
Di bawah derasnya hujan ada seorang anak manusia yang tengah berbakti kepada orangtuanya. Ia berjalan diiringi oleh rintikan hujan. Tidak peduli dengan petir yang menyambar-nyambar. Tetesan air matanya membuktikan ia sangat menyayangi orangtuanya.
Dipikirannya hanya satu yaitu menyelamatkan sang ibu secepat mungkin. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi anak laki-laki selain ketika melihat ibunya yang tak berdaya.
Mereka akan lebih care kepada sang ibu dan sangat menjaganya sepenuh hati. Hentakan kakinya begitu nyaring saat ia berjalan sembari menggendong ibu di dalam dekapannya.
Celine menutup mata dengan wajah pucat dan penuh darah. Bahkan darah tersebut bersimbah sampai ke pakaian Viktor yang menggendongnya. Tubuh anak laki-laki itu getir tak sanggup melihat muka sang ibu.
Ia meletakkan Celine ke dalam mobil dan memberikannya beberapa obat-obatan agar wanita itu dapat bertahan dengan sisa napas yang terputus-putus. Usai mengalahkan Rigel dan berhasil memukul mundur Rigel pria itu pun membawa Celine secepatnya dari tempat itu.
Tidak bisa disebut menang juga karena Rigel berhasil membunuh banyak anak buahnya ketimbang pasukannya yang lebih sedikit membunuh bawahan Rigel.
"Ibu maafkan aku," tangis Viktor yang merasa dirinya gagal menjaga Celine.
Ia menangis tersedu-sedu meminta ampun kepada ayahnya karena tak bisa menjaga ibunya dengan baik. Laki-laki tersebut menarik napas panjang dan menunggu anak buahnya membawa mobil itu secepatnya.
Tapi tiba-tiba ada seorang pria yang berlari kencang ke arah mobilnya dan menggedor-gedor kaca mobil. Viktor melirik kesal orang tersebut yang tak lain adalah anak buahnya.
"Tuan!! Prima tertembak lima peluru!" Mata Viktor membelalak. Ia mengepalkan tangannya dan melirik anak buahnya yang menjadi supir.
"Prima," lirih Viktor yang tak bisa berbuat banyak karena ia juga harus menyelamatkan Celine secepatnya.
Bagaimanapun Prima adalah seorang yang selalu bersamanya dari ia kecil bahkan pria itu bagaikan sahabat bagi Viktor. Ia menatap anak buahnya tadi.
"Tuan pasukan kita banyak yang terbunuh, bisa saja mereka mundur itu adalah siasat mereka." Viktor benar-benar diambang genting.
Pikirannya begitu banyak sampai-sampai ingin membuat kepalanya pecah. Tidak ada pilihan lain selain mengakui kekalahan dan menurunkan harga dirinya apabila rombongan Rigel kembali menyerbu.
"Kau selamatkan Prima, jika mereka ingin menyerang, katakan kepada mereka aku..." Viktor ragu ingin mengatakannya. Ia mengangkat kepala dan menatap pria itu seraya tersenyum pahit, "aku mengakui kekalahan."
Anak buah itu bisa melihat dengan jelas kesedihan di mata Viktor. Ia mengangguk dan tak lama setelah itu mobil tersebut pun melesat dengan cepat. Ia berbalik dengan sedih dan menjadi komando menggantikan Prima.
Saat Yesaya berbalik kebelakang tiba-tiba sebuah peluru menghantam jantungnya dengan cepat. Ia terkejut dan melihat pasukan Rigel yang menyerbu dirinya.
Dengan terbatuk-batuk darah ia melihat Rigel yang mengacungkan senjata tepat ke arah kepalanya.
Rigel tersenyum miring dan melemparkan tubuh Prima yang tak sadarkan diri di depan pria itu. Matanya membelalak tak percaya dan menganggil-manggil nama Prima.
"Apa yang telah kau lakukan baj.ingan?!!" marah Yesaya sembari mengguncang tubuh Prima.
__ADS_1
"Kau tidak ingin menyusul dia?"
Saat Rigel ingin menambah tembakan lagi Yesaya menahan dengan tangannya. Ia tersenyum tipis.
"Tuan kami telah mengakui kekalahannya."
Rigel mengerutkan kening lalu tak berselang lama ia tertawa keras dengan gelak. Yohana yang berada di belakang pun maju ke bagian depan. Ia menatap Rigel dengan senyum miring.
"Kau mendengarnya sendiri bukan?" Yohana tak bisa menghentikan senyum bahagianya.
"Ya. Cecunguk itu mengaku kalah. Hahahah, aku tak sabar ingin mengejek di depan wajahnya."
