bersama wanita itu beberapa bulan lalu.


Mata Dencia mengikuti pandangan Viktor. Ia terkejut melihat gambar Quenna yang dari tadi belum disadarinya. Dencia meneguk ludahnya payah karena Quenna benar-benar gambaran Dewi Yunani.


"Kau masih ingin bersaing dengannya. Cihh!! Kau tidak akan pernah menang, bahkan dia tidak pantas bersanding dengan mu jalan.g!"


Viktor meremehkan Dencia dan mengusir wanita itu dari kamarnya. Jika Dencia tak mau maka ia akan menyiksanya dengan puntung rokok.


________


Rasa khawatir terus menerjang orang di sekitarnya yang menunggu kesadarannya. Wanita itu seakan tak mempedulikan yang lain.


Perlahan mata lentik bergerak dan membuka kelopaknya hingga secara perlahan Quenna bisa menatap ruangan itu.


Cahaya yang menembus netranya membuat Quenna merasakan sakit di kepalanya. Wanita itu membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sekitar.


Ia menatap ke samping dan berusaha mengingat apa hal terakhir yang ia lakukan. Meski sukar ia menerawang nya tapi perlahan ia bisa mengingat jika ia terakhir sedang melakukan bunuh diri.


Ruangan ini cukup berbeda dan alat-alat di sini cukup asing di pandangannya. Ruangan serba putih ini membuat Quenna menyangka ia sedang di surga.


"Di mana ayah dan bunda," lirih Quenna seraya ingin turun dari ranjang.


Tapi seluruh tubuhnya yang tak dapat digerakkan serat rasanya remuk membuat Quenna panik. Ia tidak tahu kenapa respon tubuhnya begitu, apa rata-rata orang yang sudah berada di surga mengalami hal yang sama sepertinya?


"Ternya begini setelah bangkit dari kematian," ujar Quenna berbisik dalam hati.


Ia menghembuskan napas panjang dan memejamkan matanya kembali. Perlahan-lahan ia mengingat momennya bersama Viktor.


Akhirnya setelah beberapa tahun lamanya menunggu ia pun lepas dari pria tersebut, sebuah anugerah yang tak terbayangkan.

__ADS_1


"Quenna kau sudah sadar?" kaget seseorang dan langsung menghampiri Quenna.


Ia tersenyum lebar dan menatap Quenna berbinar. Pria itu menyentuh tubuh Quenna dengan tangan yang sedikit gemetaran saking tak percayanya.


Quenna memperhatikan pria yang sangat familiar di matanya. Ia menatap Rigel heran sambil mengerutkan keningnya, apa pria itu juga ikut mati? Sekiranya itu lah yang dipikirkan Quenna untuk pertama kalinya saat melihat Rigel.


"Rigel!?"


"Kau membutuhkan apa? Cepat katakan pada ku, aku akan mencarikan secepatnya untuk mu!!"


Quenna makin keheranan. Ia lebih tertarik dengan benda-benda untuk di sekitarnya dan mengabaikan Rigel. Ia tak mengerti situasi ini.


"Kenapa kau ada di sini, kau sama seperti ku? Mati juga?" tanya Quenna dan membuat Rigel yang awalnya merasa sedih bercampur bahagia langsung lemot.


Pria itu berusaha menatap diri Quenna dengan tenang dan tak aneh, nyatanya ia makin dibuat pusing.


"Kau tak tahu kita ada di mana?"


"Di surga?" lirih Quenna untuk memastikan.


Rigel menarik napas dan berusaha sabar.


"Kau ada di rumah sakit. Tenanglah Viktor tidak akan tahu keberadaan mu!"


Quenna terkejut, rupanya ia belum meninggal. Ia masih diberi misi untuk menjalani kehidupan ini.


******* kecewa dari wanita itu membuat Rigel tersenyum simpul, ia telah menggagalkan keinginan Quenna untuk ke surga.


"Maafkan aku membuat mu masih ada di dunia ini."


Quenna hanya mengangguk malas. Lagian tidak ada gunanya menyalahkan Rigel. Ia mengusap perutnya yang sedikit terasa sakit. Tapi ada yang aneh, perutnya tak seperti biasanya.


Matanya membulat dan menatap Rigel penuh tanya.


"Kenapa dengan perut ku? Kenapa perut ku buncit begini?" tanya Quenna sangat panik sambil merasa permukaan perutnya yang tak rata seperti dulu. Rigel meneguk ludahnya dan menundukkan kepala. "Rigel katakan!!"


"Aku tidak tahu ingin mengatakannya seperti apa, aku pikir kau akan paham sendiri."


Dada Quenna tertohok merasakan sakit hatinya. Ia menggelengkan kepalanya sambil mengelus perutnya. Wanita itu menangis tersedu-sedu.


________


Tbc


Hay teman-teman komen dan like yang banyak yah supaya aku terus lanjutin🤗🙂

__ADS_1


__ADS_2