Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 82


__ADS_3

Derttt


Suara getaran ponsel di saku celananya membuat Viktor merasa geram karena benda pipih itu tak henti terus bergetar. Itu pasti panggilan dari pihak perusahaan karena memang sebentar lagi mereka akan melakukan meeting penting tetapi ia malah datang terlambat.


Sepertinya Viktor memang CEO yang baik bagi bawahannya. Laki-laki itu beberapa kali terdengar menghela napas dan meraih ponselnya.


Dan benar saja bahwa yang memanggilnya memang dari pihak perusahaan. Ia pun terpaksa menggeser layar hijau dan mendekatkan benda tersebut ke telinganya.


"Ya sebentar lagi aku akan datang."


Tut


Usai mengatakan hal tersebut Viktor lantas mematikan sambungan itu dengan kesal dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.


Kemudian pria tersebut pun melirik kek kaca menatap penampilannya yang sangat sempurna. Ia pun tersenyum angkuh lalu memasang gelang jam bermerek ke tangan kirinya.


"Huh, jika bukan membutuhkannya aku tidak akan sudi bekerja sama dengannya," umpat Viktor.


Pria itu pun menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Lalu ia pun mengumpulkan berkas-berkas yang menjadi bahan meeting tersebut.


Namun keningnya berkerut kuat kala melihat ada satu berkas yang hilang. Ia pun mencari berkas itu ke seluruh ruang kerjanya sebab berkas tersebut sangat penting bagi Viktor.


Viktor mengumpat kasar karena lagi-lagi ada kendalanya. Memang kali ini salahnya yang tidak berhati-hati hingga kehilangan berkas tersebut.


Berkas itu tergolong sangat penting karena memuat hal-hal yang akan menjadi agenda meeting pagi ini. Ia sudah mengerjakannya tadi malam akan tetapi ia terlupa meletakkannya di mana.


Viktor pun ingat jika ia tadi malam meletakkannya di dalam lemari. Pria itu membuka lemarinya dan mengambil berkas berwarna kuning. Saat ia menarik berkas itu tiba-tiba sesuatu terjatuh dan mengenai kakinya.


Ia pun mengambil selembar kertas yang ternyata sebuah foto. Viktor memperhatikannya dengan seksama. Foto itu buram hingga ia tak bisa mengenali wajah wanita di dalam foto itu.


Deg


Viktor merasa jika perawakan wanita yang ada di dalam foto itu sangat mirip dengan wanita yang ada di dalam mimpinya. Ini bukan kebetulan, 'kan?

__ADS_1


Viktor berpikir keras dan terus memperhatikan foto itu dengan perasaan bertanya-tanya. Namun sejauh apapun ia mengingat yang ada kepalanya terus berdenyut sakit.


"Akhhh!!" Viktor mendesis marah dan menatap foto itu sekali lagi dan memasukkan foto itu ke saku celananya, ia ingin menanyakan tentang foto itu ke Prima.


Celine masuk ke dalam kamar anaknya ingin mengingatkan putranya tersebut agar jangan lupa sarapan.


Wanita yang mengenakan kursi roda tersebut tersenyum melihat sang anak yang sudah rapi dengan penampilan formalnya. Tak pernah disangka Celine bahwa ia bisa melihat anaknya di masa senjanya.


"Lihatlah anak mu sudah sebesar ini, kau pasti sangat bangga melihatnya dari sana," kata Celine di dalam hati untuk suaminya yang sudah ada di surga. "Aku sangat bersyukur bisa melihatnya di usia ku yang sekarang."


Celine menghampiri Viktor yang belum menyadari kehadirannya. Wanita tersebut meraih tangan Viktor dan menggenggamnya.


"Ada apa? Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Apa kau bermimpi sesuatu yang sangat menakutkan malam tadi?" Celine mengusap tangan anaknya tersebut.


Viktor melihat ke arah sang ibu yang baru ia sadari kehadirannya. Pria itu menggeleng dan mencium pipi Celine.


"Tidak terjadi sesuatu. Ah, ibu aku tidak bisa makan malam bersama mu karena aku memiliki pekerjaan yang sangat mendesak. Maafkan aku," ujar Viktor dengan penuh penyesalan. Apa yang ia katakan memang benar, bahkan saking pentingnya ia terus diteror oleh sekretarisnya supaya lekas pergi ke kantor.