Yohana melirik Prima yang tak lain adalah tangan kanan Viktor. Dengan isyarat mata ia mengkode Rigel.
Rigel menyeringai lalu menambah tembakan pada Prima tapi dihalangi oleh Yesaya yang menyadari hal itu. Dan menjadikan tubuhnya tameng untuk Prima.
Rigel mendecih geli kepada mereka berdua.
"Mereka pasangan? Menjijikkan sekali."
"Ya sepertinya. Mereka sama-sama menjijikkan seperti tuannya yang juga menyukai adik angkatnya sendiri."
Mereka pun pergi setelah memastikan bahwa pihak Viktor tak memiliki daya lagi untuk melawan.
"Mengapa kau bodoh? Seharusnya kau tau aku tidak akan mati dengan lima tembakan."
Yesaya menutup matanya dan darah dari kedua pria itu menggenang bercampur dengan air hujan. Prima memeluk tubuh Yesaya yang tak bernyawa lagi.
"Hiks, hiks, hiks, aku berjanji akan membalaskan dendam mu!"
Banyak orang mengira bahwa ia dan Yesaya memiliki hubungan yang menyimpang. Mereka tidak tahu saja bahwa Yesaya adalah adik angkat bagi Prima. Mereka sudah lama berteman dari kecil meski memang Yesaya mencintainya, tetapi Prima lebih memilih membutakan hatinya. Ia tak ingin mengenal cinta dan lebih fokus pada karirnya dan setia di sisi Viktor.
___________
Quenna dengan sabar menunggu kepulangan Viktor di ruang tamu. Ia bahkan menahan rasa kantuknya yang menyerang brutal.
Wanita itu sangat khawatir dengan keadaan Viktor di luar sana. Entah kenapa perasaanya tidak enak.
"Kenapa kau belum pulang juga?" monolog Quenna sembari terus memandang ke arah pintu depan.
__ADS_1
Hatinya sangat berharap jika ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Tapi sudah tengah malam tidak ada juga tanda-tanda kepulangan pria itu.
Ia pun menyandarkan punggungnya pada sofa dengan mata yang tak lepas dari pintu itu. Saat mata tersebut ingin tertutup ia cepat membukanya.
Namun rasa kantuk tak mampu lagi ia tahan. Wanita itu pun hanyut dan tidak lama setelah itu pintu tersebut pun terbuka.
Quenna langsung terbangun dan cepat memandang ke arah pintu. Senyumnya mengembang dan berlari menghampiri Viktor. Namun, senyumnya hilang seketika saat melihat kondisi Viktor yang bersimbah darah dan juga mabuk.
"Kak, kakak kau kenapa?"
Viktor melirik Quenna dan tersenyum tipis. Ia meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat hingga membuat Quenna kesulitan bernapas.
Pria itu menumpahkan seluruh hatinya dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Quenna. Quenna terkejut mendengar isak tangis Viktor. Nalurinya pun berteriak agar ia membalas pelukan itu.
Quenna mengusap kepala Viktor menenangkan pria tersebut. Laki-laki itu merasa tenang dengan usapan di kepalanya.
"Aku mencintaimu," aku Viktor sembari memeluk sangat erat tubuh wanita itu seakan-akan ketakutan jika Rigel akan membawa perempuan ini.
"Ya aku tahu."
Quenna melepaskan pelukan tersebut dan tersenyum lebar kepada Viktor. Ia menghapus air mata pria tersebut.
"Bolehkah malam ini aku memelukmu sampai pagi."
"Aku adalah milikmu Kak, aku pasti akan melakukan apa pun demi dirimu."
Viktor tersenyum puas. Ia mendorong tubuh Quenna hingga terjatuh ke sofa. Awalnya Quenna terkejut tapi setelah itu ia tersenyum binal.
Lelaki tersebut mencium brutal sang wanita. Mereka hanyut dalam permainan. Seakan dunia telah menjadi milik keduanya.
Saling menggoda dan berakhir dengan suara nyaring yang berasal dari keduanya di ruang sofa itu.
"I love you," ujar Viktor dan mengecup kening Quenna.
Semenyenangkan itu saat cinta kita terbalaskan. Hati Viktor berbunga-bunga tat kala tak ada lagi wajah ketakutan dari perempuan tersebut.
_________
Tbc
__ADS_1
BERHUBUNG DI NT TIDAK BISA UPLOAD VIDEO JIKA INGIN MELIHAT THRILLER DARI OBSESI KAKAKU KEPADKU BISA DILIHAT DI INSTAGRAM amandaferina6
Budayakan like dan komen setelah selesai membaca.