Celine mengangguk paham dengan kondisi Viktor. Walau di hatinya sangat kecewa tetapi Celine harus lebih mengerti lagi bagaimana padatnya pekerjaan orang terkaya nomor 1 di Amerika ini.


Dulu awalnya Viktor tidak mengetahui bahwa Celine adalah ibunya. Namun melihat kemiripan wajahnya dengan Celine membuat Viktor pun percaya.


Perasaannya juga menghangat jika terus bersama wanita itu. Celine lah selama ini yang selalu merawatnya hingga ia bisa sesehat sekarang.


____________


Viktor dapat menarik napas dengan bebas setelah menyelesaikan meeting nya. Pria itu duduk di kursi kerjanya dan Prima yang mengikuti masuk ke dalam sambil membawa beberapa berkas di tangannya.


Ia meletakkan map tersebut di atas meja Viktor. Lalu menatap serius atasannya itu.


"Tuan apa langkah mu selanjutnya?" tanya Prima karena pasalnya laki-laki itu menyeringai licik saat meeting berlangsung tadi. Prima curiga dibalik kerjasama ini ada suatu rencana licik yang akan dijalankan laki-laki itu.


Viktor menatap Prima salut. Laki-laki ini rupanya dapat membaca pikirannya. Tak salah lagi jika Prima adalah orang kepercayaannya dulu, bahkan laki-laki itu bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


"Ternyata kau menyadarinya." Prima ikut tersenyum miring. "Kau tahu? Setelah kita mendapatkan tambang emasnya aku rencana akan merebut pertambangannya."


Prima terkejut mendengar yang baru saja diucapkan oleh Viktor. Pria itu tercengang lalu kemudian menyanggah keinginan Viktor.


"Tuan saya rasa ini sangat tidak baik. Mereka memiliki jaringan yang sangat kuat bisa saja Anda akan terkena sangsi hukum," ujar Prima mengingatkan.


Viktor tertawa melihat kebodohan Prima. Tentu tidak semudah itu ingin memenjarakannya dan tidak sekonyol itu juga strategi yang sudah disusun olehnya.


"Jika kau ragu maka angkatlah kaki mu dari ruangan ini." Prima tercekat dan langsung diam tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


"Maafkan saya sudah meremehkan Anda."


Viktor puas melihat wajah ketakutan Prima. Namun entah kenapa tiba-tiba otaknya malah memutar kejadian yang ada di dalam mimpinya dimulai kejadian pagi tadi saat ia menemukan sebuah foto yang sangat mirip dengan wanita yang ada di mimpinya.


Mungkin ini sudah saatnya untuk Viktor mengatakan kepada Prima dan meminta Prima menyelidiki wanita di foto itu.


"Ah, Prima. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apa kau mengenal wanita ini?" tanya Viktor dan menyerahkan selembar foto kepada Prima.


Prima meraih foto itu dengar kening berkerut. Saat melihat foto tersebut seluruh tubuh Prima menegang. Ia menelan ludahnya susah payah karena Prima tahu bahwa di foto itu adalah Quenna. Hanya saja bagian wajahnya sepertinya tertumpah air hingga membuat foto itu rusak.


"Di mana kau mendapatkannya Tuan?" Prima rasa ia sudah menyimpan semua foto Quenna dari Viktor tanpa tersisa satupun.


"Aku menemukannya di dalam lemari ku. Entahlah aku juga sering bermimpi basah dengan wanita yang mirip dengan foto itu," frontal Viktor membuat mata Prima membulat.


Ia menyengir karena malu mendengar ucapan Viktor. Laki-laki itu bersemu sembari memberikan foto itu kembali pada Viktor.


"Eumm... Tuan, sepertinya saya tak tahu siapa wanita di foto itu." Viktor menatap teliti gerak-gerik Prima yang mencurigakan.


Sang empu panas dingin melihat tuannya menatap dengan pandangan seperti itu.


"Kau berbohong."


_______________

__ADS_1


Tbc


__ADS_2